b
Tampilkan postingan dengan label Kudu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kudu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2026

Mimin

Cerita Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang

Halo dulur Jombang!. Tahukah kamu di ujung utara-timur wilayah Kabupaten Jombang, berbatasan langsung dengan aliran deras Sungai Brantas dan kaki Pegunungan Kendeng, terhampar sebuah desa yang menyimpan legenda panjang sejak era keruntuhan Majapahit. Desa Kudubanjar, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kudu, bukan sekadar wilayah agraris biasa. Nama desa ini menyimpan kisah pelarian seorang pasukan kerajaan, sementara jejak fisiknya masih bisa disaksikan hingga hari ini melalui sejumlah petilasan yang tetap dijaga warga setempat.

Pendopo Desa Kudubanjar

source image : https://kudubanjar-kudu.jombangkab.go.id/ 


Legenda di Balik Sebuah Nama

Konon, nama Kudubanjar lahir dari peristiwa besar yang mengguncang tanah Jawa pada penghujung era Majapahit. Ketika Kerajaan Demak Bintoro di bawah Raden Patah mulai menggerakkan pasukan untuk menyerang pusat Kerajaan Majapahit, seorang panglima bernama Rakai Banjar diperintahkan menghadang laju pasukan lawan. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke arah utara, menyeberangi Sungai Brantas, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan tanaman mengkudu. Di titik itulah Rakai Banjar mendirikan pesanggrahan, sembari menduga rute tersebut akan dilalui pasukan Demak.

Perkiraannya meleset. Pasukan Raden Patah justru mengambil jalur barat menuju Kerajaan Kediri sebelum berbelok ke timur menyerbu Majapahit dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, hingga akhirnya meruntuhkan kejayaan Majapahit. Menyadari kerajaannya telah tumbang, Rakai Banjar memilih tidak kembali. Ia bersama pasukannya menetap di kawasan hutan mengkudu tersebut, menjalani hidup sebagai pertapa dengan gelar Eyang Djenggot.

Sepeninggal Eyang Djenggot, tempat pertapaan itu diberi nama sesuai dua unsur yang melekat padanya: "Kudu", diambil dari hutan mengkudu tempat ia bersembunyi, dan "Banjar", dari nama belakang sang panglima. Perpaduan dua kata itulah yang hingga kini dikenal sebagai Kudubanjar. Sementara itu, tercatat pula bahwa kepala desa pertama yang memimpin wilayah ini bernama Mertoprawiro, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama desa.


Jejak Petilasan yang Masih Terjaga

Kisah masa lampau itu bukan sekadar cerita turun-temurun tanpa bukti. Hingga sekarang, warga Kudubanjar masih menjaga sejumlah petilasan yang dipercaya berkaitan langsung dengan riwayat Rakai Banjar. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, sebuah lokasi yang dahulu dikenal angker karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti beringin. Kini kawasan tersebut telah ditata lebih rapi, meski sebagian warga yang masih memegang kepercayaan lama tetap menjadikannya tempat ritual tolak bala.

Foto Kentongan Perkiraan tahun 2015
source image : https://nilaenggal01.blogspot.com

 

Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa kentongan tua yang usianya ditaksir puluhan tahun. Terbuat dari kayu pilihan yang tahan lapuk, kentongan ini dahulu menjadi alat komunikasi utama warga desa, digunakan untuk menandai berbagai peristiwa penting mulai dari ajakan berkumpul hingga tanda bahaya seperti pencurian atau kebakaran.

 

Monumen Sejarah yang Menyimpan Dua Kisah

 

Tugu Nasional : juga dipakai nama Jalan.
nama lain : Tugu rudal, Tugu bibir (lipstik)

Di persimpangan jalan desa, berdiri sebuah monumen yang oleh warga sekitar kerap disebut Tugu Nasional, namun lebih populer dikenal luas sebagai Tugu Peluru Kudubanjar. Bangunan yang menjulang sekitar tujuh meter ini dibangun sekitar tahun 1951 dan dikenang sebagai penanda perjuangan rakyat bersama Tentara Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung antara 1947 hingga 1949. Pertempuran sengit yang terjadi di wilayah utara Sungai Brantas tersebut hidup secara turun-temurun dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, sebagaimana pernah disampaikan langsung oleh kepala desa setempat kepada media. Bangunan bekas kantor onderdistrik pada masa itu bahkan kini beralih fungsi menjadi Kantor Kecamatan Kudu.

