b
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Jombang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Jombang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Mengenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nama Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953 ini merupakan figur unik yang sulit dimasukkan ke dalam satu wadah profesi tertentu. Publik mengenalnya dalam beragam identitas: budayawan, penyair, sastrawan, humoris, hingga kiai tanpa sorban. Bagi KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Cak Nun adalah sosok "nurani bangsa" yang jiwanya terbebas dari sekat-sekat institusi maupun formalitas gelar.

Kritik Kritis dan Keberpihakan pada Rakyat Kecil

Cak Nun dikenal lewat pandangan-pandangannya yang tajam dan tak jarang menghentak publik. Ia tidak ragu melontarkan kritik sosial kepada siapa saja demi meluruskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Mulai dari keprihatinannya terhadap fenomena eksploitasi anak dalam ajang bakat, hingga kritik terhadap pola pengasuhan modern yang mengabaikan peran alami seorang ibu.
 
Meski memiliki daya analisis yang sangat tajam hingga dikagumi para akademisi dan profesor, Cak Nun tetap memilih berada di akar rumput. Rumah dan ruang diskusinya selalu terbuka bagi siapa saja:

  • Pengamen jalanan, tukang becak, hingga masyarakat miskin kota.

  • Masalah warga dari persoalan keluarga, konflik hukum, penggusuran tanah, hingga sekadar mencari ketenangan jiwa.

Dalam merespons berbagai krisis hidup rakyat kecil, ia kerap menyampaikan pesan penyejuk dengan bahasa yang sederhana namun menghujat kesombongan logis: “Gak usah mikir sing macem-macem, sing penting bojo waras, sampeyan budal turu weteng wareg, besok tangi kerja maneh.”

Perjalanan Hidup dan Melampaui Sekat Formalitas

Cak Nun merupakan putra keempat dari 15 bersaudara pasangan MA Latifin dan istrinya. Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang dan Yogyakarta. Ia sempat mengecap kehidupan pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo sebelum akhirnya dikeluarkan akibat memimpin aksi protes siswa. Setelah menamatkan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, ia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) meski hanya bertahan setengah semester.

Pilihan keluar dari pendidikan formal justru dipandang oleh budayawan Ashadi Siregar sebagai berkah. Cak Nun mengalami proses pembebasan diri dari belenggu institusi. Ia tidak memilih aman di dalam "tempurung" sekularisme akademis maupun dogma sempit, melainkan bertransformasi menjadi institusi nilai independen yang bergerak atas dasar otentisitas karya dan ketulusan nurani.

Langkah Kesenian dan Rekam Karya

Perjalanan estetik Cak Nun ditempa saat menggelandang di kawasan Malioboro, Yogyakarta (1970–1975), berguru langsung pada sufi eksentrik Umbu Landu Paranggi. Dari sanalah karier literasi dan teaternya merekah:

  • Karier Media & Teater: Mengawali kiprah sebagai pengasuh ruang sastra dan redaktur harian Masa Kini, kemudian mendirikan Teater Dinasti bersama rekan-rekannya di Bugisan, Yogyakarta.

  • Karya Naskah Drama: Menghasilkan lakon-lakon monumental bernuansa kritik sosial dan politik, seperti Geger Wong Ngoyak Macan (1989), Patung Kekasih (1989), Lautan Jilbab (1990), Santri-santri Khidhir (1990), dan Perahu Retak (1992).

  • Kumpulan Puisi & Esai: Melahirkan puluhan antologi puisi legendaris seperti 99 Untuk Tuhanku (1983), Suluk Pesisir (1989), dan Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Di samping itu, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku esai populer, di antaranya Slilit Sang Kiai (1991), Markesot Bertutur (1993), dan 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998).

Prinsip Pelayanan dan Pandangan Pluralisme

Sejak akhir 1990-an hingga kini, Cak Nun berkeliling ke berbagai pelosok nusantara bersama grup musik etno-kontemporer Kiai Kanjeng. Bersama Komunitas Masyarakat Padangmbulan, ia secara rutin menggelar ruang dialog publik outdoor yang menyedot ribuan jamaah dari pelbagai latar belakang.

Bagi Cak Nun, aktivitas manggung dan berdialog di lapangan-lapangan terbuka bukanlah panggung pencarian popularitas atau arena dakwah verbal belaka, melainkan sebuah bentuk pelayanan kultural.

