b

Wisata

Kesenian

Tokoh Jombang

Latest Release

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Profil Desa Bakalanrayung: Potensi, Sejarah, dan Dinamika Sosial di Utara Brantas

Secara geografis, Desa Bakalanrayung membentang seluas 252,63 hektar di kawasan utara Sungai Brantas. Berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, wilayah berdataran rendah ini tercatat sebagai desa terbesar kedua di kecamatan tersebut, baik dari segi bentang alam maupun jumlah populasi. Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan, mayoritas warga setempat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan maupun buruh tani.

Batas Wilayah Administratif
  • Utara: Desa Kepuhrejo
  • Selatan: Desa Tapen
  • Barat: Desa Sidokaton
  • Timur: Desa Randuwatang dan Desa Sumberteguh
 

Berawal dari sebuah pemukiman dusun berskala kecil, Bakalanrayung bertransformasi secara bertahap hingga kini menaungi 6 wilayah kedusunan:
  1. Dusun Bakalan
  2. Dusun Bebekan
  3. Dusun Maderejo
  4. Dusun Panemon
  5. Dusun Roworayung
  6. Dusun Roworejo
Naskah tutur lokal mencatat Mbah Bau Niti yang bertempat tinggal di Dusun Bakalan sebagai salah satu tokoh peletak dasar kepemimpinan desa. Estafet kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut ke era H. Munawar hingga jajaran kepala desa (lurah) di periode-periode berikutnya.

Meskipun bertumpu pada budaya agraris yang kuat, Desa Bakalanrayung menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan lapangan kerja non-pertanian. Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah desa memprioritaskan perluasan kesempatan kerja melalui pemberdayaan usaha mikro/kecil serta penyaluran akses modal usaha.

Masyarakat Bakalanrayung yang mayoritas beragama Islam tetap memelihara nilai-nilai tradisi dan adat lokal secara harmonis. Di tengah perjuangan mengentaskan angka kemiskinan, solidaritas warga terwujud nyata lewat keaktifan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan:
  • Pengembangan Pemuda & Perempuan: Karang Taruna, IPNU-IPPNU, dan PKK.
  • Kesehatan & Keagamaan: Posyandu, serta majelis taklim (Jamiyah Yasin dan Tahlil).
Wadah-wadah kelembagaan ini menjadi sarana krusial untuk menjaga kerukunan sosial sekaligus memacu keterlibatan aktif warga dalam pengawalan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Mimin

Markeso, Maestro Ludruk Garingan dari Jombang

Tokoh Jombang - Hidup Markeso adalah cerminan dari perjuangan tanpa henti yang ia tempuh seorang diri. Pria yang memiliki nama asli Nachrowi berdasarkan identitas resminya ini lahir di Jombang pada 30 Juni 1933. Seperti halnya takdir beberapa figur besar asal Jombang, sosoknya justru lebih dielu-elukan di luar kampung halamannya. Di Surabaya, nama Markeso begitu menggema hingga ditahbiskan sebagai ikon kesenian kota pelabuhan tersebut.

 


Keunikan Nachrowi terletak pada konsistensinya menjelajahi seni ludruk garingan (sekarang : Stand Up Comedy). Di bawah terik matahari Surabaya, ia berjalan menyusuri sudut-sudut kampung tanpa iringan gamelan atau instrumen musik konvensional. Seluruh harmoni pengiring keluar dari kemampuannya mengolah vokal mulut secara mandiri. Hebatnya, ia sanggup menyedot perhatian publik dan tampil solo selama tiga jam penuh.

 

Daya tarik utama pertunjukan Markeso ada pada keluwesannya berinteraksi. Penonton kerap melontarkan celetukan spontan untuk mengganggunya, namun alih-alih gusar, ia justru mengolah celotehan itu menjadi bahan kidungan yang makin segar. Drs. Eko Edy Susantro, MM, Pimpinan Ludruk Karya Budaya, menilai keahlian merespons audiens secara organik inilah yang membuat kelas Markeso sulit ditandingi oleh seniman lain.

 

Gaya busananya pun eksentrik sering kali mengenakan kopiah miring atau topi tinggi bergaya Turki. Benda apa pun yang dikenakan atau dilihatnya bisa seketika menjelma menjadi materi humor. Kendati namanya melambung tinggi di panggung hiburan Surabaya, ia menolak terbawa ambisi materi. Markeso memilih mengukur diri dan melakoni gaya hidup yang sangat bersahaja.

