b

Wisata

Kesenian

Tokoh Jombang

Latest Release

Senin, 31 Agustus 2026

Mimin

Situs Umpak Grobogan Jombang: Jejak Kuno yang Tersembunyi

Di jantung Dusun Sukorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah peninggalan kuno yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Situs Umpak Grobogan, secara administratif, mungkin sulit ditemukan tanpa panduan yang tepat. Sayangnya, tidak ada petunjuk arah yang jelas menuju situs ini, sehingga eksplorasi menuju tempat ini bisa menjadi sedikit petualangan tersendiri. Untuk membantu Anda menemukan jalan, berikut rute menuju Situs Grobogan:

 

Mulailah dari Jombang dan arahkan langkah ke Mojoagung. Setelah mencapai Pertigaan Terminal Mojoagung, belok ke kanan (menuju selatan). Lanjutkan perjalanan selama sekitar 3.5 kilometer hingga Anda mencapai sebuah perempatan. Dari sini, belok kiri hingga Anda tiba di pelataran masjid di sisi kiri jalan desa.

 

Situs Grobogan memiliki sejarah yang menarik. Ini terdiri dari delapan umpak batu, yang terbagi menjadi tujuh yang berkelompok, dan satu lagi yang terpisah. Umpak-umpak ini, meskipun mungkin tidak begitu mencolok, memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pondasi tiang penyangga sebuah bangunan. Bentuk umpaknya sendiri menarik, dengan segi delapan di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Selain itu, pada umpak tersebut terdapat pahatan sederhana yang menambah daya tariknya.

 

Di bagian atas umpak, Anda akan menemukan lubang berbentuk persegi yang dulunya digunakan untuk menancapkan tiang bangunan. Kemungkinan besar, Situs Grobogan ini adalah situs yang dulunya adalah pendopo. Bagian tiang dan atap bangunan mungkin telah lenyap, mungkin karena terbuat dari bahan yang mudah lapuk. Meskipun misteri dan keindahan sejarah yang terkandung di Situs Grobogan ini mungkin tersembunyi, mereka menunggu untuk diungkapkan dan dihargai oleh mereka yang mencari jejak kuno di Jombang.

Mimin

Menelusuri Jejak Sejarah Kabupaten Jombang

Foto Lawas Pendopo Lawas Kabupaten Jombang, Perkiraan Tahun 1930

Selayang Pandang Geografis

Kabupaten Jombang berada di jantung Provinsi Jawa Timur, membentang seluas lebih dari 1.159 kilometer persegi. Berdasarkan data  dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang pada tahun 2025, wilayah ini dihuni sekitar 1.373.790 jiwa penduduk. Pusat kotanya berdiri di ketinggian 44 meter dari permukaan laut, sekitar 79 kilometer atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat dari Surabaya, ibu kota provinsi.

Letaknya boleh dibilang cukup strategis. Jombang berada tepat di titik pertemuan beberapa jalur transportasi utama Pulau Jawa: lintasan selatan yang menghubungkan Surabaya, Madiun, hingga Yogyakarta, juga jalur menuju Tulungagung dan jalur yang mengarah ke Malang serta Tuban. Posisi persimpangan inilah yang sejak lama menjadikan Jombang sebagai wilayah lalu lintas orang, barang, maupun gagasan.

Julukan Kota Santri

Tak berlebihan bila Jombang disebut "Kota Santri". Di kabupaten ini bertebaran pondok pesantren, dan sebagian di antaranya sudah dikenal luas seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Ada semacam anggapan turun-temurun di kalangan masyarakat pesantren bahwa hampir setiap pendiri pondok di tanah Jawa pernah singgah menimba ilmu di Jombang lebih dulu  semacam pengakuan tak tertulis atas peran daerah ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara.

Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir sejumlah tokoh besar bangsa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang kelak menjadi Presiden RI keempat, dua pahlawan nasional yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib. Nama-nama ini menjadi bukti bagaimana tradisi keilmuan Jombang ikut membentuk wajah intelektual dan keagamaan Indonesia modern.

Asal-usul Nama dan Makna Lambang Daerah

Ada cerita rakyat yang menjelaskan asal kata "Jombang". Konon nama ini merupakan gabungan dua kata bahasa Jawa, "ijo" dan "abang". Ijo melambangkan kalangan santri yang religius, sedangkan abang mewakili kelompok abangan yang lebih condong pada nilai kejawen dan nasionalisme. Menariknya, dua kelompok dengan latar berbeda ini justru hidup rukun berdampingan sebuah harmoni yang kemudian diabadikan dalam warna dasar lambang daerah.

