b

Wisata

Kesenian

Tokoh Jombang

Latest Release

Senin, 19 Oktober 2026

Mimin

Asal Usul Desa Manduro Jombang

Manduro merupakan sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, cikal bakal terbentuknya desa ini dikaitkan dengan kehadiran dua orang pelarian asal Madura yang memutuskan untuk bermukim di kawasan perbukitan yang pada masa itu masih berupa hutan belantara. Kedua pelarian tersebut kemudian berkembang biak dan melahirkan keturunan hingga akhirnya kawasan tersebut bertransformasi menjadi permukiman sebagaimana kondisinya pada masa kini. Identitas kedua pelarian tersebut maupun periode kedatangan mereka ke wilayah Manduro hingga kini belum dapat diketahui secara pasti karena minimnya sumber informasi yang memadai. baca Kesenian Sandur Manduro

Warito, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Manduro, mengemukakan pendapat berdasarkan informasi yang diperolehnya dari tokoh yang disebut sebagai 'Mbah Lurah Sepuh'. Menurutnya, kedua pelarian tersebut merupakan bagian dari pasukan Trunajaya yang mengalami kekalahan dalam peperangan, dan karena rasa malu akibat kekalahan tersebut, mereka enggan kembali ke tanah Madura. Pada akhirnya, para pelarian itu memilih menetap di kawasan perbukitan kapur, mengingat wilayah tersebut dianggap aman untuk dijadikan tempat persembunyian.


Sementara itu, Nasrulillahi selaku Kepala Seksi Kebudayaan menyampaikan pandangan bahwa kehadiran masyarakat Madura di Manduro kemungkinan besar berlangsung melalui beberapa gelombang migrasi. Gelombang pertama diperkirakan terjadi bersamaan dengan masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Gelombang berikutnya diduga berlangsung ketika Pangeran Purbaya memberikan bantuan kepada Amangkurat II dalam menghadapi Belanda, sedangkan gelombang-gelombang selanjutnya tidak banyak terdokumentasikan.²

Adapun Imam Ghozali, seorang budayawan asal Kabupaten Jombang, berpendapat bahwa terdapat dua versi narasi yang beredar di tengah masyarakat Manduro terkait asal-usul mereka. Versi pertama menyebutkan pasukan Trunajaya sebagai leluhur, sedangkan versi kedua mengaitkan garis keturunan dengan Pangeran Arya Wiraraja.³

Bila ditinjau dari perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, pada kurun waktu sekitar tahun 1746 hingga 1755 terjadi konflik antara Kerajaan Mataram—yang saat itu dipimpin oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi melawan Pemerintah Kolonial Belanda, yang pada akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Giyanti. Pada masa konflik tersebut, sejumlah besar orang Madura dikerahkan untuk membantu pihak Belanda dalam menghadapi Kerajaan Mataram.⁴ Pengerahan ini terjadi setelah Pulau Madura berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Belanda pada tahun 1743.

Pengiriman pasukan Madura pada masa Perang Giyanti tersebut dapat dipandang sebagai gelombang resmi pertama kedatangan orang Madura ke Pulau Jawa pada era kolonial Belanda. Pasukan yang dikirim pada periode ini merupakan kekuatan militer yang berasal dari kerajaan-kerajaan lokal di Madura. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Madura dalam membantu Belanda tidak terlepas dari dukungan militer yang sebelumnya diberikan Belanda ketika kerajaan-kerajaan tersebut berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.

Keterlibatan militer orang Madura selanjutnya tercatat pada peristiwa perlawanan terhadap Untung Surapati di Jawa Timur pada tahun 1767, serta pada Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830 dan menjangkau berbagai wilayah, di antaranya Kertosono⁶, Madiun, Banyumas, Pekalongan, Tegal, Rembang, Kedu, Pacitan, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Pada periode tersebut, sangat dimungkinkan bahwa sebagian orang Madura yang terlibat dalam peperangan akhirnya memilih untuk menetap di Jawa. Manduro diduga menjadi salah satu tujuan permukiman mereka mengingat kemiripan kondisi geografis wilayah tersebut dengan daerah asal mereka di Madura.

Apabila ditelusuri lebih jauh ke belakang, pada rentang tahun 1647–1677 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya, seorang bangsawan Madura. Melalui jalur pesisir utara Pulau Jawa dari arah Madura hingga Rembang, Trunajaya bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Kediri. Ketika Trunajaya akhirnya berhasil ditumpas pada tahun 1679, terdapat kemungkinan besar bahwa para pengikutnya yang berasal dari Madura melarikan diri ke wilayah-wilayah di sekitar Kediri, seperti Malang, Kertosono, maupun Jombang, seiring jatuhnya pusat pemerintahan di Kediri ke tangan pasukan Mataram yang dibantu oleh VOC dan Arung Palaka dari Kerajaan Bone, Sulawesi. Dengan demikian, narasi yang disampaikan oleh Warito selaku Sekretaris Desa Manduro memiliki dasar historis yang cukup masuk akal.

Aspek menarik lain terkait keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro dapat pula dihubungkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, yang di dalamnya turut disebutkan peran orang-orang Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja dalam membantu Raden Wijaya membuka lahan baru di Hutan Tarik. Wilayah tersebut kemudian berkembang pesat menjadi kerajaan besar bernama Majapahit pada tahun 1293 Masehi, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu terbesar dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengingat pusat Kerajaan Majapahit diperkirakan berada di lembah dekat aliran Sungai Brantas—yang situsnya diduga terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang⁷—bagaimana mungkin masyarakat Majapahit pada masa itu bermukim di kawasan pegunungan sebagaimana kondisi masyarakat Manduro saat ini?

