b
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 September 2026

Mimin

Tentang Alun-Alun Jombang

 

Bagi masyarakat Kabupaten Jombang, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka di tengah kota. Tempat ini juga menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi saksi perjalanan pemerintahan, sekaligus berfungsi sebagai ruang publik yang terus dimanfaatkan warga hingga hari ini. Artikel berikut mengulas asal-usul, perjalanan revitalisasi, serta peran Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kota Santri.

 

Asal-Usul dan Makna Alun-Alun

Kata "alun-alun" berasal dari bahasa Jawa "aloen-aloen", yang merujuk pada lapangan luas berumput yang dikelilingi jalan dan digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Konsep ini lazim ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, biasanya terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kediaman penguasa daerah.

 

Alun-Alun Jombang sendiri diyakini telah ada sejak masa kerajaan, jauh sebelum masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ketika hendak menghadap bupati atau raja, sekaligus lokasi latihan bagi prajurit kerajaan. Fungsi tersebut menempatkan alun-alun sebagai ruang yang erat kaitannya dengan pusat kekuasaan, sebagaimana pola yang juga terlihat pada alun-alun di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Malang.

 

Dalam catatan sejarah lokal, kawasan ini turut menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada periode revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949. Bersama sejumlah bangunan bersejarah lain di Jombang, alun-alun disebut sebagai salah satu titik penting yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan rakyat Jombang melawan penjajah.

 

Lokasi Strategis di Jantung Kota

Secara administratif, Alun-Alun Jombang berada di kawasan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, tepatnya di sekitar Jalan Diponegoro. Posisinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Baitul Mukminin, Pendopo Kabupaten, serta sejumlah kantor pemerintahan menjadikan kawasan ini sebagai pusat orientasi kota. Letak yang berada di jantung Jombang membuat alun-alun mudah diakses oleh warga dari berbagai penjuru, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang publik utama di kabupaten ini.

 

Perjalanan Revitalisasi

Sebelum mengalami pembenahan besar, kondisi Alun-Alun Jombang sempat dipandang kurang layak untuk menjadi wajah kota. Rencana penataan ulang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2020, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

 

Barulah pada tahun 2021, proyek revitalisasi resmi dijalankan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Jombang. Pekerjaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor pemenang tender, dengan penandatanganan kontrak dilakukan pada akhir Agustus 2021. Peletakan batu pertama turut menandai dimulainya proses pembangunan yang digagas dengan konsep ramah anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan Jombang sebagai kota yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan religi yang melekat pada alun-alun.

 

Proses pembangunan tersebut rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Jombang pada awal tahun 2022, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Sejak saat itu, Alun-Alun Jombang tampil dengan wajah baru: lebih tertata, dilengkapi ruang terbuka hijau, serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern.

 

Salah satu pertimbangan menarik dalam desain baru ini adalah orientasi kegiatan upacara. Mengingat posisi alun-alun yang berdampingan dengan masjid, arah pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar pemimpin upacara menghadap ke utara, sementara peserta menghadap ke selatan, sehingga kegiatan tidak membelakangi bangunan masjid.

 

Fasilitas dan Fungsi Sosial

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Jombang berkembang menjadi ruang multifungsi. Area barat alun-alun dipersiapkan sebagai jalur pedestrian lebar yang dilengkapi payung hidrolis, sehingga dapat menampung jamaah saat pelaksanaan salat berjamaah pada hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, tersedia pula area bermain anak atau playground yang menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga yang berkunjung.

 

Fungsi alun-alun kini jauh lebih beragam dibandingkan masa sebelumnya. Kawasan ini rutin digunakan untuk kegiatan olahraga, bersepeda, hingga sekadar bersantai bersama keluarga pada sore maupun malam hari. Di sisi lain, alun-alun juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara besar pemerintah daerah, seperti perayaan hari jadi kabupaten maupun festival tahunan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.

 

Keberadaan pedagang kaki lima di sekitar kawasan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah menata ulang zona berjualan dan menyediakan sentra kuliner khusus di luar area alun-alun, sehingga suasana di sekitar lapangan tetap tertib dan nyaman dikunjungi.

 

Alun-Alun sebagai Identitas Kota

Lebih dari sekadar taman kota, Alun-Alun Jombang mengemban nilai historis yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Kawasan ini dianggap penting untuk dilestarikan, bukan hanya karena fungsinya sebagai ruang terbuka, tetapi juga karena nilai budaya yang terus dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan adat dan sosial.

 

Pemeliharaan fasilitas di kawasan ini pun menjadi perhatian rutin pemerintah daerah, mulai dari perbaikan penerangan hingga pengelolaan ruang terbuka hijau, guna memastikan alun-alun tetap nyaman digunakan sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari.