Menariknya, di kalangan warga turut beredar versi cerita lain mengenai asal-usul tugu tersebut, yang mengaitkannya dengan penanda pemakaman massal pada peristiwa kelam pergolakan politik nasional era 1960-an. Kedua versi cerita ini sama-sama hidup dalam ingatan masyarakat, mencerminkan bagaimana satu monumen bisa menyimpan lapisan sejarah yang berbeda tergantung dari sudut mana ia dikisahkan.

Wilayah Subur di Antara Dua Kecamatan

Secara geografis, Kudubanjar berbatasan dengan Desa Sumbernongko di utara, sejumlah desa di Kecamatan Ngusikan seperti Mernung, Simowau, Kemuning, dan Ketapang Kuning di sisi timur, Desa Menturus di selatan, serta Desa Sumberteguh di sisi barat. Dengan luas wilayah sekitar 2,53 kilometer persegi, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul, yang tersebar dalam sepuluh Rukun Warga dan dua puluh enam Rukun Tetangga. Dusun Kudu tercatat sebagai wilayah dengan penduduk dan luas terbesar, sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Kesuburan tanah di kawasan ini tidak lepas dari pengaruh aliran Sungai Brantas yang membawa material vulkanik dari letusan Gunung Kelud di masa lampau. Kombinasi tersebut menjadikan lahan pertanian di Kudubanjar cocok untuk budi daya tebu, padi, dan jagung, sementara sektor peternakan warga didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Denyut Perekonomian dan Tradisi Sedekah Bumi

Sebagai desa agraris, roda perekonomian Kudubanjar banyak digerakkan oleh sektor pertanian dan usaha mikro warga. Pemerintah desa setempat diketahui aktif memanfaatkan momentum tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar masyarakat Jawa, sebagai ajang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di lingkungan desa. Melalui perhelatan tahunan tersebut, produk-produk UMKM lokal mendapat ruang promosi sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi warga yang turut merayakan tradisi.

Tantangan Infrastruktur yang Terus Diupayakan

Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, Kudubanjar juga menghadapi sejumlah tantangan infrastruktur, terutama terkait akses jembatan penghubung. Jembatan di Dusun Banjarejo, yang menjadi jalur utama warga menuju Desa Sumbernongko dan Sumberteguh di Kecamatan Ngusikan, sempat putus total sejak akhir 2019 akibat derasnya arus sungai dan penumpukan enceng gondok. Warga sempat berswadaya membangun jembatan darurat sepanjang dua puluh tujuh meter yang hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, demi menjaga akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan tetap berjalan.

Persoalan ini menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati Jombang bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan tersebut pada akhir 2025, disusul kunjungan Bupati Jombang menjelang pergantian tahun untuk memastikan rencana pembangunan jembatan permanen segera terealisasi, setelah sebelumnya proses lelang proyek sempat mengalami kegagalan berulang kali. Selain isu jembatan, desa ini juga tercatat pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Marmoyo yang turut melanda sejumlah desa tetangga di Kecamatan Kudu, mendorong penanganan cepat dari perangkat kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Menjaga Warisan di Tengah Perkembangan Zaman

Perjalanan panjang Desa Kudubanjar, dari legenda pelarian seorang panglima Majapahit hingga tantangan pembangunan infrastruktur modern, menggambarkan bagaimana sebuah desa kecil mampu menyimpan lapisan sejarah yang kaya sekaligus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Petilasan yang masih berdiri, cerita yang terus dituturkan dari generasi ke generasi, serta upaya pembangunan yang terus berjalan, menjadikan Kudubanjar sebagai potret kecil dari perjalanan panjang tanah Jombang secara keseluruhan.


Referensi: Portal Jombang Kecamatan Kudu (kudu.jombangkab.go.id), Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Sudutkota.id, Wikipedia Bahasa Indonesia, dan Jombang Banget/Jawa Pos.