Salah satu kemungkinan jawabannya berkaitan dengan peristiwa penyerangan terhadap Kerajaan Majapahit oleh Kesultanan Demak yang bercorak Islam pada tahun 1475, yang menjadi titik hilangnya jejak Kerajaan Majapahit dalam catatan sejarah. Pada masa itu, sebagian rakyat Majapahit diperkirakan menyingkir ke wilayah pegunungan. Fenomena serupa dapat dilihat pada masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo, yang hingga kini masih memegang teguh kepercayaan Hindu warisan Majapahit. Pola yang sama diduga turut dialami oleh keturunan masyarakat Madura yang telah berkembang sejak awal berdirinya Majapahit, yang kemudian menyingkir ke kawasan pegunungan, dengan Manduro sebagai salah satu kemungkinan lokasi tujuan.

Di Desa Manduro, tepatnya di bagian utara Dusun Gesing yang masih berupa kawasan hutan, dapat ditemukan reruntuhan bangunan yang hanya menyisakan puing-puing batu. Asal-usul serta periode pembangunan struktur tersebut belum dapat dipastikan, apakah merupakan peninggalan masa kolonial Belanda ataukah peninggalan era Kerajaan Majapahit, mengingat kedekatan wilayah Manduro dengan Mojokerto dan Jombang. Hingga saat ini belum terdapat kajian arkeologis yang dilakukan untuk mengungkap identitas peninggalan tersebut secara ilmiah. Meskipun demikian, masyarakat Manduro meyakini bahwa reruntuhan tersebut merupakan peninggalan zaman Majapahit sekaligus peninggalan era para wali, khususnya yang berkaitan dengan Sunan Geseng.

Gelombang-gelombang kedatangan masyarakat Madura ke Jombang setelahnya tidak banyak terdokumentasikan. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa migrasi penduduk Madura ke Pulau Jawa merupakan fenomena historis yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, didorong oleh kondisi ekologi lahan kering (tegal) yang mendorong penduduk untuk mencari lahan yang lebih subur serta sumber penghidupan yang lebih baik.

Puncak arus migrasi tersebut terjadi pada periode 1900–1930, seiring dibukanya berbagai perkebunan di Jawa Timur yang menarik minat penduduk Madura untuk bekerja sebagai buruh perkebunan. Akibatnya, jumlah penduduk di Pulau Madura mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kuntowijoyo mencatat bahwa penurunan tajam terjadi pada rentang tahun 1900 hingga 1920, di mana jumlah penduduk menyusut dari 1.750.511 jiwa menjadi 1.738.926 jiwa, dengan penurunan yang lebih drastis terjadi di kota-kota seperti Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan pada dekade 1920–1930. Lebih lanjut dijelaskan bahwa selain migrasi yang bersifat sementara, hingga tahun 1930 banyak pula pemukim baru asal Madura yang datang dan menetap secara permanen di Jawa Timur, dengan Jombang menjadi salah satu daerah tujuan utama. Tercatat bahwa hingga tahun 1930, jumlah penduduk Madura yang telah menetap di Jombang mencapai 936 jiwa.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diasumsikan bahwa keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro—yang pada masa itu masih berupa kawasan hutan—kemungkinan besar bermula sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Asumsi ini diperkuat oleh narasi yang berkembang di kalangan masyarakat Manduro terkait situs peninggalan Majapahit serta kisah Sunan Geseng yang diyakini pernah bermukim di wilayah tersebut. Sunan Geseng dikenal sebagai salah satu wali yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Apabila asal-usul penduduk Manduro dikaitkan dengan masa Perang Trunajaya yang berlangsung pada abad ke-17, hal tersebut dinilai kurang sesuai secara kronologis, sebab pada periode tersebut narasi mengenai situs Majapahit maupun kisah Sunan Geseng semestinya belum berkembang di kalangan penduduk.

Wilayah yang diyakini pertama kali dihuni oleh kedua pelarian tersebut diduga adalah kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Gesing. Dugaan ini didasarkan pada banyaknya peninggalan sejarah yang belum terungkap di dusun tersebut, termasuk pula jejak-jejak peninggalan masa kolonial Belanda.

Penamaan Dusun Gesing sendiri diyakini berasal dari nama Sunan Geseng. Menurut cerita yang berkembang, dalam perjalanan dakwahnya menyebarkan agama Islam, Sunan Geseng pernah singgah di wilayah yang kini dikenal dengan nama Gesing. Dibandingkan dengan dusun-dusun lainnya, Dusun Gesing memiliki lebih banyak mitos yang berkembang di kalangan masyarakatnya, salah satunya terkait tempat yang dikeramatkan bernama Sendang Weji. Tempat ini dianggap keramat karena diyakini sebagai lokasi 'nyilem' atau menghilangnya Sunan Geseng. Menurut kepercayaan penduduk setempat, Sendang Weji kerap dikaitkan dengan berbagai kejadian tidak lazim. Keanehan pertama tercatat terjadi pada masa peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, ketika Sendang Weji dikabarkan mengeluarkan sumber air berwarna darah. Keanehan kedua terjadi menjelang maraknya fenomena penembakan misterius ('Petrus'), ketika permukaan Sendang Weji tertutup semacam anyaman selama tujuh hari. Keanehan ketiga terjadi bersamaan dengan momen pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di mana permukaan Sendang Weji dikabarkan menampakkan gambar menyerupai gunungan.