Konsep KunciPemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Makna DakwahDakwah sejati bukan sekadar kata-kata di atas mimbar, melainkan wujud nyata dari perilaku dan kebaikan hidup sehari-hari.
Bentuk PelayananMenjadikan seni dan dialog sebagai media ibadah horizontal (hablum minannas) untuk menumbuhkan potensi rakyat.
PluralismeIndonesia pada dasarnya sudah plural sejak zaman Majapahit. Keberagaman adalah karakter alami bangsa yang tidak perlu dipertentangkan.
Melalui keindahan aransemen gamelan Kiai Kanjeng dan kedalaman wawasannya, Cak Nun terus menjadi jembatan dialog lintas iman dan golongan—sebuah bukti nyata keberadaan sosok manusia merdeka yang mengabdikan seluruh karya hidupnya untuk rakyat dan Kemanusiaan.

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Markeso, Maestro Ludruk Garingan dari Jombang

Tokoh Jombang - Hidup Markeso adalah cerminan dari perjuangan tanpa henti yang ia tempuh seorang diri. Pria yang memiliki nama asli Nachrowi berdasarkan identitas resminya ini lahir di Jombang pada 30 Juni 1933. Seperti halnya takdir beberapa figur besar asal Jombang, sosoknya justru lebih dielu-elukan di luar kampung halamannya. Di Surabaya, nama Markeso begitu menggema hingga ditahbiskan sebagai ikon kesenian kota pelabuhan tersebut.

 


Keunikan Nachrowi terletak pada konsistensinya menjelajahi seni ludruk garingan (sekarang : Stand Up Comedy). Di bawah terik matahari Surabaya, ia berjalan menyusuri sudut-sudut kampung tanpa iringan gamelan atau instrumen musik konvensional. Seluruh harmoni pengiring keluar dari kemampuannya mengolah vokal mulut secara mandiri. Hebatnya, ia sanggup menyedot perhatian publik dan tampil solo selama tiga jam penuh.

 

Daya tarik utama pertunjukan Markeso ada pada keluwesannya berinteraksi. Penonton kerap melontarkan celetukan spontan untuk mengganggunya, namun alih-alih gusar, ia justru mengolah celotehan itu menjadi bahan kidungan yang makin segar. Drs. Eko Edy Susantro, MM, Pimpinan Ludruk Karya Budaya, menilai keahlian merespons audiens secara organik inilah yang membuat kelas Markeso sulit ditandingi oleh seniman lain.

 

Gaya busananya pun eksentrik sering kali mengenakan kopiah miring atau topi tinggi bergaya Turki. Benda apa pun yang dikenakan atau dilihatnya bisa seketika menjelma menjadi materi humor. Kendati namanya melambung tinggi di panggung hiburan Surabaya, ia menolak terbawa ambisi materi. Markeso memilih mengukur diri dan melakoni gaya hidup yang sangat bersahaja.

 

Di masa-masa emas kehidupannya, ia sebenarnya memiliki akses luas untuk mengisi acara instansi pemerintah maupun perayaan korporasi swasta. Namun, ia enggan meninggalkan akar rumput. Markeso tetap memilih mengamen dari pintu ke pintu demi menghibur rakyat kecil yang menjadi tempatnya bertumbuh.

 

Di balik pilihan menjadi seniman garingan, tersimpan sebuah garis sikap. Pilihan untuk tidak pernah bergabung dengan grup ludruk mana pun lahir dari rasa kecewanya terhadap perlakuan tidak adil pada dunia seni tradisional, khususnya kebijakan penarikan pajak pertunjukan. Bagi Markeso, sangat ironis ketika kesenian rakyat bawah yang dilakoni oleh seniman miskin justru dibebani pajak, alih-alih diberi insentif pendukung. Bukannya menggelar aksi protes berapi-api di jalanan, Markeso memilih jalur perlawanan yang anggun: mengasingkan diri dari sistem dan terus bernyanyi sendiri.

 

Langkah kaki Markeso yang biasa dikerumuni anak-anak kampung Surabaya kini tinggal kenangan. Sang maestro ludruk garingan tutup usia pada 1 Mei 1996 dan diperistirahatkan di tanah kelahirannya, Tunggorono, Jombang.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S.I M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Kamis, 08 Mei 2025

Mimin

Bolet, Seniman Remo dari Jombang

Bolet merupakan seniman ludruk tradisional asal Jombang yang sangat berpengaruh dan dikenal sebagai sosok serba bisa, tak hanya sebagai pemain, tetapi juga pencipta karya seni. Salah satu ciptaan monumentalnya adalah tari remo gaya Jombangan, yang hingga kini menjadi ciri khas tersendiri dalam dunia ludruk.

bolet remo jombang

Dalam tradisi ludruk dikenal dua gaya utama tari remo: gaya Suroboyoan dan gaya Jombangan. Gaya Suroboyoan diciptakan oleh Munali Fatah, sedangkan gaya Jombangan adalah hasil kreasi Bolet. Meskipun sempat muncul gaya Mojokertoan yang dikenalkan oleh Ali Markasa, gaya ini tetap dianggap banyak terpengaruh oleh gaya Jombangan ciptaan Bolet, sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, seorang pemerhati ludruk yang menulis tesis tentang kesenian ini.