Lambang Kabupaten Jombang sendiri berbentuk perisai yang sarat simbol. Di dalamnya termuat gambar padi dan kapas sebagai lambang kemakmuran, gapura serta benteng peninggalan Majapahit, bangunan Balai Agung yang menggambarkan sifat pemimpin yang mengayomi rakyat, menara berhiaskan bintang bersudut lima sebagai simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, tangga beton lima tingkat yang merepresentasikan Pancasila dan UUD 1945, gambar gunung, serta dua aliran sungai yang menggambarkan kesuburan tanah Jombang yakni Sungai Brantas dan Sungai Konto.

Setiap warna pada lambang pun punya makna tersendiri: hijau melambangkan kesuburan dan ketenangan, merah tua menggambarkan keberanian dan sikap kritis, biru cerah mewakili optimisme rakyat, cokelat menunjukkan keaslian tanah, kuning melambangkan kejayaan, dan putih menjadi simbol kesucian.
 

Dari Zaman Purba hingga Kerajaan Kuno

Jejak kehidupan manusia di kawasan Jombang ternyata sudah sangat tua. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam.

Catatan sejarah tertulis mulai muncul pada abad ke-10. Prasasti Turyyan yang bertarikh tahun 929 Masehi mengisahkan bagaimana Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, memindahkan pusat pemerintahannya ke Tamwlang  yang diperkirakan kini berada di wilayah Kecamatan Tembelang. Delapan tahun kemudian, berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang, Raja Dharmawangsa Teguh kembali memindahkan ibu kota ke Watugaluh, yang diyakini adalah Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek sekarang.

Sejarah kemudian mencatat tragedi tahun 1006 Masehi, ketika pasukan sekutu Sriwijaya dari Kerajaan Wora-wari menyerbu dan meluluhlantakkan ibu kota Kerajaan Medang, sekaligus menewaskan Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu yang masih belia, berhasil lolos dari kepungan musuh. Jejak pelariannya konon masih bisa ditelusuri di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tiga belas tahun berselang, Airlangga bangkit dan mendirikan kerajaan baru yang wilayah kekuasaannya membentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 Masehi, Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi dua: Kadiri di sisi barat dengan ibu kota Daha, dan Janggala di sisi timur yang tetap berpusat di Kahuripan. Melihat peta kekuasaan pada masa itu, cukup masuk akal bila Jombang sudah menjadi wilayah lintasan yang ramai dilalui.

Ringin contong : foto tahun 2017
sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ringin_Contong,_Jombang,_2017-09-19.jpg

Era Kejayaan Majapahit dan Masuknya Islam

Antara tahun 1293 hingga 1500 Masehi, panggung sejarah Nusantara didominasi oleh Majapahit, kerajaan Hindu besar yang pengaruhnya meluas hingga ke Semenanjung Malaya. Pada masa inilah wilayah yang kini menjadi Jombang berfungsi sebagai gerbang masuk Majapahit  gapura barat berada di Desa Tunggorono, sementara gapura selatan terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Warisan nama-nama Majapahit itu masih bisa dijumpai hingga kini lewat sejumlah nama desa dan kecamatan berawalan "Mojo", seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, hingga Mojotengah. Salah satu peninggalan fisik paling berharga dari era ini adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Seiring meredupnya kekuasaan Majapahit akibat perang saudara berkepanjangan, Islam mulai menyebar dari pesisir utara Jawa Timur dan perlahan diterima masyarakat berkat pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya setempat. Jombang pun kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Mataram Islam, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali VOC pada akhir abad ke-17 dan berlanjut menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Keberagaman Jombang tidak berhenti pada dua kelompok besar itu saja. Etnis Tionghoa dan Arab pun turut mewarnai wajah daerah ini sejak lama, salah satunya ditandai dengan keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon telah berdiri sejak tahun 1700 dan masih aktif digunakan hingga sekarang.

Masa Kolonial dan Berkembangnya Pluralisme

Tahun 1811 menjadi penanda penting ketika Kabupaten Mojokerto didirikan, dengan Jombang saat itu berstatus sebagai salah satu wilayah keresidenan di dalamnya. Bahkan situs bersejarah Trowulan, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, sempat masuk ke dalam wilayah administratif Jombang.

Sekitar tahun 1900, misionaris asal Belanda dan Eropa gencar menyebarkan agama Kristen di Jawa Timur. Mojowarno tercatat sebagai basis jemaat Kristen terbesar di wilayah Keresidenan Surabaya kala itu, dengan jumlah pengikut mencapai ribuan jiwa - jauh melampaui wilayah Kediri, Madiun, maupun Pasuruan. Fakta ini menjadi cerminan betapa masyarakat Jombang sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.

