b
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2026

Mimin

Mengenal Kesenian Jaran Dor Khas Jombang

Jaran Dor merupakan seni pertunjukan Kuda Lumping khas Jombang yang mengakar sejak era kolonial Belanda. Pertunjukan ini pertama kali dipelopori oleh kelompok kesenian asal Desa Kemambang, Kecamatan Diwek, pada tahun 1925 dengan kekuatan 14 personil. Identitas paling menonjol dari kesenian ini terletak pada instrumen perkusi utamanya, yaitu jidor. Dentuman mantap dari jidor yang berbunyi "dor" menjadi alasan kuat di balik penamaan seni rupa pertunjukan ini.

Secara tradisional, irama Jaran Dor bertumpu pada gabungan instrumen sederhana tanpa lantunan lagu formal. Perangkat pengiring aslinya terdiri dari jidor, kendang, dan sepasang kimplung (tiga tabung perkusi beda ukuran; tabung besar dinamai thong, sedangkan yang kecil dinamai ketipung). Seiring pergeseran zaman, perangkat musiknya kian berkembang dengan penambahan instrumen gamelan seperti gong peking, saron, ketuk, dan kenong, hingga adopsi alat musik modern seperti keyboard, drum, dan simbal untuk mengakomodasi lagu-lagu dangdut serta campursari.
 

Alur pementasan Jaran Dor disajikan secara berurutan lewat lima babak tarian. Pertunjukan dibuka dengan Tari Bapangan atau Tari Pentulan yang membawakan karakter bermasker dengan hidung besar, mata bulat, serta aksesoris kumis dan alis dari bulu ekor sapi. Setelah itu dilanjutkan dengan Tari Jaranan khas Jombang yang karakter geraknya cenderung bebas, intuitif, dan sarat pengaruh ilmu pencak silat karena sebagian besar penarinya berlatar belakang pendekar. Babak berikutnya diselingi dengan Tari Topeng atau Tari Humor sebagai penyegar, kemudian Tari Jepaplok yang menampilkan figur kepala naga kayu berengsel dengan ritme bunyi "plok-plok", lalu ditutup secara meriah oleh Tari Bantengan.

Karakter visual dan busana penari Jaran Dor juga memiliki keunikan tersendiri dibanding jaranan daerah lain seperti Semboyo. Ekor kuda lumping pada Jaran Dor berbentuk melengkung dan penarinya tampil tanpa gongseng atau kerincingan kaki. Busana klasiknya memadukan kaos garis horizontal warna merah-putih atau merah-hitam, luaran lengan panjang hitam, celana pendek bergaris merah, kopiah, dan sarung yang diikatkan di pinggang. Penarinya juga kerap membawa panthek, yaitu sebilah potongan bambu sepanjang satu meter, atau pecut cambuk.

Puncak estetika dan kekhusyukan pertunjukan Jaran Dor bermuara pada peran Tukang Gambuh atau pawang. Sebelum pementasan dimulai, pawang yang memiliki keahlian bela diri dan telah menjalani ritual tirakat akan membakar kemenyan di perapen untuk memohon keselamatan serta mengundang roh pelindung. Pawang bertugas mendampingi penari dan memegang kendali penuh atas keselamatan penari maupun penonton, terutama saat penari memasuki fase kesurupan atau ndadi.

Dalam kondisi ndadi, penari akan bergerak menuruti perintah pawang dan menyantap sajian khas seperti dedak, bunga, rumput, atau pisang. Aksi ekstrem seperti mengunyah pecahan kaca beling biasanya hanya disajikan apabila terdapat permintaan khusus dari penanggap acara. Keberhasilan prosesi mistis ini sangat bergantung pada kelengkapan sesaji yang disiapkan, mulai dari tikar pandan baru, sisir, kipas, beras kuning, pisang setangkep, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, hingga bumbu-bumbu dapur.