 

Penutup

Perjalanan Alun-Alun Jombang, dari lapangan sederhana peninggalan masa kerajaan hingga menjadi ruang publik modern yang multifungsi, mencerminkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman. Bagi warga Jombang, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga simbol kebersamaan dan kebanggaan atas identitas kota yang dikenal sebagai Kota Santri.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Sabtu, 11 November 2023

Mimin

Mengenal Kecamatan Kabuh Jombang

Peta Kecamatan Kabuh

Kabuh, sebuah kecamatan yang menarik di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Berlokasi di utara Kabupaten Jombang, Kabuh berbagi perbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Kecamatan ini memiliki identitas unik sebagai daerah kelahiran para pendekar selain itu Kecamatan ini terdapat lokasi Radar AURI. (baca : Kesenian Sandur Manduro di Kabupaten Jombang: Warisan Budaya Tak Benda Indonesia)

Radar Auri Kabuh

Batas wilayah Kabuh bersebelahan dengan beberapa kecamatan tetangga, termasuk Ngimbang di sebelah utara, Kudu di sebelah timur, Ploso di sebelah selatan, dan Plandaan di sebelah barat. Pertanian dan perkebunan mendominasi kehidupan sehari-hari di Kabuh. Sebagian besar penduduk adalah petani yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada musim hujan untuk bercocok tanam, terutama padi. Namun, tanaman lain seperti tembakau dan polowijo juga tumbuh subur. Pohon jati juga mendominasi perkebunan, memberikan nilai ekonomi yang signifikan bagi wilayah ini.

  1. Banjardowo
  2. Genenganjasem
  3. Kabuh
  4. Karangpakis
  5. Kauman
  6. Kedungjati
  7. Manduro
  8. Mangunan
  9. Marmoyo
  10. Munungkerep
  11. Pengampon
  12. Sukodadi
  13. Sumberaji
  14. Sumbergondang
  15. Sumberingin
  16. Tanjungwadung

Wisata yang ada di Kecamatan Kabuh :

Sendang Tlimo

Wisata air alami ini mengalir dari hutan jati Sari Tengah, membuktikan kesucian lingkungannya dengan hamparan pepohonan yang hijau dan alami. Dengan begitu banyak aktivitas menarik yang ditawarkan, waktu akan terasa singkat saat berkunjung ke sini. Pastikan Anda mengabadikan momen tak terlupakan dengan mengambil foto di lokasi-lokasi indah yang tersedia. Keberadaan Sendang Tlimo juga merupakan bukti bahwa Jombang adalah destinasi wisata yang memiliki potensi besar, tempat di mana Anda dapat beristirahat sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Makam dan Masjid Mbah Buyut Sona

Mbah Buyut Sona, yang dikenal sebagai bendaharawan para wali, meniti perjalanan spiritualnya pada masa kerajaan Majapahit," ungkap Suyono, yang juga berperan sebagai juri penting dalam pengawasan makam ini. Keberadaan makam dan masjid ini membanggakan, terletak di atas puncak bukit dengan ketinggian mencapai sekitar 50 meter. Untuk mencapai tempat suci ini, perjalanan melibatkan pendakian melalui 52 anak tangga yang menimbulkan kesan seperti mengunjungi makam Sunan Giri di Gresik.

Wisata Religi Makam Mbah Sanusi 

Wisata Religi Makam Mbah Sanusi di Dusun Sekaru, Desa Kauman, menjadi tempat yang khusyuk untuk berziarah. Makam ulama ini, yang diyakini sebagai pengawal Pangeran Diponegoro, dikelola secara profesional oleh Pesantren Majma'al Bahrain Shidiqiyah dan menawarkan suasana asri yang damai. Lokasinya dapat diakses melalui jalan alternatif dari Mojokerto ke arah utara, melalui perempatan Panemon (Desa Bakalanrayung), dan dengan bantuan petunjuk dari warga setempat jika Anda merasa kebingungan.

Itulah sobat 16 nama-nama desa dan Wisata yang ada dikecamatan kabuh yang dapat kami rangkum mungkin kedepannya akan kami update, semoga artikel yang berjudul Mengenal Kecamatan Kabuh Jombang bermanfaat bagi anda

Selasa, 17 Oktober 2023

Mimin

Nama Desa di Kecamatan Ngusikan dan Tempat Wisata

Setelah sebelumnya website Alun-Alun Jombang menerbitkan artikel Situs Yoni Gambar Mojowarno pada kesempatan ini kami share Nama Desa di Kecamatan Ngusikan hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu pada tahun 2001, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian utara Kabupaten Jombang, wilayah ini juga berbagi perbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Mojokerto. Keunikan Kecamatan Ngusikan menjadi lebih menarik ketika kita menjelajahi desa-desa yang membentuk komunitas yang beragam di sini.