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Profil Desa Bakalanrayung: Potensi, Sejarah, dan Dinamika Sosial di Utara Brantas

Secara geografis, Desa Bakalanrayung membentang seluas 252,63 hektar di kawasan utara Sungai Brantas. Berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, wilayah berdataran rendah ini tercatat sebagai desa terbesar kedua di kecamatan tersebut, baik dari segi bentang alam maupun jumlah populasi. Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan, mayoritas warga setempat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan maupun buruh tani.

Batas Wilayah Administratif
  • Utara: Desa Kepuhrejo
  • Selatan: Desa Tapen
  • Barat: Desa Sidokaton
  • Timur: Desa Randuwatang dan Desa Sumberteguh
 

Berawal dari sebuah pemukiman dusun berskala kecil, Bakalanrayung bertransformasi secara bertahap hingga kini menaungi 6 wilayah kedusunan:
  1. Dusun Bakalan
  2. Dusun Bebekan
  3. Dusun Maderejo
  4. Dusun Panemon
  5. Dusun Roworayung
  6. Dusun Roworejo
Naskah tutur lokal mencatat Mbah Bau Niti yang bertempat tinggal di Dusun Bakalan sebagai salah satu tokoh peletak dasar kepemimpinan desa. Estafet kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut ke era H. Munawar hingga jajaran kepala desa (lurah) di periode-periode berikutnya.

Meskipun bertumpu pada budaya agraris yang kuat, Desa Bakalanrayung menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan lapangan kerja non-pertanian. Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah desa memprioritaskan perluasan kesempatan kerja melalui pemberdayaan usaha mikro/kecil serta penyaluran akses modal usaha.

Masyarakat Bakalanrayung yang mayoritas beragama Islam tetap memelihara nilai-nilai tradisi dan adat lokal secara harmonis. Di tengah perjuangan mengentaskan angka kemiskinan, solidaritas warga terwujud nyata lewat keaktifan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan:
  • Pengembangan Pemuda & Perempuan: Karang Taruna, IPNU-IPPNU, dan PKK.
  • Kesehatan & Keagamaan: Posyandu, serta majelis taklim (Jamiyah Yasin dan Tahlil).
Wadah-wadah kelembagaan ini menjadi sarana krusial untuk menjaga kerukunan sosial sekaligus memacu keterlibatan aktif warga dalam pengawalan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Selasa, 22 April 2025

Mimin

Desa Kudubanjar Kecamatan Kudu

Desa Kudubanjar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul. Dari keempat dusun tersebut, Dusun Kudu menjadi pusat pemerintahan dan merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak. Desa ini memiliki luas sekitar 2,53 km², terdiri dari 10 RW dan 26 RT.

Wilayah Kudubanjar berada di dataran rendah yang sedikit mengarah ke perbukitan di bagian utara. Iklimnya tropis, dengan suhu rata-rata mencapai 35°C. Seperti wilayah Indonesia lainnya, desa ini mengalami dua musim, yaitu kemarau dan penghujan. Namun, karena pengaruh pemanasan global, pola musim telah berubah, sehingga musim tidak lagi berlangsung secara tetap seperti dahulu. Meskipun begitu, kondisi tanah di desa ini tergolong subur berkat aliran Sungai Brantas dan material vulkanik dari letusan Gunung Kelud. Hal ini menjadikan Kudubanjar cocok untuk pertanian—dengan tanaman utama seperti tebu, padi, dan jagung—serta peternakan yang didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

 

Asal-usul nama Kudubanjar memiliki kisah yang menarik dan erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Dahulu, ketika Kerajaan Majapahit terancam oleh serangan dari Raden Patah, Rakai Banjar seorang panglima kerajaan diperintahkan untuk menghadang pasukan Demak. Ia mendirikan pesanggrahan di sebuah hutan yang dipenuhi pohon mengkudu di utara Sungai Brantas. Namun, pasukan Raden Patah melewati jalur barat menuju Kerajaan Kediri dan kemudian menuju Majapahit, hingga terjadilah perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Majapahit akhirnya jatuh, dan Rakai Banjar yang tak berani kembali memilih menetap dan bertapa di tempat itu. Ia kemudian dikenal sebagai “Eyang Djenggot.” Dari situlah nama Kudubanjar berasal: “Kudu” dari pohon mengkudu, dan “Banjar” dari nama Rakai Banjar.


