 |
| Foto Lawas Pendopo Lawas Kabupaten Jombang, Perkiraan Tahun 1930 |
|
Selayang Pandang Geografis
Kabupaten Jombang berada di jantung Provinsi Jawa Timur, membentang seluas lebih dari 1.159 kilometer persegi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang pada tahun 2025, wilayah ini dihuni sekitar 1.373.790 jiwa penduduk. Pusat kotanya berdiri di ketinggian 44 meter dari permukaan laut, sekitar 79 kilometer atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat dari Surabaya, ibu kota provinsi.
Letaknya boleh dibilang cukup strategis. Jombang berada tepat di titik pertemuan beberapa jalur transportasi utama Pulau Jawa: lintasan selatan yang menghubungkan Surabaya, Madiun, hingga Yogyakarta, juga jalur menuju Tulungagung dan jalur yang mengarah ke Malang serta Tuban. Posisi persimpangan inilah yang sejak lama menjadikan Jombang sebagai wilayah lalu lintas orang, barang, maupun gagasan.
Julukan Kota Santri
Tak berlebihan bila Jombang disebut "Kota Santri". Di kabupaten ini bertebaran pondok pesantren, dan sebagian di antaranya sudah dikenal luas seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Ada semacam anggapan turun-temurun di kalangan masyarakat pesantren bahwa hampir setiap pendiri pondok di tanah Jawa pernah singgah menimba ilmu di Jombang lebih dulu semacam pengakuan tak tertulis atas peran daerah ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara.
Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir sejumlah tokoh besar bangsa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang kelak menjadi Presiden RI keempat, dua pahlawan nasional yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib. Nama-nama ini menjadi bukti bagaimana tradisi keilmuan Jombang ikut membentuk wajah intelektual dan keagamaan Indonesia modern.
Asal-usul Nama dan Makna Lambang Daerah
Ada cerita rakyat yang menjelaskan asal kata "Jombang". Konon nama ini merupakan gabungan dua kata bahasa Jawa, "ijo" dan "abang". Ijo melambangkan kalangan santri yang religius, sedangkan abang mewakili kelompok abangan yang lebih condong pada nilai kejawen dan nasionalisme. Menariknya, dua kelompok dengan latar berbeda ini justru hidup rukun berdampingan sebuah harmoni yang kemudian diabadikan dalam warna dasar lambang daerah.
Lambang Kabupaten Jombang sendiri berbentuk perisai yang sarat simbol. Di dalamnya termuat gambar padi dan kapas sebagai lambang kemakmuran, gapura serta benteng peninggalan Majapahit, bangunan Balai Agung yang menggambarkan sifat pemimpin yang mengayomi rakyat, menara berhiaskan bintang bersudut lima sebagai simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, tangga beton lima tingkat yang merepresentasikan Pancasila dan UUD 1945, gambar gunung, serta dua aliran sungai yang menggambarkan kesuburan tanah Jombang yakni Sungai Brantas dan Sungai Konto.
Setiap warna pada lambang pun punya makna tersendiri: hijau melambangkan kesuburan dan ketenangan, merah tua menggambarkan keberanian dan sikap kritis, biru cerah mewakili optimisme rakyat, cokelat menunjukkan keaslian tanah, kuning melambangkan kejayaan, dan putih menjadi simbol kesucian.
Dari Zaman Purba hingga Kerajaan Kuno
Jejak kehidupan manusia di kawasan Jombang ternyata sudah sangat tua. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam.
Catatan sejarah tertulis mulai muncul pada abad ke-10. Prasasti Turyyan yang bertarikh tahun 929 Masehi mengisahkan bagaimana Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, memindahkan pusat pemerintahannya ke Tamwlang yang diperkirakan kini berada di wilayah Kecamatan Tembelang. Delapan tahun kemudian, berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang, Raja Dharmawangsa Teguh kembali memindahkan ibu kota ke Watugaluh, yang diyakini adalah Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek sekarang.
Sejarah kemudian mencatat tragedi tahun 1006 Masehi, ketika pasukan sekutu Sriwijaya dari Kerajaan Wora-wari menyerbu dan meluluhlantakkan ibu kota Kerajaan Medang, sekaligus menewaskan Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu yang masih belia, berhasil lolos dari kepungan musuh. Jejak pelariannya konon masih bisa ditelusuri di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tiga belas tahun berselang, Airlangga bangkit dan mendirikan kerajaan baru yang wilayah kekuasaannya membentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.
Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 Masehi, Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi dua: Kadiri di sisi barat dengan ibu kota Daha, dan Janggala di sisi timur yang tetap berpusat di Kahuripan. Melihat peta kekuasaan pada masa itu, cukup masuk akal bila Jombang sudah menjadi wilayah lintasan yang ramai dilalui.
 |
Ringin contong : foto tahun 2017 sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ringin_Contong,_Jombang,_2017-09-19.jpg |
Era Kejayaan Majapahit dan Masuknya Islam
Antara tahun 1293 hingga 1500 Masehi, panggung sejarah Nusantara didominasi oleh Majapahit, kerajaan Hindu besar yang pengaruhnya meluas hingga ke Semenanjung Malaya. Pada masa inilah wilayah yang kini menjadi Jombang berfungsi sebagai gerbang masuk Majapahit gapura barat berada di Desa Tunggorono, sementara gapura selatan terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.