  1. Asemgede
  2. Cupak
  3. Keboan
  4. Kedungbogo
  5. Ketapangkuning:.
  6. Kromong
  7. Manunggal
  8. Mojodanu
  9. Ngampel
  10. Ngusikan
  11. Sumbernongko

Wisata Kecamatan Ngusikan :

  1. Gunung Pucangan, Desa Cupak Kecamatan Ngusikan  
  2. Wisata Edukasi "Wedang" Ngusikan Jombang 
Oleh-oleh khas : Kue Banjar Sumbernongko

Di Dusun Cangak, Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, sebuah tradisi lebaran yang manis terus hidup. Kue banjar, makanan khas lebaran dan hari besar Islam, diproduksi dengan penuh dedikasi oleh Jemari Fefi dan timnya.

Kue banjar, dengan bentuk yang mengingatkan pada tasbih atau bahkan garis sawah petani ketika menanam padi, merupakan warisan bersejarah. Proses pembuatannya dilakukan secara manual, dengan telapak tangan, menjadikan kue banjar ini istimewa.

Rasa manis dan gurihnya membuat kue ini sangat dicari, terutama menjelang lebaran. Pesanan melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa, dan Fefi bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut. Selama Ramadan, ia bahkan menggunakan 2 kuintal tepung untuk memproduksi kue banjar.

Harga kue banjar selalu mengikuti harga bahan baku, seperti telur. Ini berarti harga bisa berfluktuasi tergantung pada pasar. Meskipun tanpa promosi besar-besaran, kue banjar ini dikenal baik secara lokal maupun di luar Jombang. Dengan bantuan promosi dari mulut ke mulut dan penjualan online, kue banjar Fefi telah menemukan penggemar dari Kalimantan, Yogyakarta, hingga Bandung.

Kue banjar Sumbernongko bukan hanya makanan manis, tetapi juga potongan sejarah yang terus hidup, dan tradisi yang terus diteruskan melalui tiap gigitan.

Kecamatan Ngusikan adalah tempat yang menggabungkan berbagai elemen yang menjadikannya unik. Setiap desa di sini memiliki karakter dan daya tariknya sendiri, dan menjelajahinya adalah perjalanan yang tak ternilai harganya. Semoga artikel ini membantu Anda mengeksplorasi keindahan dan keunikan desa-desa di Kecamatan Ngusikan. (sumber : https://radarjombang.jawapos.com/)

Senin, 16 Oktober 2023

Mimin

Wedang, Wisata Edukasi Ngusikan Jombang

Jombang, terdapat sebuah destinasi wisata edukasi yang mengundang para pengunjung lokal dan wisatawan untuk datang ke tempat ini, dikenal dengan sebutan "Wedang," terletak di Dusun Tanjung, Desa Ngusikan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, dan telah menjadi daya tarik liburan.

Tempat wisata edukasi ini memiliki kisah awal yang menarik. Awalnya, Wedang hanyalah empat kolam ikan yang dibangun pada tahun 2002. Namun, dengan tekad dan semangat perjuangan, pemiliknya, Miftakhul Rahman, mengubahnya menjadi 20 kolam dan mengembangkan wisata ini. Tidak terlepas dari tantangan pandemi Covid-19, Wedang tetap bertahan dan berkembang sejak tahun 2020.

Mifta menjelaskan bahwa sejak awal pembukaan, jumlah pengunjung terus meningkat. Terutama pada hari libur, pengunjung bisa mencapai lebih dari 500 orang, sementara pada hari biasa, berkisar antara 50 hingga 100 orang. Untuk promosi, Wedang mengandalkan media sosial dan juga rekomendasi dari mulut ke mulut pengunjung yang puas dengan pengalaman mereka.

wedang ngusikan

Wisata ini menarik pengunjung dari Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Surabaya. Wedang juga menyediakan beragam spot foto yang memungkinkan pengunjung untuk berfoto sepuasnya.

Salah satu pengunjung asal Mojokerto, Ida (41), sangat mengapresiasi keindahan Wedang. Ia merasa nyaman di sini, karena suasana desa yang masih terasa kental dan asri. Selain kolam ikan, anak-anak bisa bersenang-senang di kolam renang, dan tersedia juga restoran yang menyajikan hidangan lezat.

Pengunjung lain, Ita Dian Dwi Prastiwi (28), menekankan betapa luasnya area Wedang dan kenyamanan tempat makan di sana. Ia sering membawa anak-anaknya ke sini, terutama karena anak-anak menyukai berenang.

Di tengah pandemi Covid-19, kekhawatiran tetap ada, seperti yang dirasakan oleh Dian. Namun, dengan mematuhi protokol kesehatan, ia dan keluarganya tetap bisa menikmati liburan tanpa khawatir.

Hanya saja, perlu perhatian lebih dari pemerintah setempat dalam perbaikan jalan menuju tempat wisata ini. Dengan upaya bersama, Wedang bisa terus menjadi destinasi wisata yang menginspirasi dan mendidik, sambil menjaga pesona desa yang kental dan udara yang segar.

sumber : https://kabarjombang.com/wisata/kolam-ikan-di-ngusikan-jombang-disulap-jadi-wisata-edukasi/

Kamis, 12 Oktober 2023

Mimin

Wana Wisata Sumberboto Mojowarno

Tempat wisata alam Sumberboto berada di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang. Terletak di bagian timur Kabupaten Jombang, daerah ini memiliki wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, seperti sumber air dan bumi perkemahan yang luas. 

