b

Rabu, 07 Mei 2025

Mimin

Bolet, Seniman Remo dari Jombang

Bolet merupakan seniman ludruk tradisional asal Jombang yang sangat berpengaruh dan dikenal sebagai sosok serba bisa, tak hanya sebagai pemain, tetapi juga pencipta karya seni. Salah satu ciptaan monumentalnya adalah tari remo gaya Jombangan, yang hingga kini menjadi ciri khas tersendiri dalam dunia ludruk.

bolet remo jombang

Dalam tradisi ludruk dikenal dua gaya utama tari remo: gaya Suroboyoan dan gaya Jombangan. Gaya Suroboyoan diciptakan oleh Munali Fatah, sedangkan gaya Jombangan adalah hasil kreasi Bolet. Meskipun sempat muncul gaya Mojokertoan yang dikenalkan oleh Ali Markasa, gaya ini tetap dianggap banyak terpengaruh oleh gaya Jombangan ciptaan Bolet, sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, seorang pemerhati ludruk yang menulis tesis tentang kesenian ini.

Ciri khas tari remo gaya Jombangan ciptaan Bolet terletak pada gerakannya yang santai, sederhana, tetapi penuh kejutan dan kelucuan, membuat penonton tersenyum atau mesem. Keunikan lainnya adalah penggunaan selendang warna hijau dan merah (ijo dan abang), yang oleh masyarakat dianggap sebagai singkatan dari Jom-bang, simbol identitas daerah asal tarian ini.

Selain Bolet, nama-nama lain dari Jombang yang turut mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ludruk adalah Ali Markasa, Santik (dikenal dengan ngamen lerok), dan Markeso (terkenal dengan ludruk garingannya). Namun, Bolet tetap menempati posisi istimewa karena kontribusinya yang besar.

Bolet meninggal pada 15 Agustus 1976 di usia yang relatif muda, yakni 34 tahun. Namun sebelum wafat, ia sudah memberikan kontribusi besar pada dunia kesenian Jawa Timur. Sebelum tahun 1965, ia sempat menjadi anggota Ludruk “Gaya Baru”. Setelah 1968, ia aktif sebagai pelawak dan penari Ngremo bebas. Prestasinya pun tak sedikit—pada tahun 1970 ia meraih Juara III lomba tari Ngremo tingkat Kabupaten Jombang dan berhasil menjadi Juara I tingkat Jawa Timur pada 1971.

Karyanya dianggap sangat berharga dan berpengaruh, sehingga pada suatu kesempatan, almarhum diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, sebagaimana disampaikan oleh Drs. H.M. Arifin, M.M., mantan Kepala Kantor Parbupora.

Jejak seni Bolet terus dilanjutkan oleh generasi penerus. Hal ini terlihat dalam Lomba Tari Ngremo se-Jawa Timur pada tahun 2004, di mana delapan penari dari ludruk Jombang masuk 10 besar. Bahkan, bintang tamu dalam acara tersebut juga berasal dari Jombang, yaitu Ali Markasa, menunjukkan bahwa warisan seni dari Bolet masih terus hidup dan berkembang.

Selasa, 06 Mei 2025

Mimin

Filosofi dan latar belakang busana Khas Jombang Deles

Kabupaten Jombang tak hanya dikenal sebagai Kota Santri atau tempat kelahiran tokoh-tokoh besar bangsa. Di balik kentalnya nuansa religius dan nasionalisme, Jombang juga memiliki warisan budaya yang menarik dalam bentuk busana tradisional khas, yang disebut "Deles". Mungkin tak sepopuler kebaya dari Solo atau batik Pekalongan, tapi Deles punya cerita, nilai sejarah, dan filosofi yang sangat dalam. Mari kita kenali lebih jauh.
pakaian khas jombang


Berikut FILOSOFI dan LATARBELAKANG BUSANA KHAS JOMBANG DELES

A. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (PRIA) Disebut Busana Kudawaningpati

1. Penutup Kepala disebut UDHENG BLANGKON SUNDHUL MEGO

Merupakan gabungan penutup kepala tekes era abad 13, udheng Remo, udheng Ludruk, udheng Jawa Timuran dan Blangkon Cekdongan. Ini mengingat insan Jombang sangat egaliter, sangat menghormati perbedaan, dan sangat toleran.
Nama Sundhul Mego diambil dari nama Patih dalam Cerita Wayang Topeng Jatiduwur dalam lakon Wiruncono Murco.
Undheng Blangkon Sundhul Mego dengan PONCOT NGARSO atau Poncot Depan ada 2 (dua) macam:
Yaitu PONCOT NGARSO menghadap ke ATAS bentuknya seperti KEMBANG KANTHIL. Serta PONCOT NGARSO menghadap ke BAWAH yang melambangkan ATI SAREH serta NDHINGKLUK'E PARI
 

