
Legenda Kebokicak, Cerita Rakyat Jombang
Bagi masyarakat Jombang, nama Kebokicak bukanlah hal asing. Ini adalah salah satu cerita rakyat yang hidup dari mulut ke mulut, diwariskan lewat ingatan orang-orang tua kepada generasi berikutnya. Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan naskah kuno tertulis yang bisa dijadikan rujukan resmi atas kisah ini. Semua yang kita kenal sekarang berasal dari tuturan lisan, sehingga sulit dipastikan mana versi yang paling asli.
Karena statusnya yang berada di antara dongeng dan sejarah, cerita Kebokicak sebaiknya dilihat bukan sebagai fakta mutlak, melainkan sebagai warisan budaya lisan yang berfungsi menjelaskan asal-usul suatu tempat sekaligus menjadi hiburan turun-temurun.
Upaya Mendokumentasikan Cerita yang Nyaris Hilang
Pada tahun 2007, sekelompok mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang melakukan riset lapangan dengan mendatangi berbagai narasumber di pelosok Jombang. Hasil penelusuran mereka kemudian dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).Buku itu memuat 13 versi cerita yang berbeda-beda, masing-masing dituturkan oleh tokoh masyarakat, seniman ketoprak, dalang, hingga sesepuh desa dari berbagai kecamatan di Jombang mulai dari Tembelang, Peterongan, Kesamben, Bandar Kedung Mulyo, Gudo, Ngoro, hingga Jombang kota. Setiap narasumber mempunyai versi ceritanya sendiri, dengan tokoh, alur, dan detail yang kadang mirip, kadang jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada satu versi pun yang bisa diklaim sebagai versi "resmi" atau paling benar.
Penelitian akademis lain, seperti skripsi Puspita Indriani dari Unesa (2003), membagi cerita Kebokicak menjadi dua kelompok besar: versi abangan yang berlatar murni kerajaan Majapahit pada masa Raja Brawijaya V, dan versi santri yang tetap memakai latar waktu sama namun memasukkan unsur pesantren di kawasan yang kini dikenal sebagai Tebuireng.
Silsilah dalam Versi Santri
Salah satu versi santri yang cukup detail datang dari penuturan Kiai Hafidz asal Dapur Kejambon. Menurut kisah ini, ada tokoh bernama Ki Nur Khotib yang menikahi Wandan Manguri, putri dari Demang Kebokicak. Wandan Manguri sendiri disebut sebagai cucu Brawijaya V dari jalur Wandan Kuning, salah satu istri sang raja.Dikisahkan, Wandan Kuning memiliki dua anak yaitu Raden Bondan Kejawan (Lembu Peteng) dan Wandan Wangi. Wandan Wangi kemudian diasuh oleh Mbah Pranggan di Karang Kejambon dan setelah dewasa dinikahkan dengan Kebokicak menjadikan Kebokicak sebagai menantu Brawijaya V secara tidak langsung.
Silsilah ini berlanjut panjang melalui garis keturunan Ki Nur Khotib, yang kemudian melahirkan beberapa tokoh agama di kawasan Pasuruan dan Jombang, hingga akhirnya sampai pada Kiai Farhan, yang disebut sebagai kakek dari Kiai Hafidz sendiri.
Kebokicak di Panggung Ludruk
Selain dituturkan sebagai legenda lisan, kisah Kebokicak juga pernah diangkat ke panggung kesenian ludruk pada era 1970-an, salah satunya oleh seniman ludruk asal Jombang bernama Ngaidi Wibowo. Ia menuliskan naskah lakon ini menjadi 31 adegan berbahasa Jawa khas Jombangan, sebuah hal yang cukup langka mengingat banyak seniman ludruk saat itu tidak terbiasa menulis naskah secara formal.Menariknya, ada kepercayaan di kalangan pemain ludruk bahwa pementasan lakon Kebokicak harus disertai sesajen tertentu. Jika syarat itu diabaikan, konon pertunjukan bisa kacau bahkan ada cerita tentang pemain atau penonton yang kerasukan saat lakon ini dipentaskan tanpa ritual yang semestinya.
