
Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung
Di tengah julukan Jombang sebagai "Kota Santri", ternyata kabupaten ini juga menyimpan kekayaan wisata religi lintas agama, salah satunya Klenteng Boo Hway Bio di Kecamatan Mojoagung. Bagi umat Tri Dharma gabungan penganut Buddha, Konghucu (Kong Hu Cu), dan Tao klenteng ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan juga tempat yang diyakini keramat dan mampu mendatangkan berkah bagi siapa saja yangtekun bersembahyang di dalamnya.
Lokasi dan Ciri Khas Bangunan
Klenteng Boo Hway Bio berlokasi di kawasan utara Alun-Alun Mojoagung, tepat di belakang area pasar tradisional Mojoagung yang kini telah beralih fungsi menjadi alun-alun kota kecamatan. Secara administratif, klenteng ini berada di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.
Meski ukurannya tergolong tidak terlalu besar dibanding klenteng-klenteng lain di Jawa Timur, Boo Hway Bio memiliki daya tarik tersendiri. Bangunannya menghadap ke selatan, tepat mengarah ke Alun-Alun Mojoagung dan berdekatan dengan sebuah persimpangan jalan atau pertigaan.
Sejarah Berdirinya Klenteng
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul dan waktu berdirinya Klenteng Boo Hway Bio, mengingat bangunan ini telah mengalami banyak perubahan bentuk dari masa ke masa.
Salah satu versi yang paling banyak dipegang oleh pengurus klenteng menyebutkan bahwa Boo Hway Bio berdiri sejak tahun 1928, bertepatan dengan tanggal 6 Lak Gwee atau 6 Juni menurut penanggalan Imlek. Menurut cerita yang berkembang di kalangan pengurus, awalnya klenteng ini merupakan tempat berkumpulnya warga Tionghoa perantauan yang belum memiliki tempat tinggal tetap di Mojoagung. Kisahnya, seseorang dari daratan Tiongkok membawa sebuah patung dewa menggunakan kapal laut. Setelah tiba dengan selamat, patung tersebut disembahyangi oleh umat Tionghoa setempat sebagai ungkapan syukur, karena diyakini sebagai dewa pelindung. Dari rasa syukur itulah warga kemudian bergotong royong mendirikan Klenteng Boo Hway Bio.
Di sisi lain, sumber dari organisasi vihara mencatat bahwa klenteng ini sebenarnya sudah dirintis sejak sekitar tahun 1900-an, dengan bangunan awal yang masih terbuat dari bambu. Bangunan sederhana ini bertahan hingga tahun 1940, sebelum akhirnya diganti dengan struktur semi permanen di bawah kepengurusan Oei Yan Tjong. Pembangunan altar sembahyang secara permanen baru direalisasikan pada 1975 atas prakarsa Siem Kam Lim, dan disusul dengan perluasan area klenteng pada 1981 atas inisiatif Tjoa Giok Ping.
Ada pula catatan sejarah lokal yang menyebutkan bahwa struktur bangunan klenteng yang ada sekarang sejatinya berawal dari fungsi berbeda, yakni sebagai rumah abu tempat penyemayaman abu para leluhur Tionghoa di Mojoagung, sebelum akhirnya dialihfungsikan sepenuhnya menjadi rumah ibadah sejak tahun 1965. Karena klenteng dipercaya membawa aura positif sementara jenazah membawa aura negatif, tempat persemayaman jenazah kemudian dipindahkan ke lokasi lain di Mojoagung. Meski begitu, abu leluhur tetap dipertahankan di bagian paling tengah klenteng sebagai penghormatan terhadap sejarah, diapit oleh patung-patung dewa di sisi kanan dan kirinya.
Perbedaan versi tahun berdiri ini wajar terjadi mengingat bangunan Boo Hway Bio memang telah beberapa kali dipugar dan diperluas — mulai dari bangunan bambu sederhana, bangunan utama di bagian depan pada era 1940-an, penambahan bangunan tengah dan bangunan bertingkat di bagian belakang pada era 1980-an, hingga renovasi besar pada tahun 2000-an yang membuat klenteng ini tampil lebih luas dan megah seperti sekarang.
Dewa Pelindung yang Disembah
Klenteng Boo Hway Bio menjadikan Sang Dewa Penolong sebagai sesembahan utama, yang dalam beberapa catatan disebut dengan nama Kongco Siam Siem Kong atau San Ci Kung. Dewa ini dipercaya dibawa langsung oleh para perantau Tionghoa dari Tiongkok ke Mojoagung, dan diyakini mampu menolong siapa saja yang tengah tertimpa persoalan hidup dan memanjatkan doa di klenteng ini.
