b
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2025

Mimin

Filosofi dan latar belakang busana Khas Jombang Deles

Kabupaten Jombang tak hanya dikenal sebagai Kota Santri atau tempat kelahiran tokoh-tokoh besar bangsa. Di balik kentalnya nuansa religius dan nasionalisme, Jombang juga memiliki warisan budaya yang menarik dalam bentuk busana tradisional khas, yang disebut "Deles". Mungkin tak sepopuler kebaya dari Solo atau batik Pekalongan, tapi Deles punya cerita, nilai sejarah, dan filosofi yang sangat dalam. Mari kita kenali lebih jauh.
pakaian khas jombang


Berikut FILOSOFI dan LATARBELAKANG BUSANA KHAS JOMBANG DELES

A. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (PRIA) Disebut Busana Kudawaningpati

1. Penutup Kepala disebut UDHENG BLANGKON SUNDHUL MEGO

Merupakan gabungan penutup kepala tekes era abad 13, udheng Remo, udheng Ludruk, udheng Jawa Timuran dan Blangkon Cekdongan. Ini mengingat insan Jombang sangat egaliter, sangat menghormati perbedaan, dan sangat toleran.
Nama Sundhul Mego diambil dari nama Patih dalam Cerita Wayang Topeng Jatiduwur dalam lakon Wiruncono Murco.
Undheng Blangkon Sundhul Mego dengan PONCOT NGARSO atau Poncot Depan ada 2 (dua) macam:
Yaitu PONCOT NGARSO menghadap ke ATAS bentuknya seperti KEMBANG KANTHIL. Serta PONCOT NGARSO menghadap ke BAWAH yang melambangkan ATI SAREH serta NDHINGKLUK'E PARI
 

2. Busana Atasan Jas Gulon Dwigatra

juga dipakai oleh Bupati Jombang pertama yaitu Raden Adipati Aryo Suroadiningrat 
Jas Gulon Dwigatra merupakan busana atasan pria (Bagian Jas Gulon Dwigartra) ini menjadi titik pembeda dengan busana adat dengan daerah lain di Jawa Timur dengan memakai kerah tegak, untuk membedakan model potong gulon atau desain teluk belanga.
Jas Gulon Dwigatra sebagai pembeda dengan bentuk Jas Mataraman dan Jas Jawa Timuran atau sering disebut jas Basofi.
Sedangkan nama busana dwigatra adalah bertemunya dua gatra budaya menurut pemetaan sejarawan dan budayawan/almarhum Prof. Ayu Sutarto, yaitu gatra budaya Mataraman atau Pracima dan gatra budaya Arek
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI BEBET (Pria) 

Istilah tapih yang artinya kain atau busana bawah yang sudah dipakai sejak era Mataram Kuno atau Medang. Diberi nama Tapih Kudawaningpati untuk menunjukkan busana pria Jombang Deles.
Nama Tapih Kudawaningpati diambil dari tokoh dalam cerita Panji pada Wayang Topeng Jatiduwur yang diduga peninggalan Majapahit. Sejarah Majapahit juga tak lepas dari sejarah yang ada di Jombang sebagai latar belakang Kota Santri.
Raden Panji Kudawaningpati dipercaya sebagai putra mahkota kerajaan Jenggala yang wilayahnyamasuk Jombang bagian Timur saat ini.
Tampilan Tapih Kudawaningpati (berupa gabungan dari celana dan sarung atau celarung. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putri. Dan bisa digunakan bebet untuk acara tertentu dengan memakai celana hitam.
 

B. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (WANITA) Disebut Busana Kemodoningrat

1. Busana Kemodoningrat

Diambil dari nama Dewi Kemodoningrat,  adalah nama lain Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, istri Panji Asmarabangun alias Panji Kudawaningpati.
Dewi Kemodoningrat juga dipercaya sebagai pembabat Dusun Kemodo, Desa Dukuhmojo, Mojoagung.
 

2. Kudung, Jilbab, dan Selendang Pati

Penutup kepala wanita mengenakan kerudung polos yang senada dengan warna bajunya. Sedangkan Warna corak selendang yang disepakati adalah hijau botol, dengan kombinasi motif lainnya yang mencerminkan Islam sebagai agama mayoritas di Jombang, juga bentuk perwakilan warna santri.
Bagian kerudung ini sebagai penutup kepala sesuai dengan ciri khas Kabupaten Jombang sebagai Kota Santri. Model kerudung berupa selendang seperti busana adat Jawa Timur pada umumnya.
Bagi pengguna Busana Khas Jombang Deles putri yang muslim bisa mengenakan jilbab saja, atau bisa menambahkan selendang, sedangkan yang non muslim bisa menggunakan selendangnya sebagai tambahan aksen keanggunan wanita Jawa.
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI (Wanita). 