Hingga kini, peninggalan sejarah Rakai Banjar masih bisa ditemukan di desa ini. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, tempat pemujaan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Meski dahulu dikenal angker, kini sumur tersebut telah dirawat dan dipagari dengan baik. Selain itu, ada Tugu Nasional, tugu ikonik yang menyerupai lipstik merah. Konon, tugu ini merupakan penanda kuburan massal korban kekejaman PKI, menjadikannya penuh dengan nilai sejarah dan cerita kelam masa lalu. Di sisi lain, ada pula kentongan kuno, alat komunikasi tradisional dari kayu yang hingga kini masih terjaga keasliannya.

 

Desa Kudubanjar tak hanya menyimpan potensi alam yang subur, tetapi juga kaya akan sejarah dan budaya yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Hingga kini, masyarakatnya tetap menjaga warisan tersebut sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan desa mereka.

Rabu, 11 Oktober 2023

Mimin

Goa Made: Misteri Topeng Perunggu dan Jejak Sejarah yang Terlupakan

 goa made jombang

Selain wisata Sendang Made Kecamatan Kudu memiliki wisata sejarah yaitu Goa Made, yang terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, adalah sebuah situs arkeologi yang telah menarik perhatian para peneliti sejak tahun 2006. Namun, sebenarnya sebelum tahun 2006, penduduk setempat sudah menemukan banyak topeng perunggu yang menjadi artefak penting dalam sejarah di sekitar situs ini. Topeng-topeng ini memiliki berbagai bentuk, tetapi yang digambarkan hanyalah bagian penutup wajah. Beberapa juga berwujud patung dada dengan gambaran kepala hingga dada (patung torso), dan ada pula topeng yang menggambarkan wajah hingga leher.


Artefak perunggu yang ditemukan di Goa Made selama penelitian tahun 2006 dan 2007 mencakup lebih dari 100 macam benda. Selain topeng, terdapat pula artefak lain seperti hewan gajah, babi hutan yang ditunggangi oleh manusia, tabung silindris dengan puncak kepala manusia ganda yang menghadap ke depan dan belakang, kelompok wadah seperti bejana upacara, kendil, kendil bercucuk, dan lainnya, figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan belalainya membelit dan menginjak orang-orang, di punggungnya digambarkan ada pengendaranya yang sedang meniup terompet, serta kereta yang ditarik oleh beberapa orang sambil menarik gajah, dan banyak lagi.

Salah satu temuan yang paling menarik adalah topeng perunggu yang sebagian berwarna hijau. Topeng-topeng ini memberikan petunjuk tentang peran penting wilayah ini dalam sejarah masa lalu.

Saat diperhatikan dengan seksama, raut wajah yang digambarkan oleh topeng-topeng tersebut tidak selalu menggambarkan wajah orang Jawa atau Indonesia pada umumnya. Beberapa topeng memiliki karakteristik seperti mata yang salah satu sudutnya lebih tinggi dari sudut lainnya yang dekat dengan pangkal hidung, mata yang sempit, dan alis di atas mata yang melengkung naik mengikuti mata yang digambarkan miring. Ini mirip dengan ciri-ciri wajah orang-orang Asiatic Mongoloid.

Sejumlah arkeolog Indonesia telah menghubungkan situs Goa Made dengan periode Majapahit. Alasan mereka adalah temuan artefak perunggu dan batu yang dapat diidentifikasi dari era Majapahit. Temuan ini, khususnya topeng perunggu, tidak memiliki kesamaan dalam khasanah arkeologi Indonesia pada umumnya. Ini menjadi bagian penting dari penelitian arkeologi di situs ini.

Topeng perunggu yang ditemukan di Goa Made memiliki bahan dasar campuran antara tanah liat (keramik) dan logam (metal), yang dikenal sebagai cermet (ceramic-metal). Analisis kimia dilakukan di Laboratorium Arkeologi Eksperimental Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma. Pada saat itu, cermet merupakan bahan unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam teknologi pembuatan artefak perunggu. Pada umumnya, artefak perunggu ditemukan terbuat dari emas atau kayu. Selain itu, temuan-temuan ini juga membingungkan para ilmuwan karena usianya yang sangat tua, diperkirakan lebih dari 3.000 tahun sebelum Masehi.


