b

Senin, 19 Oktober 2026

Mimin

Asal Usul Desa Manduro Jombang

Manduro merupakan sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, cikal bakal terbentuknya desa ini dikaitkan dengan kehadiran dua orang pelarian asal Madura yang memutuskan untuk bermukim di kawasan perbukitan yang pada masa itu masih berupa hutan belantara. Kedua pelarian tersebut kemudian berkembang biak dan melahirkan keturunan hingga akhirnya kawasan tersebut bertransformasi menjadi permukiman sebagaimana kondisinya pada masa kini. Identitas kedua pelarian tersebut maupun periode kedatangan mereka ke wilayah Manduro hingga kini belum dapat diketahui secara pasti karena minimnya sumber informasi yang memadai. baca Kesenian Sandur Manduro

Warito, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Manduro, mengemukakan pendapat berdasarkan informasi yang diperolehnya dari tokoh yang disebut sebagai 'Mbah Lurah Sepuh'. Menurutnya, kedua pelarian tersebut merupakan bagian dari pasukan Trunajaya yang mengalami kekalahan dalam peperangan, dan karena rasa malu akibat kekalahan tersebut, mereka enggan kembali ke tanah Madura. Pada akhirnya, para pelarian itu memilih menetap di kawasan perbukitan kapur, mengingat wilayah tersebut dianggap aman untuk dijadikan tempat persembunyian.


Sementara itu, Nasrulillahi selaku Kepala Seksi Kebudayaan menyampaikan pandangan bahwa kehadiran masyarakat Madura di Manduro kemungkinan besar berlangsung melalui beberapa gelombang migrasi. Gelombang pertama diperkirakan terjadi bersamaan dengan masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Gelombang berikutnya diduga berlangsung ketika Pangeran Purbaya memberikan bantuan kepada Amangkurat II dalam menghadapi Belanda, sedangkan gelombang-gelombang selanjutnya tidak banyak terdokumentasikan.²

Adapun Imam Ghozali, seorang budayawan asal Kabupaten Jombang, berpendapat bahwa terdapat dua versi narasi yang beredar di tengah masyarakat Manduro terkait asal-usul mereka. Versi pertama menyebutkan pasukan Trunajaya sebagai leluhur, sedangkan versi kedua mengaitkan garis keturunan dengan Pangeran Arya Wiraraja.³

Bila ditinjau dari perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, pada kurun waktu sekitar tahun 1746 hingga 1755 terjadi konflik antara Kerajaan Mataram—yang saat itu dipimpin oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi melawan Pemerintah Kolonial Belanda, yang pada akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Giyanti. Pada masa konflik tersebut, sejumlah besar orang Madura dikerahkan untuk membantu pihak Belanda dalam menghadapi Kerajaan Mataram.⁴ Pengerahan ini terjadi setelah Pulau Madura berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Belanda pada tahun 1743.

Pengiriman pasukan Madura pada masa Perang Giyanti tersebut dapat dipandang sebagai gelombang resmi pertama kedatangan orang Madura ke Pulau Jawa pada era kolonial Belanda. Pasukan yang dikirim pada periode ini merupakan kekuatan militer yang berasal dari kerajaan-kerajaan lokal di Madura. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Madura dalam membantu Belanda tidak terlepas dari dukungan militer yang sebelumnya diberikan Belanda ketika kerajaan-kerajaan tersebut berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.

Keterlibatan militer orang Madura selanjutnya tercatat pada peristiwa perlawanan terhadap Untung Surapati di Jawa Timur pada tahun 1767, serta pada Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830 dan menjangkau berbagai wilayah, di antaranya Kertosono⁶, Madiun, Banyumas, Pekalongan, Tegal, Rembang, Kedu, Pacitan, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Pada periode tersebut, sangat dimungkinkan bahwa sebagian orang Madura yang terlibat dalam peperangan akhirnya memilih untuk menetap di Jawa. Manduro diduga menjadi salah satu tujuan permukiman mereka mengingat kemiripan kondisi geografis wilayah tersebut dengan daerah asal mereka di Madura.

Apabila ditelusuri lebih jauh ke belakang, pada rentang tahun 1647–1677 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya, seorang bangsawan Madura. Melalui jalur pesisir utara Pulau Jawa dari arah Madura hingga Rembang, Trunajaya bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Kediri. Ketika Trunajaya akhirnya berhasil ditumpas pada tahun 1679, terdapat kemungkinan besar bahwa para pengikutnya yang berasal dari Madura melarikan diri ke wilayah-wilayah di sekitar Kediri, seperti Malang, Kertosono, maupun Jombang, seiring jatuhnya pusat pemerintahan di Kediri ke tangan pasukan Mataram yang dibantu oleh VOC dan Arung Palaka dari Kerajaan Bone, Sulawesi. Dengan demikian, narasi yang disampaikan oleh Warito selaku Sekretaris Desa Manduro memiliki dasar historis yang cukup masuk akal.