Kamis, 08 Mei 2025

Mimin

Bolet, Seniman Remo dari Jombang

Bolet merupakan seniman ludruk tradisional asal Jombang yang sangat berpengaruh dan dikenal sebagai sosok serba bisa, tak hanya sebagai pemain, tetapi juga pencipta karya seni. Salah satu ciptaan monumentalnya adalah tari remo gaya Jombangan, yang hingga kini menjadi ciri khas tersendiri dalam dunia ludruk.

bolet remo jombang

Dalam tradisi ludruk dikenal dua gaya utama tari remo: gaya Suroboyoan dan gaya Jombangan. Gaya Suroboyoan diciptakan oleh Munali Fatah, sedangkan gaya Jombangan adalah hasil kreasi Bolet. Meskipun sempat muncul gaya Mojokertoan yang dikenalkan oleh Ali Markasa, gaya ini tetap dianggap banyak terpengaruh oleh gaya Jombangan ciptaan Bolet, sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, seorang pemerhati ludruk yang menulis tesis tentang kesenian ini.

Ciri khas tari remo gaya Jombangan ciptaan Bolet terletak pada gerakannya yang santai, sederhana, tetapi penuh kejutan dan kelucuan, membuat penonton tersenyum atau mesem. Keunikan lainnya adalah penggunaan selendang warna hijau dan merah (ijo dan abang), yang oleh masyarakat dianggap sebagai singkatan dari Jom-bang, simbol identitas daerah asal tarian ini.

Selain Bolet, nama-nama lain dari Jombang yang turut mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ludruk adalah Ali Markasa, Santik (dikenal dengan ngamen lerok), dan Markeso (terkenal dengan ludruk garingannya). Namun, Bolet tetap menempati posisi istimewa karena kontribusinya yang besar.

Bolet meninggal pada 15 Agustus 1976 di usia yang relatif muda, yakni 34 tahun. Namun sebelum wafat, ia sudah memberikan kontribusi besar pada dunia kesenian Jawa Timur. Sebelum tahun 1965, ia sempat menjadi anggota Ludruk “Gaya Baru”. Setelah 1968, ia aktif sebagai pelawak dan penari Ngremo bebas. Prestasinya pun tak sedikit—pada tahun 1970 ia meraih Juara III lomba tari Ngremo tingkat Kabupaten Jombang dan berhasil menjadi Juara I tingkat Jawa Timur pada 1971.

Karyanya dianggap sangat berharga dan berpengaruh, sehingga pada suatu kesempatan, almarhum diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, sebagaimana disampaikan oleh Drs. H.M. Arifin, M.M., mantan Kepala Kantor Parbupora.

Jejak seni Bolet terus dilanjutkan oleh generasi penerus. Hal ini terlihat dalam Lomba Tari Ngremo se-Jawa Timur pada tahun 2004, di mana delapan penari dari ludruk Jombang masuk 10 besar. Bahkan, bintang tamu dalam acara tersebut juga berasal dari Jombang, yaitu Ali Markasa, menunjukkan bahwa warisan seni dari Bolet masih terus hidup dan berkembang.

Selasa, 10 Oktober 2023

Mimin

Kesenian Sandur Manduro di Kabupaten Jombang: Warisan Budaya Tak Benda

Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia, tidak hanya dikenal dengan Tari Topeng Jatiduwur, tetapi juga memiliki kesenian tradisional lain yang mengesankan, yaitu Kesenian Sandur Manduro. Kesenian ini hanya dapat ditemukan di Desa Manduro, Kabupaten Jombang, wilayah Kecamatan Kabuh.

 

Hanya ada satu grup Sandur Manduro yang masih bertahan hingga sekarang, yaitu Grup Sandur Gaya Rukun yang dipimpin oleh Warito. Warito mengungkapkan bahwa Sandur Manduro adalah kesenian yang menggabungkan unsur-unsur musik, tari, peran, dan topeng. Pertunjukan Sandur Manduro terdiri dari berbagai bagian, termasuk Tarian Klono, Tari Bapang, Tari Gunungsari, Tari Panji, Ayon-Ayon, dan diakhiri dengan lakon lawak pada bagian Sapen.

alun alun jombang

Pertunjukan ini menggunakan bahasa campuran karena Desa Manduro adalah pemukiman Etnis Jawa, meskipun penduduknya sebagian besar adalah Etnis Madura. Yang menarik, para pemain Sandur Manduro menggunakan topeng yang memiliki peran masing-masing dalam pertunjukan tersebut.