Ciri khas tari remo gaya Jombangan ciptaan Bolet terletak pada gerakannya yang santai, sederhana, tetapi penuh kejutan dan kelucuan, membuat penonton tersenyum atau mesem. Keunikan lainnya adalah penggunaan selendang warna hijau dan merah (ijo dan abang), yang oleh masyarakat dianggap sebagai singkatan dari Jom-bang, simbol identitas daerah asal tarian ini.

Selain Bolet, nama-nama lain dari Jombang yang turut mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ludruk adalah Ali Markasa, Santik (dikenal dengan ngamen lerok), dan Markeso (terkenal dengan ludruk garingannya). Namun, Bolet tetap menempati posisi istimewa karena kontribusinya yang besar.

Bolet meninggal pada 15 Agustus 1976 di usia yang relatif muda, yakni 34 tahun. Namun sebelum wafat, ia sudah memberikan kontribusi besar pada dunia kesenian Jawa Timur. Sebelum tahun 1965, ia sempat menjadi anggota Ludruk “Gaya Baru”. Setelah 1968, ia aktif sebagai pelawak dan penari Ngremo bebas. Prestasinya pun tak sedikit—pada tahun 1970 ia meraih Juara III lomba tari Ngremo tingkat Kabupaten Jombang dan berhasil menjadi Juara I tingkat Jawa Timur pada 1971.

Karyanya dianggap sangat berharga dan berpengaruh, sehingga pada suatu kesempatan, almarhum diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, sebagaimana disampaikan oleh Drs. H.M. Arifin, M.M., mantan Kepala Kantor Parbupora.

Jejak seni Bolet terus dilanjutkan oleh generasi penerus. Hal ini terlihat dalam Lomba Tari Ngremo se-Jawa Timur pada tahun 2004, di mana delapan penari dari ludruk Jombang masuk 10 besar. Bahkan, bintang tamu dalam acara tersebut juga berasal dari Jombang, yaitu Ali Markasa, menunjukkan bahwa warisan seni dari Bolet masih terus hidup dan berkembang.

Senin, 05 Mei 2025

Mimin

Gombloh

Tokoh Jombang - Gombloh, yang bernama asli Slamet Sudjarwanto, lahir di Jombang pada 14 Juli 1948. Ia dikenal bertubuh kurus, perokok berat, dan memiliki suara khas yang disebut Emha Ainun Nadjib bisa melengking seperti Robert Plant atau qari Abdul Bashit. Meski diminta ayahnya kuliah arsitektur di ITS Surabaya, Gombloh justru memilih jalan musik dan dikenal sebagai musisi jalanan yang legendaris.

tokoh jombang

Ia sangat dekat dengan masyarakat kecil, hidup sederhana, dan menolak kemewahan meski berada di puncak karier. Lagu-lagunya seperti "Kebyar-Kebyar" dan "Lestari Alamku" menggambarkan nasionalisme dan cinta lingkungan yang kuat. Gombloh wafat pada 9 Januari 1988, namun warisannya tetap hidup.

Musisi jalanan Surabaya bahkan menobatkan Gombloh sebagai pahlawan musisi jalanan, dalam acara nyekar di makamnya di Tembok, Surabaya, pada 2005. Ia juga mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia pada 2003 karena kontribusinya yang besar terhadap musik Indonesia.

Meskipun besar di Surabaya, Gombloh tetap diakui sebagai putra asli Jombang, seniman yang tulus, murah hati, dan penuh idealisme. Ia adalah simbol bahwa musik bisa lahir dari jalanan, dan dari rakyat, untuk rakyat. ini adalah salah satu Lirik lagu ciptaannya :

Kebyar-kebyar


        Indonesia, merah darahku, putih tulangku

Bersatu dalam semangatmu!

Indonesia debar jantungku getar nadiku Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Indonesia, nada laguku, simponi berteduh

Selaras dengan simfonimu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Biarpun bumi bergoncang kau tetap Indonesiaku,

Andai matahari terbit dari barat,

Kaupun Indonesiaku.

Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan Aku darimu)

Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas

Malang-malang tuntas denganmu…