Halo dulur Jombang!. Tahukah kamu di ujung utara-timur wilayah Kabupaten Jombang, berbatasan langsung dengan aliran deras Sungai Brantas dan kaki Pegunungan Kendeng, terhampar sebuah desa yang menyimpan legenda panjang sejak era keruntuhan Majapahit. Desa Kudubanjar, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kudu, bukan sekadar wilayah agraris biasa. Nama desa ini menyimpan kisah pelarian seorang pasukan kerajaan, sementara jejak fisiknya masih bisa disaksikan hingga hari ini melalui sejumlah petilasan yang tetap dijaga warga setempat.
![]() |
Pendopo Desa Kudubanjar source image : https://kudubanjar-kudu.jombangkab.go.id/ |
Legenda di Balik Sebuah Nama
Konon, nama Kudubanjar lahir dari peristiwa besar yang mengguncang tanah Jawa pada penghujung era Majapahit. Ketika Kerajaan Demak Bintoro di bawah Raden Patah mulai menggerakkan pasukan untuk menyerang pusat Kerajaan Majapahit, seorang panglima bernama Rakai Banjar diperintahkan menghadang laju pasukan lawan. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke arah utara, menyeberangi Sungai Brantas, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan tanaman mengkudu. Di titik itulah Rakai Banjar mendirikan pesanggrahan, sembari menduga rute tersebut akan dilalui pasukan Demak.
Perkiraannya meleset. Pasukan Raden Patah justru mengambil jalur barat menuju Kerajaan Kediri sebelum berbelok ke timur menyerbu Majapahit dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, hingga akhirnya meruntuhkan kejayaan Majapahit. Menyadari kerajaannya telah tumbang, Rakai Banjar memilih tidak kembali. Ia bersama pasukannya menetap di kawasan hutan mengkudu tersebut, menjalani hidup sebagai pertapa dengan gelar Eyang Djenggot.
Sepeninggal Eyang Djenggot, tempat pertapaan itu diberi nama sesuai dua unsur yang melekat padanya: "Kudu", diambil dari hutan mengkudu tempat ia bersembunyi, dan "Banjar", dari nama belakang sang panglima. Perpaduan dua kata itulah yang hingga kini dikenal sebagai Kudubanjar. Sementara itu, tercatat pula bahwa kepala desa pertama yang memimpin wilayah ini bernama Mertoprawiro, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama desa.
Jejak Petilasan yang Masih Terjaga
Kisah masa lampau itu bukan sekadar cerita turun-temurun tanpa bukti. Hingga sekarang, warga Kudubanjar masih menjaga sejumlah petilasan yang dipercaya berkaitan langsung dengan riwayat Rakai Banjar. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, sebuah lokasi yang dahulu dikenal angker karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti beringin. Kini kawasan tersebut telah ditata lebih rapi, meski sebagian warga yang masih memegang kepercayaan lama tetap menjadikannya tempat ritual tolak bala.
![]() |
| Foto Kentongan Perkiraan tahun 2015 source image : https://nilaenggal01.blogspot.com |
Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa kentongan tua yang usianya ditaksir puluhan tahun. Terbuat dari kayu pilihan yang tahan lapuk, kentongan ini dahulu menjadi alat komunikasi utama warga desa, digunakan untuk menandai berbagai peristiwa penting mulai dari ajakan berkumpul hingga tanda bahaya seperti pencurian atau kebakaran.
Monumen Sejarah yang Menyimpan Dua Kisah
![]() |
| Tugu Nasional : juga dipakai nama Jalan. nama lain : Tugu rudal, Tugu bibir (lipstik) |
Di persimpangan jalan desa, berdiri sebuah monumen yang oleh warga sekitar kerap disebut Tugu Nasional, namun lebih populer dikenal luas sebagai Tugu Peluru Kudubanjar. Bangunan yang menjulang sekitar tujuh meter ini dibangun sekitar tahun 1951 dan dikenang sebagai penanda perjuangan rakyat bersama Tentara Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung antara 1947 hingga 1949. Pertempuran sengit yang terjadi di wilayah utara Sungai Brantas tersebut hidup secara turun-temurun dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, sebagaimana pernah disampaikan langsung oleh kepala desa setempat kepada media. Bangunan bekas kantor onderdistrik pada masa itu bahkan kini beralih fungsi menjadi Kantor Kecamatan Kudu.