Selain itu, Sendang Weji juga dipandang sebagai simbol 'yoni' bagi masyarakat Dusun Gesing, sehingga dalam setiap upacara selamatan desa, sesaji berupa tumpeng lengkap beserta hasil panen penduduk senantiasa diletakkan di lokasi tersebut. Meskipun demikian, terdapat pula pandangan lain yang menyebutkan bahwa kawasan yang pertama kali terbentuk justru adalah Mato'an, dengan alasan bahwa penamaan 'Mato'an' turut digunakan pada tiga dusun lainnya, yakni Mato'an Gesing, Mato'an Guwo, dan Mato'an Ndanden.

Asal-usul dusun-dusun lainnya di Desa Manduro juga memiliki narasi yang khas. Dusun Guwo, misalnya, dinamakan demikian karena di bagian selatan desa ditemukan dinding batu terjal yang menurut para sesepuh setempat menyimpan mulut gua dalam kondisi tertutup. Masyarakat Manduro meyakini bahwa hanya satu orang yang mampu membuka batu besar yang berfungsi sebagai pintu gua tersebut, yaitu mendiang Kepala Desa Manduro, Pak Saitun. Gua tersebut juga diyakini masyarakat setempat sebagai lokasi pertapaan Bung Karno pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Adapun narasi mengenai asal-usul Dusun Mato'an berbeda pula. Nama dusun ini diyakini berasal dari kata 'patokan' atau tugu, yang menurut kepercayaan penduduk setempat dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba pada waktu-waktu tertentu.

Sementara itu, asal-usul penamaan Desa Manduro sendiri hingga kini belum dapat dijelaskan secara pasti. Salah satu kemungkinan yang muncul adalah bahwa nama desa ini pada mulanya adalah "Desa Madura", yang diberikan karena mayoritas penduduknya berasal dari suku Madura. Terdapat dua kemungkinan penjelasan mengenai perubahan nama dari Madura menjadi Manduro. Kemungkinan pertama berkaitan dengan gejala kebahasaan yang dikenal sebagai epentesis, yaitu penyisipan fonem dalam satu suku kata, sebagaimana terlihat pada perubahan kata "upama" menjadi "umpama" atau "sadur" menjadi "sandur". baca juga 

Kemungkinan kedua berkaitan dengan fenomena idiolek, yakni sistem pengucapan yang bersifat individual, yang apabila digunakan secara kolektif oleh suatu komunitas dapat berkembang menjadi dialek khas masyarakat tersebut. Dengan demikian, sangat mungkin kata "Madura" diucapkan sebagai "Manduro" oleh masyarakat Jombang, atau sebagai "Meduro" oleh sebagian besar masyarakat Surabaya.

Kemungkinan ketiga berkaitan dengan tradisi masyarakat Madura yang pada umumnya sangat memuliakan tokoh pewayangan bernama Baladewa, yang dikisahkan sebagai raja dari Kerajaan Manduro. Dengan demikian, terbuka pula kemungkinan bahwa penamaan Desa Manduro terinspirasi dari nama kerajaan tokoh wayang tersebut.


Senin, 28 September 2026

Mimin

Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung

Di tengah julukan Jombang sebagai "Kota Santri", ternyata kabupaten ini juga menyimpan kekayaan wisata religi lintas agama, salah satunya Klenteng Boo Hway Bio di Kecamatan Mojoagung. Bagi umat Tri Dharma  gabungan penganut Buddha, Konghucu (Kong Hu Cu), dan Tao  klenteng ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan juga tempat yang diyakini keramat dan mampu mendatangkan berkah bagi siapa saja yangtekun bersembahyang di dalamnya.


Lokasi dan Ciri Khas Bangunan

Klenteng Boo Hway Bio berlokasi di kawasan utara Alun-Alun Mojoagung, tepat di belakang area pasar tradisional Mojoagung yang kini telah beralih fungsi menjadi alun-alun kota kecamatan. Secara administratif, klenteng ini berada di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Meski ukurannya tergolong tidak terlalu besar dibanding klenteng-klenteng lain di Jawa Timur, Boo Hway Bio memiliki daya tarik tersendiri. Bangunannya menghadap ke selatan, tepat mengarah ke Alun-Alun Mojoagung dan berdekatan dengan sebuah persimpangan jalan atau pertigaan.

Sejarah Berdirinya Klenteng

Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul dan waktu berdirinya Klenteng Boo Hway Bio, mengingat bangunan ini telah mengalami banyak perubahan bentuk dari masa ke masa.

Salah satu versi yang paling banyak dipegang oleh pengurus klenteng menyebutkan bahwa Boo Hway Bio berdiri sejak tahun 1928, bertepatan dengan tanggal 6 Lak Gwee atau 6 Juni menurut penanggalan Imlek. Menurut cerita yang berkembang di kalangan pengurus, awalnya klenteng ini merupakan tempat berkumpulnya warga Tionghoa perantauan yang belum memiliki tempat tinggal tetap di Mojoagung. Kisahnya, seseorang dari daratan Tiongkok membawa sebuah patung dewa menggunakan kapal laut. Setelah tiba dengan selamat, patung tersebut disembahyangi oleh umat Tionghoa setempat sebagai ungkapan syukur, karena diyakini sebagai dewa pelindung. Dari rasa syukur itulah warga kemudian bergotong royong mendirikan Klenteng Boo Hway Bio.