 

Terdapat kolam renang dengan mata air asli pegunungan yang dapat digunakan selain wisata alam yang dapat dinikmati keindahannya. Di kawasan wisata Sumberboto ini Anda tidak hanya akan menemukan pemandangan alam dan kolam renang; ada juga Monumen Sumberboto, yang menunjukkan sejarah perjuangan pasukan Wanara untuk kemerdekaan Indonesia.

Wisata Sumberboto terkenal dengan keindahan alam dan sumber mata airnya. Itu juga memiliki area perkemahan yang luas dan ramai dikunjungi pelajar. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan fasilitas seperti toilet dan musolah.

 

Sejarah Perjuangan Pasukan Wanara

Tempat wisata yang indah di Jombang, Sumberboto, memiliki sejarah yang kaya dan menarik. Tempat ini dulunya adalah tempat penyimpanan persenjataan pasukan Wanara, lasykar perjuangan yang didirikan oleh para pegawai kehutanan. Berbagai macam senjata, termasuk peluru, granat, bom, dan lainnya, disimpan di Sumberboto untuk digunakan dalam perang melawan penjajah Belanda.

 

Pasukan Wanara membuka bom peninggalan Jepang setiap hari untuk mengolahnya menjadi peluru dan granat. Namun, pada tanggal 12 April 1948, lima anggota pasukan Wanara tewas dalam ledakan bom seberat 500 kg yang dibuka. Monumen Sumberboto kemudian dibangun di sana. Dua patung prajurit berdiri di sana sebagai penghormatan kepada mereka.

 

Sumberboto telah berkembang menjadi tempat wisata populer. Wana wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani, yang telah membangun berbagai fasilitas, seperti kolam renang, wisma, pendapa, perkemahan, tempat rekreasi keluarga, dan warung-warung yang indah. Ini sekarang menjadi tempat rekreasi populer bagi penduduk Jombang dan daerah sekitarnya, terutama selama akhir pekan.

 

Sumberboto memiliki pemandangan alam yang indah, yang merupakan salah satu daya tarik utamanya. Hutan yang rindang dan asri telah menjadi ciri khas tempat ini, memberikan suasana sejuk dan menenangkan bagi mereka yang berkunjung.

 

Air dari tiga sumber di dekat pemandian: Sumbergondang, Sumberboto, dan Sumberkembang. Air dari Sumberboto dialirkan ke Sumbergondang, lalu dialirkan ke MCK. Air dari Sumberkembang digunakan untuk mengisi kolam renang.

 

Sumberboto memiliki banyak fasilitas, seperti bumi perkemahan, area outbond, area parkir, toilet, mushola, shelter, pintu gerbang, papan interpretasi, loket, aula, pos penjagaan, kolam renang, wisma, playground, papan penunjuk arah, listrik, dan warung makan.

 

Tempat perkemahan Sumberboto terdiri dari sembilan blok yang dapat menampung antara lima belas dan dua puluh tenda pramuka. Peserta kemah biasanya siswa SLTP dan SLTA di kota-kota sekitar.

Rabu, 11 Oktober 2023

Mimin

Goa Made: Misteri Topeng Perunggu dan Jejak Sejarah yang Terlupakan

 goa made jombang

Selain wisata Sendang Made Kecamatan Kudu memiliki wisata sejarah yaitu Goa Made, yang terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, adalah sebuah situs arkeologi yang telah menarik perhatian para peneliti sejak tahun 2006. Namun, sebenarnya sebelum tahun 2006, penduduk setempat sudah menemukan banyak topeng perunggu yang menjadi artefak penting dalam sejarah di sekitar situs ini. Topeng-topeng ini memiliki berbagai bentuk, tetapi yang digambarkan hanyalah bagian penutup wajah. Beberapa juga berwujud patung dada dengan gambaran kepala hingga dada (patung torso), dan ada pula topeng yang menggambarkan wajah hingga leher.


Artefak perunggu yang ditemukan di Goa Made selama penelitian tahun 2006 dan 2007 mencakup lebih dari 100 macam benda. Selain topeng, terdapat pula artefak lain seperti hewan gajah, babi hutan yang ditunggangi oleh manusia, tabung silindris dengan puncak kepala manusia ganda yang menghadap ke depan dan belakang, kelompok wadah seperti bejana upacara, kendil, kendil bercucuk, dan lainnya, figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan belalainya membelit dan menginjak orang-orang, di punggungnya digambarkan ada pengendaranya yang sedang meniup terompet, serta kereta yang ditarik oleh beberapa orang sambil menarik gajah, dan banyak lagi.

Salah satu temuan yang paling menarik adalah topeng perunggu yang sebagian berwarna hijau. Topeng-topeng ini memberikan petunjuk tentang peran penting wilayah ini dalam sejarah masa lalu.

