b
Tampilkan postingan dengan label Cerita Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Desa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2026

Mimin

Asal Usul Desa Manduro Jombang

Manduro merupakan sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, cikal bakal terbentuknya desa ini dikaitkan dengan kehadiran dua orang pelarian asal Madura yang memutuskan untuk bermukim di kawasan perbukitan yang pada masa itu masih berupa hutan belantara. Kedua pelarian tersebut kemudian berkembang biak dan melahirkan keturunan hingga akhirnya kawasan tersebut bertransformasi menjadi permukiman sebagaimana kondisinya pada masa kini. Identitas kedua pelarian tersebut maupun periode kedatangan mereka ke wilayah Manduro hingga kini belum dapat diketahui secara pasti karena minimnya sumber informasi yang memadai. baca Kesenian Sandur Manduro

Warito, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Manduro, mengemukakan pendapat berdasarkan informasi yang diperolehnya dari tokoh yang disebut sebagai 'Mbah Lurah Sepuh'. Menurutnya, kedua pelarian tersebut merupakan bagian dari pasukan Trunajaya yang mengalami kekalahan dalam peperangan, dan karena rasa malu akibat kekalahan tersebut, mereka enggan kembali ke tanah Madura. Pada akhirnya, para pelarian itu memilih menetap di kawasan perbukitan kapur, mengingat wilayah tersebut dianggap aman untuk dijadikan tempat persembunyian.


Sementara itu, Nasrulillahi selaku Kepala Seksi Kebudayaan menyampaikan pandangan bahwa kehadiran masyarakat Madura di Manduro kemungkinan besar berlangsung melalui beberapa gelombang migrasi. Gelombang pertama diperkirakan terjadi bersamaan dengan masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Gelombang berikutnya diduga berlangsung ketika Pangeran Purbaya memberikan bantuan kepada Amangkurat II dalam menghadapi Belanda, sedangkan gelombang-gelombang selanjutnya tidak banyak terdokumentasikan.²

Adapun Imam Ghozali, seorang budayawan asal Kabupaten Jombang, berpendapat bahwa terdapat dua versi narasi yang beredar di tengah masyarakat Manduro terkait asal-usul mereka. Versi pertama menyebutkan pasukan Trunajaya sebagai leluhur, sedangkan versi kedua mengaitkan garis keturunan dengan Pangeran Arya Wiraraja.³

Bila ditinjau dari perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, pada kurun waktu sekitar tahun 1746 hingga 1755 terjadi konflik antara Kerajaan Mataram—yang saat itu dipimpin oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi melawan Pemerintah Kolonial Belanda, yang pada akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Giyanti. Pada masa konflik tersebut, sejumlah besar orang Madura dikerahkan untuk membantu pihak Belanda dalam menghadapi Kerajaan Mataram.⁴ Pengerahan ini terjadi setelah Pulau Madura berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Belanda pada tahun 1743.

Pengiriman pasukan Madura pada masa Perang Giyanti tersebut dapat dipandang sebagai gelombang resmi pertama kedatangan orang Madura ke Pulau Jawa pada era kolonial Belanda. Pasukan yang dikirim pada periode ini merupakan kekuatan militer yang berasal dari kerajaan-kerajaan lokal di Madura. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Madura dalam membantu Belanda tidak terlepas dari dukungan militer yang sebelumnya diberikan Belanda ketika kerajaan-kerajaan tersebut berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.

Keterlibatan militer orang Madura selanjutnya tercatat pada peristiwa perlawanan terhadap Untung Surapati di Jawa Timur pada tahun 1767, serta pada Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830 dan menjangkau berbagai wilayah, di antaranya Kertosono⁶, Madiun, Banyumas, Pekalongan, Tegal, Rembang, Kedu, Pacitan, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Pada periode tersebut, sangat dimungkinkan bahwa sebagian orang Madura yang terlibat dalam peperangan akhirnya memilih untuk menetap di Jawa. Manduro diduga menjadi salah satu tujuan permukiman mereka mengingat kemiripan kondisi geografis wilayah tersebut dengan daerah asal mereka di Madura.

