Bundaran Ringin Contong: Ikon Jombang yang Menyimpan Cerita Satu Abad Lebih
Kalau Anda pernah melintas di pusat Kota Jombang, hampir mustahil melewatkan satu titik yang selalu jadi patokan arah warga setempat: Bundaran Ringin Contong. Menara air tua bergaya kolonial yang menjulang di tengah bundaran ini sudah jadi pemandangan akrab selama puluhan tahun. Tapi di balik sosoknya yang megah, ada rangkaian kisah sejarah yang sayangnya belum banyak diketahui orang termasuk soal dari mana sebenarnya nama "Ringin Contong" itu berasal.Ternyata, Namanya Bukan dari Menara Air
Banyak orang mengira nama Ringin Contong lahir dari bentuk menara air yang berdiri di sana. Wajar saja, bentuknya memang mengerucut ke atas seperti corong. Tapi anggapan ini sebenarnya kurang tepat.Kalau ditelusuri lebih dalam, nama itu justru berasal dari dua kosakata Jawa yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan bangunan Belanda tersebut. "Ringin" merujuk pada pohon beringin, sementara "contong" adalah istilah lokal untuk wadah pembungkus makanan yang berbentuk kerucut semacam bungkus nasi yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional Jawa. Jadi, jauh sebelum menara air itu berdiri, nama kawasan ini sudah lebih dulu terbentuk dari unsur pohon beringin, bukan dari arsitektur Belanda yang datang belakangan.
Pohon Beringin sebagai Penanda Lahirnya Pemerintahan Jombang
Lalu, dari mana asal pohon beringin yang dimaksud? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Jombang sebagai daerah otonom.
Pada 21 Oktober 1910, Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, menanam sebatang pohon beringin di lokasi yang kini menjadi bundaran tersebut. Penanaman ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebagai simbol resmi berdirinya pemerintahan Kabupaten Jombang setelah wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto pada masa kolonial. Dengan kata lain, pohon beringin itu berfungsi seperti "prasasti hidup" yang menandai babak baru sejarah administratif Jombang.
Watertoren: Ketika Belanda Membawa Modernisasi ke Jombang
Kisah kawasan ini kemudian berlanjut hampir dua dekade kemudian, tepatnya saat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah menara air atau watertoren persis di lokasi yang sama dengan pohon beringin bersejarah tadi.Berdasarkan catatan yang tercantum dalam surat kabar lawas De Indische Courant, proyek pembangunan menara air ini dimulai pada 24 Agustus 1928 di bawah tanggung jawab Burgelijke Openbare Werken (BOW), atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda kala itu. Rancangan bangunannya digarap oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf, dan proses konstruksinya memakan waktu kurang lebih setahun penuh.
Begitu rampung pada 1929, menara ini langsung difungsikan sebagai tandon penampung air yang bersumber dari mata air besar di kawasan Ngampungan, Bareng. Dari sanalah air kemudian dialirkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di pusat Kota Jombang sebuah lompatan besar dalam hal infrastruktur air bersih pada masanya.
Ketika Sejarah dan Modernitas Berdiri Berdampingan
Yang membuat Bundaran Ringin Contong istimewa bukan cuma karena usianya yang sudah lebih dari satu abad, melainkan karena di tempat ini dua era bertemu dalam satu titik yang sama. Pohon beringin melambangkan akar sejarah lokal dan kelahiran pemerintahan Jombang, sementara menara air peninggalan Belanda menjadi bukti bagaimana modernisasi mulai menyentuh kota ini di awal abad ke-20.Kombinasi keduanya menjadikan bundaran ini lebih dari sekadar persimpangan jalan biasa. Bagi warga Jombang, tempat ini adalah penanda identitas kota. Bagi pengunjung dari luar daerah, terutama yang tertarik pada jejak arsitektur kolonial dan cerita rakyat, kawasan ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: perpaduan cerita rakyat Jawa dan peninggalan teknologi kolonial dalam satu lanskap yang sama.