Menariknya, di kalangan warga turut beredar versi cerita lain mengenai asal-usul tugu tersebut, yang mengaitkannya dengan penanda pemakaman massal pada peristiwa kelam pergolakan politik nasional era 1960-an. Kedua versi cerita ini sama-sama hidup dalam ingatan masyarakat, mencerminkan bagaimana satu monumen bisa menyimpan lapisan sejarah yang berbeda tergantung dari sudut mana ia dikisahkan.
Wilayah Subur di Antara Dua Kecamatan
Secara geografis, Kudubanjar berbatasan dengan Desa Sumbernongko di utara, sejumlah desa di Kecamatan Ngusikan seperti Mernung, Simowau, Kemuning, dan Ketapang Kuning di sisi timur, Desa Menturus di selatan, serta Desa Sumberteguh di sisi barat. Dengan luas wilayah sekitar 2,53 kilometer persegi, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul, yang tersebar dalam sepuluh Rukun Warga dan dua puluh enam Rukun Tetangga. Dusun Kudu tercatat sebagai wilayah dengan penduduk dan luas terbesar, sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.
Kesuburan tanah di kawasan ini tidak lepas dari pengaruh aliran Sungai Brantas yang membawa material vulkanik dari letusan Gunung Kelud di masa lampau. Kombinasi tersebut menjadikan lahan pertanian di Kudubanjar cocok untuk budi daya tebu, padi, dan jagung, sementara sektor peternakan warga didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.
Denyut Perekonomian dan Tradisi Sedekah Bumi
Sebagai desa agraris, roda perekonomian Kudubanjar banyak digerakkan oleh sektor pertanian dan usaha mikro warga. Pemerintah desa setempat diketahui aktif memanfaatkan momentum tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar masyarakat Jawa, sebagai ajang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di lingkungan desa. Melalui perhelatan tahunan tersebut, produk-produk UMKM lokal mendapat ruang promosi sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi warga yang turut merayakan tradisi.
Tantangan Infrastruktur yang Terus Diupayakan
Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, Kudubanjar juga menghadapi sejumlah tantangan infrastruktur, terutama terkait akses jembatan penghubung. Jembatan di Dusun Banjarejo, yang menjadi jalur utama warga menuju Desa Sumbernongko dan Sumberteguh di Kecamatan Ngusikan, sempat putus total sejak akhir 2019 akibat derasnya arus sungai dan penumpukan enceng gondok. Warga sempat berswadaya membangun jembatan darurat sepanjang dua puluh tujuh meter yang hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, demi menjaga akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan tetap berjalan.
Persoalan ini menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati Jombang bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan tersebut pada akhir 2025, disusul kunjungan Bupati Jombang menjelang pergantian tahun untuk memastikan rencana pembangunan jembatan permanen segera terealisasi, setelah sebelumnya proses lelang proyek sempat mengalami kegagalan berulang kali. Selain isu jembatan, desa ini juga tercatat pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Marmoyo yang turut melanda sejumlah desa tetangga di Kecamatan Kudu, mendorong penanganan cepat dari perangkat kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.
Menjaga Warisan di Tengah Perkembangan Zaman
Perjalanan panjang Desa Kudubanjar, dari legenda pelarian seorang panglima Majapahit hingga tantangan pembangunan infrastruktur modern, menggambarkan bagaimana sebuah desa kecil mampu menyimpan lapisan sejarah yang kaya sekaligus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Petilasan yang masih berdiri, cerita yang terus dituturkan dari generasi ke generasi, serta upaya pembangunan yang terus berjalan, menjadikan Kudubanjar sebagai potret kecil dari perjalanan panjang tanah Jombang secara keseluruhan.
Referensi: Portal Jombang Kecamatan Kudu (kudu.jombangkab.go.id), Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Sudutkota.id, Wikipedia Bahasa Indonesia, dan Jombang Banget/Jawa Pos.


