b

Wisata

Kesenian

Tokoh Jombang

Latest Release

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.

 


Sejarah Berdirinya

Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.

 

Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.

 

Lokasi dan Posisi Strategis

Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.

 

Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.

 

Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.

 

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.

 

Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.

 

Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.

 

Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.

 

Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.

 

Ikon Kebanggaan Kota Santri

Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.

 

Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.

 


Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.

Mimin

Mengenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nama Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953 ini merupakan figur unik yang sulit dimasukkan ke dalam satu wadah profesi tertentu. Publik mengenalnya dalam beragam identitas: budayawan, penyair, sastrawan, humoris, hingga kiai tanpa sorban. Bagi KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Cak Nun adalah sosok "nurani bangsa" yang jiwanya terbebas dari sekat-sekat institusi maupun formalitas gelar.

Kritik Kritis dan Keberpihakan pada Rakyat Kecil

Cak Nun dikenal lewat pandangan-pandangannya yang tajam dan tak jarang menghentak publik. Ia tidak ragu melontarkan kritik sosial kepada siapa saja demi meluruskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Mulai dari keprihatinannya terhadap fenomena eksploitasi anak dalam ajang bakat, hingga kritik terhadap pola pengasuhan modern yang mengabaikan peran alami seorang ibu.
 
Meski memiliki daya analisis yang sangat tajam hingga dikagumi para akademisi dan profesor, Cak Nun tetap memilih berada di akar rumput. Rumah dan ruang diskusinya selalu terbuka bagi siapa saja:

  • Pengamen jalanan, tukang becak, hingga masyarakat miskin kota.

  • Masalah warga dari persoalan keluarga, konflik hukum, penggusuran tanah, hingga sekadar mencari ketenangan jiwa.

Dalam merespons berbagai krisis hidup rakyat kecil, ia kerap menyampaikan pesan penyejuk dengan bahasa yang sederhana namun menghujat kesombongan logis: “Gak usah mikir sing macem-macem, sing penting bojo waras, sampeyan budal turu weteng wareg, besok tangi kerja maneh.”

Perjalanan Hidup dan Melampaui Sekat Formalitas

Cak Nun merupakan putra keempat dari 15 bersaudara pasangan MA Latifin dan istrinya. Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang dan Yogyakarta. Ia sempat mengecap kehidupan pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo sebelum akhirnya dikeluarkan akibat memimpin aksi protes siswa. Setelah menamatkan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, ia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) meski hanya bertahan setengah semester.

Pilihan keluar dari pendidikan formal justru dipandang oleh budayawan Ashadi Siregar sebagai berkah. Cak Nun mengalami proses pembebasan diri dari belenggu institusi. Ia tidak memilih aman di dalam "tempurung" sekularisme akademis maupun dogma sempit, melainkan bertransformasi menjadi institusi nilai independen yang bergerak atas dasar otentisitas karya dan ketulusan nurani.

Langkah Kesenian dan Rekam Karya

Perjalanan estetik Cak Nun ditempa saat menggelandang di kawasan Malioboro, Yogyakarta (1970–1975), berguru langsung pada sufi eksentrik Umbu Landu Paranggi. Dari sanalah karier literasi dan teaternya merekah:

  • Karier Media & Teater: Mengawali kiprah sebagai pengasuh ruang sastra dan redaktur harian Masa Kini, kemudian mendirikan Teater Dinasti bersama rekan-rekannya di Bugisan, Yogyakarta.

  • Karya Naskah Drama: Menghasilkan lakon-lakon monumental bernuansa kritik sosial dan politik, seperti Geger Wong Ngoyak Macan (1989), Patung Kekasih (1989), Lautan Jilbab (1990), Santri-santri Khidhir (1990), dan Perahu Retak (1992).

  • Kumpulan Puisi & Esai: Melahirkan puluhan antologi puisi legendaris seperti 99 Untuk Tuhanku (1983), Suluk Pesisir (1989), dan Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Di samping itu, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku esai populer, di antaranya Slilit Sang Kiai (1991), Markesot Bertutur (1993), dan 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998).