Di sisi lain, sumber dari organisasi vihara mencatat bahwa klenteng ini sebenarnya sudah dirintis sejak sekitar tahun 1900-an, dengan bangunan awal yang masih terbuat dari bambu. Bangunan sederhana ini bertahan hingga tahun 1940, sebelum akhirnya diganti dengan struktur semi permanen di bawah kepengurusan Oei Yan Tjong. Pembangunan altar sembahyang secara permanen baru direalisasikan pada 1975 atas prakarsa Siem Kam Lim, dan disusul dengan perluasan area klenteng pada 1981 atas inisiatif Tjoa Giok Ping.

Ada pula catatan sejarah lokal yang menyebutkan bahwa struktur bangunan klenteng yang ada sekarang sejatinya berawal dari fungsi berbeda, yakni sebagai rumah abu tempat penyemayaman abu para leluhur Tionghoa di Mojoagung, sebelum akhirnya dialihfungsikan sepenuhnya menjadi rumah ibadah sejak tahun 1965. Karena klenteng dipercaya membawa aura positif sementara jenazah membawa aura negatif, tempat persemayaman jenazah kemudian dipindahkan ke lokasi lain di Mojoagung. Meski begitu, abu leluhur tetap dipertahankan di bagian paling tengah klenteng sebagai penghormatan terhadap sejarah, diapit oleh patung-patung dewa di sisi kanan dan kirinya.

Perbedaan versi tahun berdiri ini wajar terjadi mengingat bangunan Boo Hway Bio memang telah beberapa kali dipugar dan diperluas — mulai dari bangunan bambu sederhana, bangunan utama di bagian depan pada era 1940-an, penambahan bangunan tengah dan bangunan bertingkat di bagian belakang pada era 1980-an, hingga renovasi besar pada tahun 2000-an yang membuat klenteng ini tampil lebih luas dan megah seperti sekarang.

Dewa Pelindung yang Disembah

Klenteng Boo Hway Bio menjadikan Sang Dewa Penolong sebagai sesembahan utama, yang dalam beberapa catatan disebut dengan nama Kongco Siam Siem Kong atau San Ci Kung. Dewa ini dipercaya dibawa langsung oleh para perantau Tionghoa dari Tiongkok ke Mojoagung, dan diyakini mampu menolong siapa saja yang tengah tertimpa persoalan hidup dan memanjatkan doa di klenteng ini.

Keyakinan inilah yang membuat Klenteng Boo Hway Bio dikenal luas di kalangan umat Tri Dharma sebagai tempat keramat. Tak hanya umat dari Mojoagung, banyak pula peziarah yang datang dari Mojokerto, Surabaya, dan berbagai wilayah lain di Jombang untuk bersembahyang di sini.

Filosofi Lokasi di Persimpangan Jalan

Salah satu keunikan Klenteng Boo Hway Bio adalah posisinya yang berada tepat di dekat pertigaan atau persimpangan jalan, menghadap ke arah alun-alun. Dalam kepercayaan sebagian pendiri dan sesepuh klenteng, lokasi persimpangan atau yang lazim disebut "jalan tusuk sate" dipandang strategis secara spiritual. Para leluhur meyakini bahwa membangun rumah ibadah di titik semacam ini dapat menetralkan pengaruh buruk yang berpusat di persimpangan jalan, sekaligus melancarkan pengamalan ajaran yang dianut oleh umat Tao, Konghucu, dan Buddha yang beribadah di dalamnya.

Peran Sosial di Tengah Masyarakat Mojoagung

Selain fungsi ibadah, Klenteng Boo Hway Bio juga aktif menjalankan peran sosial bagi masyarakat sekitar, tanpa memandang latar belakang agama. Setiap menjelang perayaan Imlek, pengurus dan umat rutin menggelar kerja bakti membersihkan area klenteng dan mencuci patung-patung dewa sebagai bagian dari tradisi penyambutan tahun baru.

Klenteng ini juga rutin menggelar ritual Ulambana, yaitu upacara penghormatan kepada arwah leluhur yang dilaksanakan pada bulan tujuh penanggalan Imlek oleh umat Buddha Mahayana. Dalam momentum ini, Klenteng Boo Hway Bio turut membagikan beras secara gratis kepada warga sekitar yang kurang mampu, sebagai wujud kepedulian sosial sekaligus mempererat toleransi antarwarga di Kecamatan Mojoagung.

Kegiatan sosial lain yang tercatat berlangsung di klenteng ini di antaranya program vaksinasi bagi warga sekitar pada masa pandemi, serta pembagian paket sembako yang turut dipantau langsung oleh jajaran Kecamatan Mojoagung sebagai bentuk sinergi antara pengurus klenteng dan pemerintah setempat.

Bagian dari Kekayaan Wisata Religi Jombang

Klenteng Boo Hway Bio merupakan satu dari tiga klenteng yang ada di Kabupaten Jombang, melengkapi keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo — yang konon telah berdiri sejak tahun 1700-an — serta Klenteng Hok Liong Kiong. Ketiganya menjadi bukti bahwa selain dikenal sebagai kota santri dengan wisata religi Islam seperti Makam Gus Dur dan Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari, Jombang juga memiliki keberagaman tempat ibadah lintas agama, termasuk gereja-gereja tua peninggalan zaman kolonial di Mojowarno dan Bongsorejo.

Keberadaan komunitas Tionghoa yang membangun klenteng-klenteng ini juga sejalan dengan catatan sejarah panjang Kabupaten Jombang, di mana etnis Tionghoa telah berkembang di wilayah ini sejak masa kolonial Hindia Belanda.