Selain topeng perunggu, Goa Made juga mengungkapkan artefak lain yang menunjukkan kemegahan sejarah yang hilang dari Eurasia. Artefak ini mencakup figur perempuan yang sedang menyusui anaknya, gambaran gajah yang sedang mengamuk dengan pengendaranya yang meniup terompet, serta arca Bhiksu dan dewa-dewa Buddha bergaya Cina yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-14.

Goa Made, dengan seluruh misteri dan temuannya, tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah sejarah Jawa Timur. Situs ini telah membantu para peneliti untuk menulis ulang lembaran sejarah yang hilang dari Eurasia dan menghadirkan penemuan yang mengejutkan tentang masa lalu kuno yang pernah ada di pulau-pulau Asia Tenggara. 

sumber : https://versesofuniverse.blogspot.com/2012/02/misteri-topeng-hijau-gua-made.html

Mimin

Jejak Sejarah Hidup: Prasasti Gurit, Peninggalan Raja Airlangga di Jombang

Prasasti Gurit, yang berlokasi di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, adalah saksi bisu peradaban masa lalu yang masih hidup dan sering dikunjungi oleh warga setempat. Meskipun jarang menjadi sorotan utama, prasasti ini terus memikat mereka yang ingin menjelajahi sejarah. Ada yang datang dengan tujuan memahami catatan masa lalu, sementara yang lain datang untuk menjalani ritual atau berdoa di tempat ini.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa Prasasti Gurit ini tidak pernah digunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya atau meresahkan warga setempat. Terletak di tengah pemukiman penduduk, prasasti ini selalu dalam pengawasan ketat, dan para pengunjung dihimbau untuk menjaga ketertiban.

Prasasti ini juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut, mengacu pada isi dari prasasti tersebut yang mengenai pembebasan pajak untuk wilayah Munggut. Pembebasan pajak ini dicatat pada tanggal 14 Krisnapaksa, Bulan Caitra, Tahun 944 Saka (3 April 1022 M). Meskipun terlihat sebagai keputusan administratif biasa, prasasti ini sebenarnya menjadi bukti penting akan keberadaan Raja Airlangga.

Bentuk Prasasti Gurit adalah segilima, dan setiap sisinya dihiasi dengan tulisan-tulisan kuno, sebagian besar di antaranya sudah terhapus oleh waktu. Tulisan dalam bahasa Sanskerta diukir di atas batu andesit. Lokasi prasasti ini tetap tidak berubah sejak zaman dahulu dan saat ini masuk dalam daftar cagar budaya di Jombang. Sayangnya, banyak warga Jombang yang belum menyadari keberadaan prasasti ini.

image :https://radarjombang.jawapos.com


Meskipun kurang dikenal, Prasasti Gurit masih menjadi tempat berbagai aktivitas. Beberapa warga meletakkan sesajen sebelum mengadakan upacara atau hajatan, dan tradisi sedekah bumi masih terus dilakukan di sekitar prasasti. Namun, jelasnya, waktu pelaksanaan sedekah bumi berubah-ubah sesuai kebijakan dusun/desa setempat.

Meskipun kondisi cagar budaya ini cukup terjaga dengan baik, sayangnya belum ada papan penjelasan yang menceritakan sejarah prasasti ini. Ini membuat pengunjung harus mengandalkan juru kunci untuk memahami lebih lanjut mengenai Prasasti Gurit.

Sebagai warisan dari nenek moyang, penting bagi kita semua untuk menjaga dan melestarikan Prasasti Gurit ini. Generasi muda di Jombang seharusnya belajar lebih banyak tentang sejarah lokal dan ikut berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan warisan yang berharga ini.