Apabila ditelusuri lebih jauh ke belakang, pada rentang tahun 1647–1677 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya, seorang bangsawan Madura. Melalui jalur pesisir utara Pulau Jawa dari arah Madura hingga Rembang, Trunajaya bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Kediri. Ketika Trunajaya akhirnya berhasil ditumpas pada tahun 1679, terdapat kemungkinan besar bahwa para pengikutnya yang berasal dari Madura melarikan diri ke wilayah-wilayah di sekitar Kediri, seperti Malang, Kertosono, maupun Jombang, seiring jatuhnya pusat pemerintahan di Kediri ke tangan pasukan Mataram yang dibantu oleh VOC dan Arung Palaka dari Kerajaan Bone, Sulawesi. Dengan demikian, narasi yang disampaikan oleh Warito selaku Sekretaris Desa Manduro memiliki dasar historis yang cukup masuk akal.

Aspek menarik lain terkait keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro dapat pula dihubungkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, yang di dalamnya turut disebutkan peran orang-orang Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja dalam membantu Raden Wijaya membuka lahan baru di Hutan Tarik. Wilayah tersebut kemudian berkembang pesat menjadi kerajaan besar bernama Majapahit pada tahun 1293 Masehi, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu terbesar dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengingat pusat Kerajaan Majapahit diperkirakan berada di lembah dekat aliran Sungai Brantas—yang situsnya diduga terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang⁷—bagaimana mungkin masyarakat Majapahit pada masa itu bermukim di kawasan pegunungan sebagaimana kondisi masyarakat Manduro saat ini?

Salah satu kemungkinan jawabannya berkaitan dengan peristiwa penyerangan terhadap Kerajaan Majapahit oleh Kesultanan Demak yang bercorak Islam pada tahun 1475, yang menjadi titik hilangnya jejak Kerajaan Majapahit dalam catatan sejarah. Pada masa itu, sebagian rakyat Majapahit diperkirakan menyingkir ke wilayah pegunungan. Fenomena serupa dapat dilihat pada masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo, yang hingga kini masih memegang teguh kepercayaan Hindu warisan Majapahit. Pola yang sama diduga turut dialami oleh keturunan masyarakat Madura yang telah berkembang sejak awal berdirinya Majapahit, yang kemudian menyingkir ke kawasan pegunungan, dengan Manduro sebagai salah satu kemungkinan lokasi tujuan.

Di Desa Manduro, tepatnya di bagian utara Dusun Gesing yang masih berupa kawasan hutan, dapat ditemukan reruntuhan bangunan yang hanya menyisakan puing-puing batu. Asal-usul serta periode pembangunan struktur tersebut belum dapat dipastikan, apakah merupakan peninggalan masa kolonial Belanda ataukah peninggalan era Kerajaan Majapahit, mengingat kedekatan wilayah Manduro dengan Mojokerto dan Jombang. Hingga saat ini belum terdapat kajian arkeologis yang dilakukan untuk mengungkap identitas peninggalan tersebut secara ilmiah. Meskipun demikian, masyarakat Manduro meyakini bahwa reruntuhan tersebut merupakan peninggalan zaman Majapahit sekaligus peninggalan era para wali, khususnya yang berkaitan dengan Sunan Geseng.

Gelombang-gelombang kedatangan masyarakat Madura ke Jombang setelahnya tidak banyak terdokumentasikan. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa migrasi penduduk Madura ke Pulau Jawa merupakan fenomena historis yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, didorong oleh kondisi ekologi lahan kering (tegal) yang mendorong penduduk untuk mencari lahan yang lebih subur serta sumber penghidupan yang lebih baik.

