b
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.

 


Sejarah Berdirinya

Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.

 

Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.

 

Lokasi dan Posisi Strategis

Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.

 

Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.

 

Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.

 

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.

 

Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.

 

Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.

 

Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.

 

Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.

 

Ikon Kebanggaan Kota Santri

Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.

 

Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.

 


Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.

Rabu, 02 September 2026

Mimin

Tentang Alun-Alun Jombang

 

Bagi masyarakat Kabupaten Jombang, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka di tengah kota. Tempat ini juga menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi saksi perjalanan pemerintahan, sekaligus berfungsi sebagai ruang publik yang terus dimanfaatkan warga hingga hari ini. Artikel berikut mengulas asal-usul, perjalanan revitalisasi, serta peran Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kota Santri.

 

Asal-Usul dan Makna Alun-Alun

Kata "alun-alun" berasal dari bahasa Jawa "aloen-aloen", yang merujuk pada lapangan luas berumput yang dikelilingi jalan dan digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Konsep ini lazim ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, biasanya terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kediaman penguasa daerah.

 

Alun-Alun Jombang sendiri diyakini telah ada sejak masa kerajaan, jauh sebelum masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ketika hendak menghadap bupati atau raja, sekaligus lokasi latihan bagi prajurit kerajaan. Fungsi tersebut menempatkan alun-alun sebagai ruang yang erat kaitannya dengan pusat kekuasaan, sebagaimana pola yang juga terlihat pada alun-alun di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Malang.

 

Dalam catatan sejarah lokal, kawasan ini turut menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada periode revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949. Bersama sejumlah bangunan bersejarah lain di Jombang, alun-alun disebut sebagai salah satu titik penting yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan rakyat Jombang melawan penjajah.

 

Lokasi Strategis di Jantung Kota

Secara administratif, Alun-Alun Jombang berada di kawasan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, tepatnya di sekitar Jalan Diponegoro. Posisinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Baitul Mukminin, Pendopo Kabupaten, serta sejumlah kantor pemerintahan menjadikan kawasan ini sebagai pusat orientasi kota. Letak yang berada di jantung Jombang membuat alun-alun mudah diakses oleh warga dari berbagai penjuru, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang publik utama di kabupaten ini.

 

Perjalanan Revitalisasi

Sebelum mengalami pembenahan besar, kondisi Alun-Alun Jombang sempat dipandang kurang layak untuk menjadi wajah kota. Rencana penataan ulang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2020, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

 

Barulah pada tahun 2021, proyek revitalisasi resmi dijalankan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Jombang. Pekerjaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor pemenang tender, dengan penandatanganan kontrak dilakukan pada akhir Agustus 2021. Peletakan batu pertama turut menandai dimulainya proses pembangunan yang digagas dengan konsep ramah anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan Jombang sebagai kota yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan religi yang melekat pada alun-alun.

 

Proses pembangunan tersebut rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Jombang pada awal tahun 2022, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Sejak saat itu, Alun-Alun Jombang tampil dengan wajah baru: lebih tertata, dilengkapi ruang terbuka hijau, serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern.

 

Salah satu pertimbangan menarik dalam desain baru ini adalah orientasi kegiatan upacara. Mengingat posisi alun-alun yang berdampingan dengan masjid, arah pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar pemimpin upacara menghadap ke utara, sementara peserta menghadap ke selatan, sehingga kegiatan tidak membelakangi bangunan masjid.

 

Fasilitas dan Fungsi Sosial

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Jombang berkembang menjadi ruang multifungsi. Area barat alun-alun dipersiapkan sebagai jalur pedestrian lebar yang dilengkapi payung hidrolis, sehingga dapat menampung jamaah saat pelaksanaan salat berjamaah pada hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, tersedia pula area bermain anak atau playground yang menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga yang berkunjung.

 

Fungsi alun-alun kini jauh lebih beragam dibandingkan masa sebelumnya. Kawasan ini rutin digunakan untuk kegiatan olahraga, bersepeda, hingga sekadar bersantai bersama keluarga pada sore maupun malam hari. Di sisi lain, alun-alun juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara besar pemerintah daerah, seperti perayaan hari jadi kabupaten maupun festival tahunan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.

 

Keberadaan pedagang kaki lima di sekitar kawasan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah menata ulang zona berjualan dan menyediakan sentra kuliner khusus di luar area alun-alun, sehingga suasana di sekitar lapangan tetap tertib dan nyaman dikunjungi.

 

Alun-Alun sebagai Identitas Kota

Lebih dari sekadar taman kota, Alun-Alun Jombang mengemban nilai historis yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Kawasan ini dianggap penting untuk dilestarikan, bukan hanya karena fungsinya sebagai ruang terbuka, tetapi juga karena nilai budaya yang terus dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan adat dan sosial.

 

Pemeliharaan fasilitas di kawasan ini pun menjadi perhatian rutin pemerintah daerah, mulai dari perbaikan penerangan hingga pengelolaan ruang terbuka hijau, guna memastikan alun-alun tetap nyaman digunakan sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari.

 

Penutup

Perjalanan Alun-Alun Jombang, dari lapangan sederhana peninggalan masa kerajaan hingga menjadi ruang publik modern yang multifungsi, mencerminkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman. Bagi warga Jombang, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga simbol kebersamaan dan kebanggaan atas identitas kota yang dikenal sebagai Kota Santri.

Mimin

Ringin Contong: Saksi Bisu Lahirnya Jombang

 

Bundaran Ringin Contong: Ikon Jombang yang Menyimpan Cerita Satu Abad Lebih

Kalau Anda pernah melintas di pusat Kota Jombang, hampir mustahil melewatkan satu titik yang selalu jadi patokan arah warga setempat: Bundaran Ringin Contong. Menara air tua bergaya kolonial yang menjulang di tengah bundaran ini sudah jadi pemandangan akrab selama puluhan tahun. Tapi di balik sosoknya yang megah, ada rangkaian kisah sejarah yang sayangnya belum banyak diketahui orang  termasuk soal dari mana sebenarnya nama "Ringin Contong" itu berasal.