Saat diperhatikan dengan seksama, raut wajah yang digambarkan oleh topeng-topeng tersebut tidak selalu menggambarkan wajah orang Jawa atau Indonesia pada umumnya. Beberapa topeng memiliki karakteristik seperti mata yang salah satu sudutnya lebih tinggi dari sudut lainnya yang dekat dengan pangkal hidung, mata yang sempit, dan alis di atas mata yang melengkung naik mengikuti mata yang digambarkan miring. Ini mirip dengan ciri-ciri wajah orang-orang Asiatic Mongoloid.

Sejumlah arkeolog Indonesia telah menghubungkan situs Goa Made dengan periode Majapahit. Alasan mereka adalah temuan artefak perunggu dan batu yang dapat diidentifikasi dari era Majapahit. Temuan ini, khususnya topeng perunggu, tidak memiliki kesamaan dalam khasanah arkeologi Indonesia pada umumnya. Ini menjadi bagian penting dari penelitian arkeologi di situs ini.

Topeng perunggu yang ditemukan di Goa Made memiliki bahan dasar campuran antara tanah liat (keramik) dan logam (metal), yang dikenal sebagai cermet (ceramic-metal). Analisis kimia dilakukan di Laboratorium Arkeologi Eksperimental Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma. Pada saat itu, cermet merupakan bahan unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam teknologi pembuatan artefak perunggu. Pada umumnya, artefak perunggu ditemukan terbuat dari emas atau kayu. Selain itu, temuan-temuan ini juga membingungkan para ilmuwan karena usianya yang sangat tua, diperkirakan lebih dari 3.000 tahun sebelum Masehi.


Selain topeng perunggu, Goa Made juga mengungkapkan artefak lain yang menunjukkan kemegahan sejarah yang hilang dari Eurasia. Artefak ini mencakup figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan pengendaranya yang meniup terompet, serta arca Bhiksu dan dewa-dewa Buddha bergaya Cina yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-14.

Goa Made, dengan seluruh misteri dan temuannya, tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah sejarah Jawa Timur. Situs ini telah membantu para peneliti untuk menulis ulang lembaran sejarah yang hilang dari Eurasia dan menghadirkan penemuan yang mengejutkan tentang masa lalu kuno yang pernah ada di pulau-pulau Asia Tenggara. 

sumber : https://versesofuniverse.blogspot.com/2012/02/misteri-topeng-hijau-gua-made.html

Selasa, 03 Oktober 2023

Mimin

Sendang Made Kecamatan Kudu : Surga Alam di Utara Kota Jombang

Sendang Made - Bagi para pencinta alam dan keindahan alami yang masih terjaga, Sendang Made adalah surga yang wajib Anda kunjungi. Terletak di sebelah utara Kota Jombang, obyek wisata alam ini menggoda dengan keindahan alam yang tak tertandingi dan air sendang yang tak pernah kering sepanjang tahun. Namun, daya tarik Sendang Made tak hanya terletak pada keberlimpahan airnya, melainkan juga pada panorama alam yang menawan, menjadikannya tempat ideal untuk melarikan diri dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan.

wisata sendang made

Sendang Made terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, sekitar 20 kilometer ke arah utara Kota Jombang. Tempat ini berada di lereng pegunungan Kendeng, menjadikannya lokasi yang strategis dan menarik untuk berlibur. Begitu Anda memasuki kawasan Sendang Made yang dikelilingi oleh pepohonan besar, Anda akan disambut oleh kicauan burung yang merdu, menciptakan suasana yang sangat alami dan menyegarkan.

Sendang Made bukan hanya destinasi alam yang menarik, tetapi juga tempat rekreasi yang ideal untuk mengusir kejenuhan kerja. Ketika Anda berkunjung ke sini pada hari-hari libur, terutama saat Idul Fitri atau tahun baru, Anda akan menemukan Sendang Made menjadi pusat perhatian dengan pagelaran show dangdut yang menghibur, menarik penonton dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Lamongan, Babat, Gresik, dan sekitarnya.

Meskipun Sendang Made adalah tempat yang indah, perlu diperhatikan bahwa konservasi alam dan penataan lingkungan yang baik adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan keindahan ini. Pohon-pohon dan tanaman di sekitar sendang harus dirawat dengan baik agar tetap lestari dan terawat. Dengan sedikit sentuhan dan perhatian yang baik, Sendang Made bisa menjadi destinasi wisata yang sangat menjanjikan, menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya.

Kisah di Balik Sendang Made

Sendang Made bukan sekadar tempat wisata biasa. Ini adalah petilasan Raja Airlangga, seorang penguasa yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Timur. Sejarah Sendang Made sangat erat kaitannya dengan Raja Airlangga dan oleh karena itu menjadi tempat yang sangat berarti bagi masyarakat setempat. Namun, meskipun sejarahnya sangat dikenal oleh warga Made, banyak orang di luar Jombang yang belum mengetahui tentang keberadaan wisata religi ini.