Puncak arus migrasi tersebut terjadi pada periode 1900–1930, seiring dibukanya berbagai perkebunan di Jawa Timur yang menarik minat penduduk Madura untuk bekerja sebagai buruh perkebunan. Akibatnya, jumlah penduduk di Pulau Madura mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kuntowijoyo mencatat bahwa penurunan tajam terjadi pada rentang tahun 1900 hingga 1920, di mana jumlah penduduk menyusut dari 1.750.511 jiwa menjadi 1.738.926 jiwa, dengan penurunan yang lebih drastis terjadi di kota-kota seperti Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan pada dekade 1920–1930. Lebih lanjut dijelaskan bahwa selain migrasi yang bersifat sementara, hingga tahun 1930 banyak pula pemukim baru asal Madura yang datang dan menetap secara permanen di Jawa Timur, dengan Jombang menjadi salah satu daerah tujuan utama. Tercatat bahwa hingga tahun 1930, jumlah penduduk Madura yang telah menetap di Jombang mencapai 936 jiwa.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diasumsikan bahwa keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro—yang pada masa itu masih berupa kawasan hutan—kemungkinan besar bermula sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Asumsi ini diperkuat oleh narasi yang berkembang di kalangan masyarakat Manduro terkait situs peninggalan Majapahit serta kisah Sunan Geseng yang diyakini pernah bermukim di wilayah tersebut. Sunan Geseng dikenal sebagai salah satu wali yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Apabila asal-usul penduduk Manduro dikaitkan dengan masa Perang Trunajaya yang berlangsung pada abad ke-17, hal tersebut dinilai kurang sesuai secara kronologis, sebab pada periode tersebut narasi mengenai situs Majapahit maupun kisah Sunan Geseng semestinya belum berkembang di kalangan penduduk.

Wilayah yang diyakini pertama kali dihuni oleh kedua pelarian tersebut diduga adalah kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Gesing. Dugaan ini didasarkan pada banyaknya peninggalan sejarah yang belum terungkap di dusun tersebut, termasuk pula jejak-jejak peninggalan masa kolonial Belanda.

Penamaan Dusun Gesing sendiri diyakini berasal dari nama Sunan Geseng. Menurut cerita yang berkembang, dalam perjalanan dakwahnya menyebarkan agama Islam, Sunan Geseng pernah singgah di wilayah yang kini dikenal dengan nama Gesing. Dibandingkan dengan dusun-dusun lainnya, Dusun Gesing memiliki lebih banyak mitos yang berkembang di kalangan masyarakatnya, salah satunya terkait tempat yang dikeramatkan bernama Sendang Weji. Tempat ini dianggap keramat karena diyakini sebagai lokasi 'nyilem' atau menghilangnya Sunan Geseng. Menurut kepercayaan penduduk setempat, Sendang Weji kerap dikaitkan dengan berbagai kejadian tidak lazim. Keanehan pertama tercatat terjadi pada masa peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, ketika Sendang Weji dikabarkan mengeluarkan sumber air berwarna darah. Keanehan kedua terjadi menjelang maraknya fenomena penembakan misterius ('Petrus'), ketika permukaan Sendang Weji tertutup semacam anyaman selama tujuh hari. Keanehan ketiga terjadi bersamaan dengan momen pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di mana permukaan Sendang Weji dikabarkan menampakkan gambar menyerupai gunungan.

Selain itu, Sendang Weji juga dipandang sebagai simbol 'yoni' bagi masyarakat Dusun Gesing, sehingga dalam setiap upacara selamatan desa, sesaji berupa tumpeng lengkap beserta hasil panen penduduk senantiasa diletakkan di lokasi tersebut. Meskipun demikian, terdapat pula pandangan lain yang menyebutkan bahwa kawasan yang pertama kali terbentuk justru adalah Mato'an, dengan alasan bahwa penamaan 'Mato'an' turut digunakan pada tiga dusun lainnya, yakni Mato'an Gesing, Mato'an Guwo, dan Mato'an Ndanden.

Asal-usul dusun-dusun lainnya di Desa Manduro juga memiliki narasi yang khas. Dusun Guwo, misalnya, dinamakan demikian karena di bagian selatan desa ditemukan dinding batu terjal yang menurut para sesepuh setempat menyimpan mulut gua dalam kondisi tertutup. Masyarakat Manduro meyakini bahwa hanya satu orang yang mampu membuka batu besar yang berfungsi sebagai pintu gua tersebut, yaitu mendiang Kepala Desa Manduro, Pak Saitun. Gua tersebut juga diyakini masyarakat setempat sebagai lokasi pertapaan Bung Karno pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Adapun narasi mengenai asal-usul Dusun Mato'an berbeda pula. Nama dusun ini diyakini berasal dari kata 'patokan' atau tugu, yang menurut kepercayaan penduduk setempat dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba pada waktu-waktu tertentu.