Ternyata, Namanya Bukan dari Menara Air

Banyak orang mengira nama Ringin Contong lahir dari bentuk menara air yang berdiri di sana. Wajar saja, bentuknya memang mengerucut ke atas seperti corong. Tapi anggapan ini sebenarnya kurang tepat.

Kalau ditelusuri lebih dalam, nama itu justru berasal dari dua kosakata Jawa yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan bangunan Belanda tersebut. "Ringin" merujuk pada pohon beringin, sementara "contong" adalah istilah lokal untuk wadah pembungkus makanan yang berbentuk kerucut  semacam bungkus nasi yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional Jawa. Jadi, jauh sebelum menara air itu berdiri, nama kawasan ini sudah lebih dulu terbentuk dari unsur pohon beringin, bukan dari arsitektur Belanda yang datang belakangan.

Pohon Beringin sebagai Penanda Lahirnya Pemerintahan Jombang

Lalu, dari mana asal pohon beringin yang dimaksud? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Jombang sebagai daerah otonom.

Pada 21 Oktober 1910, Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, menanam sebatang pohon beringin di lokasi yang kini menjadi bundaran tersebut. Penanaman ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebagai simbol resmi berdirinya pemerintahan Kabupaten Jombang setelah wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto pada masa kolonial. Dengan kata lain, pohon beringin itu berfungsi seperti "prasasti hidup" yang menandai babak baru sejarah administratif Jombang.


Watertoren: Ketika Belanda Membawa Modernisasi ke Jombang

Kisah kawasan ini kemudian berlanjut hampir dua dekade kemudian, tepatnya saat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah menara air atau watertoren persis di lokasi yang sama dengan pohon beringin bersejarah tadi.

Berdasarkan catatan yang tercantum dalam surat kabar lawas De Indische Courant, proyek pembangunan menara air ini dimulai pada 24 Agustus 1928 di bawah tanggung jawab Burgelijke Openbare Werken (BOW), atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda kala itu. Rancangan bangunannya digarap oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf, dan proses konstruksinya memakan waktu kurang lebih setahun penuh.

Begitu rampung pada 1929, menara ini langsung difungsikan sebagai tandon penampung air yang bersumber dari mata air besar di kawasan Ngampungan, Bareng. Dari sanalah air kemudian dialirkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di pusat Kota Jombang  sebuah lompatan besar dalam hal infrastruktur air bersih pada masanya.

Ketika Sejarah dan Modernitas Berdiri Berdampingan

Yang membuat Bundaran Ringin Contong istimewa bukan cuma karena usianya yang sudah lebih dari satu abad, melainkan karena di tempat ini dua era bertemu dalam satu titik yang sama. Pohon beringin melambangkan akar sejarah lokal dan kelahiran pemerintahan Jombang, sementara menara air peninggalan Belanda menjadi bukti bagaimana modernisasi mulai menyentuh kota ini di awal abad ke-20.

Kombinasi keduanya menjadikan bundaran ini lebih dari sekadar persimpangan jalan biasa. Bagi warga Jombang, tempat ini adalah penanda identitas kota. Bagi pengunjung dari luar daerah, terutama yang tertarik pada jejak arsitektur kolonial dan cerita rakyat, kawasan ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: perpaduan cerita rakyat Jawa dan peninggalan teknologi kolonial dalam satu lanskap yang sama.

Penutup

Bundaran Ringin Contong bukan sekadar hiasan kota atau titik transit kendaraan yang sering dilewati tanpa disadari maknanya. Di balik menara airnya yang kokoh dan bayang-bayang pohon beringin yang rindang, tersimpan jejak panjang sejarah administratif sekaligus jejak modernisasi kolonial yang membentuk wajah Jombang hari ini. Bagi siapa pun yang tertarik menyusuri sejarah kota-kota kecil di Jawa Timur, singgah sejenak di bundaran ini rasanya layak masuk daftar kunjungan wajib.

Senin, 31 Agustus 2026

Mimin

Situs Umpak Grobogan Jombang: Jejak Kuno yang Tersembunyi

Di jantung Dusun Sukorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah peninggalan kuno yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Situs Umpak Grobogan, secara administratif, mungkin sulit ditemukan tanpa panduan yang tepat. Sayangnya, tidak ada petunjuk arah yang jelas menuju situs ini, sehingga eksplorasi menuju tempat ini bisa menjadi sedikit petualangan tersendiri. Untuk membantu Anda menemukan jalan, berikut rute menuju Situs Grobogan:

 

Mulailah dari Jombang dan arahkan langkah ke Mojoagung. Setelah mencapai Pertigaan Terminal Mojoagung, belok ke kanan (menuju selatan). Lanjutkan perjalanan selama sekitar 3.5 kilometer hingga Anda mencapai sebuah perempatan. Dari sini, belok kiri hingga Anda tiba di pelataran masjid di sisi kiri jalan desa.

 

Situs Grobogan memiliki sejarah yang menarik. Ini terdiri dari delapan umpak batu, yang terbagi menjadi tujuh yang berkelompok, dan satu lagi yang terpisah. Umpak-umpak ini, meskipun mungkin tidak begitu mencolok, memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pondasi tiang penyangga sebuah bangunan. Bentuk umpaknya sendiri menarik, dengan segi delapan di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Selain itu, pada umpak tersebut terdapat pahatan sederhana yang menambah daya tariknya.

 

Di bagian atas umpak, Anda akan menemukan lubang berbentuk persegi yang dulunya digunakan untuk menancapkan tiang bangunan. Kemungkinan besar, Situs Grobogan ini adalah situs yang dulunya adalah pendopo. Bagian tiang dan atap bangunan mungkin telah lenyap, mungkin karena terbuat dari bahan yang mudah lapuk. Meskipun misteri dan keindahan sejarah yang terkandung di Situs Grobogan ini mungkin tersembunyi, mereka menunggu untuk diungkapkan dan dihargai oleh mereka yang mencari jejak kuno di Jombang.