Keyakinan inilah yang membuat Klenteng Boo Hway Bio dikenal luas di kalangan umat Tri Dharma sebagai tempat keramat. Tak hanya umat dari Mojoagung, banyak pula peziarah yang datang dari Mojokerto, Surabaya, dan berbagai wilayah lain di Jombang untuk bersembahyang di sini.
Filosofi Lokasi di Persimpangan Jalan
Salah satu keunikan Klenteng Boo Hway Bio adalah posisinya yang berada tepat di dekat pertigaan atau persimpangan jalan, menghadap ke arah alun-alun. Dalam kepercayaan sebagian pendiri dan sesepuh klenteng, lokasi persimpangan atau yang lazim disebut "jalan tusuk sate" dipandang strategis secara spiritual. Para leluhur meyakini bahwa membangun rumah ibadah di titik semacam ini dapat menetralkan pengaruh buruk yang berpusat di persimpangan jalan, sekaligus melancarkan pengamalan ajaran yang dianut oleh umat Tao, Konghucu, dan Buddha yang beribadah di dalamnya.
Peran Sosial di Tengah Masyarakat Mojoagung
Selain fungsi ibadah, Klenteng Boo Hway Bio juga aktif menjalankan peran sosial bagi masyarakat sekitar, tanpa memandang latar belakang agama. Setiap menjelang perayaan Imlek, pengurus dan umat rutin menggelar kerja bakti membersihkan area klenteng dan mencuci patung-patung dewa sebagai bagian dari tradisi penyambutan tahun baru.
Klenteng ini juga rutin menggelar ritual Ulambana, yaitu upacara penghormatan kepada arwah leluhur yang dilaksanakan pada bulan tujuh penanggalan Imlek oleh umat Buddha Mahayana. Dalam momentum ini, Klenteng Boo Hway Bio turut membagikan beras secara gratis kepada warga sekitar yang kurang mampu, sebagai wujud kepedulian sosial sekaligus mempererat toleransi antarwarga di Kecamatan Mojoagung.
Kegiatan sosial lain yang tercatat berlangsung di klenteng ini di antaranya program vaksinasi bagi warga sekitar pada masa pandemi, serta pembagian paket sembako yang turut dipantau langsung oleh jajaran Kecamatan Mojoagung sebagai bentuk sinergi antara pengurus klenteng dan pemerintah setempat.
Bagian dari Kekayaan Wisata Religi Jombang
Klenteng Boo Hway Bio merupakan satu dari tiga klenteng yang ada di Kabupaten Jombang, melengkapi keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo — yang konon telah berdiri sejak tahun 1700-an — serta Klenteng Hok Liong Kiong. Ketiganya menjadi bukti bahwa selain dikenal sebagai kota santri dengan wisata religi Islam seperti Makam Gus Dur dan Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari, Jombang juga memiliki keberagaman tempat ibadah lintas agama, termasuk gereja-gereja tua peninggalan zaman kolonial di Mojowarno dan Bongsorejo.
Keberadaan komunitas Tionghoa yang membangun klenteng-klenteng ini juga sejalan dengan catatan sejarah panjang Kabupaten Jombang, di mana etnis Tionghoa telah berkembang di wilayah ini sejak masa kolonial Hindia Belanda.
Bagi wisatawan yang tertarik menjelajahi wisata religi Jombang secara lebih luas, Pemerintah Kabupaten Jombang bahkan telah meluncurkan program Interkoneksi Wisata Religi Edukatif yang bertujuan menghubungkan nilai sejarah, budaya, dan keagamaan di berbagai titik penting Kabupaten Jombang, sehingga wisatawan lebih mudah mengakses informasi seputar tokoh, tempat bersejarah, hingga rumah ibadah lintas agama di daerah ini.
Untuk melengkapi penjelajahan wisata religi lintas agama, perjalanan bisa dilanjutkan ke [Klenteng Gudo], klenteng tertua di Jombang yang menyimpan sejarah lebih panjang, [Klenteng Hok Liong Kiong] di pusat Kota Jombang, atau mengunjungi Ringin Contong, ikon Kota Jombang yang menjadi titik nol filosofis kabupaten ini.