Sementara itu, asal-usul penamaan Desa Manduro sendiri hingga kini belum dapat dijelaskan secara pasti. Salah satu kemungkinan yang muncul adalah bahwa nama desa ini pada mulanya adalah "Desa Madura", yang diberikan karena mayoritas penduduknya berasal dari suku Madura. Terdapat dua kemungkinan penjelasan mengenai perubahan nama dari Madura menjadi Manduro. Kemungkinan pertama berkaitan dengan gejala kebahasaan yang dikenal sebagai epentesis, yaitu penyisipan fonem dalam satu suku kata, sebagaimana terlihat pada perubahan kata "upama" menjadi "umpama" atau "sadur" menjadi "sandur". baca juga 

Kemungkinan kedua berkaitan dengan fenomena idiolek, yakni sistem pengucapan yang bersifat individual, yang apabila digunakan secara kolektif oleh suatu komunitas dapat berkembang menjadi dialek khas masyarakat tersebut. Dengan demikian, sangat mungkin kata "Madura" diucapkan sebagai "Manduro" oleh masyarakat Jombang, atau sebagai "Meduro" oleh sebagian besar masyarakat Surabaya.

Kemungkinan ketiga berkaitan dengan tradisi masyarakat Madura yang pada umumnya sangat memuliakan tokoh pewayangan bernama Baladewa, yang dikisahkan sebagai raja dari Kerajaan Manduro. Dengan demikian, terbuka pula kemungkinan bahwa penamaan Desa Manduro terinspirasi dari nama kerajaan tokoh wayang tersebut.


Sabtu, 26 September 2026

Mimin

Legenda Kebokicak, Cerita Rakyat Jombang

Bagi masyarakat Jombang, nama Kebokicak bukanlah hal asing. Ini adalah salah satu cerita rakyat yang hidup dari mulut ke mulut, diwariskan lewat ingatan orang-orang tua kepada generasi berikutnya. Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan naskah kuno tertulis yang bisa dijadikan rujukan resmi atas kisah ini. Semua yang kita kenal sekarang berasal dari tuturan lisan, sehingga sulit dipastikan mana versi yang paling asli.

Karena statusnya yang berada di antara dongeng dan sejarah, cerita Kebokicak sebaiknya dilihat bukan sebagai fakta mutlak, melainkan sebagai warisan budaya lisan yang berfungsi menjelaskan asal-usul suatu tempat sekaligus menjadi hiburan turun-temurun.


Upaya Mendokumentasikan Cerita yang Nyaris Hilang

Pada tahun 2007, sekelompok mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang melakukan riset lapangan dengan mendatangi berbagai narasumber di pelosok Jombang. Hasil penelusuran mereka kemudian dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).

Buku itu memuat 13 versi cerita yang berbeda-beda, masing-masing dituturkan oleh tokoh masyarakat, seniman ketoprak, dalang, hingga sesepuh desa dari berbagai kecamatan di Jombang mulai dari Tembelang, Peterongan, Kesamben, Bandar Kedung Mulyo, Gudo, Ngoro, hingga Jombang kota. Setiap narasumber mempunyai versi ceritanya sendiri, dengan tokoh, alur, dan detail yang kadang mirip, kadang jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada satu versi pun yang bisa diklaim sebagai versi "resmi" atau paling benar.

Penelitian akademis lain, seperti skripsi Puspita Indriani dari Unesa (2003), membagi cerita Kebokicak menjadi dua kelompok besar: versi abangan yang berlatar murni kerajaan Majapahit pada masa Raja Brawijaya V, dan versi santri yang tetap memakai latar waktu sama namun memasukkan unsur pesantren di kawasan yang kini dikenal sebagai Tebuireng.

Silsilah dalam Versi Santri

Salah satu versi santri yang cukup detail datang dari penuturan Kiai Hafidz asal Dapur Kejambon. Menurut kisah ini, ada tokoh bernama Ki Nur Khotib yang menikahi Wandan Manguri, putri dari Demang Kebokicak. Wandan Manguri sendiri disebut sebagai cucu Brawijaya V dari jalur Wandan Kuning, salah satu istri sang raja.