Bagi wisatawan yang tertarik menjelajahi wisata religi Jombang secara lebih luas, Pemerintah Kabupaten Jombang bahkan telah meluncurkan program Interkoneksi Wisata Religi Edukatif yang bertujuan menghubungkan nilai sejarah, budaya, dan keagamaan di berbagai titik penting Kabupaten Jombang, sehingga wisatawan lebih mudah mengakses informasi seputar tokoh, tempat bersejarah, hingga rumah ibadah lintas agama di daerah ini.

Untuk melengkapi penjelajahan wisata religi lintas agama, perjalanan bisa dilanjutkan ke [Klenteng Gudo], klenteng tertua di Jombang yang menyimpan sejarah lebih panjang, [Klenteng Hok Liong Kiong] di pusat Kota Jombang, atau mengunjungi Ringin Contong, ikon Kota Jombang yang menjadi titik nol filosofis kabupaten ini.

Sabtu, 26 September 2026

Mimin

Legenda Kebokicak, Cerita Rakyat Jombang

Bagi masyarakat Jombang, nama Kebokicak bukanlah hal asing. Ini adalah salah satu cerita rakyat yang hidup dari mulut ke mulut, diwariskan lewat ingatan orang-orang tua kepada generasi berikutnya. Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan naskah kuno tertulis yang bisa dijadikan rujukan resmi atas kisah ini. Semua yang kita kenal sekarang berasal dari tuturan lisan, sehingga sulit dipastikan mana versi yang paling asli.

Karena statusnya yang berada di antara dongeng dan sejarah, cerita Kebokicak sebaiknya dilihat bukan sebagai fakta mutlak, melainkan sebagai warisan budaya lisan yang berfungsi menjelaskan asal-usul suatu tempat sekaligus menjadi hiburan turun-temurun.


Upaya Mendokumentasikan Cerita yang Nyaris Hilang

Pada tahun 2007, sekelompok mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang melakukan riset lapangan dengan mendatangi berbagai narasumber di pelosok Jombang. Hasil penelusuran mereka kemudian dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).

Buku itu memuat 13 versi cerita yang berbeda-beda, masing-masing dituturkan oleh tokoh masyarakat, seniman ketoprak, dalang, hingga sesepuh desa dari berbagai kecamatan di Jombang mulai dari Tembelang, Peterongan, Kesamben, Bandar Kedung Mulyo, Gudo, Ngoro, hingga Jombang kota. Setiap narasumber mempunyai versi ceritanya sendiri, dengan tokoh, alur, dan detail yang kadang mirip, kadang jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada satu versi pun yang bisa diklaim sebagai versi "resmi" atau paling benar.

Penelitian akademis lain, seperti skripsi Puspita Indriani dari Unesa (2003), membagi cerita Kebokicak menjadi dua kelompok besar: versi abangan yang berlatar murni kerajaan Majapahit pada masa Raja Brawijaya V, dan versi santri yang tetap memakai latar waktu sama namun memasukkan unsur pesantren di kawasan yang kini dikenal sebagai Tebuireng.

Silsilah dalam Versi Santri

Salah satu versi santri yang cukup detail datang dari penuturan Kiai Hafidz asal Dapur Kejambon. Menurut kisah ini, ada tokoh bernama Ki Nur Khotib yang menikahi Wandan Manguri, putri dari Demang Kebokicak. Wandan Manguri sendiri disebut sebagai cucu Brawijaya V dari jalur Wandan Kuning, salah satu istri sang raja.

Dikisahkan, Wandan Kuning memiliki dua anak yaitu Raden Bondan Kejawan (Lembu Peteng) dan Wandan Wangi. Wandan Wangi kemudian diasuh oleh Mbah Pranggan di Karang Kejambon dan setelah dewasa dinikahkan dengan Kebokicak  menjadikan Kebokicak sebagai menantu Brawijaya V secara tidak langsung.

Silsilah ini berlanjut panjang melalui garis keturunan Ki Nur Khotib, yang kemudian melahirkan beberapa tokoh agama di kawasan Pasuruan dan Jombang, hingga akhirnya sampai pada Kiai Farhan, yang disebut sebagai kakek dari Kiai Hafidz sendiri.

Kebokicak di Panggung Ludruk

Selain dituturkan sebagai legenda lisan, kisah Kebokicak juga pernah diangkat ke panggung kesenian ludruk pada era 1970-an, salah satunya oleh seniman ludruk asal Jombang bernama Ngaidi Wibowo. Ia menuliskan naskah lakon ini menjadi 31 adegan berbahasa Jawa khas Jombangan, sebuah hal yang cukup langka mengingat banyak seniman ludruk saat itu tidak terbiasa menulis naskah secara formal.

Menariknya, ada kepercayaan di kalangan pemain ludruk bahwa pementasan lakon Kebokicak harus disertai sesajen tertentu. Jika syarat itu diabaikan, konon pertunjukan bisa kacau  bahkan ada cerita tentang pemain atau penonton yang kerasukan saat lakon ini dipentaskan tanpa ritual yang semestinya.

Secara umum, inti cerita dalam versi ludruk ini menceritakan konflik antara Kebokicak dan Surontanu yang memperebutkan seekor banteng sakti bernama Banteng Tracak Kencana  hewan yang konon bisa berbicara dan dirasuki dua sosok siluman. Perebutan itu berawal dari wabah penyakit yang melanda sebuah padepokan, di mana satu-satunya solusi menurut wangsit yang diterima gurunya adalah mengorbankan hewan berbulu putih sebagai tumbal.