Warisan nama-nama Majapahit itu masih bisa dijumpai hingga kini lewat sejumlah nama desa dan kecamatan berawalan "Mojo", seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, hingga Mojotengah. Salah satu peninggalan fisik paling berharga dari era ini adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.
Seiring meredupnya kekuasaan Majapahit akibat perang saudara berkepanjangan, Islam mulai menyebar dari pesisir utara Jawa Timur dan perlahan diterima masyarakat berkat pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya setempat. Jombang pun kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Mataram Islam, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali VOC pada akhir abad ke-17 dan berlanjut menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Keberagaman Jombang tidak berhenti pada dua kelompok besar itu saja. Etnis Tionghoa dan Arab pun turut mewarnai wajah daerah ini sejak lama, salah satunya ditandai dengan keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon telah berdiri sejak tahun 1700 dan masih aktif digunakan hingga sekarang.
Masa Kolonial dan Berkembangnya Pluralisme
Tahun 1811 menjadi penanda penting ketika Kabupaten Mojokerto didirikan, dengan Jombang saat itu berstatus sebagai salah satu wilayah keresidenan di dalamnya. Bahkan situs bersejarah Trowulan, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, sempat masuk ke dalam wilayah administratif Jombang.
Sekitar tahun 1900, misionaris asal Belanda dan Eropa gencar menyebarkan agama Kristen di Jawa Timur. Mojowarno tercatat sebagai basis jemaat Kristen terbesar di wilayah Keresidenan Surabaya kala itu, dengan jumlah pengikut mencapai ribuan jiwa - jauh melampaui wilayah Kediri, Madiun, maupun Pasuruan. Fakta ini menjadi cerminan betapa masyarakat Jombang sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.
Peran Jombang dalam sejarah pergerakan nasional juga tak bisa dipandang sebelah mata. KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh Masyumi, dan KH Wahid Hasyim, anggota termuda BPUPKI yang kelak menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, sama-sama lahir dari tanah ini. Status Jombang sebagai kabupaten resmi di Jawa Timur akhirnya dikukuhkan lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950.
Jejak Alfred Russel Wallace di Jombang
Salah satu babak menarik dalam sejarah Jombang datang dari kunjungan seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace, tokoh yang dikenal luas lewat teori evolusinya dan konsep Garis Wallace. Dalam ekspedisinya menjelajahi kekayaan hayati Nusantara pada tahun 1861, Wallace sempat singgah dan bermalam di wilayah Jombang, tepatnya di kawasan Wonosalam.
Dalam catatan perjalanannya yang kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago salah satu karya literatur ilmiah paling berpengaruh abad ke-19 Wallace mengeja nama tempat itu sebagai "Wonosalem" dan menyebutnya berada di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang dimaksud kemungkinan besar terletak di kaki Gunung Anjasmoro, sebuah gunung yang pada masa itu boleh jadi belum memiliki nama tersendiri atau masih dianggap satu gugusan dengan Arjuna.
Dalam perjalanannya menuju Wonosalam, Wallace melewati hutan yang ia gambarkan sangat memesona, sekaligus singgah di Candi Arimbi yang berlokasi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Menurutnya, candi tersebut tampak seperti makam seorang raja dugaan yang tak sepenuhnya meleset, sebab menurut sejumlah versi cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan Tribhuwanatunggadewi.
Selama berada di Wonosalam, Wallace tercatat mengumpulkan berbagai spesimen unggas liar, termasuk burung merak, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi setempat. Menariknya, kopi masih menjadi salah satu komoditas andalan petani Wonosalam hingga hari ini, berdampingan dengan cengkih, kakao, dan durian lokal jenis bido.
Perkebunan kopi di kawasan itu diduga mulai dikembangkan sejak masa tanam paksa di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada pertengahan abad ke-19. Sekitar empat dekade setelah kunjungan Wallace, memasuki awal 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda kembali menata perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro melalui sistem sewa lahan, mulai dari Dusun Segunung hingga merambah ke Dusun Sumberjahe dan Sumberarum. Pabrik pengolahan kopi yang dibangun di Segunung sejak awal 1920-an bahkan bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya dibongkar oleh pemilik lahan pada awal tahun 2000-an.
Sisa-sisa masa kolonial di sekitar Mojowarno pun masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari rumah-rumah tua, gereja bersejarah, hingga bekas Pabrik Gula Tjoekir yang berdiri di sisi barat kawasan tersebut.
Pesona Wisata dan Penetapan Status Kabupaten
Selain kaya akan cerita sejarah, Jombang juga menyimpan banyak destinasi wisata alam yang tak kalah menarik, di antaranya Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, hingga Air Terjun Tretes.
Secara administratif, Jombang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 20 Maret 1881 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Namun, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif pada tahun 1920, yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang tercatat sebagai Bupati Jombang pertama. Kepemimpinan daerah ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga periode 2025-sekarang di bawah kepemimpinan Bupati Warsubi, S.H., M.S.I dengan Wakil Bupati M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd (Gus Salman)..