Di dalam kompleks Sendang Made, Anda akan menemukan berbagai sendang yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Salah satunya adalah Sendang Gede yang memiliki ukuran besar, mencapai 8 x 11 meter. Selain itu, ada beberapa sendang lain seperti Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben, dan Sendang Drajat. Semua sendang ini memiliki ciri khasnya masing-masing dan menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah yang dimiliki Sendang Made.

Salah satu hal yang membuat Sendang Made begitu istimewa adalah keberadaan ikan-ikan dalam sendang. Air sendang ini tidak pernah kering, dan konon katanya, jumlah ikan dalam sendang memiliki makna tertentu. Jika ikan sedikit, dipercaya sebagai pertanda zaman sulit, sementara jika jumlahnya banyak, dipercaya sebagai pertanda kemakmuran. Namun, perlu diingat bahwa ikan-ikan ini dihormati sebagai makhluk yang memiliki nilai magis, sehingga tidak boleh diambil atau diganggu


Sendang Made: Tempat Pelarian Raja Airlangga

Di balik ketenangan dan keindahan alam yang memukau di Sendang Made, terdapat sebuah cerita melegenda yang diyakini oleh banyak orang. Kisah ini berkaitan dengan pelarian Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan (juga dikenal sebagai Kerajaan Daha atau Panjalu). Konon, Raja Airlangga pernah bersembunyi selama tiga tahun di Sendang Made, menjadikan tempat ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah yang luar biasa.

Pengelola Situs Sendang Made, Badri, dengan bangga menceritakan kisah ini. Pada saat itu, Raja Airlangga masih berusia 16 tahun ketika menikahi Galuh Sekar, putri Dharmawangsa Tguh, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Dharmawangsa Tguh adalah seorang penguasa berkuasa di Kerajaan Medang yang pusat pemerintahannya diperkirakan berada di wilayah sekarang yang dikenal sebagai Maospati, Magetan.

misteri sendang made jombang

Raja Airlangga sendiri adalah putra dari pasangan Raja Udayana dan Mahendradatta. Ayahnya, Raja Udayana, pernah menjadi Raja Bedahulu di Gianyar, Bali, dan berasal dari Wangsa Warmadewa. Ibunya, Mahendradatta, adalah putri Raja Sri Makutawangsawardhana, yang memimpin Kerajaan Medang di Jawa Timur pada periode tertentu, merupakan anggota dari Wangsa Isyana. Sri Makutawangsawardhana adalah cucu dari Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur yang memerintah pada tahun 929-947 Masehi.

Kisah pelarian Raja Airlangga ke Sendang Made memberikan lapisan sejarah yang mendalam pada tempat ini. Tempat yang indah ini bukan hanya destinasi wisata biasa, tetapi juga sebuah monumen hidup dari masa lalu yang penuh dengan intrik politik dan cinta yang rumit. Saksi bisu ini tetap berdiri hingga hari ini, mengingatkan kita akan perjalanan sejarah yang luar biasa yang pernah melanda Jawa Timur.

Mimin

Wisata dan Biografi Sayyid Sulaiman Betek Mojoagung

Sayyid Sulaiman Betek Mojoagung Jombang merupakan seorang pemuda keturunan Arab yang datang ke pulau Jawa, tepatnya Cirebon, pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Selama beberapa bulan, ia berlayar dari Yaman, bersamaan dengan migrasi orang-orang Arab ke Jawa pada masa itu. Migrasi ini memiliki berbagai tujuan, termasuk dakwah Islam dan kegiatan perdagangan.

Sayyid Sulaiman merupakan keturunan dari Sayyid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkenal di Hadramaut, Yaman. Nama "Syaiban" diberikan kepada Sayyid Abu Bakar karena rambutnya yang beruban seperti salju setelah uzlah (menarik diri untuk mendekatkan diri kepada Allah) selama sekitar tiga puluh tahun.

Abdurrahman, yang merupakan cicit dari Sayyid Abu Bakar Basyaiban, adalah putra sulung dari Sayyid Sulaiman. Ia lahir pada abad ke-16 Masehi di Tarim, Yaman Selatan, sebuah daerah yang terkenal sebagai pusat spiritual para wali.

Setelah berlayar dari Yaman ke Nusantara, khususnya Pulau Jawa, Sayyid Abdurrahman memilih untuk menetap di Cirebon, Jawa Barat. Di sana, ia menikahi putri Maulana Sultan Hasanuddin, yang juga merupakan keturunan Rasulullah.

Dari pernikahannya dengan Syarifah Khadijah, cucu Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, Sayyid Sulaiman memiliki tiga orang putra: Sayyid Sulaiman, Sayyid Abdurrahim (dikenal sebagai Mbah Arif Segoropuro Pasuruan), dan Sayyid Abdul Karim.