Aspek menarik lain terkait keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro dapat pula dihubungkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, yang di dalamnya turut disebutkan peran orang-orang Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja dalam membantu Raden Wijaya membuka lahan baru di Hutan Tarik. Wilayah tersebut kemudian berkembang pesat menjadi kerajaan besar bernama Majapahit pada tahun 1293 Masehi, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu terbesar dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengingat pusat Kerajaan Majapahit diperkirakan berada di lembah dekat aliran Sungai Brantas—yang situsnya diduga terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang⁷—bagaimana mungkin masyarakat Majapahit pada masa itu bermukim di kawasan pegunungan sebagaimana kondisi masyarakat Manduro saat ini?

Salah satu kemungkinan jawabannya berkaitan dengan peristiwa penyerangan terhadap Kerajaan Majapahit oleh Kesultanan Demak yang bercorak Islam pada tahun 1475, yang menjadi titik hilangnya jejak Kerajaan Majapahit dalam catatan sejarah. Pada masa itu, sebagian rakyat Majapahit diperkirakan menyingkir ke wilayah pegunungan. Fenomena serupa dapat dilihat pada masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo, yang hingga kini masih memegang teguh kepercayaan Hindu warisan Majapahit. Pola yang sama diduga turut dialami oleh keturunan masyarakat Madura yang telah berkembang sejak awal berdirinya Majapahit, yang kemudian menyingkir ke kawasan pegunungan, dengan Manduro sebagai salah satu kemungkinan lokasi tujuan.

Di Desa Manduro, tepatnya di bagian utara Dusun Gesing yang masih berupa kawasan hutan, dapat ditemukan reruntuhan bangunan yang hanya menyisakan puing-puing batu. Asal-usul serta periode pembangunan struktur tersebut belum dapat dipastikan, apakah merupakan peninggalan masa kolonial Belanda ataukah peninggalan era Kerajaan Majapahit, mengingat kedekatan wilayah Manduro dengan Mojokerto dan Jombang. Hingga saat ini belum terdapat kajian arkeologis yang dilakukan untuk mengungkap identitas peninggalan tersebut secara ilmiah. Meskipun demikian, masyarakat Manduro meyakini bahwa reruntuhan tersebut merupakan peninggalan zaman Majapahit sekaligus peninggalan era para wali, khususnya yang berkaitan dengan Sunan Geseng.

Gelombang-gelombang kedatangan masyarakat Madura ke Jombang setelahnya tidak banyak terdokumentasikan. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa migrasi penduduk Madura ke Pulau Jawa merupakan fenomena historis yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, didorong oleh kondisi ekologi lahan kering (tegal) yang mendorong penduduk untuk mencari lahan yang lebih subur serta sumber penghidupan yang lebih baik.

Puncak arus migrasi tersebut terjadi pada periode 1900–1930, seiring dibukanya berbagai perkebunan di Jawa Timur yang menarik minat penduduk Madura untuk bekerja sebagai buruh perkebunan. Akibatnya, jumlah penduduk di Pulau Madura mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kuntowijoyo mencatat bahwa penurunan tajam terjadi pada rentang tahun 1900 hingga 1920, di mana jumlah penduduk menyusut dari 1.750.511 jiwa menjadi 1.738.926 jiwa, dengan penurunan yang lebih drastis terjadi di kota-kota seperti Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan pada dekade 1920–1930. Lebih lanjut dijelaskan bahwa selain migrasi yang bersifat sementara, hingga tahun 1930 banyak pula pemukim baru asal Madura yang datang dan menetap secara permanen di Jawa Timur, dengan Jombang menjadi salah satu daerah tujuan utama. Tercatat bahwa hingga tahun 1930, jumlah penduduk Madura yang telah menetap di Jombang mencapai 936 jiwa.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diasumsikan bahwa keberadaan komunitas Madura di Desa Manduro—yang pada masa itu masih berupa kawasan hutan—kemungkinan besar bermula sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Asumsi ini diperkuat oleh narasi yang berkembang di kalangan masyarakat Manduro terkait situs peninggalan Majapahit serta kisah Sunan Geseng yang diyakini pernah bermukim di wilayah tersebut. Sunan Geseng dikenal sebagai salah satu wali yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Apabila asal-usul penduduk Manduro dikaitkan dengan masa Perang Trunajaya yang berlangsung pada abad ke-17, hal tersebut dinilai kurang sesuai secara kronologis, sebab pada periode tersebut narasi mengenai situs Majapahit maupun kisah Sunan Geseng semestinya belum berkembang di kalangan penduduk.

