Siang itu, Jumat (4/9/2026), Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, tak seperti biasanya. Jalanan yang biasa lengang oleh aktivitas warga mendadak dipadati lautan manusia. Semuanya menatap ke satu arah: iring-iringan mobil pawai yang membawa gunungan tahu setinggi orang dewasa, berjalan pelan menyusuri jalan desa layaknya prosesi kemenangan panen.
Inilah Grebeg Tahu, tradisi tahunan yang digelar bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sekaligus Hari Ulang Tahun ke-62 Jam'iyah Mahabbaturrosul (JMR). Dua momentum yang melebur jadi satu perayaan besar, membuat suasana Sumbermulyo siang itu terasa berlipat semarak.
Tak kurang dari 14 mobil pawai ambil bagian, masing-masing membawa gunungan tahu dengan bentuk yang tak sekadar tumpukan biasa. Ada yang disusun menyerupai Ringin Contong, ikon legendaris pusat Kota Jombang. Ada pula yang dibentuk menjadi replika Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten seolah desa kecil ini ingin menghadirkan wajah Jombang dalam wujud tahu putih yang legit.
Begitu barisan pawai tiba di titik acara, suasana berubah riuh. Warga yang sejak awal menunggu tak sabar langsung menyerbu gunungan, berebut tahu yang sudah menjadi berkah sekaligus simbol kebersamaan. Tak ada yang canggung untuk saling dorong demi mendapatkan bagian bagi mereka, ini bukan sekadar makanan, melainkan doa dan harapan yang dibawa pulang.
Di balik kemeriahan itu, ada cerita panjang tentang denyut ekonomi warga. Sumbermulyo dikenal sebagai salah satu sentra pengusaha tahu di Jogoroto, tempat aroma kedelai rebus dan asap perapian sudah menjadi bagian dari keseharian penduduk turun-temurun. Grebeg Tahu, dengan segala hingar-bingarnya, sejatinya adalah panggung untuk memperkenalkan hasil jerih payah para perajin itu kepada dunia yang lebih luas.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Jam'iyah Mahabbaturrosul Gus Aunur Rokhim, Sekretaris Daerah Agus Purnomo, S.H., M.Si., beserta jajaran Asisten, Staf Ahli, dan Kepala OPD terkait, Camat dan Forkopimcam Jogoroto, serta jajaran Pemerintah Desa dan BPD setempat menandakan bahwa tradisi rakyat ini turut mendapat perhatian dari berbagai lapisan.
Yang menarik, geliat UMKM tahu di Sumbermulyo kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada cara-cara konvensional. Di tengah derasnya arus media sosial, para pelaku usaha didorong untuk merangkul dunia digital sebagai kanal promosi, tanpa mengorbankan mutu produk yang selama ini menjadi identitas mereka. Sebab viral tanpa kualitas, kata banyak pihak, hanya akan jadi euforia sesaat.
Ketika sore mulai turun dan gunungan tahu telah ludes dibawa pulang warga, Grebeg Tahu 2026 menyisakan lebih dari sekadar keramaian. Ia menjadi pengingat bahwa dari sepetak desa bernama Sumbermulyo, sebuah tradisi sederhana mampu merajut rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan ekonomi yang lebih besar satu potong tahu demi satu potong tahu.