Selasa, 03 Oktober 2023

Mimin

Sendang Made Kecamatan Kudu : Surga Alam di Utara Kota Jombang

Sendang Made - Bagi para pencinta alam dan keindahan alami yang masih terjaga, Sendang Made adalah surga yang wajib Anda kunjungi. Terletak di sebelah utara Kota Jombang, obyek wisata alam ini menggoda dengan keindahan alam yang tak tertandingi dan air sendang yang tak pernah kering sepanjang tahun. Namun, daya tarik Sendang Made tak hanya terletak pada keberlimpahan airnya, melainkan juga pada panorama alam yang menawan, menjadikannya tempat ideal untuk melarikan diri dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan.

wisata sendang made

Sendang Made terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, sekitar 20 kilometer ke arah utara Kota Jombang. Tempat ini berada di lereng pegunungan Kendeng, menjadikannya lokasi yang strategis dan menarik untuk berlibur. Begitu Anda memasuki kawasan Sendang Made yang dikelilingi oleh pepohonan besar, Anda akan disambut oleh kicauan burung yang merdu, menciptakan suasana yang sangat alami dan menyegarkan.

Sendang Made bukan hanya destinasi alam yang menarik, tetapi juga tempat rekreasi yang ideal untuk mengusir kejenuhan kerja. Ketika Anda berkunjung ke sini pada hari-hari libur, terutama saat Idul Fitri atau tahun baru, Anda akan menemukan Sendang Made menjadi pusat perhatian dengan pagelaran show dangdut yang menghibur, menarik penonton dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Lamongan, Babat, Gresik, dan sekitarnya.

Meskipun Sendang Made adalah tempat yang indah, perlu diperhatikan bahwa konservasi alam dan penataan lingkungan yang baik adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan keindahan ini. Pohon-pohon dan tanaman di sekitar sendang harus dirawat dengan baik agar tetap lestari dan terawat. Dengan sedikit sentuhan dan perhatian yang baik, Sendang Made bisa menjadi destinasi wisata yang sangat menjanjikan, menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya.

Kisah di Balik Sendang Made

Sendang Made bukan sekadar tempat wisata biasa. Ini adalah petilasan Raja Airlangga, seorang penguasa yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Timur. Sejarah Sendang Made sangat erat kaitannya dengan Raja Airlangga dan oleh karena itu menjadi tempat yang sangat berarti bagi masyarakat setempat. Namun, meskipun sejarahnya sangat dikenal oleh warga Made, banyak orang di luar Jombang yang belum mengetahui tentang keberadaan wisata religi ini.

Di dalam kompleks Sendang Made, Anda akan menemukan berbagai sendang yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Salah satunya adalah Sendang Gede yang memiliki ukuran besar, mencapai 8 x 11 meter. Selain itu, ada beberapa sendang lain seperti Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben, dan Sendang Drajat. Semua sendang ini memiliki ciri khasnya masing-masing dan menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah yang dimiliki Sendang Made.

Salah satu hal yang membuat Sendang Made begitu istimewa adalah keberadaan ikan-ikan dalam sendang. Air sendang ini tidak pernah kering, dan konon katanya, jumlah ikan dalam sendang memiliki makna tertentu. Jika ikan sedikit, dipercaya sebagai pertanda zaman sulit, sementara jika jumlahnya banyak, dipercaya sebagai pertanda kemakmuran. Namun, perlu diingat bahwa ikan-ikan ini dihormati sebagai makhluk yang memiliki nilai magis, sehingga tidak boleh diambil atau diganggu


Sendang Made: Tempat Pelarian Raja Airlangga

Di balik ketenangan dan keindahan alam yang memukau di Sendang Made, terdapat sebuah cerita melegenda yang diyakini oleh banyak orang. Kisah ini berkaitan dengan pelarian Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan (juga dikenal sebagai Kerajaan Daha atau Panjalu). Konon, Raja Airlangga pernah bersembunyi selama tiga tahun di Sendang Made, menjadikan tempat ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah yang luar biasa.

Pengelola Situs Sendang Made, Badri, dengan bangga menceritakan kisah ini. Pada saat itu, Raja Airlangga masih berusia 16 tahun ketika menikahi Galuh Sekar, putri Dharmawangsa Tguh, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Dharmawangsa Tguh adalah seorang penguasa berkuasa di Kerajaan Medang yang pusat pemerintahannya diperkirakan berada di wilayah sekarang yang dikenal sebagai Maospati, Magetan.

misteri sendang made jombang

Raja Airlangga sendiri adalah putra dari pasangan Raja Udayana dan Mahendradatta. Ayahnya, Raja Udayana, pernah menjadi Raja Bedahulu di Gianyar, Bali, dan berasal dari Wangsa Warmadewa. Ibunya, Mahendradatta, adalah putri Raja Sri Makutawangsawardhana, yang memimpin Kerajaan Medang di Jawa Timur pada periode tertentu, merupakan anggota dari Wangsa Isyana. Sri Makutawangsawardhana adalah cucu dari Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur yang memerintah pada tahun 929-947 Masehi.