Mimin

Menelusuri Jejak Sejarah Kabupaten Jombang

Foto Lawas Pendopo Lawas Kabupaten Jombang, Perkiraan Tahun 1930

Selayang Pandang Geografis

Kabupaten Jombang berada di jantung Provinsi Jawa Timur, membentang seluas lebih dari 1.159 kilometer persegi. Berdasarkan data  dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang pada tahun 2025, wilayah ini dihuni sekitar 1.373.790 jiwa penduduk. Pusat kotanya berdiri di ketinggian 44 meter dari permukaan laut, sekitar 79 kilometer atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat dari Surabaya, ibu kota provinsi.

Letaknya boleh dibilang cukup strategis. Jombang berada tepat di titik pertemuan beberapa jalur transportasi utama Pulau Jawa: lintasan selatan yang menghubungkan Surabaya, Madiun, hingga Yogyakarta, juga jalur menuju Tulungagung dan jalur yang mengarah ke Malang serta Tuban. Posisi persimpangan inilah yang sejak lama menjadikan Jombang sebagai wilayah lalu lintas orang, barang, maupun gagasan.

Julukan Kota Santri

Tak berlebihan bila Jombang disebut "Kota Santri". Di kabupaten ini bertebaran pondok pesantren, dan sebagian di antaranya sudah dikenal luas seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Ada semacam anggapan turun-temurun di kalangan masyarakat pesantren bahwa hampir setiap pendiri pondok di tanah Jawa pernah singgah menimba ilmu di Jombang lebih dulu  semacam pengakuan tak tertulis atas peran daerah ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara.

Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir sejumlah tokoh besar bangsa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang kelak menjadi Presiden RI keempat, dua pahlawan nasional yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib. Nama-nama ini menjadi bukti bagaimana tradisi keilmuan Jombang ikut membentuk wajah intelektual dan keagamaan Indonesia modern.

Asal-usul Nama dan Makna Lambang Daerah

Ada cerita rakyat yang menjelaskan asal kata "Jombang". Konon nama ini merupakan gabungan dua kata bahasa Jawa, "ijo" dan "abang". Ijo melambangkan kalangan santri yang religius, sedangkan abang mewakili kelompok abangan yang lebih condong pada nilai kejawen dan nasionalisme. Menariknya, dua kelompok dengan latar berbeda ini justru hidup rukun berdampingan sebuah harmoni yang kemudian diabadikan dalam warna dasar lambang daerah.

Lambang Kabupaten Jombang sendiri berbentuk perisai yang sarat simbol. Di dalamnya termuat gambar padi dan kapas sebagai lambang kemakmuran, gapura serta benteng peninggalan Majapahit, bangunan Balai Agung yang menggambarkan sifat pemimpin yang mengayomi rakyat, menara berhiaskan bintang bersudut lima sebagai simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, tangga beton lima tingkat yang merepresentasikan Pancasila dan UUD 1945, gambar gunung, serta dua aliran sungai yang menggambarkan kesuburan tanah Jombang yakni Sungai Brantas dan Sungai Konto.

Setiap warna pada lambang pun punya makna tersendiri: hijau melambangkan kesuburan dan ketenangan, merah tua menggambarkan keberanian dan sikap kritis, biru cerah mewakili optimisme rakyat, cokelat menunjukkan keaslian tanah, kuning melambangkan kejayaan, dan putih menjadi simbol kesucian.
 

Dari Zaman Purba hingga Kerajaan Kuno

Jejak kehidupan manusia di kawasan Jombang ternyata sudah sangat tua. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam.

Catatan sejarah tertulis mulai muncul pada abad ke-10. Prasasti Turyyan yang bertarikh tahun 929 Masehi mengisahkan bagaimana Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, memindahkan pusat pemerintahannya ke Tamwlang  yang diperkirakan kini berada di wilayah Kecamatan Tembelang. Delapan tahun kemudian, berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang, Raja Dharmawangsa Teguh kembali memindahkan ibu kota ke Watugaluh, yang diyakini adalah Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek sekarang.

Sejarah kemudian mencatat tragedi tahun 1006 Masehi, ketika pasukan sekutu Sriwijaya dari Kerajaan Wora-wari menyerbu dan meluluhlantakkan ibu kota Kerajaan Medang, sekaligus menewaskan Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu yang masih belia, berhasil lolos dari kepungan musuh. Jejak pelariannya konon masih bisa ditelusuri di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tiga belas tahun berselang, Airlangga bangkit dan mendirikan kerajaan baru yang wilayah kekuasaannya membentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 Masehi, Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi dua: Kadiri di sisi barat dengan ibu kota Daha, dan Janggala di sisi timur yang tetap berpusat di Kahuripan. Melihat peta kekuasaan pada masa itu, cukup masuk akal bila Jombang sudah menjadi wilayah lintasan yang ramai dilalui.

Ringin contong : foto tahun 2017
sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ringin_Contong,_Jombang,_2017-09-19.jpg

Era Kejayaan Majapahit dan Masuknya Islam

Antara tahun 1293 hingga 1500 Masehi, panggung sejarah Nusantara didominasi oleh Majapahit, kerajaan Hindu besar yang pengaruhnya meluas hingga ke Semenanjung Malaya. Pada masa inilah wilayah yang kini menjadi Jombang berfungsi sebagai gerbang masuk Majapahit  gapura barat berada di Desa Tunggorono, sementara gapura selatan terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Warisan nama-nama Majapahit itu masih bisa dijumpai hingga kini lewat sejumlah nama desa dan kecamatan berawalan "Mojo", seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, hingga Mojotengah. Salah satu peninggalan fisik paling berharga dari era ini adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Seiring meredupnya kekuasaan Majapahit akibat perang saudara berkepanjangan, Islam mulai menyebar dari pesisir utara Jawa Timur dan perlahan diterima masyarakat berkat pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya setempat. Jombang pun kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Mataram Islam, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali VOC pada akhir abad ke-17 dan berlanjut menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Keberagaman Jombang tidak berhenti pada dua kelompok besar itu saja. Etnis Tionghoa dan Arab pun turut mewarnai wajah daerah ini sejak lama, salah satunya ditandai dengan keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon telah berdiri sejak tahun 1700 dan masih aktif digunakan hingga sekarang.