Jejak Pengejaran yang Menjadi Nama Kampung

Bagian paling terkenal dari legenda ini adalah kisah pengejaran panjang Kebokicak terhadap Surontanu yang melarikan diri sambil membawa Banteng Tracak Kencana. Menariknya, hampir setiap lokasi yang dilalui dalam pengejaran itu dipercaya menjadi cikal bakal nama-nama desa yang masih ada hingga sekarang di wilayah Jombang. Berikut beberapa di antaranya, disarikan secara singkat:

- Parimono - konon berasal dari kejadian padi (pari) yang rusak diterjang saat pengejaran berlangsung.
- Mojosongo - tempat pertarungan yang menewaskan sembilan prajurit pengawal Kebokicak di sekitar pepohonan maja.
- Jombang - dipercaya berasal dari cahaya hijau dan merah yang muncul saat pertarungan sengit di sebuah kolam.
- Ringincontong - dinamai dari pohon beringin raksasa tempat Kebokicak mengerahkan kesaktiannya melawan Surontanu.
- Sumber Nangka, Bantengan, Tebu Ireng, Balung Biru - masing-masing memiliki cerita asal-usul yang berkaitan dengan persembunyian atau pertarungan dalam perjalanan pengejaran itu.
- Randuwatang- konon berasal dari kejadian warga yang menggoyangkan jasad kedua tokoh dengan ranting pohon randu untuk memastikan mereka benar-benar telah tewas.

Masih banyak nama desa lain yang disebut lahir dari kisah pengejaran ini, masing-masing dengan cerita kecil yang berbeda tergantung siapa yang menuturkannya.

Beragam Versi, Beragam Tafsir

Menariknya, tidak semua versi cerita ini sejalan satu sama lain. Ada versi yang menyebut Kebokicak berasal dari Tulungagung dan dikutuk ibunya menjadi berkepala kerbau karena membangkang. Ada pula versi lain yang mengaitkan asal mula kutukan itu dengan kemarahan seorang selir kerajaan yang menyaksikan dua pemuda berlatih silat secara kasar hingga disamakan dengan kelakuan kerbau.

Beberapa versi bahkan terkesan tidak sinkron secara sejarah — misalnya ada yang menempatkan tokoh Surontanu hidup pada masa penjajahan Belanda, padahal latar besar cerita ini semestinya berada di era Majapahit. Perbedaan semacam ini menunjukkan bagaimana cerita rakyat memang bisa berubah dan berkembang mengikuti siapa yang menceritakannya, kapan, dan dalam konteks apa.

Menyikapi Legenda sebagai Warisan Budaya

Melihat banyaknya versi dan perbedaan detail dalam kisah Kebokicak, ada baiknya cerita ini didekati sebagai kekayaan tradisi lisan, bukan sebagai catatan sejarah yang baku. Ketertarikan sebagian orang untuk mengaitkannya secara langsung dengan asal-usul nama Jombang memang menarik, tapi tetap memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam dan berbasis bukti, bukan semata bersandar pada legenda turun-temurun.

Terlepas dari itu, keberadaan cerita Kebokicak dengan segala variasinya tetap menjadi bukti betapa kayanya tradisi bertutur masyarakat Jombang, sekaligus pengingat pentingnya upaya pendokumentasian budaya lisan sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.

Jumat, 18 September 2026

Mimin

Cerita Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang

Halo dulur Jombang!. Tahukah kamu di ujung utara-timur wilayah Kabupaten Jombang, berbatasan langsung dengan aliran deras Sungai Brantas dan kaki Pegunungan Kendeng, terhampar sebuah desa yang menyimpan legenda panjang sejak era keruntuhan Majapahit. Desa Kudubanjar, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kudu, bukan sekadar wilayah agraris biasa. Nama desa ini menyimpan kisah pelarian seorang pasukan kerajaan, sementara jejak fisiknya masih bisa disaksikan hingga hari ini melalui sejumlah petilasan yang tetap dijaga warga setempat.

Pendopo Desa Kudubanjar

source image : https://kudubanjar-kudu.jombangkab.go.id/ 


Legenda di Balik Sebuah Nama

Konon, nama Kudubanjar lahir dari peristiwa besar yang mengguncang tanah Jawa pada penghujung era Majapahit. Ketika Kerajaan Demak Bintoro di bawah Raden Patah mulai menggerakkan pasukan untuk menyerang pusat Kerajaan Majapahit, seorang panglima bernama Rakai Banjar diperintahkan menghadang laju pasukan lawan. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke arah utara, menyeberangi Sungai Brantas, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan tanaman mengkudu. Di titik itulah Rakai Banjar mendirikan pesanggrahan, sembari menduga rute tersebut akan dilalui pasukan Demak.

Perkiraannya meleset. Pasukan Raden Patah justru mengambil jalur barat menuju Kerajaan Kediri sebelum berbelok ke timur menyerbu Majapahit dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, hingga akhirnya meruntuhkan kejayaan Majapahit. Menyadari kerajaannya telah tumbang, Rakai Banjar memilih tidak kembali. Ia bersama pasukannya menetap di kawasan hutan mengkudu tersebut, menjalani hidup sebagai pertapa dengan gelar Eyang Djenggot.

Sepeninggal Eyang Djenggot, tempat pertapaan itu diberi nama sesuai dua unsur yang melekat padanya: "Kudu", diambil dari hutan mengkudu tempat ia bersembunyi, dan "Banjar", dari nama belakang sang panglima. Perpaduan dua kata itulah yang hingga kini dikenal sebagai Kudubanjar. Sementara itu, tercatat pula bahwa kepala desa pertama yang memimpin wilayah ini bernama Mertoprawiro, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama desa.