 

Kesenian Sandur Manduro yang khas telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2017. Kesenian ini memiliki akar dalam instrumen Panji dan berfokus pada cerita-cerita seperti Jaran Semberani yang menggambarkan perpecahan Kerajaan Airlangga menjadi Jenggala dan Panjalu. Selain itu, Sandur Manduro juga mencerminkan nilai-nilai budaya seperti pelestarian lingkungan dan kasih sayang terhadap binatang dan tanaman.

 

Kesenian Sandur Manduro adalah bagian berharga dari warisan budaya Indonesia yang patut dipelihara dan dilestarikan, dan Desa Manduro di Kabupaten Jombang adalah salah satu tempat di mana keunikan dan kekayaan budaya ini tetap hidup.

sumber : https://www.harianbhirawa.co.id/sandur-manduro-kesenian-khas-dari-kabuh-jombang/

Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Wayang Topeng Jati Duwur - Seni Pertunjukan Topeng Khas Jombang

Wayang Topeng Jati Duwur - Wayang Topeng Jati Duwur adalah seni pertunjukan topeng yang merupakan bagian dari warisan budaya Jombang, Jawa Timur. Seperti pertunjukan wayang topeng pada umumnya, pertunjukan ini melibatkan seorang dalang yang memimpin acara serta penari yang mengenakan topeng. Dalang memiliki peran utama dalam mengarahkan pertunjukan dan mengisahkan cerita, sementara penari menggunakan gerakan tubuh mereka untuk mengungkapkan karakter dalam cerita yang dibawakan.

 

wayang topeng jatiduwur jombang
image by : trenzindonesia.com

Pertunjukan Wayang Topeng Jati Duwur memiliki beberapa persamaan dengan pertunjukan wayang topeng di Jawa Timur, namun memiliki perbedaan utama dalam sumber cerita atau lakon. Di beberapa daerah seperti Madura dan Situbondo, lakonnya bersumber pada wiracarita Mahabarata dan Ramayana. Sementara di Malang, lakonnya berasal dari kisah Panji, dan di Jombang, selain lakon Panji, mereka juga mengambil cerita babad Majapahit.

 

Keberadaan Wayang Topeng di Jombang kembali dihidupkan pada tahun 2000-an melalui upaya revitalisasi yang diprakarsai oleh Supriyo, seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD) di Kudu. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kembali seni pertunjukan Wayang Topeng Jombang kepada masyarakat umum.

 

Wayang Topeng Jati Duwur merupakan satu-satunya kelompok Wayang Topeng yang masih ada di Jombang. Kelompok ini merupakan warisan dari Ki Purwo, yang diyakini membawa seni wayang topeng ke Desa Jati Duwur pada akhir abad ke-19. Keberadaan Wayang Topeng ini memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat, sering dianggap sebagai sarana ritual nadzar. Topeng-topeng warisan dari Ki Purwo diadakan upacara khusus pada tanggal 1 Sura sesuai dengan tradisi sebelumnya.

 

Meskipun mayoritas pemain Wayang Topeng ini adalah orang tua di atas 50 tahun, upaya revitalisasi telah melibatkan anak-anak muda dari desa setempat dalam pertunjukan, meski peran mereka tidak begitu sentral. Hasil dari revitalisasi ini telah menghasilkan dua lakon, yaitu "Patah Kuda Narawangsa" dan "Wiruncana Murca," yang kini menjadi bagian dari peninggalan budaya yang berharga dari Jombang, Jawa Timur.

sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id