Masa Kolonial dan Berkembangnya Pluralisme

Tahun 1811 menjadi penanda penting ketika Kabupaten Mojokerto didirikan, dengan Jombang saat itu berstatus sebagai salah satu wilayah keresidenan di dalamnya. Bahkan situs bersejarah Trowulan, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, sempat masuk ke dalam wilayah administratif Jombang.

Sekitar tahun 1900, misionaris asal Belanda dan Eropa gencar menyebarkan agama Kristen di Jawa Timur. Mojowarno tercatat sebagai basis jemaat Kristen terbesar di wilayah Keresidenan Surabaya kala itu, dengan jumlah pengikut mencapai ribuan jiwa - jauh melampaui wilayah Kediri, Madiun, maupun Pasuruan. Fakta ini menjadi cerminan betapa masyarakat Jombang sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.

Peran Jombang dalam sejarah pergerakan nasional juga tak bisa dipandang sebelah mata. KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh Masyumi, dan KH Wahid Hasyim, anggota termuda BPUPKI yang kelak menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, sama-sama lahir dari tanah ini. Status Jombang sebagai kabupaten resmi di Jawa Timur akhirnya dikukuhkan lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950.

Jejak Alfred Russel Wallace di Jombang

Salah satu babak menarik dalam sejarah Jombang datang dari kunjungan seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace, tokoh yang dikenal luas lewat teori evolusinya dan konsep Garis Wallace. Dalam ekspedisinya menjelajahi kekayaan hayati Nusantara pada tahun 1861, Wallace sempat singgah dan bermalam di wilayah Jombang, tepatnya di kawasan Wonosalam.

Dalam catatan perjalanannya yang kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago salah satu karya literatur ilmiah paling berpengaruh abad ke-19  Wallace mengeja nama tempat itu sebagai "Wonosalem" dan menyebutnya berada di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang dimaksud kemungkinan besar terletak di kaki Gunung Anjasmoro, sebuah gunung yang pada masa itu boleh jadi belum memiliki nama tersendiri atau masih dianggap satu gugusan dengan Arjuna.

Dalam perjalanannya menuju Wonosalam, Wallace melewati hutan yang ia gambarkan sangat memesona, sekaligus singgah di Candi Arimbi yang berlokasi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Menurutnya, candi tersebut tampak seperti makam seorang raja dugaan yang tak sepenuhnya meleset, sebab menurut sejumlah versi cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan Tribhuwanatunggadewi.

Selama berada di Wonosalam, Wallace tercatat mengumpulkan berbagai spesimen unggas liar, termasuk burung merak, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi setempat. Menariknya, kopi masih menjadi salah satu komoditas andalan petani Wonosalam hingga hari ini, berdampingan dengan cengkih, kakao, dan durian lokal jenis bido.

Perkebunan kopi di kawasan itu diduga mulai dikembangkan sejak masa tanam paksa di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada pertengahan abad ke-19. Sekitar empat dekade setelah kunjungan Wallace, memasuki awal 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda kembali menata perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro melalui sistem sewa lahan, mulai dari Dusun Segunung hingga merambah ke Dusun Sumberjahe dan Sumberarum. Pabrik pengolahan kopi yang dibangun di Segunung sejak awal 1920-an bahkan bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya dibongkar oleh pemilik lahan pada awal tahun 2000-an.

Sisa-sisa masa kolonial di sekitar Mojowarno pun masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari rumah-rumah tua, gereja bersejarah, hingga bekas Pabrik Gula Tjoekir yang berdiri di sisi barat kawasan tersebut.

Pesona Wisata dan Penetapan Status Kabupaten

Selain kaya akan cerita sejarah, Jombang juga menyimpan banyak destinasi wisata alam yang tak kalah menarik, di antaranya Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, hingga Air Terjun Tretes.

Secara administratif, Jombang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 20 Maret 1881 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Namun, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif pada tahun 1920, yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang tercatat sebagai Bupati Jombang pertama. Kepemimpinan daerah ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga periode 2025-sekarang di bawah kepemimpinan Bupati Warsubi, S.H., M.S.I dengan Wakil Bupati M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd (Gus Salman)..

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S.I M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Kamis, 20 Maret 2025

Mimin

Misteri Situs Pertirtaan Sumberbeji Jejak Peradaban Kuno

Sebuah studi menarik mengungkap keberadaan Situs Pertirtaan Kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Situs ini diduga tertimbun akibat bencana besar di masa lalu, kemungkinan akibat letusan dahsyat Gunung Kelud yang membawa material pasir dan kerikil melalui aliran Sungai Konto.

Menurut Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jatim), tanah di Situs Pertirtaan Sumberbeji memiliki kemiripan dengan Situs Sugihwaras yang diduga sebagai Kedaton. Penelitian lebih lanjut membandingkan Situs Sumberbeji dengan Situs Tondowongso di Kediri, yang menunjukkan bahwa bencana yang menyebabkan situs ini tertimbun terjadi sekitar tahun 1300, sebelum masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Diperkirakan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji dibangun pada masa Kerajaan Kadiri hingga Majapahit dan telah mengalami beberapa kali pemulihan. Selama ekskavasi tahap 1 hingga 3, ditemukan berbagai artefak berharga, seperti Jaladwara (saluran air kuno), keramik, serta fragmen uang gepeng China yang berasal dari Dinasti Song pada abad ke-11 hingga abad ke-14.

Menariknya, dalam naskah Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, tidak ada catatan tentang Hayam Wuruk mengunjungi Sumberbeji. Sebaliknya, naskah tersebut menyebutkan Surowono sebagai tempat yang dikunjungi oleh raja. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji kemungkinan besar sudah tertimbun pada saat itu.

Berdasarkan penelitian sejarah, wilayah Jombang dulunya adalah bagian dari Panjalu. Situs ini mungkin telah dibangun pada masa pemerintahan Airlangga dan diperbarui pada masa Panjalu hingga era Tribuana Tunggadewi dari Majapahit. Namun, sejauh ini tidak ditemukan bukti konkret yang menunjukkan keterlibatan Hayam Wuruk dalam sejarah situs ini.

