
Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang
Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.
Sejarah Berdirinya
Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.
Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.
Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.
Lokasi dan Posisi Strategis
Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.
Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.
Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.
Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam
Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.
Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.
Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial
Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.
Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.
Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.
Ikon Kebanggaan Kota Santri
Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.
Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.
Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.