Prinsip Pelayanan dan Pandangan Pluralisme

Sejak akhir 1990-an hingga kini, Cak Nun berkeliling ke berbagai pelosok nusantara bersama grup musik etno-kontemporer Kiai Kanjeng. Bersama Komunitas Masyarakat Padangmbulan, ia secara rutin menggelar ruang dialog publik outdoor yang menyedot ribuan jamaah dari pelbagai latar belakang.

Bagi Cak Nun, aktivitas manggung dan berdialog di lapangan-lapangan terbuka bukanlah panggung pencarian popularitas atau arena dakwah verbal belaka, melainkan sebuah bentuk pelayanan kultural.

Konsep KunciPemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Makna DakwahDakwah sejati bukan sekadar kata-kata di atas mimbar, melainkan wujud nyata dari perilaku dan kebaikan hidup sehari-hari.
Bentuk PelayananMenjadikan seni dan dialog sebagai media ibadah horizontal (hablum minannas) untuk menumbuhkan potensi rakyat.
PluralismeIndonesia pada dasarnya sudah plural sejak zaman Majapahit. Keberagaman adalah karakter alami bangsa yang tidak perlu dipertentangkan.
Melalui keindahan aransemen gamelan Kiai Kanjeng dan kedalaman wawasannya, Cak Nun terus menjadi jembatan dialog lintas iman dan golongan—sebuah bukti nyata keberadaan sosok manusia merdeka yang mengabdikan seluruh karya hidupnya untuk rakyat dan Kemanusiaan.

Kamis, 03 September 2026

Mimin

Mengenal Kesenian Jaran Dor Khas Jombang

Jaran Dor merupakan seni pertunjukan Kuda Lumping khas Jombang yang mengakar sejak era kolonial Belanda. Pertunjukan ini pertama kali dipelopori oleh kelompok kesenian asal Desa Kemambang, Kecamatan Diwek, pada tahun 1925 dengan kekuatan 14 personil. Identitas paling menonjol dari kesenian ini terletak pada instrumen perkusi utamanya, yaitu jidor. Dentuman mantap dari jidor yang berbunyi "dor" menjadi alasan kuat di balik penamaan seni rupa pertunjukan ini.

Secara tradisional, irama Jaran Dor bertumpu pada gabungan instrumen sederhana tanpa lantunan lagu formal. Perangkat pengiring aslinya terdiri dari jidor, kendang, dan sepasang kimplung (tiga tabung perkusi beda ukuran; tabung besar dinamai thong, sedangkan yang kecil dinamai ketipung). Seiring pergeseran zaman, perangkat musiknya kian berkembang dengan penambahan instrumen gamelan seperti gong peking, saron, ketuk, dan kenong, hingga adopsi alat musik modern seperti keyboard, drum, dan simbal untuk mengakomodasi lagu-lagu dangdut serta campursari.
 

Alur pementasan Jaran Dor disajikan secara berurutan lewat lima babak tarian. Pertunjukan dibuka dengan Tari Bapangan atau Tari Pentulan yang membawakan karakter bermasker dengan hidung besar, mata bulat, serta aksesoris kumis dan alis dari bulu ekor sapi. Setelah itu dilanjutkan dengan Tari Jaranan khas Jombang yang karakter geraknya cenderung bebas, intuitif, dan sarat pengaruh ilmu pencak silat karena sebagian besar penarinya berlatar belakang pendekar. Babak berikutnya diselingi dengan Tari Topeng atau Tari Humor sebagai penyegar, kemudian Tari Jepaplok yang menampilkan figur kepala naga kayu berengsel dengan ritme bunyi "plok-plok", lalu ditutup secara meriah oleh Tari Bantengan.

Karakter visual dan busana penari Jaran Dor juga memiliki keunikan tersendiri dibanding jaranan daerah lain seperti Semboyo. Ekor kuda lumping pada Jaran Dor berbentuk melengkung dan penarinya tampil tanpa gongseng atau kerincingan kaki. Busana klasiknya memadukan kaos garis horizontal warna merah-putih atau merah-hitam, luaran lengan panjang hitam, celana pendek bergaris merah, kopiah, dan sarung yang diikatkan di pinggang. Penarinya juga kerap membawa panthek, yaitu sebilah potongan bambu sepanjang satu meter, atau pecut cambuk.