Peran Jombang dalam sejarah pergerakan nasional juga tak bisa dipandang sebelah mata. KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh Masyumi, dan KH Wahid Hasyim, anggota termuda BPUPKI yang kelak menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, sama-sama lahir dari tanah ini. Status Jombang sebagai kabupaten resmi di Jawa Timur akhirnya dikukuhkan lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950.

Jejak Alfred Russel Wallace di Jombang

Salah satu babak menarik dalam sejarah Jombang datang dari kunjungan seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace, tokoh yang dikenal luas lewat teori evolusinya dan konsep Garis Wallace. Dalam ekspedisinya menjelajahi kekayaan hayati Nusantara pada tahun 1861, Wallace sempat singgah dan bermalam di wilayah Jombang, tepatnya di kawasan Wonosalam.

Dalam catatan perjalanannya yang kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago salah satu karya literatur ilmiah paling berpengaruh abad ke-19  Wallace mengeja nama tempat itu sebagai "Wonosalem" dan menyebutnya berada di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang dimaksud kemungkinan besar terletak di kaki Gunung Anjasmoro, sebuah gunung yang pada masa itu boleh jadi belum memiliki nama tersendiri atau masih dianggap satu gugusan dengan Arjuna.

Dalam perjalanannya menuju Wonosalam, Wallace melewati hutan yang ia gambarkan sangat memesona, sekaligus singgah di Candi Arimbi yang berlokasi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Menurutnya, candi tersebut tampak seperti makam seorang raja dugaan yang tak sepenuhnya meleset, sebab menurut sejumlah versi cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan Tribhuwanatunggadewi.

Selama berada di Wonosalam, Wallace tercatat mengumpulkan berbagai spesimen unggas liar, termasuk burung merak, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi setempat. Menariknya, kopi masih menjadi salah satu komoditas andalan petani Wonosalam hingga hari ini, berdampingan dengan cengkih, kakao, dan durian lokal jenis bido.

Perkebunan kopi di kawasan itu diduga mulai dikembangkan sejak masa tanam paksa di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada pertengahan abad ke-19. Sekitar empat dekade setelah kunjungan Wallace, memasuki awal 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda kembali menata perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro melalui sistem sewa lahan, mulai dari Dusun Segunung hingga merambah ke Dusun Sumberjahe dan Sumberarum. Pabrik pengolahan kopi yang dibangun di Segunung sejak awal 1920-an bahkan bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya dibongkar oleh pemilik lahan pada awal tahun 2000-an.

Sisa-sisa masa kolonial di sekitar Mojowarno pun masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari rumah-rumah tua, gereja bersejarah, hingga bekas Pabrik Gula Tjoekir yang berdiri di sisi barat kawasan tersebut.

Pesona Wisata dan Penetapan Status Kabupaten

Selain kaya akan cerita sejarah, Jombang juga menyimpan banyak destinasi wisata alam yang tak kalah menarik, di antaranya Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, hingga Air Terjun Tretes.

Secara administratif, Jombang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 20 Maret 1881 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Namun, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif pada tahun 1920, yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang tercatat sebagai Bupati Jombang pertama. Kepemimpinan daerah ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga periode 2025-sekarang di bawah kepemimpinan Bupati Warsubi, S.H., M.S.I dengan Wakil Bupati M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd (Gus Salman)..

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Profil Desa Bakalanrayung: Potensi, Sejarah, dan Dinamika Sosial di Utara Brantas

Secara geografis, Desa Bakalanrayung membentang seluas 252,63 hektar di kawasan utara Sungai Brantas. Berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, wilayah berdataran rendah ini tercatat sebagai desa terbesar kedua di kecamatan tersebut, baik dari segi bentang alam maupun jumlah populasi. Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan, mayoritas warga setempat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan maupun buruh tani.

Batas Wilayah Administratif
  • Utara: Desa Kepuhrejo
  • Selatan: Desa Tapen
  • Barat: Desa Sidokaton
  • Timur: Desa Randuwatang dan Desa Sumberteguh
 

Berawal dari sebuah pemukiman dusun berskala kecil, Bakalanrayung bertransformasi secara bertahap hingga kini menaungi 6 wilayah kedusunan:
  1. Dusun Bakalan
  2. Dusun Bebekan
  3. Dusun Maderejo
  4. Dusun Panemon
  5. Dusun Roworayung
  6. Dusun Roworejo
Naskah tutur lokal mencatat Mbah Bau Niti yang bertempat tinggal di Dusun Bakalan sebagai salah satu tokoh peletak dasar kepemimpinan desa. Estafet kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut ke era H. Munawar hingga jajaran kepala desa (lurah) di periode-periode berikutnya.