Kisah pelarian Raja Airlangga ke Sendang Made memberikan lapisan sejarah yang mendalam pada tempat ini. Tempat yang indah ini bukan hanya destinasi wisata biasa, tetapi juga sebuah monumen hidup dari masa lalu yang penuh dengan intrik politik dan cinta yang rumit. Saksi bisu ini tetap berdiri hingga hari ini, mengingatkan kita akan perjalanan sejarah yang luar biasa yang pernah melanda Jawa Timur.

Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Nama-nama Desa Kecamatan Kudu dan Wisatanya

Kecamatan Kudu, sebuah permata tersembunyi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia, memiliki karakteristik geografis yang sangat menarik. Dengan ketinggian rata-rata sekitar 44 meter di atas permukaan laut, kecamatan ini sebagian besar berupa dataran rendah yang subur dan cocok untuk pertanian.  Kecamatan Kudu termasuk dalam daerah tadah hujan, yang berarti curah hujan adalah aset berharga yang diandalkan untuk pertanian dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Hujan di musim hujan menjadi "nafas" bagi tanah dan tanaman, menjadikan daerah ini tempat yang subur dan hijau sepanjang tahun.

Batas Wilayah yang Memagari Kudu

Kecamatan Kudu dibatasi oleh kecamatan-kecamatan sekitarnya dengan batas sebagai berikut:
  1. Sebelah Timur: Kecamatan Ngusikan, yang merupakan tetangga sebelah timur Kudu.
  2. Sebelah Selatan: Dibatasi oleh Sungai Brantas, yang bukan hanya menjadi batas geografis, tetapi juga sumber air yang sangat penting bagi wilayah ini.
  3. Sebelah Barat: Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh adalah tetangga sebelah barat Kudu.
  4. Sebelah Utara: Kecamatan Ngusikan juga berfungsi sebagai batas utara Kecamatan Kudu.

Kekayaan Administratif dan Budaya

Kecamatan Kudu terbagi menjadi 11 desa yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Dalam setiap desa, budaya lokal dan sejarah komunitas tumbuh subur. Berikut adalah daftar desa-desa di Kecamatan Kudu:
  1. Desa Sidokaton
  2. Desa Tapen
  3. Desa Bakalanrayung
  4. Desa Randuwatang
  5. Desa Sumberteguh
  6. Desa Menturus
  7. Desa Bendungan
  8. Desa Kudubanjar
  9. Desa Made
  10. Desa Kepuhrejo
  11. Desa Katemas

Potensi Wisata Kecamatan Kudu

Selain memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, Kecamatan Kudu juga memiliki potensi wisata yang menarik. Beberapa tempat wisata yang patut dikunjungi di antaranya:
  1. Sendang Made: Terletak di Desa Made, Sendang Made adalah sumber mata air yang jernih dan tempat rekreasi yang indah.
  2. Goa Made : Juga berada di Desa Made, Goa Made adalah tempat yang penuh misteri dan pemandangan bawah tanah yang menakjubkan.
  3. Prasasti Watu Gurit : Di desa Katemas, Prasasti Watu Gurit adalah peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan masa lalu daerah ini.
  4. Prasasti Grogol : Dsn. Grogol Ds. Katemas

Kekayaan Tanah dan Kehidupan

Luas Wilayah Kecamatan Kudu mencakup 2,233,868 hektar dengan sebagian besar digunakan untuk:
  1. Tanah Sawah: 1,532,174 hektar
  2. Tanah Pekarangan/Pemukiman: 457,455 hektar
  3. Tanah Tegal: 204,713 hektar
  4. Tanah-tanah lainnya: 39,526 hektar
Kekayaan alam dan budaya Kecamatan Kudu adalah aset berharga yang harus dijaga dan dilestarikan. Masyarakat di sini hidup dalam harmoni dengan alam dan tradisi mereka, menciptakan keragaman yang unik dan menarik bagi semua yang datang dan menjelajahi wilayah ini.