Puncak estetika dan kekhusyukan pertunjukan Jaran Dor bermuara pada peran Tukang Gambuh atau pawang. Sebelum pementasan dimulai, pawang yang memiliki keahlian bela diri dan telah menjalani ritual tirakat akan membakar kemenyan di perapen untuk memohon keselamatan serta mengundang roh pelindung. Pawang bertugas mendampingi penari dan memegang kendali penuh atas keselamatan penari maupun penonton, terutama saat penari memasuki fase kesurupan atau ndadi.

Dalam kondisi ndadi, penari akan bergerak menuruti perintah pawang dan menyantap sajian khas seperti dedak, bunga, rumput, atau pisang. Aksi ekstrem seperti mengunyah pecahan kaca beling biasanya hanya disajikan apabila terdapat permintaan khusus dari penanggap acara. Keberhasilan prosesi mistis ini sangat bergantung pada kelengkapan sesaji yang disiapkan, mulai dari tikar pandan baru, sisir, kipas, beras kuning, pisang setangkep, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, hingga bumbu-bumbu dapur.

Rabu, 02 September 2026

Mimin

Tentang Alun-Alun Jombang

 

Bagi masyarakat Kabupaten Jombang, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka di tengah kota. Tempat ini juga menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi saksi perjalanan pemerintahan, sekaligus berfungsi sebagai ruang publik yang terus dimanfaatkan warga hingga hari ini. Artikel berikut mengulas asal-usul, perjalanan revitalisasi, serta peran Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kota Santri.

 

Asal-Usul dan Makna Alun-Alun

Kata "alun-alun" berasal dari bahasa Jawa "aloen-aloen", yang merujuk pada lapangan luas berumput yang dikelilingi jalan dan digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Konsep ini lazim ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, biasanya terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kediaman penguasa daerah.

 

Alun-Alun Jombang sendiri diyakini telah ada sejak masa kerajaan, jauh sebelum masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ketika hendak menghadap bupati atau raja, sekaligus lokasi latihan bagi prajurit kerajaan. Fungsi tersebut menempatkan alun-alun sebagai ruang yang erat kaitannya dengan pusat kekuasaan, sebagaimana pola yang juga terlihat pada alun-alun di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Malang.

 

Dalam catatan sejarah lokal, kawasan ini turut menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada periode revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949. Bersama sejumlah bangunan bersejarah lain di Jombang, alun-alun disebut sebagai salah satu titik penting yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan rakyat Jombang melawan penjajah.

 

Lokasi Strategis di Jantung Kota

Secara administratif, Alun-Alun Jombang berada di kawasan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, tepatnya di sekitar Jalan Diponegoro. Posisinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Baitul Mukminin, Pendopo Kabupaten, serta sejumlah kantor pemerintahan menjadikan kawasan ini sebagai pusat orientasi kota. Letak yang berada di jantung Jombang membuat alun-alun mudah diakses oleh warga dari berbagai penjuru, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang publik utama di kabupaten ini.

 

Perjalanan Revitalisasi

Sebelum mengalami pembenahan besar, kondisi Alun-Alun Jombang sempat dipandang kurang layak untuk menjadi wajah kota. Rencana penataan ulang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2020, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

 

Barulah pada tahun 2021, proyek revitalisasi resmi dijalankan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Jombang. Pekerjaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor pemenang tender, dengan penandatanganan kontrak dilakukan pada akhir Agustus 2021. Peletakan batu pertama turut menandai dimulainya proses pembangunan yang digagas dengan konsep ramah anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan Jombang sebagai kota yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan religi yang melekat pada alun-alun.

 

Proses pembangunan tersebut rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Jombang pada awal tahun 2022, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Sejak saat itu, Alun-Alun Jombang tampil dengan wajah baru: lebih tertata, dilengkapi ruang terbuka hijau, serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern.

 

Salah satu pertimbangan menarik dalam desain baru ini adalah orientasi kegiatan upacara. Mengingat posisi alun-alun yang berdampingan dengan masjid, arah pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar pemimpin upacara menghadap ke utara, sementara peserta menghadap ke selatan, sehingga kegiatan tidak membelakangi bangunan masjid.

 

Fasilitas dan Fungsi Sosial

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Jombang berkembang menjadi ruang multifungsi. Area barat alun-alun dipersiapkan sebagai jalur pedestrian lebar yang dilengkapi payung hidrolis, sehingga dapat menampung jamaah saat pelaksanaan salat berjamaah pada hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, tersedia pula area bermain anak atau playground yang menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga yang berkunjung.