 

Di masa-masa emas kehidupannya, ia sebenarnya memiliki akses luas untuk mengisi acara instansi pemerintah maupun perayaan korporasi swasta. Namun, ia enggan meninggalkan akar rumput. Markeso tetap memilih mengamen dari pintu ke pintu demi menghibur rakyat kecil yang menjadi tempatnya bertumbuh.

 

Di balik pilihan menjadi seniman garingan, tersimpan sebuah garis sikap. Pilihan untuk tidak pernah bergabung dengan grup ludruk mana pun lahir dari rasa kecewanya terhadap perlakuan tidak adil pada dunia seni tradisional, khususnya kebijakan penarikan pajak pertunjukan. Bagi Markeso, sangat ironis ketika kesenian rakyat bawah yang dilakoni oleh seniman miskin justru dibebani pajak, alih-alih diberi insentif pendukung. Bukannya menggelar aksi protes berapi-api di jalanan, Markeso memilih jalur perlawanan yang anggun: mengasingkan diri dari sistem dan terus bernyanyi sendiri.

 

Langkah kaki Markeso yang biasa dikerumuni anak-anak kampung Surabaya kini tinggal kenangan. Sang maestro ludruk garingan tutup usia pada 1 Mei 1996 dan diperistirahatkan di tanah kelahirannya, Tunggorono, Jombang.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S. M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

19 Desa di Kecamatan Mojowarno Jombang: Profil Lengkap dan Potensinya

Kecamatan Mojowarno merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kecamatan Mojoagung di sebelah utara, Kecamatan Ngoro dan Bareng di sebelah selatan, Kecamatan Wonosalam dan Bareng di sebelah timur, serta Kecamatan Diwek dan Jogoroto di sebelah barat. Dengan luas wilayah sekitar 61,92 km², Kecamatan Mojowarno terbagi habis menjadi 72 dusun, 123 Rukun Warga (RW), dan 487 Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di seluruh desa.


Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah administratif Kecamatan Mojowarno, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang turut mendukung pembangunan daerah secara menyeluruh.

Daftar 19 Desa di Kecamatan Mojowarno

Kecamatan Mojowarno terdiri atas 19 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Catakgayam
  2. Gedangan
  3. Gondek
  4. Grobogan
  5. Japanan
  6. Karanglo
  7. Kedungpari
  8. Latsari
  9. Menganto
  10. Mojoduwur
  11. Mojojejer
  12. Mojowangi
  13. Mojowarno
  14. Penggaron
  15. Rejoslamet
  16. Selorejo
  17. Sidokerto
  18. Sukomulyo
  19. Wringinpitu

Setiap desa tersebut memiliki pemerintahan desa yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Mojowarno terletak pada koordinat 07°24'01" - 07°45'01" Lintang Selatan dan 112°24'01" - 112°45'01" Bujur Timur. Posisi wilayahnya berada di kawasan yang diapit oleh beberapa kecamatan besar di Kabupaten Jombang, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penghubung antarwilayah di kawasan selatan dan timur kabupaten.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Sebagian besar desa di Kecamatan Mojowarno mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Program dana desa di wilayah ini turut dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur perdesaan guna mendukung produktivitas dan kesejahteraan petani.

Sektor Kerajinan dan Industri Rumah Tangga

Selain pertanian, sejumlah desa di Kecamatan Mojowarno juga dikenal memiliki usaha kerajinan dan industri rumah tangga, seperti pembuatan genteng dan mebel, yang menjadi salah satu penopang perekonomian warga setempat.


Budaya dan Kearifan Lokal

Kecamatan Mojowarno memiliki nilai sejarah dan budaya yang khas, salah satunya keberadaan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang menjadi salah satu gereja tertua di Jawa Timur. Setiap tahunnya, masyarakat setempat juga menggelar tradisi Unduh-Unduh sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, yang menjadi salah satu daya tarik budaya di wilayah ini.

Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Mojowarno dengan 19 desanya terus menunjukkan perkembangan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kerajinan, hingga pelestarian budaya dan tradisi lokal. Keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Mojowarno diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.