Dikisahkan, Wandan Kuning memiliki dua anak yaitu Raden Bondan Kejawan (Lembu Peteng) dan Wandan Wangi. Wandan Wangi kemudian diasuh oleh Mbah Pranggan di Karang Kejambon dan setelah dewasa dinikahkan dengan Kebokicak  menjadikan Kebokicak sebagai menantu Brawijaya V secara tidak langsung.

Silsilah ini berlanjut panjang melalui garis keturunan Ki Nur Khotib, yang kemudian melahirkan beberapa tokoh agama di kawasan Pasuruan dan Jombang, hingga akhirnya sampai pada Kiai Farhan, yang disebut sebagai kakek dari Kiai Hafidz sendiri.

Kebokicak di Panggung Ludruk

Selain dituturkan sebagai legenda lisan, kisah Kebokicak juga pernah diangkat ke panggung kesenian ludruk pada era 1970-an, salah satunya oleh seniman ludruk asal Jombang bernama Ngaidi Wibowo. Ia menuliskan naskah lakon ini menjadi 31 adegan berbahasa Jawa khas Jombangan, sebuah hal yang cukup langka mengingat banyak seniman ludruk saat itu tidak terbiasa menulis naskah secara formal.

Menariknya, ada kepercayaan di kalangan pemain ludruk bahwa pementasan lakon Kebokicak harus disertai sesajen tertentu. Jika syarat itu diabaikan, konon pertunjukan bisa kacau  bahkan ada cerita tentang pemain atau penonton yang kerasukan saat lakon ini dipentaskan tanpa ritual yang semestinya.

Secara umum, inti cerita dalam versi ludruk ini menceritakan konflik antara Kebokicak dan Surontanu yang memperebutkan seekor banteng sakti bernama Banteng Tracak Kencana  hewan yang konon bisa berbicara dan dirasuki dua sosok siluman. Perebutan itu berawal dari wabah penyakit yang melanda sebuah padepokan, di mana satu-satunya solusi menurut wangsit yang diterima gurunya adalah mengorbankan hewan berbulu putih sebagai tumbal.

Jejak Pengejaran yang Menjadi Nama Kampung

Bagian paling terkenal dari legenda ini adalah kisah pengejaran panjang Kebokicak terhadap Surontanu yang melarikan diri sambil membawa Banteng Tracak Kencana. Menariknya, hampir setiap lokasi yang dilalui dalam pengejaran itu dipercaya menjadi cikal bakal nama-nama desa yang masih ada hingga sekarang di wilayah Jombang. Berikut beberapa di antaranya, disarikan secara singkat:

- Parimono - konon berasal dari kejadian padi (pari) yang rusak diterjang saat pengejaran berlangsung.
- Mojosongo - tempat pertarungan yang menewaskan sembilan prajurit pengawal Kebokicak di sekitar pepohonan maja.
- Jombang - dipercaya berasal dari cahaya hijau dan merah yang muncul saat pertarungan sengit di sebuah kolam.
- Ringincontong - dinamai dari pohon beringin raksasa tempat Kebokicak mengerahkan kesaktiannya melawan Surontanu.
- Sumber Nangka, Bantengan, Tebu Ireng, Balung Biru - masing-masing memiliki cerita asal-usul yang berkaitan dengan persembunyian atau pertarungan dalam perjalanan pengejaran itu.
- Randuwatang- konon berasal dari kejadian warga yang menggoyangkan jasad kedua tokoh dengan ranting pohon randu untuk memastikan mereka benar-benar telah tewas.

Masih banyak nama desa lain yang disebut lahir dari kisah pengejaran ini, masing-masing dengan cerita kecil yang berbeda tergantung siapa yang menuturkannya.

Beragam Versi, Beragam Tafsir

Menariknya, tidak semua versi cerita ini sejalan satu sama lain. Ada versi yang menyebut Kebokicak berasal dari Tulungagung dan dikutuk ibunya menjadi berkepala kerbau karena membangkang. Ada pula versi lain yang mengaitkan asal mula kutukan itu dengan kemarahan seorang selir kerajaan yang menyaksikan dua pemuda berlatih silat secara kasar hingga disamakan dengan kelakuan kerbau.