 

Fungsi alun-alun kini jauh lebih beragam dibandingkan masa sebelumnya. Kawasan ini rutin digunakan untuk kegiatan olahraga, bersepeda, hingga sekadar bersantai bersama keluarga pada sore maupun malam hari. Di sisi lain, alun-alun juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara besar pemerintah daerah, seperti perayaan hari jadi kabupaten maupun festival tahunan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.

 

Keberadaan pedagang kaki lima di sekitar kawasan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah menata ulang zona berjualan dan menyediakan sentra kuliner khusus di luar area alun-alun, sehingga suasana di sekitar lapangan tetap tertib dan nyaman dikunjungi.

 

Alun-Alun sebagai Identitas Kota

Lebih dari sekadar taman kota, Alun-Alun Jombang mengemban nilai historis yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Kawasan ini dianggap penting untuk dilestarikan, bukan hanya karena fungsinya sebagai ruang terbuka, tetapi juga karena nilai budaya yang terus dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan adat dan sosial.

 

Pemeliharaan fasilitas di kawasan ini pun menjadi perhatian rutin pemerintah daerah, mulai dari perbaikan penerangan hingga pengelolaan ruang terbuka hijau, guna memastikan alun-alun tetap nyaman digunakan sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari.

 

Penutup

Perjalanan Alun-Alun Jombang, dari lapangan sederhana peninggalan masa kerajaan hingga menjadi ruang publik modern yang multifungsi, mencerminkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman. Bagi warga Jombang, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga simbol kebersamaan dan kebanggaan atas identitas kota yang dikenal sebagai Kota Santri.

Mimin

Ringin Contong: Saksi Bisu Lahirnya Jombang

 

Bundaran Ringin Contong: Ikon Jombang yang Menyimpan Cerita Satu Abad Lebih

Kalau Anda pernah melintas di pusat Kota Jombang, hampir mustahil melewatkan satu titik yang selalu jadi patokan arah warga setempat: Bundaran Ringin Contong. Menara air tua bergaya kolonial yang menjulang di tengah bundaran ini sudah jadi pemandangan akrab selama puluhan tahun. Tapi di balik sosoknya yang megah, ada rangkaian kisah sejarah yang sayangnya belum banyak diketahui orang  termasuk soal dari mana sebenarnya nama "Ringin Contong" itu berasal.

Ternyata, Namanya Bukan dari Menara Air

Banyak orang mengira nama Ringin Contong lahir dari bentuk menara air yang berdiri di sana. Wajar saja, bentuknya memang mengerucut ke atas seperti corong. Tapi anggapan ini sebenarnya kurang tepat.

Kalau ditelusuri lebih dalam, nama itu justru berasal dari dua kosakata Jawa yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan bangunan Belanda tersebut. "Ringin" merujuk pada pohon beringin, sementara "contong" adalah istilah lokal untuk wadah pembungkus makanan yang berbentuk kerucut  semacam bungkus nasi yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional Jawa. Jadi, jauh sebelum menara air itu berdiri, nama kawasan ini sudah lebih dulu terbentuk dari unsur pohon beringin, bukan dari arsitektur Belanda yang datang belakangan.

Pohon Beringin sebagai Penanda Lahirnya Pemerintahan Jombang

Lalu, dari mana asal pohon beringin yang dimaksud? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Jombang sebagai daerah otonom.

Pada 21 Oktober 1910, Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, menanam sebatang pohon beringin di lokasi yang kini menjadi bundaran tersebut. Penanaman ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebagai simbol resmi berdirinya pemerintahan Kabupaten Jombang setelah wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto pada masa kolonial. Dengan kata lain, pohon beringin itu berfungsi seperti "prasasti hidup" yang menandai babak baru sejarah administratif Jombang.


Watertoren: Ketika Belanda Membawa Modernisasi ke Jombang

Kisah kawasan ini kemudian berlanjut hampir dua dekade kemudian, tepatnya saat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah menara air atau watertoren persis di lokasi yang sama dengan pohon beringin bersejarah tadi.