Salah satu daya tarik utama Situs Pertirtaan Sumberbeji adalah bangunan batur yang diduga memiliki menara simbol Gunung Meru yang dikelilingi air. Selain itu, situs ini juga menampilkan relief Garuda yang berkaitan dengan kisah pencarian air suci atau Amerta dalam konsep samudramantana. Temuan ini semakin memperkaya wawasan tentang sejarah dan budaya kuno Jombang, sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai jejak peradaban yang tersembunyi di balik tanahnya.

Mimin

Prasasti Tengaran: Jejak Sejarah dari Era Mataram Kuno

Peterongan - Prasasti Tengaran, yang juga dikenal sebagai Prasasti Geweg, merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih berdiri di tempat aslinya (insitu). Secara administratif, prasasti ini berada di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Jombang. Saat ini, wilayah sekitar prasasti merupakan area persawahan yang masih alami, menambah nuansa historis bagi situs ini.

Rute Menuju Prasasti Tengaran

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Prasasti Tengaran, berikut rute yang bisa diikuti:

  • Mulai dari Jombang
  • Melalui Jl. Gus Dur
  • Lanjut ke Jl. Soekarno Hatta
  • Belok ke arah Terminal Jombang
  • Dari perempatan terminal, lurus ke utara hingga mentok lalu belok kiri
  • Sampai di pertigaan, belok kanan dan ikuti jalan hingga tiba di Desa Tengaran

Prasasti Tengaran terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 124 cm dan lebar 78 cm. Tulisan pada prasasti ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam bahasa Jawa Kuno. Pada sisi A terdapat 7 baris tulisan, sedangkan sisi B memiliki 16 baris tulisan.

Prasasti ini disebut juga Prasasti Geweg karena mencatat penetapan Desa Geweg sebagai sima, yaitu desa perdikan yang dibebaskan dari pajak. Desa Geweg sendiri adalah sebuah desa kuno yang kini masuk dalam wilayah Desa Tengaran.

Penetapan sima tersebut dilakukan pada tanggal 6 Paropeteng bulan Srawana tahun 857 Saka, yang bertepatan dengan 14 Agustus 935 Masehi. Keputusan ini dibuat oleh Mahamantri Pu Sindok San Sri Sanotunggadewa bersama Rakyan Sri Parameswari Sri Wardhani Kbi Umisori. Pu Sindok dikenal sebagai raja Medang dari periode Mataram Kuno di Jawa Timur, sedangkan Kbi diduga merupakan permaisurinya.

Jejak Sejarah yang Perlu Dijaga

Sebagai bagian dari warisan sejarah, Prasasti Tengaran memiliki nilai penting dalam memahami perjalanan panjang peradaban Nusantara. Keberadaannya menjadi saksi bisu kebijakan pemerintahan di era Mataram Kuno dan menunjukkan bagaimana sistem administrasi serta pengelolaan desa pada masa itu.

Melestarikan dan menjaga prasasti ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat sekitar dan generasi penerus. Dengan demikian, Prasasti Tengaran dapat terus menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Mimin

Prasasti Grogol / Prasasti Kusambyan

Kudu Jombang - Prasasti Grogol secara administratif terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lokasinya berada di dalam kawasan hutan, sehingga akses menuju situs ini cukup menantang. Jalur yang tersedia hanya berupa jalan setapak, yang membuat perjalanan ke prasasti ini memerlukan usaha lebih. Karena letaknya yang tersembunyi, pengunjung disarankan untuk meminta panduan kepada juru pelihara Prasasti Sumber Gurit, yang juga berada di desa yang sama. Jarak antara Prasasti Grogol dan Prasasti Sumber Gurit hanya sekitar satu kilometer, sehingga keduanya dapat dikunjungi dalam satu perjalanan.

Kondisi Prasasti Grogol saat ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bagian atasnya telah terpecah menjadi sembilan bagian, sehingga bentuk aslinya sulit untuk dikenali secara utuh. Berdasarkan perkiraan para ahli, jika prasasti ini masih dalam kondisi sempurna, bentuknya menyerupai sebuah balok dengan puncak yang meruncing. Bagian dasarnya berbentuk lapik padmasana, yang merupakan ciri khas struktur prasasti pada zaman tersebut. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno, yang mencerminkan budaya dan sistem penulisan pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Prasasti ini diresmikan pada tahun 1037 Masehi, saat Kerajaan Kahuripan berada dalam masa kejayaannya.

Selain dikenal dengan nama Prasasti Grogol, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Kusambyan. Hal ini disebabkan oleh isi prasasti yang berkaitan dengan wilayah kuno bernama Kusambyan atau yang disebut dalam teks sebagai "karaman i Kusambyan." Dalam prasasti ini disebutkan bahwa wilayah Kusambyan dijadikan sebagai sima sawah oleh Sri Maharaja, sebuah bentuk anugerah atau status khusus yang diberikan kepada daerah tertentu. Status sima sawah ini biasanya diberikan kepada wilayah yang memiliki peran penting, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun keagamaan.

Salah satu aspek menarik dari isi prasasti ini adalah penyebutan nama tokoh Rahyan Iwak. Nama tokoh ini muncul berkali-kali pada bagian depan prasasti, yang menunjukkan bahwa Rahyan Iwak adalah sosok yang sangat berpengaruh di Kusambyan pada masa itu. Tokoh ini kemungkinan besar memiliki kedudukan penting, baik sebagai pemimpin lokal maupun sebagai figur yang dihormati dalam lingkup kerajaan. Keberadaan nama Rahyan Iwak juga memiliki keterkaitan dengan Prasasti Tuhanharu, yang dikeluarkan oleh Raja Jayanegara dari Kerajaan Majapahit sekitar 200 tahun setelah masa pemerintahan Airlangga. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh Rahyan Iwak bertahan lama, bahkan hingga era Majapahit.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah yang berharga, Prasasti Grogol memiliki nilai penting dalam memahami perkembangan politik dan sosial pada masa Kerajaan Kahuripan. Prasasti ini menjadi bukti tertulis mengenai kebijakan pemerintahan pada zaman Airlangga, khususnya terkait dengan pengelolaan wilayah dan status sima sawah. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut terhadap prasasti ini sangat diperlukan agar informasi sejarah yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat dipahami oleh generasi mendatang.