Keluarga ini mewarisi ketekunan dalam berdakwah dan berjuang untuk menyebarkan Islam di Jawa, mirip dengan apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar seperti Syarif Hidayatullah dan Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Pengaruh dan ketekunan mereka dalam berdakwah membuat penjajah Belanda merasa khawatir. Ketika Sayyid Sulaiman mencapai usia dewasa, Belanda membuangnya. Ia kemudian tinggal di Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah, sebelum berkelana ke Solo, Jawa Tengah, di mana ia dikenal sebagai sosok yang sangat sakti.

Saat tinggal di Solo, Sayyid Sulaiman diundang oleh Raja Mataram untuk memperagakan pertunjukan ajaib. Setelah menghadapi tantangan Raja Mataram, Sayyid Sulaiman berhasil membuktikan kesaktiannya dengan melakukan pertunjukan yang luar biasa.

Setelah berbagai perjalanan, Sayyid Sulaiman akhirnya menetap di Kanigoro, Pasuruan, Jawa Timur. Di sana, ia mendirikan masjid dan terkenal dengan keajaibannya dalam memindahkan kayu besar dari hutan untuk digunakan sebagai bahan bangunan masjid.

Kemudian, kabar tentang kesaktian Sayyid Sulaiman menarik perhatian Raja Keraton Pasuruan. Meskipun awalnya meragukan, Raja Pasuruan akhirnya menyadari kehebatan Sayyid Sulaiman ketika beliau membantu mengembalikan putri bungsu sang Raja yang hilang. Namun, Sayyid Sulaiman menolak tawaran Raja Pasuruan untuk menikahi putrinya.

Sayyid Sulaiman akhirnya meninggalkan Pasuruan dan kembali ke Cirebon. Namun, situasi di Cirebon saat itu sedang tidak stabil akibat pertikaian antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji. Karena itu, Sayyid Sulaiman memutuskan untuk kembali ke Pasuruan, di mana ia memimpin pembangunan masjid di Gambir Kuning.

Sayyid Sulaiman juga pernah dipanggil oleh Raja Mataram Solo, tetapi setelah konsultasi dengan istri dan masyarakatnya, ia menolak tawaran untuk menjadi hakim di Keraton Solo. Setelah kembali ke Pasuruan, Sayyid Sulaiman meninggal dunia di tengah perjalanan ke Jombang, tepatnya di Desa Betek Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Mimin

Wisata Religi Populer Makam Gus Dur: Tempat Berkumpulnya Peziarah

 

Kalau kamu pernah berpikir wisata itu hanya seputar pantai indah atau gunung-ganang, maka mungkin saatnya mengganti pandanganmu. Sebab, ada satu tempat yang menjadi jujukan peziarah dari berbagai penjuru Indonesia, dan tempat ini adalah makam Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur. Makam ini terletak di kompleks Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, dan seolah menjadi medan magnet bagi peziarah.

Wisata religi di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng telah menjadi salah satu ikon wisata religi di Jawa Timur. Ini tidak mengherankan, mengingat Jawa Timur merupakan basis Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di kawasan ini, makam Gus Dur bersama dengan dua tokoh ulama terkemuka dan pahlawan nasional, yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim, menjadi pusat tujuan peziarah yang semakin populer setelah dimakamkannya Presiden RI ke-5, Gus Dur.

Wisata ziarah ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga menyambut wisatawan dari berbagai latar belakang agama. Hal ini sejalan dengan pesan perdamaian dan keberagaman yang diwakili oleh Gus Dur dalam kisah hidupnya.

Penelitian telah dilakukan untuk menjelajahi dan mengidentifikasi fenomena wisata ziarah di makam Gus Dur ini. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan referensi akademis, tetapi juga untuk mengelola kompleks Pesantren Tebuireng dan aset-aset kebangsaan yang dimakamkan di dalamnya. Di masa depan, harapannya adalah bahwa ziarah ke makam Gus Dur dan para ulama NU di area ini akan menjadi ikon destinasi wisata religi di seluruh Indonesia.

Makam Gus Dur telah menjadi tempat yang sangat populer sejak 31 Desember 2009. Sebelumnya, kompleks makam ini sudah menjadi tempat peristirahatan abadi bagi dua pahlawan nasional, KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim. Namun, sejak Gus Dur dimakamkan di sana, jumlah peziarah terus meningkat dengan pesat.


Ketika memasuki area makam Gus Dur, peziarah akan menemui lorong panjang yang dikelilingi oleh puluhan pedagang oleh-oleh. Dahulu, lorong ini adalah tempat tinggal para santri, tetapi sekarang menjadi jalan menuju makam Gus Dur.

Di kompleks makam Gus Dur, terdapat sekitar 45 makam, termasuk makam pendiri Pesantren Tebuireng, pengasuh pondok, anggota keluarga, dan lainnya. Makam Gus Dur sendiri terletak di sudut utara dan ditandai oleh batu nisan yang unik dengan tulisan "di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan" dalam empat bahasa: Indonesia, Arab, Inggris, dan China.