Jejak Petilasan yang Masih Terjaga

Kisah masa lampau itu bukan sekadar cerita turun-temurun tanpa bukti. Hingga sekarang, warga Kudubanjar masih menjaga sejumlah petilasan yang dipercaya berkaitan langsung dengan riwayat Rakai Banjar. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, sebuah lokasi yang dahulu dikenal angker karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti beringin. Kini kawasan tersebut telah ditata lebih rapi, meski sebagian warga yang masih memegang kepercayaan lama tetap menjadikannya tempat ritual tolak bala.

Foto Kentongan Perkiraan tahun 2015
source image : https://nilaenggal01.blogspot.com

 

Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa kentongan tua yang usianya ditaksir puluhan tahun. Terbuat dari kayu pilihan yang tahan lapuk, kentongan ini dahulu menjadi alat komunikasi utama warga desa, digunakan untuk menandai berbagai peristiwa penting mulai dari ajakan berkumpul hingga tanda bahaya seperti pencurian atau kebakaran.

 

Monumen Sejarah yang Menyimpan Dua Kisah

 

Tugu Nasional : juga dipakai nama Jalan.
nama lain : Tugu rudal, Tugu bibir (lipstik)

Di persimpangan jalan desa, berdiri sebuah monumen yang oleh warga sekitar kerap disebut Tugu Nasional, namun lebih populer dikenal luas sebagai Tugu Peluru Kudubanjar. Bangunan yang menjulang sekitar tujuh meter ini dibangun sekitar tahun 1951 dan dikenang sebagai penanda perjuangan rakyat bersama Tentara Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung antara 1947 hingga 1949. Pertempuran sengit yang terjadi di wilayah utara Sungai Brantas tersebut hidup secara turun-temurun dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, sebagaimana pernah disampaikan langsung oleh kepala desa setempat kepada media. Bangunan bekas kantor onderdistrik pada masa itu bahkan kini beralih fungsi menjadi Kantor Kecamatan Kudu.

Menariknya, di kalangan warga turut beredar versi cerita lain mengenai asal-usul tugu tersebut, yang mengaitkannya dengan penanda pemakaman massal pada peristiwa kelam pergolakan politik nasional era 1960-an. Kedua versi cerita ini sama-sama hidup dalam ingatan masyarakat, mencerminkan bagaimana satu monumen bisa menyimpan lapisan sejarah yang berbeda tergantung dari sudut mana ia dikisahkan.

Wilayah Subur di Antara Dua Kecamatan

Secara geografis, Kudubanjar berbatasan dengan Desa Sumbernongko di utara, sejumlah desa di Kecamatan Ngusikan seperti Mernung, Simowau, Kemuning, dan Ketapang Kuning di sisi timur, Desa Menturus di selatan, serta Desa Sumberteguh di sisi barat. Dengan luas wilayah sekitar 2,53 kilometer persegi, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul, yang tersebar dalam sepuluh Rukun Warga dan dua puluh enam Rukun Tetangga. Dusun Kudu tercatat sebagai wilayah dengan penduduk dan luas terbesar, sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Kesuburan tanah di kawasan ini tidak lepas dari pengaruh aliran Sungai Brantas yang membawa material vulkanik dari letusan Gunung Kelud di masa lampau. Kombinasi tersebut menjadikan lahan pertanian di Kudubanjar cocok untuk budi daya tebu, padi, dan jagung, sementara sektor peternakan warga didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Denyut Perekonomian dan Tradisi Sedekah Bumi

Sebagai desa agraris, roda perekonomian Kudubanjar banyak digerakkan oleh sektor pertanian dan usaha mikro warga. Pemerintah desa setempat diketahui aktif memanfaatkan momentum tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar masyarakat Jawa, sebagai ajang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di lingkungan desa. Melalui perhelatan tahunan tersebut, produk-produk UMKM lokal mendapat ruang promosi sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi warga yang turut merayakan tradisi.

Tantangan Infrastruktur yang Terus Diupayakan

Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, Kudubanjar juga menghadapi sejumlah tantangan infrastruktur, terutama terkait akses jembatan penghubung. Jembatan di Dusun Banjarejo, yang menjadi jalur utama warga menuju Desa Sumbernongko dan Sumberteguh di Kecamatan Ngusikan, sempat putus total sejak akhir 2019 akibat derasnya arus sungai dan penumpukan enceng gondok. Warga sempat berswadaya membangun jembatan darurat sepanjang dua puluh tujuh meter yang hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, demi menjaga akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan tetap berjalan.

Persoalan ini menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati Jombang bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan tersebut pada akhir 2025, disusul kunjungan Bupati Jombang menjelang pergantian tahun untuk memastikan rencana pembangunan jembatan permanen segera terealisasi, setelah sebelumnya proses lelang proyek sempat mengalami kegagalan berulang kali. Selain isu jembatan, desa ini juga tercatat pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Marmoyo yang turut melanda sejumlah desa tetangga di Kecamatan Kudu, mendorong penanganan cepat dari perangkat kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Menjaga Warisan di Tengah Perkembangan Zaman

Perjalanan panjang Desa Kudubanjar, dari legenda pelarian seorang panglima Majapahit hingga tantangan pembangunan infrastruktur modern, menggambarkan bagaimana sebuah desa kecil mampu menyimpan lapisan sejarah yang kaya sekaligus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Petilasan yang masih berdiri, cerita yang terus dituturkan dari generasi ke generasi, serta upaya pembangunan yang terus berjalan, menjadikan Kudubanjar sebagai potret kecil dari perjalanan panjang tanah Jombang secara keseluruhan.