Beberapa versi bahkan terkesan tidak sinkron secara sejarah — misalnya ada yang menempatkan tokoh Surontanu hidup pada masa penjajahan Belanda, padahal latar besar cerita ini semestinya berada di era Majapahit. Perbedaan semacam ini menunjukkan bagaimana cerita rakyat memang bisa berubah dan berkembang mengikuti siapa yang menceritakannya, kapan, dan dalam konteks apa.

Menyikapi Legenda sebagai Warisan Budaya

Melihat banyaknya versi dan perbedaan detail dalam kisah Kebokicak, ada baiknya cerita ini didekati sebagai kekayaan tradisi lisan, bukan sebagai catatan sejarah yang baku. Ketertarikan sebagian orang untuk mengaitkannya secara langsung dengan asal-usul nama Jombang memang menarik, tapi tetap memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam dan berbasis bukti, bukan semata bersandar pada legenda turun-temurun.

Terlepas dari itu, keberadaan cerita Kebokicak dengan segala variasinya tetap menjadi bukti betapa kayanya tradisi bertutur masyarakat Jombang, sekaligus pengingat pentingnya upaya pendokumentasian budaya lisan sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.

Jumat, 18 September 2026

Mimin

Cerita Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang

Halo dulur Jombang!. Tahukah kamu di ujung utara-timur wilayah Kabupaten Jombang, berbatasan langsung dengan aliran deras Sungai Brantas dan kaki Pegunungan Kendeng, terhampar sebuah desa yang menyimpan legenda panjang sejak era keruntuhan Majapahit. Desa Kudubanjar, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kudu, bukan sekadar wilayah agraris biasa. Nama desa ini menyimpan kisah pelarian seorang pasukan kerajaan, sementara jejak fisiknya masih bisa disaksikan hingga hari ini melalui sejumlah petilasan yang tetap dijaga warga setempat.

Pendopo Desa Kudubanjar

source image : https://kudubanjar-kudu.jombangkab.go.id/ 


Legenda di Balik Sebuah Nama

Konon, nama Kudubanjar lahir dari peristiwa besar yang mengguncang tanah Jawa pada penghujung era Majapahit. Ketika Kerajaan Demak Bintoro di bawah Raden Patah mulai menggerakkan pasukan untuk menyerang pusat Kerajaan Majapahit, seorang panglima bernama Rakai Banjar diperintahkan menghadang laju pasukan lawan. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke arah utara, menyeberangi Sungai Brantas, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan tanaman mengkudu. Di titik itulah Rakai Banjar mendirikan pesanggrahan, sembari menduga rute tersebut akan dilalui pasukan Demak.

Perkiraannya meleset. Pasukan Raden Patah justru mengambil jalur barat menuju Kerajaan Kediri sebelum berbelok ke timur menyerbu Majapahit dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, hingga akhirnya meruntuhkan kejayaan Majapahit. Menyadari kerajaannya telah tumbang, Rakai Banjar memilih tidak kembali. Ia bersama pasukannya menetap di kawasan hutan mengkudu tersebut, menjalani hidup sebagai pertapa dengan gelar Eyang Djenggot.

Sepeninggal Eyang Djenggot, tempat pertapaan itu diberi nama sesuai dua unsur yang melekat padanya: "Kudu", diambil dari hutan mengkudu tempat ia bersembunyi, dan "Banjar", dari nama belakang sang panglima. Perpaduan dua kata itulah yang hingga kini dikenal sebagai Kudubanjar. Sementara itu, tercatat pula bahwa kepala desa pertama yang memimpin wilayah ini bernama Mertoprawiro, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama desa.


Jejak Petilasan yang Masih Terjaga

Kisah masa lampau itu bukan sekadar cerita turun-temurun tanpa bukti. Hingga sekarang, warga Kudubanjar masih menjaga sejumlah petilasan yang dipercaya berkaitan langsung dengan riwayat Rakai Banjar. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, sebuah lokasi yang dahulu dikenal angker karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti beringin. Kini kawasan tersebut telah ditata lebih rapi, meski sebagian warga yang masih memegang kepercayaan lama tetap menjadikannya tempat ritual tolak bala.

Foto Kentongan Perkiraan tahun 2015
source image : https://nilaenggal01.blogspot.com

 

Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa kentongan tua yang usianya ditaksir puluhan tahun. Terbuat dari kayu pilihan yang tahan lapuk, kentongan ini dahulu menjadi alat komunikasi utama warga desa, digunakan untuk menandai berbagai peristiwa penting mulai dari ajakan berkumpul hingga tanda bahaya seperti pencurian atau kebakaran.