Meskipun bertumpu pada budaya agraris yang kuat, Desa Bakalanrayung menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan lapangan kerja non-pertanian. Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah desa memprioritaskan perluasan kesempatan kerja melalui pemberdayaan usaha mikro/kecil serta penyaluran akses modal usaha.

Masyarakat Bakalanrayung yang mayoritas beragama Islam tetap memelihara nilai-nilai tradisi dan adat lokal secara harmonis. Di tengah perjuangan mengentaskan angka kemiskinan, solidaritas warga terwujud nyata lewat keaktifan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan:
  • Pengembangan Pemuda & Perempuan: Karang Taruna, IPNU-IPPNU, dan PKK.
  • Kesehatan & Keagamaan: Posyandu, serta majelis taklim (Jamiyah Yasin dan Tahlil).
Wadah-wadah kelembagaan ini menjadi sarana krusial untuk menjaga kerukunan sosial sekaligus memacu keterlibatan aktif warga dalam pengawalan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Mimin

Markeso, Maestro Ludruk Garingan dari Jombang

Tokoh Jombang - Hidup Markeso adalah cerminan dari perjuangan tanpa henti yang ia tempuh seorang diri. Pria yang memiliki nama asli Nachrowi berdasarkan identitas resminya ini lahir di Jombang pada 30 Juni 1933. Seperti halnya takdir beberapa figur besar asal Jombang, sosoknya justru lebih dielu-elukan di luar kampung halamannya. Di Surabaya, nama Markeso begitu menggema hingga ditahbiskan sebagai ikon kesenian kota pelabuhan tersebut.

 


Keunikan Nachrowi terletak pada konsistensinya menjelajahi seni ludruk garingan (sekarang : Stand Up Comedy). Di bawah terik matahari Surabaya, ia berjalan menyusuri sudut-sudut kampung tanpa iringan gamelan atau instrumen musik konvensional. Seluruh harmoni pengiring keluar dari kemampuannya mengolah vokal mulut secara mandiri. Hebatnya, ia sanggup menyedot perhatian publik dan tampil solo selama tiga jam penuh.

 

Daya tarik utama pertunjukan Markeso ada pada keluwesannya berinteraksi. Penonton kerap melontarkan celetukan spontan untuk mengganggunya, namun alih-alih gusar, ia justru mengolah celotehan itu menjadi bahan kidungan yang makin segar. Drs. Eko Edy Susantro, MM, Pimpinan Ludruk Karya Budaya, menilai keahlian merespons audiens secara organik inilah yang membuat kelas Markeso sulit ditandingi oleh seniman lain.

 

Gaya busananya pun eksentrik sering kali mengenakan kopiah miring atau topi tinggi bergaya Turki. Benda apa pun yang dikenakan atau dilihatnya bisa seketika menjelma menjadi materi humor. Kendati namanya melambung tinggi di panggung hiburan Surabaya, ia menolak terbawa ambisi materi. Markeso memilih mengukur diri dan melakoni gaya hidup yang sangat bersahaja.

 

Di masa-masa emas kehidupannya, ia sebenarnya memiliki akses luas untuk mengisi acara instansi pemerintah maupun perayaan korporasi swasta. Namun, ia enggan meninggalkan akar rumput. Markeso tetap memilih mengamen dari pintu ke pintu demi menghibur rakyat kecil yang menjadi tempatnya bertumbuh.

 

Di balik pilihan menjadi seniman garingan, tersimpan sebuah garis sikap. Pilihan untuk tidak pernah bergabung dengan grup ludruk mana pun lahir dari rasa kecewanya terhadap perlakuan tidak adil pada dunia seni tradisional, khususnya kebijakan penarikan pajak pertunjukan. Bagi Markeso, sangat ironis ketika kesenian rakyat bawah yang dilakoni oleh seniman miskin justru dibebani pajak, alih-alih diberi insentif pendukung. Bukannya menggelar aksi protes berapi-api di jalanan, Markeso memilih jalur perlawanan yang anggun: mengasingkan diri dari sistem dan terus bernyanyi sendiri.

 

Langkah kaki Markeso yang biasa dikerumuni anak-anak kampung Surabaya kini tinggal kenangan. Sang maestro ludruk garingan tutup usia pada 1 Mei 1996 dan diperistirahatkan di tanah kelahirannya, Tunggorono, Jombang.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S.I M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.