b

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Markeso, Maestro Ludruk Garingan dari Jombang

Tokoh Jombang - Hidup Markeso adalah cerminan dari perjuangan tanpa henti yang ia tempuh seorang diri. Pria yang memiliki nama asli Nachrowi berdasarkan identitas resminya ini lahir di Jombang pada 30 Juni 1933. Seperti halnya takdir beberapa figur besar asal Jombang, sosoknya justru lebih dielu-elukan di luar kampung halamannya. Di Surabaya, nama Markeso begitu menggema hingga ditahbiskan sebagai ikon kesenian kota pelabuhan tersebut.

 


Keunikan Nachrowi terletak pada konsistensinya menjelajahi seni ludruk garingan (sekarang : Stand Up Comedy). Di bawah terik matahari Surabaya, ia berjalan menyusuri sudut-sudut kampung tanpa iringan gamelan atau instrumen musik konvensional. Seluruh harmoni pengiring keluar dari kemampuannya mengolah vokal mulut secara mandiri. Hebatnya, ia sanggup menyedot perhatian publik dan tampil solo selama tiga jam penuh.

 

Daya tarik utama pertunjukan Markeso ada pada keluwesannya berinteraksi. Penonton kerap melontarkan celetukan spontan untuk mengganggunya, namun alih-alih gusar, ia justru mengolah celotehan itu menjadi bahan kidungan yang makin segar. Drs. Eko Edy Susantro, MM, Pimpinan Ludruk Karya Budaya, menilai keahlian merespons audiens secara organik inilah yang membuat kelas Markeso sulit ditandingi oleh seniman lain.

 

Gaya busananya pun eksentrik sering kali mengenakan kopiah miring atau topi tinggi bergaya Turki. Benda apa pun yang dikenakan atau dilihatnya bisa seketika menjelma menjadi materi humor. Kendati namanya melambung tinggi di panggung hiburan Surabaya, ia menolak terbawa ambisi materi. Markeso memilih mengukur diri dan melakoni gaya hidup yang sangat bersahaja.

 

Di masa-masa emas kehidupannya, ia sebenarnya memiliki akses luas untuk mengisi acara instansi pemerintah maupun perayaan korporasi swasta. Namun, ia enggan meninggalkan akar rumput. Markeso tetap memilih mengamen dari pintu ke pintu demi menghibur rakyat kecil yang menjadi tempatnya bertumbuh.

 

Di balik pilihan menjadi seniman garingan, tersimpan sebuah garis sikap. Pilihan untuk tidak pernah bergabung dengan grup ludruk mana pun lahir dari rasa kecewanya terhadap perlakuan tidak adil pada dunia seni tradisional, khususnya kebijakan penarikan pajak pertunjukan. Bagi Markeso, sangat ironis ketika kesenian rakyat bawah yang dilakoni oleh seniman miskin justru dibebani pajak, alih-alih diberi insentif pendukung. Bukannya menggelar aksi protes berapi-api di jalanan, Markeso memilih jalur perlawanan yang anggun: mengasingkan diri dari sistem dan terus bernyanyi sendiri.

 

Langkah kaki Markeso yang biasa dikerumuni anak-anak kampung Surabaya kini tinggal kenangan. Sang maestro ludruk garingan tutup usia pada 1 Mei 1996 dan diperistirahatkan di tanah kelahirannya, Tunggorono, Jombang.