Rabu, 11 Oktober 2023

Mimin

Misteri Situs Yoni Gambar: Jejak Bersejarah di Mojowarno, Jombang

Di tengah Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tersembunyi sebuah situs bersejarah yang menarik perhatian para peneliti dan pengunjung. Dikenal sebagai Situs Yoni Gambar, kadang juga disebut Mbah Gambar oleh penduduk setempat, situs ini terbuat dari batu andesit dengan orientasi menghadap barat.

Yoni Gambar

Yang membuat Yoni Gambar begitu menarik adalah bentuk segi delapan yang unik, dengan sebuah lubang berbentuk persegi di bagian atasnya. Namun, makna yang lebih mendalam terkandung dalam Yoni ini, sesuai dengan konsep Hindu. Yoni adalah simbol Dewi Uma atau Parwati, pasangan Dewa Siwa yang dilambangkan oleh lingga.

Pada permukaan Yoni, terdapat sebuah lubang di bagian tengah yang digunakan untuk meletakkan lingga. Lingga ini terhubung melalui sebuah saluran sempit, yang berfungsi sebagai pancuran. Air yang dicurahkan pada lingga Yoni mengalir melalui saluran ini dan dianggap sebagai air suci yang digunakan dalam ritual keagamaan.

Yoni Gambar mojowarno


Yoni juga memiliki makna lebih besar sebagai penanda dalam pola keruangan tertentu. Menurut Nurhadi Rangkuti, Yoni Gambar, bersama dengan Yoni Lebakjabung dan Yoni di Situs Bhre Kahuripan, merupakan titik-titik terluar dari kawasan yang menjadi ibukota Majapahit. Situs Yoni Gambar ini mengandung banyak misteri dan sejarah yang menarik, menjadikannya destinasi menarik bagi para peneliti dan pencari petualangan yang ingin memahami lebih dalam warisan budaya dan agama di wilayah ini.

Mimin

Goa Made: Misteri Topeng Perunggu dan Jejak Sejarah yang Terlupakan

 goa made jombang

Selain wisata Sendang Made Kecamatan Kudu memiliki wisata sejarah yaitu Goa Made, yang terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, adalah sebuah situs arkeologi yang telah menarik perhatian para peneliti sejak tahun 2006. Namun, sebenarnya sebelum tahun 2006, penduduk setempat sudah menemukan banyak topeng perunggu yang menjadi artefak penting dalam sejarah di sekitar situs ini. Topeng-topeng ini memiliki berbagai bentuk, tetapi yang digambarkan hanyalah bagian penutup wajah. Beberapa juga berwujud patung dada dengan gambaran kepala hingga dada (patung torso), dan ada pula topeng yang menggambarkan wajah hingga leher.


Artefak perunggu yang ditemukan di Goa Made selama penelitian tahun 2006 dan 2007 mencakup lebih dari 100 macam benda. Selain topeng, terdapat pula artefak lain seperti hewan gajah, babi hutan yang ditunggangi oleh manusia, tabung silindris dengan puncak kepala manusia ganda yang menghadap ke depan dan belakang, kelompok wadah seperti bejana upacara, kendil, kendil bercucuk, dan lainnya, figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan belalainya membelit dan menginjak orang-orang, di punggungnya digambarkan ada pengendaranya yang sedang meniup terompet, serta kereta yang ditarik oleh beberapa orang sambil menarik gajah, dan banyak lagi.

Salah satu temuan yang paling menarik adalah topeng perunggu yang sebagian berwarna hijau. Topeng-topeng ini memberikan petunjuk tentang peran penting wilayah ini dalam sejarah masa lalu.

Saat diperhatikan dengan seksama, raut wajah yang digambarkan oleh topeng-topeng tersebut tidak selalu menggambarkan wajah orang Jawa atau Indonesia pada umumnya. Beberapa topeng memiliki karakteristik seperti mata yang salah satu sudutnya lebih tinggi dari sudut lainnya yang dekat dengan pangkal hidung, mata yang sempit, dan alis di atas mata yang melengkung naik mengikuti mata yang digambarkan miring. Ini mirip dengan ciri-ciri wajah orang-orang Asiatic Mongoloid.

Sejumlah arkeolog Indonesia telah menghubungkan situs Goa Made dengan periode Majapahit. Alasan mereka adalah temuan artefak perunggu dan batu yang dapat diidentifikasi dari era Majapahit. Temuan ini, khususnya topeng perunggu, tidak memiliki kesamaan dalam khasanah arkeologi Indonesia pada umumnya. Ini menjadi bagian penting dari penelitian arkeologi di situs ini.

Topeng perunggu yang ditemukan di Goa Made memiliki bahan dasar campuran antara tanah liat (keramik) dan logam (metal), yang dikenal sebagai cermet (ceramic-metal). Analisis kimia dilakukan di Laboratorium Arkeologi Eksperimental Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma. Pada saat itu, cermet merupakan bahan unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam teknologi pembuatan artefak perunggu. Pada umumnya, artefak perunggu ditemukan terbuat dari emas atau kayu. Selain itu, temuan-temuan ini juga membingungkan para ilmuwan karena usianya yang sangat tua, diperkirakan lebih dari 3.000 tahun sebelum Masehi.


Selain topeng perunggu, Goa Made juga mengungkapkan artefak lain yang menunjukkan kemegahan sejarah yang hilang dari Eurasia. Artefak ini mencakup figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan pengendaranya yang meniup terompet, serta arca Bhiksu dan dewa-dewa Buddha bergaya Cina yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-14.