Referensi: Portal Jombang Kecamatan Kudu (kudu.jombangkab.go.id), Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Sudutkota.id, Wikipedia Bahasa Indonesia, dan Jombang Banget/Jawa Pos.

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.

 


Sejarah Berdirinya

Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.

 

Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.

 

Lokasi dan Posisi Strategis

Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.

 

Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.

 

Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.

 

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.

 

Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.

 

Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.

 

Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.

 

Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.

 

Ikon Kebanggaan Kota Santri

Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.

 

Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.

 


Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.

Mimin

Mengenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nama Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953 ini merupakan figur unik yang sulit dimasukkan ke dalam satu wadah profesi tertentu. Publik mengenalnya dalam beragam identitas: budayawan, penyair, sastrawan, humoris, hingga kiai tanpa sorban. Bagi KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Cak Nun adalah sosok "nurani bangsa" yang jiwanya terbebas dari sekat-sekat institusi maupun formalitas gelar.

Kritik Kritis dan Keberpihakan pada Rakyat Kecil

Cak Nun dikenal lewat pandangan-pandangannya yang tajam dan tak jarang menghentak publik. Ia tidak ragu melontarkan kritik sosial kepada siapa saja demi meluruskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Mulai dari keprihatinannya terhadap fenomena eksploitasi anak dalam ajang bakat, hingga kritik terhadap pola pengasuhan modern yang mengabaikan peran alami seorang ibu.
 
Meski memiliki daya analisis yang sangat tajam hingga dikagumi para akademisi dan profesor, Cak Nun tetap memilih berada di akar rumput. Rumah dan ruang diskusinya selalu terbuka bagi siapa saja:

  • Pengamen jalanan, tukang becak, hingga masyarakat miskin kota.

  • Masalah warga dari persoalan keluarga, konflik hukum, penggusuran tanah, hingga sekadar mencari ketenangan jiwa.

Dalam merespons berbagai krisis hidup rakyat kecil, ia kerap menyampaikan pesan penyejuk dengan bahasa yang sederhana namun menghujat kesombongan logis: “Gak usah mikir sing macem-macem, sing penting bojo waras, sampeyan budal turu weteng wareg, besok tangi kerja maneh.”

Perjalanan Hidup dan Melampaui Sekat Formalitas

Cak Nun merupakan putra keempat dari 15 bersaudara pasangan MA Latifin dan istrinya. Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang dan Yogyakarta. Ia sempat mengecap kehidupan pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo sebelum akhirnya dikeluarkan akibat memimpin aksi protes siswa. Setelah menamatkan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, ia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) meski hanya bertahan setengah semester.

Pilihan keluar dari pendidikan formal justru dipandang oleh budayawan Ashadi Siregar sebagai berkah. Cak Nun mengalami proses pembebasan diri dari belenggu institusi. Ia tidak memilih aman di dalam "tempurung" sekularisme akademis maupun dogma sempit, melainkan bertransformasi menjadi institusi nilai independen yang bergerak atas dasar otentisitas karya dan ketulusan nurani.

Langkah Kesenian dan Rekam Karya

Perjalanan estetik Cak Nun ditempa saat menggelandang di kawasan Malioboro, Yogyakarta (1970–1975), berguru langsung pada sufi eksentrik Umbu Landu Paranggi. Dari sanalah karier literasi dan teaternya merekah:

  • Karier Media & Teater: Mengawali kiprah sebagai pengasuh ruang sastra dan redaktur harian Masa Kini, kemudian mendirikan Teater Dinasti bersama rekan-rekannya di Bugisan, Yogyakarta.

  • Karya Naskah Drama: Menghasilkan lakon-lakon monumental bernuansa kritik sosial dan politik, seperti Geger Wong Ngoyak Macan (1989), Patung Kekasih (1989), Lautan Jilbab (1990), Santri-santri Khidhir (1990), dan Perahu Retak (1992).

  • Kumpulan Puisi & Esai: Melahirkan puluhan antologi puisi legendaris seperti 99 Untuk Tuhanku (1983), Suluk Pesisir (1989), dan Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Di samping itu, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku esai populer, di antaranya Slilit Sang Kiai (1991), Markesot Bertutur (1993), dan 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998).

Prinsip Pelayanan dan Pandangan Pluralisme

Sejak akhir 1990-an hingga kini, Cak Nun berkeliling ke berbagai pelosok nusantara bersama grup musik etno-kontemporer Kiai Kanjeng. Bersama Komunitas Masyarakat Padangmbulan, ia secara rutin menggelar ruang dialog publik outdoor yang menyedot ribuan jamaah dari pelbagai latar belakang.

Bagi Cak Nun, aktivitas manggung dan berdialog di lapangan-lapangan terbuka bukanlah panggung pencarian popularitas atau arena dakwah verbal belaka, melainkan sebuah bentuk pelayanan kultural.

Konsep KunciPemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Makna DakwahDakwah sejati bukan sekadar kata-kata di atas mimbar, melainkan wujud nyata dari perilaku dan kebaikan hidup sehari-hari.
Bentuk PelayananMenjadikan seni dan dialog sebagai media ibadah horizontal (hablum minannas) untuk menumbuhkan potensi rakyat.
PluralismeIndonesia pada dasarnya sudah plural sejak zaman Majapahit. Keberagaman adalah karakter alami bangsa yang tidak perlu dipertentangkan.
Melalui keindahan aransemen gamelan Kiai Kanjeng dan kedalaman wawasannya, Cak Nun terus menjadi jembatan dialog lintas iman dan golongan—sebuah bukti nyata keberadaan sosok manusia merdeka yang mengabdikan seluruh karya hidupnya untuk rakyat dan Kemanusiaan.