Bagian bawah busana wanita Jombang Deles ini dari kain jarik yang memiliki sampiran kain penutup di bagian depan seperti jarik pada umumnya. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putra yang menghadap sebaliknya atau mengarah ke kanan.
sumber : 
https://www.jombangkab.go.id

Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang: Sejarah dan Kepercayaan Mistis yang Menyelimuti

Gunung Pucangan, terletak di desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, ternyata memiliki cerita mistis dan sejarah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak. Salah satu misteri yang mencolok adalah keberadaan 2 makam di antara 13 makam, yang diyakini sebagai makam orang-orang sakti, yakni Eyang Sakti dan Dewi Kili Suci.


 Purwanto, juru kunci makam ini, menjelaskan bahwa Dewi Kilisuci adalah putri dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri. Kisahnya bermula ketika Dewi Kilisuci memutuskan untuk meninggalkan kerajaan karena menolak menjadi Ratu Kediri, sesuai dengan keinginan sang Raja. Dewi Kilisuci memutuskan untuk melakukan perjalanan pengasingan dan akhirnya bertemu dengan pembabat alas atau sesepuh Gunung Pucangan. Dia dan dayang-dayangnya kemudian tinggal di padepokan tersebut hingga akhir hayat.

Dewi Kilisuci menolak menjadi Ratu Kediri karena memiliki prinsip yang kuat, yaitu bahwa dia akan menerima takhtanya hanya jika rakyatnya sudah sejahtera. Menurutnya, rakyat harus kenyang terlebih dahulu sebelum dia mau menjadi pemimpin.

Selain itu, Purwanto juga memberikan klarifikasi mengenai cerita yang sudah beredar luas tentang "Maling Celuring." Menurutnya, sebenarnya "Maling Celuring" adalah sebutan untuk "Eyang Sakti." Eyang Sakti adalah seorang tokoh sakti yang dikenal karena keramahan dan kebaikannya, bukan seorang pencuri. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa julukan ini tidak mencerminkan karakter sesungguhnya dari tokoh tersebut.

Kirap Pusaka dan Kirap Budaya Desa Cupak Ngusikan

Desa Cupak Ngusikan, sebuah permata tersembunyi di pedalaman Indonesia, adalah rumah bagi beragam warisan budaya dan pusaka yang kaya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dua aspek yang sangat penting dalam budaya desa ini, yaitu Kirap Pusaka dan Kirap Budaya.

image : fb ahmad mambo

Kirap Pusaka: Mempertahankan Warisan Leluhur

Kirap Pusaka adalah praktik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Cupak Ngusikan. Ini adalah cara tradisional dalam menjaga dan merawat pusaka, termasuk alat musik tradisional, senjata, pakaian adat, dan barang-barang bersejarah lainnya. Kirap Pusaka menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, memungkinkan masyarakat desa untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka.

Kirap Budaya: Menjaga Tradisi dan Kearifan Lokal

image : fb ahmad mambo

Selain Kirap Pusaka, Desa Cupak Ngusikan juga menghargai praktik Kirap Budaya, yang merupakan upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal. Ini mencakup berbagai aspek budaya seperti upacara adat, tarian tradisional, bahasa daerah, dan cara hidup tradisional.

Kirap Budaya juga mencakup menjaga bahasa daerah. Bahasa adalah salah satu pilar budaya yang paling penting, dan di Desa Cupak Ngusikan, penduduk setempat berusaha keras untuk memastikan bahwa bahasa daerah mereka terus digunakan dan diajarkan kepada generasi berikutnya. Ini membantu menjaga hubungan yang erat antara generasi yang lebih tua dan generasi muda, serta memperkuat identitas budaya desa.

 

Desa Cupak Ngusikan adalah contoh yang menginspirasi tentang bagaimana Kirap Pusaka dan Kirap Budaya dapat membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kaya. Dengan usaha bersama masyarakat lokal, tradisi dan kearifan lokal terus hidup dan berkembang, memberikan inspirasi bagi generasi yang akan datang untuk menjaga dan menghormati warisan budaya mereka sendiri.

Budaya Desa Cupak Ngusikan adalah contoh nyata bagaimana kita semua dapat belajar dari masa lalu sambil menciptakan masa depan yang lebih cerah. Selamat untuk Desa Cupak Ngusikan atas komitmen mereka dalam menjaga pusaka dan budaya mereka. Semoga contoh ini menginspirasi komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.