Goa Made, dengan seluruh misteri dan temuannya, tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah sejarah Jawa Timur. Situs ini telah membantu para peneliti untuk menulis ulang lembaran sejarah yang hilang dari Eurasia dan menghadirkan penemuan yang mengejutkan tentang masa lalu kuno yang pernah ada di pulau-pulau Asia Tenggara. 

sumber : https://versesofuniverse.blogspot.com/2012/02/misteri-topeng-hijau-gua-made.html

Mimin

Jejak Sejarah Hidup: Prasasti Gurit, Peninggalan Raja Airlangga di Jombang

Prasasti Gurit, yang berlokasi di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, adalah saksi bisu peradaban masa lalu yang masih hidup dan sering dikunjungi oleh warga setempat. Meskipun jarang menjadi sorotan utama, prasasti ini terus memikat mereka yang ingin menjelajahi sejarah. Ada yang datang dengan tujuan memahami catatan masa lalu, sementara yang lain datang untuk menjalani ritual atau berdoa di tempat ini.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa Prasasti Gurit ini tidak pernah digunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya atau meresahkan warga setempat. Terletak di tengah pemukiman penduduk, prasasti ini selalu dalam pengawasan ketat, dan para pengunjung dihimbau untuk menjaga ketertiban.

Prasasti ini juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut, mengacu pada isi dari prasasti tersebut yang mengenai pembebasan pajak untuk wilayah Munggut. Pembebasan pajak ini dicatat pada tanggal 14 Krisnapaksa, Bulan Caitra, Tahun 944 Saka (3 April 1022 M). Meskipun terlihat sebagai keputusan administratif biasa, prasasti ini sebenarnya menjadi bukti penting akan keberadaan Raja Airlangga.

Bentuk Prasasti Gurit adalah segilima, dan setiap sisinya dihiasi dengan tulisan-tulisan kuno, sebagian besar di antaranya sudah terhapus oleh waktu. Tulisan dalam bahasa Sanskerta diukir di atas batu andesit. Lokasi prasasti ini tetap tidak berubah sejak zaman dahulu dan saat ini masuk dalam daftar cagar budaya di Jombang. Sayangnya, banyak warga Jombang yang belum menyadari keberadaan prasasti ini.

image :https://radarjombang.jawapos.com


Meskipun kurang dikenal, Prasasti Gurit masih menjadi tempat berbagai aktivitas. Beberapa warga meletakkan sesajen sebelum mengadakan upacara atau hajatan, dan tradisi sedekah bumi masih terus dilakukan di sekitar prasasti. Namun, jelasnya, waktu pelaksanaan sedekah bumi berubah-ubah sesuai kebijakan dusun/desa setempat.

Meskipun kondisi cagar budaya ini cukup terjaga dengan baik, sayangnya belum ada papan penjelasan yang menceritakan sejarah prasasti ini. Ini membuat pengunjung harus mengandalkan juru kunci untuk memahami lebih lanjut mengenai Prasasti Gurit.

Sebagai warisan dari nenek moyang, penting bagi kita semua untuk menjaga dan melestarikan Prasasti Gurit ini. Generasi muda di Jombang seharusnya belajar lebih banyak tentang sejarah lokal dan ikut berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan warisan yang berharga ini.


Selasa, 03 Oktober 2023

Mimin

Sendang Made Kecamatan Kudu : Surga Alam di Utara Kota Jombang

Sendang Made - Bagi para pencinta alam dan keindahan alami yang masih terjaga, Sendang Made adalah surga yang wajib Anda kunjungi. Terletak di sebelah utara Kota Jombang, obyek wisata alam ini menggoda dengan keindahan alam yang tak tertandingi dan air sendang yang tak pernah kering sepanjang tahun. Namun, daya tarik Sendang Made tak hanya terletak pada keberlimpahan airnya, melainkan juga pada panorama alam yang menawan, menjadikannya tempat ideal untuk melarikan diri dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan.

wisata sendang made

Sendang Made terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, sekitar 20 kilometer ke arah utara Kota Jombang. Tempat ini berada di lereng pegunungan Kendeng, menjadikannya lokasi yang strategis dan menarik untuk berlibur. Begitu Anda memasuki kawasan Sendang Made yang dikelilingi oleh pepohonan besar, Anda akan disambut oleh kicauan burung yang merdu, menciptakan suasana yang sangat alami dan menyegarkan.

Sendang Made bukan hanya destinasi alam yang menarik, tetapi juga tempat rekreasi yang ideal untuk mengusir kejenuhan kerja. Ketika Anda berkunjung ke sini pada hari-hari libur, terutama saat Idul Fitri atau tahun baru, Anda akan menemukan Sendang Made menjadi pusat perhatian dengan pagelaran show dangdut yang menghibur, menarik penonton dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Lamongan, Babat, Gresik, dan sekitarnya.

Meskipun Sendang Made adalah tempat yang indah, perlu diperhatikan bahwa konservasi alam dan penataan lingkungan yang baik adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan keindahan ini. Pohon-pohon dan tanaman di sekitar sendang harus dirawat dengan baik agar tetap lestari dan terawat. Dengan sedikit sentuhan dan perhatian yang baik, Sendang Made bisa menjadi destinasi wisata yang sangat menjanjikan, menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya.

Kisah di Balik Sendang Made

Sendang Made bukan sekadar tempat wisata biasa. Ini adalah petilasan Raja Airlangga, seorang penguasa yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Timur. Sejarah Sendang Made sangat erat kaitannya dengan Raja Airlangga dan oleh karena itu menjadi tempat yang sangat berarti bagi masyarakat setempat. Namun, meskipun sejarahnya sangat dikenal oleh warga Made, banyak orang di luar Jombang yang belum mengetahui tentang keberadaan wisata religi ini.

Di dalam kompleks Sendang Made, Anda akan menemukan berbagai sendang yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Salah satunya adalah Sendang Gede yang memiliki ukuran besar, mencapai 8 x 11 meter. Selain itu, ada beberapa sendang lain seperti Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben, dan Sendang Drajat. Semua sendang ini memiliki ciri khasnya masing-masing dan menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah yang dimiliki Sendang Made.

Salah satu hal yang membuat Sendang Made begitu istimewa adalah keberadaan ikan-ikan dalam sendang. Air sendang ini tidak pernah kering, dan konon katanya, jumlah ikan dalam sendang memiliki makna tertentu. Jika ikan sedikit, dipercaya sebagai pertanda zaman sulit, sementara jika jumlahnya banyak, dipercaya sebagai pertanda kemakmuran. Namun, perlu diingat bahwa ikan-ikan ini dihormati sebagai makhluk yang memiliki nilai magis, sehingga tidak boleh diambil atau diganggu


Sendang Made: Tempat Pelarian Raja Airlangga

Di balik ketenangan dan keindahan alam yang memukau di Sendang Made, terdapat sebuah cerita melegenda yang diyakini oleh banyak orang. Kisah ini berkaitan dengan pelarian Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan (juga dikenal sebagai Kerajaan Daha atau Panjalu). Konon, Raja Airlangga pernah bersembunyi selama tiga tahun di Sendang Made, menjadikan tempat ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah yang luar biasa.