2. Busana Atasan Jas Gulon Dwigatra

juga dipakai oleh Bupati Jombang pertama yaitu Raden Adipati Aryo Suroadiningrat 
Jas Gulon Dwigatra merupakan busana atasan pria (Bagian Jas Gulon Dwigartra) ini menjadi titik pembeda dengan busana adat dengan daerah lain di Jawa Timur dengan memakai kerah tegak, untuk membedakan model potong gulon atau desain teluk belanga.
Jas Gulon Dwigatra sebagai pembeda dengan bentuk Jas Mataraman dan Jas Jawa Timuran atau sering disebut jas Basofi.
Sedangkan nama busana dwigatra adalah bertemunya dua gatra budaya menurut pemetaan sejarawan dan budayawan/almarhum Prof. Ayu Sutarto, yaitu gatra budaya Mataraman atau Pracima dan gatra budaya Arek
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI BEBET (Pria) 

Istilah tapih yang artinya kain atau busana bawah yang sudah dipakai sejak era Mataram Kuno atau Medang. Diberi nama Tapih Kudawaningpati untuk menunjukkan busana pria Jombang Deles.
Nama Tapih Kudawaningpati diambil dari tokoh dalam cerita Panji pada Wayang Topeng Jatiduwur yang diduga peninggalan Majapahit. Sejarah Majapahit juga tak lepas dari sejarah yang ada di Jombang sebagai latar belakang Kota Santri.
Raden Panji Kudawaningpati dipercaya sebagai putra mahkota kerajaan Jenggala yang wilayahnyamasuk Jombang bagian Timur saat ini.
Tampilan Tapih Kudawaningpati (berupa gabungan dari celana dan sarung atau celarung. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putri. Dan bisa digunakan bebet untuk acara tertentu dengan memakai celana hitam.
 

B. BUSANA KHAS JOMBANG DELES (WANITA) Disebut Busana Kemodoningrat

1. Busana Kemodoningrat

Diambil dari nama Dewi Kemodoningrat,  adalah nama lain Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, istri Panji Asmarabangun alias Panji Kudawaningpati.
Dewi Kemodoningrat juga dipercaya sebagai pembabat Dusun Kemodo, Desa Dukuhmojo, Mojoagung.
 

2. Kudung, Jilbab, dan Selendang Pati

Penutup kepala wanita mengenakan kerudung polos yang senada dengan warna bajunya. Sedangkan Warna corak selendang yang disepakati adalah hijau botol, dengan kombinasi motif lainnya yang mencerminkan Islam sebagai agama mayoritas di Jombang, juga bentuk perwakilan warna santri.
Bagian kerudung ini sebagai penutup kepala sesuai dengan ciri khas Kabupaten Jombang sebagai Kota Santri. Model kerudung berupa selendang seperti busana adat Jawa Timur pada umumnya.
Bagi pengguna Busana Khas Jombang Deles putri yang muslim bisa mengenakan jilbab saja, atau bisa menambahkan selendang, sedangkan yang non muslim bisa menggunakan selendangnya sebagai tambahan aksen keanggunan wanita Jawa.
 

3. TAPIH KUDAWANINGPATI (Wanita). 

Bagian bawah busana wanita Jombang Deles ini dari kain jarik yang memiliki sampiran kain penutup di bagian depan seperti jarik pada umumnya. Bagian depan dibuat buka'an samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putra yang menghadap sebaliknya atau mengarah ke kanan.
sumber : 
https://www.jombangkab.go.id

Minggu, 04 Mei 2025

Mimin

Gombloh

Tokoh Jombang - Gombloh, yang bernama asli Slamet Sudjarwanto, lahir di Jombang pada 14 Juli 1948. Ia dikenal bertubuh kurus, perokok berat, dan memiliki suara khas yang disebut Emha Ainun Nadjib bisa melengking seperti Robert Plant atau qari Abdul Bashit. Meski diminta ayahnya kuliah arsitektur di ITS Surabaya, Gombloh justru memilih jalan musik dan dikenal sebagai musisi jalanan yang legendaris.

tokoh jombang

Ia sangat dekat dengan masyarakat kecil, hidup sederhana, dan menolak kemewahan meski berada di puncak karier. Lagu-lagunya seperti "Kebyar-Kebyar" dan "Lestari Alamku" menggambarkan nasionalisme dan cinta lingkungan yang kuat. Gombloh wafat pada 9 Januari 1988, namun warisannya tetap hidup.