Berdasarkan catatan yang tercantum dalam surat kabar lawas De Indische Courant, proyek pembangunan menara air ini dimulai pada 24 Agustus 1928 di bawah tanggung jawab Burgelijke Openbare Werken (BOW), atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda kala itu. Rancangan bangunannya digarap oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf, dan proses konstruksinya memakan waktu kurang lebih setahun penuh.

Begitu rampung pada 1929, menara ini langsung difungsikan sebagai tandon penampung air yang bersumber dari mata air besar di kawasan Ngampungan, Bareng. Dari sanalah air kemudian dialirkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di pusat Kota Jombang  sebuah lompatan besar dalam hal infrastruktur air bersih pada masanya.

Ketika Sejarah dan Modernitas Berdiri Berdampingan

Yang membuat Bundaran Ringin Contong istimewa bukan cuma karena usianya yang sudah lebih dari satu abad, melainkan karena di tempat ini dua era bertemu dalam satu titik yang sama. Pohon beringin melambangkan akar sejarah lokal dan kelahiran pemerintahan Jombang, sementara menara air peninggalan Belanda menjadi bukti bagaimana modernisasi mulai menyentuh kota ini di awal abad ke-20.

Kombinasi keduanya menjadikan bundaran ini lebih dari sekadar persimpangan jalan biasa. Bagi warga Jombang, tempat ini adalah penanda identitas kota. Bagi pengunjung dari luar daerah, terutama yang tertarik pada jejak arsitektur kolonial dan cerita rakyat, kawasan ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: perpaduan cerita rakyat Jawa dan peninggalan teknologi kolonial dalam satu lanskap yang sama.

Penutup

Bundaran Ringin Contong bukan sekadar hiasan kota atau titik transit kendaraan yang sering dilewati tanpa disadari maknanya. Di balik menara airnya yang kokoh dan bayang-bayang pohon beringin yang rindang, tersimpan jejak panjang sejarah administratif sekaligus jejak modernisasi kolonial yang membentuk wajah Jombang hari ini. Bagi siapa pun yang tertarik menyusuri sejarah kota-kota kecil di Jawa Timur, singgah sejenak di bundaran ini rasanya layak masuk daftar kunjungan wajib.

Senin, 31 Agustus 2026

Mimin

Situs Umpak Grobogan Jombang: Jejak Kuno yang Tersembunyi

Di jantung Dusun Sukorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah peninggalan kuno yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Situs Umpak Grobogan, secara administratif, mungkin sulit ditemukan tanpa panduan yang tepat. Sayangnya, tidak ada petunjuk arah yang jelas menuju situs ini, sehingga eksplorasi menuju tempat ini bisa menjadi sedikit petualangan tersendiri. Untuk membantu Anda menemukan jalan, berikut rute menuju Situs Grobogan:

 

Mulailah dari Jombang dan arahkan langkah ke Mojoagung. Setelah mencapai Pertigaan Terminal Mojoagung, belok ke kanan (menuju selatan). Lanjutkan perjalanan selama sekitar 3.5 kilometer hingga Anda mencapai sebuah perempatan. Dari sini, belok kiri hingga Anda tiba di pelataran masjid di sisi kiri jalan desa.

 

Situs Grobogan memiliki sejarah yang menarik. Ini terdiri dari delapan umpak batu, yang terbagi menjadi tujuh yang berkelompok, dan satu lagi yang terpisah. Umpak-umpak ini, meskipun mungkin tidak begitu mencolok, memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pondasi tiang penyangga sebuah bangunan. Bentuk umpaknya sendiri menarik, dengan segi delapan di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Selain itu, pada umpak tersebut terdapat pahatan sederhana yang menambah daya tariknya.

 

Di bagian atas umpak, Anda akan menemukan lubang berbentuk persegi yang dulunya digunakan untuk menancapkan tiang bangunan. Kemungkinan besar, Situs Grobogan ini adalah situs yang dulunya adalah pendopo. Bagian tiang dan atap bangunan mungkin telah lenyap, mungkin karena terbuat dari bahan yang mudah lapuk. Meskipun misteri dan keindahan sejarah yang terkandung di Situs Grobogan ini mungkin tersembunyi, mereka menunggu untuk diungkapkan dan dihargai oleh mereka yang mencari jejak kuno di Jombang.