Pengelola Situs Sendang Made, Badri, dengan bangga menceritakan kisah ini. Pada saat itu, Raja Airlangga masih berusia 16 tahun ketika menikahi Galuh Sekar, putri Dharmawangsa Tguh, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Dharmawangsa Tguh adalah seorang penguasa berkuasa di Kerajaan Medang yang pusat pemerintahannya diperkirakan berada di wilayah sekarang yang dikenal sebagai Maospati, Magetan.

misteri sendang made jombang

Raja Airlangga sendiri adalah putra dari pasangan Raja Udayana dan Mahendradatta. Ayahnya, Raja Udayana, pernah menjadi Raja Bedahulu di Gianyar, Bali, dan berasal dari Wangsa Warmadewa. Ibunya, Mahendradatta, adalah putri Raja Sri Makutawangsawardhana, yang memimpin Kerajaan Medang di Jawa Timur pada periode tertentu, merupakan anggota dari Wangsa Isyana. Sri Makutawangsawardhana adalah cucu dari Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur yang memerintah pada tahun 929-947 Masehi.

Kisah pelarian Raja Airlangga ke Sendang Made memberikan lapisan sejarah yang mendalam pada tempat ini. Tempat yang indah ini bukan hanya destinasi wisata biasa, tetapi juga sebuah monumen hidup dari masa lalu yang penuh dengan intrik politik dan cinta yang rumit. Saksi bisu ini tetap berdiri hingga hari ini, mengingatkan kita akan perjalanan sejarah yang luar biasa yang pernah melanda Jawa Timur.

Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang: Sejarah dan Kepercayaan Mistis yang Menyelimuti

Gunung Pucangan, terletak di desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, ternyata memiliki cerita mistis dan sejarah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak. Salah satu misteri yang mencolok adalah keberadaan 2 makam di antara 13 makam, yang diyakini sebagai makam orang-orang sakti, yakni Eyang Sakti dan Dewi Kili Suci.


 Purwanto, juru kunci makam ini, menjelaskan bahwa Dewi Kilisuci adalah putri dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri. Kisahnya bermula ketika Dewi Kilisuci memutuskan untuk meninggalkan kerajaan karena menolak menjadi Ratu Kediri, sesuai dengan keinginan sang Raja. Dewi Kilisuci memutuskan untuk melakukan perjalanan pengasingan dan akhirnya bertemu dengan pembabat alas atau sesepuh Gunung Pucangan. Dia dan dayang-dayangnya kemudian tinggal di padepokan tersebut hingga akhir hayat.

Dewi Kilisuci menolak menjadi Ratu Kediri karena memiliki prinsip yang kuat, yaitu bahwa dia akan menerima takhtanya hanya jika rakyatnya sudah sejahtera. Menurutnya, rakyat harus kenyang terlebih dahulu sebelum dia mau menjadi pemimpin.

Selain itu, Purwanto juga memberikan klarifikasi mengenai cerita yang sudah beredar luas tentang "Maling Celuring." Menurutnya, sebenarnya "Maling Celuring" adalah sebutan untuk "Eyang Sakti." Eyang Sakti adalah seorang tokoh sakti yang dikenal karena keramahan dan kebaikannya, bukan seorang pencuri. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa julukan ini tidak mencerminkan karakter sesungguhnya dari tokoh tersebut.

Kirap Pusaka dan Kirap Budaya Desa Cupak Ngusikan

Desa Cupak Ngusikan, sebuah permata tersembunyi di pedalaman Indonesia, adalah rumah bagi beragam warisan budaya dan pusaka yang kaya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dua aspek yang sangat penting dalam budaya desa ini, yaitu Kirap Pusaka dan Kirap Budaya.

image : fb ahmad mambo

Kirap Pusaka: Mempertahankan Warisan Leluhur

Kirap Pusaka adalah praktik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Cupak Ngusikan. Ini adalah cara tradisional dalam menjaga dan merawat pusaka, termasuk alat musik tradisional, senjata, pakaian adat, dan barang-barang bersejarah lainnya. Kirap Pusaka menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, memungkinkan masyarakat desa untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka.

Kirap Budaya: Menjaga Tradisi dan Kearifan Lokal

image : fb ahmad mambo

Selain Kirap Pusaka, Desa Cupak Ngusikan juga menghargai praktik Kirap Budaya, yang merupakan upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal. Ini mencakup berbagai aspek budaya seperti upacara adat, tarian tradisional, bahasa daerah, dan cara hidup tradisional.

Kirap Budaya juga mencakup menjaga bahasa daerah. Bahasa adalah salah satu pilar budaya yang paling penting, dan di Desa Cupak Ngusikan, penduduk setempat berusaha keras untuk memastikan bahwa bahasa daerah mereka terus digunakan dan diajarkan kepada generasi berikutnya. Ini membantu menjaga hubungan yang erat antara generasi yang lebih tua dan generasi muda, serta memperkuat identitas budaya desa.

 

Desa Cupak Ngusikan adalah contoh yang menginspirasi tentang bagaimana Kirap Pusaka dan Kirap Budaya dapat membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kaya. Dengan usaha bersama masyarakat lokal, tradisi dan kearifan lokal terus hidup dan berkembang, memberikan inspirasi bagi generasi yang akan datang untuk menjaga dan menghormati warisan budaya mereka sendiri.

Budaya Desa Cupak Ngusikan adalah contoh nyata bagaimana kita semua dapat belajar dari masa lalu sambil menciptakan masa depan yang lebih cerah. Selamat untuk Desa Cupak Ngusikan atas komitmen mereka dalam menjaga pusaka dan budaya mereka. Semoga contoh ini menginspirasi komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.