Secara umum, inti cerita dalam versi ludruk ini menceritakan konflik antara Kebokicak dan Surontanu yang memperebutkan seekor banteng sakti bernama Banteng Tracak Kencana hewan yang konon bisa berbicara dan dirasuki dua sosok siluman. Perebutan itu berawal dari wabah penyakit yang melanda sebuah padepokan, di mana satu-satunya solusi menurut wangsit yang diterima gurunya adalah mengorbankan hewan berbulu putih sebagai tumbal.
Jejak Pengejaran yang Menjadi Nama Kampung
Bagian paling terkenal dari legenda ini adalah kisah pengejaran panjang Kebokicak terhadap Surontanu yang melarikan diri sambil membawa Banteng Tracak Kencana. Menariknya, hampir setiap lokasi yang dilalui dalam pengejaran itu dipercaya menjadi cikal bakal nama-nama desa yang masih ada hingga sekarang di wilayah Jombang. Berikut beberapa di antaranya, disarikan secara singkat:- Parimono - konon berasal dari kejadian padi (pari) yang rusak diterjang saat pengejaran berlangsung.
- Mojosongo - tempat pertarungan yang menewaskan sembilan prajurit pengawal Kebokicak di sekitar pepohonan maja.
- Jombang - dipercaya berasal dari cahaya hijau dan merah yang muncul saat pertarungan sengit di sebuah kolam.
- Ringincontong - dinamai dari pohon beringin raksasa tempat Kebokicak mengerahkan kesaktiannya melawan Surontanu.
- Sumber Nangka, Bantengan, Tebu Ireng, Balung Biru - masing-masing memiliki cerita asal-usul yang berkaitan dengan persembunyian atau pertarungan dalam perjalanan pengejaran itu.
- Randuwatang- konon berasal dari kejadian warga yang menggoyangkan jasad kedua tokoh dengan ranting pohon randu untuk memastikan mereka benar-benar telah tewas.
Masih banyak nama desa lain yang disebut lahir dari kisah pengejaran ini, masing-masing dengan cerita kecil yang berbeda tergantung siapa yang menuturkannya.
Beragam Versi, Beragam Tafsir
Menariknya, tidak semua versi cerita ini sejalan satu sama lain. Ada versi yang menyebut Kebokicak berasal dari Tulungagung dan dikutuk ibunya menjadi berkepala kerbau karena membangkang. Ada pula versi lain yang mengaitkan asal mula kutukan itu dengan kemarahan seorang selir kerajaan yang menyaksikan dua pemuda berlatih silat secara kasar hingga disamakan dengan kelakuan kerbau.Beberapa versi bahkan terkesan tidak sinkron secara sejarah — misalnya ada yang menempatkan tokoh Surontanu hidup pada masa penjajahan Belanda, padahal latar besar cerita ini semestinya berada di era Majapahit. Perbedaan semacam ini menunjukkan bagaimana cerita rakyat memang bisa berubah dan berkembang mengikuti siapa yang menceritakannya, kapan, dan dalam konteks apa.
Menyikapi Legenda sebagai Warisan Budaya
Melihat banyaknya versi dan perbedaan detail dalam kisah Kebokicak, ada baiknya cerita ini didekati sebagai kekayaan tradisi lisan, bukan sebagai catatan sejarah yang baku. Ketertarikan sebagian orang untuk mengaitkannya secara langsung dengan asal-usul nama Jombang memang menarik, tapi tetap memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam dan berbasis bukti, bukan semata bersandar pada legenda turun-temurun.Terlepas dari itu, keberadaan cerita Kebokicak dengan segala variasinya tetap menjadi bukti betapa kayanya tradisi bertutur masyarakat Jombang, sekaligus pengingat pentingnya upaya pendokumentasian budaya lisan sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.






