b

Wisata

Kesenian

Nama Desa

Latest Release

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S. M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

19 Desa di Kecamatan Mojowarno Jombang: Profil Lengkap dan Potensinya

Kecamatan Mojowarno merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kecamatan Mojoagung di sebelah utara, Kecamatan Ngoro dan Bareng di sebelah selatan, Kecamatan Wonosalam dan Bareng di sebelah timur, serta Kecamatan Diwek dan Jogoroto di sebelah barat. Dengan luas wilayah sekitar 61,92 km², Kecamatan Mojowarno terbagi habis menjadi 72 dusun, 123 Rukun Warga (RW), dan 487 Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di seluruh desa.


Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah administratif Kecamatan Mojowarno, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang turut mendukung pembangunan daerah secara menyeluruh.

Daftar 19 Desa di Kecamatan Mojowarno

Kecamatan Mojowarno terdiri atas 19 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Catakgayam
  2. Gedangan
  3. Gondek
  4. Grobogan
  5. Japanan
  6. Karanglo
  7. Kedungpari
  8. Latsari
  9. Menganto
  10. Mojoduwur
  11. Mojojejer
  12. Mojowangi
  13. Mojowarno
  14. Penggaron
  15. Rejoslamet
  16. Selorejo
  17. Sidokerto
  18. Sukomulyo
  19. Wringinpitu

Setiap desa tersebut memiliki pemerintahan desa yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Mojowarno terletak pada koordinat 07°24'01" - 07°45'01" Lintang Selatan dan 112°24'01" - 112°45'01" Bujur Timur. Posisi wilayahnya berada di kawasan yang diapit oleh beberapa kecamatan besar di Kabupaten Jombang, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penghubung antarwilayah di kawasan selatan dan timur kabupaten.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Sebagian besar desa di Kecamatan Mojowarno mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Program dana desa di wilayah ini turut dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur perdesaan guna mendukung produktivitas dan kesejahteraan petani.

Sektor Kerajinan dan Industri Rumah Tangga

Selain pertanian, sejumlah desa di Kecamatan Mojowarno juga dikenal memiliki usaha kerajinan dan industri rumah tangga, seperti pembuatan genteng dan mebel, yang menjadi salah satu penopang perekonomian warga setempat.


Budaya dan Kearifan Lokal

Kecamatan Mojowarno memiliki nilai sejarah dan budaya yang khas, salah satunya keberadaan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang menjadi salah satu gereja tertua di Jawa Timur. Setiap tahunnya, masyarakat setempat juga menggelar tradisi Unduh-Unduh sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, yang menjadi salah satu daya tarik budaya di wilayah ini.

Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Mojowarno dengan 19 desanya terus menunjukkan perkembangan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kerajinan, hingga pelestarian budaya dan tradisi lokal. Keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Mojowarno diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Rabu, 07 Mei 2025

Mimin

Bolet, Seniman Remo dari Jombang

Bolet merupakan seniman ludruk tradisional asal Jombang yang sangat berpengaruh dan dikenal sebagai sosok serba bisa, tak hanya sebagai pemain, tetapi juga pencipta karya seni. Salah satu ciptaan monumentalnya adalah tari remo gaya Jombangan, yang hingga kini menjadi ciri khas tersendiri dalam dunia ludruk.

bolet remo jombang

Dalam tradisi ludruk dikenal dua gaya utama tari remo: gaya Suroboyoan dan gaya Jombangan. Gaya Suroboyoan diciptakan oleh Munali Fatah, sedangkan gaya Jombangan adalah hasil kreasi Bolet. Meskipun sempat muncul gaya Mojokertoan yang dikenalkan oleh Ali Markasa, gaya ini tetap dianggap banyak terpengaruh oleh gaya Jombangan ciptaan Bolet, sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, seorang pemerhati ludruk yang menulis tesis tentang kesenian ini.

Ciri khas tari remo gaya Jombangan ciptaan Bolet terletak pada gerakannya yang santai, sederhana, tetapi penuh kejutan dan kelucuan, membuat penonton tersenyum atau mesem. Keunikan lainnya adalah penggunaan selendang warna hijau dan merah (ijo dan abang), yang oleh masyarakat dianggap sebagai singkatan dari Jom-bang, simbol identitas daerah asal tarian ini.

Selain Bolet, nama-nama lain dari Jombang yang turut mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ludruk adalah Ali Markasa, Santik (dikenal dengan ngamen lerok), dan Markeso (terkenal dengan ludruk garingannya). Namun, Bolet tetap menempati posisi istimewa karena kontribusinya yang besar.

Bolet meninggal pada 15 Agustus 1976 di usia yang relatif muda, yakni 34 tahun. Namun sebelum wafat, ia sudah memberikan kontribusi besar pada dunia kesenian Jawa Timur. Sebelum tahun 1965, ia sempat menjadi anggota Ludruk “Gaya Baru”. Setelah 1968, ia aktif sebagai pelawak dan penari Ngremo bebas. Prestasinya pun tak sedikit—pada tahun 1970 ia meraih Juara III lomba tari Ngremo tingkat Kabupaten Jombang dan berhasil menjadi Juara I tingkat Jawa Timur pada 1971.

Karyanya dianggap sangat berharga dan berpengaruh, sehingga pada suatu kesempatan, almarhum diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, sebagaimana disampaikan oleh Drs. H.M. Arifin, M.M., mantan Kepala Kantor Parbupora.