 

Monumen Sejarah yang Menyimpan Dua Kisah

 

Tugu Nasional : juga dipakai nama Jalan.
nama lain : Tugu rudal, Tugu bibir (lipstik)

Di persimpangan jalan desa, berdiri sebuah monumen yang oleh warga sekitar kerap disebut Tugu Nasional, namun lebih populer dikenal luas sebagai Tugu Peluru Kudubanjar. Bangunan yang menjulang sekitar tujuh meter ini dibangun sekitar tahun 1951 dan dikenang sebagai penanda perjuangan rakyat bersama Tentara Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung antara 1947 hingga 1949. Pertempuran sengit yang terjadi di wilayah utara Sungai Brantas tersebut hidup secara turun-temurun dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, sebagaimana pernah disampaikan langsung oleh kepala desa setempat kepada media. Bangunan bekas kantor onderdistrik pada masa itu bahkan kini beralih fungsi menjadi Kantor Kecamatan Kudu.

Menariknya, di kalangan warga turut beredar versi cerita lain mengenai asal-usul tugu tersebut, yang mengaitkannya dengan penanda pemakaman massal pada peristiwa kelam pergolakan politik nasional era 1960-an. Kedua versi cerita ini sama-sama hidup dalam ingatan masyarakat, mencerminkan bagaimana satu monumen bisa menyimpan lapisan sejarah yang berbeda tergantung dari sudut mana ia dikisahkan.

Wilayah Subur di Antara Dua Kecamatan

Secara geografis, Kudubanjar berbatasan dengan Desa Sumbernongko di utara, sejumlah desa di Kecamatan Ngusikan seperti Mernung, Simowau, Kemuning, dan Ketapang Kuning di sisi timur, Desa Menturus di selatan, serta Desa Sumberteguh di sisi barat. Dengan luas wilayah sekitar 2,53 kilometer persegi, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul, yang tersebar dalam sepuluh Rukun Warga dan dua puluh enam Rukun Tetangga. Dusun Kudu tercatat sebagai wilayah dengan penduduk dan luas terbesar, sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Kesuburan tanah di kawasan ini tidak lepas dari pengaruh aliran Sungai Brantas yang membawa material vulkanik dari letusan Gunung Kelud di masa lampau. Kombinasi tersebut menjadikan lahan pertanian di Kudubanjar cocok untuk budi daya tebu, padi, dan jagung, sementara sektor peternakan warga didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Denyut Perekonomian dan Tradisi Sedekah Bumi

Sebagai desa agraris, roda perekonomian Kudubanjar banyak digerakkan oleh sektor pertanian dan usaha mikro warga. Pemerintah desa setempat diketahui aktif memanfaatkan momentum tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar masyarakat Jawa, sebagai ajang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di lingkungan desa. Melalui perhelatan tahunan tersebut, produk-produk UMKM lokal mendapat ruang promosi sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi warga yang turut merayakan tradisi.

Tantangan Infrastruktur yang Terus Diupayakan

Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, Kudubanjar juga menghadapi sejumlah tantangan infrastruktur, terutama terkait akses jembatan penghubung. Jembatan di Dusun Banjarejo, yang menjadi jalur utama warga menuju Desa Sumbernongko dan Sumberteguh di Kecamatan Ngusikan, sempat putus total sejak akhir 2019 akibat derasnya arus sungai dan penumpukan enceng gondok. Warga sempat berswadaya membangun jembatan darurat sepanjang dua puluh tujuh meter yang hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, demi menjaga akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan tetap berjalan.