Wilayah yang diyakini pertama kali dihuni oleh kedua pelarian tersebut diduga adalah kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Gesing. Dugaan ini didasarkan pada banyaknya peninggalan sejarah yang belum terungkap di dusun tersebut, termasuk pula jejak-jejak peninggalan masa kolonial Belanda.

Penamaan Dusun Gesing sendiri diyakini berasal dari nama Sunan Geseng. Menurut cerita yang berkembang, dalam perjalanan dakwahnya menyebarkan agama Islam, Sunan Geseng pernah singgah di wilayah yang kini dikenal dengan nama Gesing. Dibandingkan dengan dusun-dusun lainnya, Dusun Gesing memiliki lebih banyak mitos yang berkembang di kalangan masyarakatnya, salah satunya terkait tempat yang dikeramatkan bernama Sendang Weji. Tempat ini dianggap keramat karena diyakini sebagai lokasi 'nyilem' atau menghilangnya Sunan Geseng. Menurut kepercayaan penduduk setempat, Sendang Weji kerap dikaitkan dengan berbagai kejadian tidak lazim. Keanehan pertama tercatat terjadi pada masa peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, ketika Sendang Weji dikabarkan mengeluarkan sumber air berwarna darah. Keanehan kedua terjadi menjelang maraknya fenomena penembakan misterius ('Petrus'), ketika permukaan Sendang Weji tertutup semacam anyaman selama tujuh hari. Keanehan ketiga terjadi bersamaan dengan momen pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di mana permukaan Sendang Weji dikabarkan menampakkan gambar menyerupai gunungan.

Selain itu, Sendang Weji juga dipandang sebagai simbol 'yoni' bagi masyarakat Dusun Gesing, sehingga dalam setiap upacara selamatan desa, sesaji berupa tumpeng lengkap beserta hasil panen penduduk senantiasa diletakkan di lokasi tersebut. Meskipun demikian, terdapat pula pandangan lain yang menyebutkan bahwa kawasan yang pertama kali terbentuk justru adalah Mato'an, dengan alasan bahwa penamaan 'Mato'an' turut digunakan pada tiga dusun lainnya, yakni Mato'an Gesing, Mato'an Guwo, dan Mato'an Ndanden.

Asal-usul dusun-dusun lainnya di Desa Manduro juga memiliki narasi yang khas. Dusun Guwo, misalnya, dinamakan demikian karena di bagian selatan desa ditemukan dinding batu terjal yang menurut para sesepuh setempat menyimpan mulut gua dalam kondisi tertutup. Masyarakat Manduro meyakini bahwa hanya satu orang yang mampu membuka batu besar yang berfungsi sebagai pintu gua tersebut, yaitu mendiang Kepala Desa Manduro, Pak Saitun. Gua tersebut juga diyakini masyarakat setempat sebagai lokasi pertapaan Bung Karno pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Adapun narasi mengenai asal-usul Dusun Mato'an berbeda pula. Nama dusun ini diyakini berasal dari kata 'patokan' atau tugu, yang menurut kepercayaan penduduk setempat dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba pada waktu-waktu tertentu.

Sementara itu, asal-usul penamaan Desa Manduro sendiri hingga kini belum dapat dijelaskan secara pasti. Salah satu kemungkinan yang muncul adalah bahwa nama desa ini pada mulanya adalah "Desa Madura", yang diberikan karena mayoritas penduduknya berasal dari suku Madura. Terdapat dua kemungkinan penjelasan mengenai perubahan nama dari Madura menjadi Manduro. Kemungkinan pertama berkaitan dengan gejala kebahasaan yang dikenal sebagai epentesis, yaitu penyisipan fonem dalam satu suku kata, sebagaimana terlihat pada perubahan kata "upama" menjadi "umpama" atau "sadur" menjadi "sandur". baca juga 

Kemungkinan kedua berkaitan dengan fenomena idiolek, yakni sistem pengucapan yang bersifat individual, yang apabila digunakan secara kolektif oleh suatu komunitas dapat berkembang menjadi dialek khas masyarakat tersebut. Dengan demikian, sangat mungkin kata "Madura" diucapkan sebagai "Manduro" oleh masyarakat Jombang, atau sebagai "Meduro" oleh sebagian besar masyarakat Surabaya.

Kemungkinan ketiga berkaitan dengan tradisi masyarakat Madura yang pada umumnya sangat memuliakan tokoh pewayangan bernama Baladewa, yang dikisahkan sebagai raja dari Kerajaan Manduro. Dengan demikian, terbuka pula kemungkinan bahwa penamaan Desa Manduro terinspirasi dari nama kerajaan tokoh wayang tersebut.