Jejak seni Bolet terus dilanjutkan oleh generasi penerus. Hal ini terlihat dalam Lomba Tari Ngremo se-Jawa Timur pada tahun 2004, di mana delapan penari dari ludruk Jombang masuk 10 besar. Bahkan, bintang tamu dalam acara tersebut juga berasal dari Jombang, yaitu Ali Markasa, menunjukkan bahwa warisan seni dari Bolet masih terus hidup dan berkembang.

Selasa, 06 Mei 2025

Mimin

Filosofi dan latar belakang busana Khas Jombang Deles

Kabupaten Jombang tak hanya dikenal sebagai Kota Santri atau tempat kelahiran tokoh-tokoh besar bangsa. Di balik kentalnya nuansa religius dan nasionalisme, Jombang juga memiliki warisan budaya yang menarik dalam bentuk busana tradisional khas, yang disebut "Deles". Mungkin tak sepopuler kebaya dari Solo atau batik Pekalongan, tapi Deles punya cerita, nilai sejarah, dan filosofi yang sangat dalam. Mari kita kenali lebih jauh.
pakaian khas jombang


Berikut FILOSOFI dan LATARBELAKANG BUSANA KHAS JOMBANG DELES

A. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (PRIA) Disebut Busana Kudawaningpati

1. Penutup Kepala disebut UDHENG BLANGKON SUNDHUL MEGO

Merupakan gabungan penutup kepala tekes era abad 13, udheng Remo, udheng Ludruk, udheng Jawa Timuran dan Blangkon Cekdongan. Ini mengingat insan Jombang sangat egaliter, sangat menghormati perbedaan, dan sangat toleran.
Nama Sundhul Mego diambil dari nama Patih dalam Cerita Wayang Topeng Jatiduwur dalam lakon Wiruncono Murco.
Undheng Blangkon Sundhul Mego dengan PONCOT NGARSO atau Poncot Depan ada 2 (dua) macam:
Yaitu PONCOT NGARSO menghadap ke ATAS bentuknya seperti KEMBANG KANTHIL. Serta PONCOT NGARSO menghadap ke BAWAH yang melambangkan ATI SAREH serta NDHINGKLUK'E PARI
 

2. Busana Atasan Jas Gulon Dwigatra

juga dipakai oleh Bupati Jombang pertama yaitu Raden Adipati Aryo Suroadiningrat 
Jas Gulon Dwigatra merupakan busana atasan pria (Bagian Jas Gulon Dwigartra) ini menjadi titik pembeda dengan busana adat dengan daerah lain di Jawa Timur dengan memakai kerah tegak, untuk membedakan model potong gulon atau desain teluk belanga.
Jas Gulon Dwigatra sebagai pembeda dengan bentuk Jas Mataraman dan Jas Jawa Timuran atau sering disebut jas Basofi.
Sedangkan nama busana dwigatra adalah bertemunya dua gatra budaya menurut pemetaan sejarawan dan budayawan/almarhum Prof. Ayu Sutarto, yaitu gatra budaya Mataraman atau Pracima dan gatra budaya Arek
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI BEBET (Pria) 

Istilah tapih yang artinya kain atau busana bawah yang sudah dipakai sejak era Mataram Kuno atau Medang. Diberi nama Tapih Kudawaningpati untuk menunjukkan busana pria Jombang Deles.
Nama Tapih Kudawaningpati diambil dari tokoh dalam cerita Panji pada Wayang Topeng Jatiduwur yang diduga peninggalan Majapahit. Sejarah Majapahit juga tak lepas dari sejarah yang ada di Jombang sebagai latar belakang Kota Santri.
Raden Panji Kudawaningpati dipercaya sebagai putra mahkota kerajaan Jenggala yang wilayahnyamasuk Jombang bagian Timur saat ini.
Tampilan Tapih Kudawaningpati (berupa gabungan dari celana dan sarung atau celarung. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putri. Dan bisa digunakan bebet untuk acara tertentu dengan memakai celana hitam.
 

B. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (WANITA) Disebut Busana Kemodoningrat

1. Busana Kemodoningrat

Diambil dari nama Dewi Kemodoningrat,  adalah nama lain Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, istri Panji Asmarabangun alias Panji Kudawaningpati.
Dewi Kemodoningrat juga dipercaya sebagai pembabat Dusun Kemodo, Desa Dukuhmojo, Mojoagung.
 

2. Kudung, Jilbab, dan Selendang Pati

Penutup kepala wanita mengenakan kerudung polos yang senada dengan warna bajunya. Sedangkan Warna corak selendang yang disepakati adalah hijau botol, dengan kombinasi motif lainnya yang mencerminkan Islam sebagai agama mayoritas di Jombang, juga bentuk perwakilan warna santri.
Bagian kerudung ini sebagai penutup kepala sesuai dengan ciri khas Kabupaten Jombang sebagai Kota Santri. Model kerudung berupa selendang seperti busana adat Jawa Timur pada umumnya.
Bagi pengguna Busana Khas Jombang Deles putri yang muslim bisa mengenakan jilbab saja, atau bisa menambahkan selendang, sedangkan yang non muslim bisa menggunakan selendangnya sebagai tambahan aksen keanggunan wanita Jawa.
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI (Wanita). 

Bagian bawah busana wanita Jombang Deles ini dari kain jarik yang memiliki sampiran kain penutup di bagian depan seperti jarik pada umumnya. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putra yang menghadap sebaliknya atau mengarah ke kanan.
sumber : 
https://www.jombangkab.go.id