Jaran Dor merupakan seni pertunjukan Kuda Lumping khas Jombang yang mengakar sejak era kolonial Belanda. Pertunjukan ini pertama kali dipelopori oleh kelompok kesenian asal Desa Kemambang, Kecamatan Diwek, pada tahun 1925 dengan kekuatan 14 personil. Identitas paling menonjol dari kesenian ini terletak pada instrumen perkusi utamanya, yaitu jidor. Dentuman mantap dari jidor yang berbunyi "dor" menjadi alasan kuat di balik penamaan seni rupa pertunjukan ini.
Secara tradisional, irama Jaran Dor bertumpu pada gabungan instrumen sederhana tanpa lantunan lagu formal. Perangkat pengiring aslinya terdiri dari jidor, kendang, dan sepasang kimplung (tiga tabung perkusi beda ukuran; tabung besar dinamai thong, sedangkan yang kecil dinamai ketipung). Seiring pergeseran zaman, perangkat musiknya kian berkembang dengan penambahan instrumen gamelan seperti gong peking, saron, ketuk, dan kenong, hingga adopsi alat musik modern seperti keyboard, drum, dan simbal untuk mengakomodasi lagu-lagu dangdut serta campursari.
Alur pementasan Jaran Dor disajikan secara berurutan lewat lima babak tarian. Pertunjukan dibuka dengan Tari Bapangan atau Tari Pentulan yang membawakan karakter bermasker dengan hidung besar, mata bulat, serta aksesoris kumis dan alis dari bulu ekor sapi. Setelah itu dilanjutkan dengan Tari Jaranan khas Jombang yang karakter geraknya cenderung bebas, intuitif, dan sarat pengaruh ilmu pencak silat karena sebagian besar penarinya berlatar belakang pendekar. Babak berikutnya diselingi dengan Tari Topeng atau Tari Humor sebagai penyegar, kemudian Tari Jepaplok yang menampilkan figur kepala naga kayu berengsel dengan ritme bunyi "plok-plok", lalu ditutup secara meriah oleh Tari Bantengan.
Karakter visual dan busana penari Jaran Dor juga memiliki keunikan tersendiri dibanding jaranan daerah lain seperti Semboyo. Ekor kuda lumping pada Jaran Dor berbentuk melengkung dan penarinya tampil tanpa gongseng atau kerincingan kaki. Busana klasiknya memadukan kaos garis horizontal warna merah-putih atau merah-hitam, luaran lengan panjang hitam, celana pendek bergaris merah, kopiah, dan sarung yang diikatkan di pinggang. Penarinya juga kerap membawa panthek, yaitu sebilah potongan bambu sepanjang satu meter, atau pecut cambuk.
Puncak estetika dan kekhusyukan pertunjukan Jaran Dor bermuara pada peran Tukang Gambuh atau pawang. Sebelum pementasan dimulai, pawang yang memiliki keahlian bela diri dan telah menjalani ritual tirakat akan membakar kemenyan di perapen untuk memohon keselamatan serta mengundang roh pelindung. Pawang bertugas mendampingi penari dan memegang kendali penuh atas keselamatan penari maupun penonton, terutama saat penari memasuki fase kesurupan atau ndadi.
Dalam kondisi ndadi, penari akan bergerak menuruti perintah pawang dan menyantap sajian khas seperti dedak, bunga, rumput, atau pisang. Aksi ekstrem seperti mengunyah pecahan kaca beling biasanya hanya disajikan apabila terdapat permintaan khusus dari penanggap acara. Keberhasilan prosesi mistis ini sangat bergantung pada kelengkapan sesaji yang disiapkan, mulai dari tikar pandan baru, sisir, kipas, beras kuning, pisang setangkep, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, hingga bumbu-bumbu dapur.