Kawasan makam Gus Dur dibuka dalam dua sesi, yang mencakup sebagian besar hari. Jumlah peziarah tak terhitung, dengan ribuan orang datang setiap hari. Jika sudah memasuki akhir pekan atau musim liburan, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu per hari.

Makam Gus Dur dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) yang menggunakan hasil infaq dari peziarah untuk program-program sosial dan pendidikan. Dengan ini, makam Gus Dur menjadi tempat yang tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Pemerintah telah berinvestasi dalam pengembangan kawasan makam Gus Dur, dengan pembangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari dan fasilitas parkir. Rencananya, sentra pedagang kaki lima  dibangun di sebelah barat. Makam Gus Dur bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga menjadi pusat keberagaman dan pesan perdamaian yang hidup.



Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang: Sejarah dan Kepercayaan Mistis yang Menyelimuti

Gunung Pucangan, terletak di desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, ternyata memiliki cerita mistis dan sejarah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak. Salah satu misteri yang mencolok adalah keberadaan 2 makam di antara 13 makam, yang diyakini sebagai makam orang-orang sakti, yakni Eyang Sakti dan Dewi Kili Suci.


 Purwanto, juru kunci makam ini, menjelaskan bahwa Dewi Kilisuci adalah putri dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri. Kisahnya bermula ketika Dewi Kilisuci memutuskan untuk meninggalkan kerajaan karena menolak menjadi Ratu Kediri, sesuai dengan keinginan sang Raja. Dewi Kilisuci memutuskan untuk melakukan perjalanan pengasingan dan akhirnya bertemu dengan pembabat alas atau sesepuh Gunung Pucangan. Dia dan dayang-dayangnya kemudian tinggal di padepokan tersebut hingga akhir hayat.

Dewi Kilisuci menolak menjadi Ratu Kediri karena memiliki prinsip yang kuat, yaitu bahwa dia akan menerima takhtanya hanya jika rakyatnya sudah sejahtera. Menurutnya, rakyat harus kenyang terlebih dahulu sebelum dia mau menjadi pemimpin.

Selain itu, Purwanto juga memberikan klarifikasi mengenai cerita yang sudah beredar luas tentang "Maling Celuring." Menurutnya, sebenarnya "Maling Celuring" adalah sebutan untuk "Eyang Sakti." Eyang Sakti adalah seorang tokoh sakti yang dikenal karena keramahan dan kebaikannya, bukan seorang pencuri. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa julukan ini tidak mencerminkan karakter sesungguhnya dari tokoh tersebut.

Kirap Pusaka dan Kirap Budaya Desa Cupak Ngusikan

Desa Cupak Ngusikan, sebuah permata tersembunyi di pedalaman Indonesia, adalah rumah bagi beragam warisan budaya dan pusaka yang kaya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dua aspek yang sangat penting dalam budaya desa ini, yaitu Kirap Pusaka dan Kirap Budaya.

image : fb ahmad mambo

Kirap Pusaka: Mempertahankan Warisan Leluhur

Kirap Pusaka adalah praktik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Cupak Ngusikan. Ini adalah cara tradisional dalam menjaga dan merawat pusaka, termasuk alat musik tradisional, senjata, pakaian adat, dan barang-barang bersejarah lainnya. Kirap Pusaka menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, memungkinkan masyarakat desa untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka.

Kirap Budaya: Menjaga Tradisi dan Kearifan Lokal

image : fb ahmad mambo

Selain Kirap Pusaka, Desa Cupak Ngusikan juga menghargai praktik Kirap Budaya, yang merupakan upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal. Ini mencakup berbagai aspek budaya seperti upacara adat, tarian tradisional, bahasa daerah, dan cara hidup tradisional.

Kirap Budaya juga mencakup menjaga bahasa daerah. Bahasa adalah salah satu pilar budaya yang paling penting, dan di Desa Cupak Ngusikan, penduduk setempat berusaha keras untuk memastikan bahwa bahasa daerah mereka terus digunakan dan diajarkan kepada generasi berikutnya. Ini membantu menjaga hubungan yang erat antara generasi yang lebih tua dan generasi muda, serta memperkuat identitas budaya desa.

 

Desa Cupak Ngusikan adalah contoh yang menginspirasi tentang bagaimana Kirap Pusaka dan Kirap Budaya dapat membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kaya. Dengan usaha bersama masyarakat lokal, tradisi dan kearifan lokal terus hidup dan berkembang, memberikan inspirasi bagi generasi yang akan datang untuk menjaga dan menghormati warisan budaya mereka sendiri.

Budaya Desa Cupak Ngusikan adalah contoh nyata bagaimana kita semua dapat belajar dari masa lalu sambil menciptakan masa depan yang lebih cerah. Selamat untuk Desa Cupak Ngusikan atas komitmen mereka dalam menjaga pusaka dan budaya mereka. Semoga contoh ini menginspirasi komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.