Persoalan ini menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati Jombang bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan tersebut pada akhir 2025, disusul kunjungan Bupati Jombang menjelang pergantian tahun untuk memastikan rencana pembangunan jembatan permanen segera terealisasi, setelah sebelumnya proses lelang proyek sempat mengalami kegagalan berulang kali. Selain isu jembatan, desa ini juga tercatat pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Marmoyo yang turut melanda sejumlah desa tetangga di Kecamatan Kudu, mendorong penanganan cepat dari perangkat kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Menjaga Warisan di Tengah Perkembangan Zaman

Perjalanan panjang Desa Kudubanjar, dari legenda pelarian seorang panglima Majapahit hingga tantangan pembangunan infrastruktur modern, menggambarkan bagaimana sebuah desa kecil mampu menyimpan lapisan sejarah yang kaya sekaligus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Petilasan yang masih berdiri, cerita yang terus dituturkan dari generasi ke generasi, serta upaya pembangunan yang terus berjalan, menjadikan Kudubanjar sebagai potret kecil dari perjalanan panjang tanah Jombang secara keseluruhan.


Referensi: Portal Jombang Kecamatan Kudu (kudu.jombangkab.go.id), Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Sudutkota.id, Wikipedia Bahasa Indonesia, dan Jombang Banget/Jawa Pos.

Sabtu, 05 September 2026

Mimin

Unik! Gunungan Tahu di Jombang Ini Dibentuk Jadi Ikon Masjid Agung hingga Ringin Contong

Siang itu, Jumat (4/9/2026), Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, tak seperti biasanya. Jalanan yang biasa lengang oleh aktivitas warga mendadak dipadati lautan manusia. Semuanya menatap ke satu arah: iring-iringan mobil pawai yang membawa gunungan tahu setinggi orang dewasa, berjalan pelan menyusuri jalan desa layaknya prosesi kemenangan panen.

Inilah Grebeg Tahu, tradisi tahunan yang digelar bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sekaligus Hari Ulang Tahun ke-62 Jam'iyah Mahabbaturrosul (JMR). Dua momentum yang melebur jadi satu perayaan besar, membuat suasana Sumbermulyo siang itu terasa berlipat semarak.

Tak kurang dari 14 mobil pawai ambil bagian, masing-masing membawa gunungan tahu dengan bentuk yang tak sekadar tumpukan biasa. Ada yang disusun menyerupai Ringin Contong, ikon legendaris pusat Kota Jombang. Ada pula yang dibentuk menjadi replika Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten seolah desa kecil ini ingin menghadirkan wajah Jombang dalam wujud tahu putih yang legit.

Begitu barisan pawai tiba di titik acara, suasana berubah riuh. Warga yang sejak awal menunggu tak sabar langsung menyerbu gunungan, berebut tahu yang sudah menjadi berkah sekaligus simbol kebersamaan. Tak ada yang canggung untuk saling dorong demi mendapatkan bagian  bagi mereka, ini bukan sekadar makanan, melainkan doa dan harapan yang dibawa pulang.

Di balik kemeriahan itu, ada cerita panjang tentang denyut ekonomi warga. Sumbermulyo dikenal sebagai salah satu sentra pengusaha tahu di Jogoroto, tempat aroma kedelai rebus dan asap perapian sudah menjadi bagian dari keseharian penduduk turun-temurun. Grebeg Tahu, dengan segala hingar-bingarnya, sejatinya adalah panggung untuk memperkenalkan hasil jerih payah para perajin itu kepada dunia yang lebih luas.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Jam'iyah Mahabbaturrosul Gus Aunur Rokhim, Sekretaris Daerah Agus Purnomo, S.H., M.Si., beserta jajaran Asisten, Staf Ahli, dan Kepala OPD terkait, Camat dan Forkopimcam Jogoroto, serta jajaran Pemerintah Desa dan BPD setempat  menandakan bahwa tradisi rakyat ini turut mendapat perhatian dari berbagai lapisan.

Yang menarik, geliat UMKM tahu di Sumbermulyo kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada cara-cara konvensional. Di tengah derasnya arus media sosial, para pelaku usaha didorong untuk merangkul dunia digital sebagai kanal promosi, tanpa mengorbankan mutu produk yang selama ini menjadi identitas mereka. Sebab viral tanpa kualitas, kata banyak pihak, hanya akan jadi euforia sesaat.

Ketika sore mulai turun dan gunungan tahu telah ludes dibawa pulang warga, Grebeg Tahu 2026 menyisakan lebih dari sekadar keramaian. Ia menjadi pengingat bahwa dari sepetak desa bernama Sumbermulyo, sebuah tradisi sederhana mampu merajut rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan ekonomi yang lebih besar  satu potong tahu demi satu potong tahu.