Musisi jalanan Surabaya bahkan menobatkan Gombloh sebagai pahlawan musisi jalanan, dalam acara nyekar di makamnya di Tembok, Surabaya, pada 2005. Ia juga mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia pada 2003 karena kontribusinya yang besar terhadap musik Indonesia.

Meskipun besar di Surabaya, Gombloh tetap diakui sebagai putra asli Jombang, seniman yang tulus, murah hati, dan penuh idealisme. Ia adalah simbol bahwa musik bisa lahir dari jalanan, dan dari rakyat, untuk rakyat. ini adalah salah satu Lirik lagu ciptaannya :

Kebyar-kebyar


        Indonesia, merah darahku, putih tulangku

Bersatu dalam semangatmu!

Indonesia debar jantungku getar nadiku Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Indonesia, nada laguku, simponi berteduh

Selaras dengan simfonimu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Biarpun bumi bergoncang kau tetap Indonesiaku,

Andai matahari terbit dari barat,

Kaupun Indonesiaku.

Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan Aku darimu)

Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas

Malang-malang tuntas denganmu…

Selasa, 22 April 2025

Mimin

Nama-nama Kecamatan di Kabupaten Jombang

peta jombang

Kabupaten Jombang, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, adalah destinasi yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan sejarah yang mendalam. Dalam lingkup kabupaten ini, terdapat 21 kecamatan yang masing-masing memiliki pesona uniknya sendiri. terdiri dari :

  1. Kecamatan Jombang
  2. Kecamatan Diwek
  3. Kecamatan Gudo
  4. Kecamatan Ngoro
  5. Kecamatan Bareng 
  6. Keamatan Wonosalam
  7. Kecamatan Mojowarno 
  8. Kecamatan Jogoroto
  9. Kecamatan Bandarkedungmulyo
  10. Kecamatan Perak
  11. Kecamatan Megaluh
  12. Kecamatan Tembelang
  13. Kecamatan Peterongan
  14. Kecamatan Mojoagung
  15. Kecamatan Sumobito
  16. Kecamatan Kesamben
  17. Kecamatan Ploso
  18. Kecamatan Kabuh
  19. Kecamatan Plandaan
  20. Kecamatan Kudu
  21. Kecamatan Ngusikan

Diatas adalah nama-nama kecamatan yang tersebar di Kabupaten Jombang, semoga postingan ini bermanfaat.

Senin, 21 April 2025

Mimin

Profil Umum Desa Kudubanjar Kecamatan Kudu

Desa Kudubanjar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul. Dari keempat dusun tersebut, Dusun Kudu menjadi pusat pemerintahan dan merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak. Desa ini memiliki luas sekitar 2,53 km², terdiri dari 10 RW dan 26 RT.

Wilayah Kudubanjar berada di dataran rendah yang sedikit mengarah ke perbukitan di bagian utara. Iklimnya tropis, dengan suhu rata-rata mencapai 35°C. Seperti wilayah Indonesia lainnya, desa ini mengalami dua musim, yaitu kemarau dan penghujan. Namun, karena pengaruh pemanasan global, pola musim telah berubah, sehingga musim tidak lagi berlangsung secara tetap seperti dahulu. Meskipun begitu, kondisi tanah di desa ini tergolong subur berkat aliran Sungai Brantas dan material vulkanik dari letusan Gunung Kelud. Hal ini menjadikan Kudubanjar cocok untuk pertanian—dengan tanaman utama seperti tebu, padi, dan jagung—serta peternakan yang didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Asal-usul nama Kudubanjar memiliki kisah yang menarik dan erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Dahulu, ketika Kerajaan Majapahit terancam oleh serangan dari Raden Patah, Rakai Banjar—seorang panglima kerajaan—diperintahkan untuk menghadang pasukan Demak. Ia mendirikan pesanggrahan di sebuah hutan yang dipenuhi pohon mengkudu di utara Sungai Brantas. Namun, pasukan Raden Patah melewati jalur barat menuju Kerajaan Kediri dan kemudian menuju Majapahit, hingga terjadilah perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Majapahit akhirnya jatuh, dan Rakai Banjar yang tak berani kembali memilih menetap dan bertapa di tempat itu. Ia kemudian dikenal sebagai “Eyang Djenggot.” Dari situlah nama Kudubanjar berasal: “Kudu” dari pohon mengkudu, dan “Banjar” dari nama Rakai Banjar.


Hingga kini, peninggalan sejarah Rakai Banjar masih bisa ditemukan di desa ini. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, tempat pemujaan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Meski dahulu dikenal angker, kini sumur tersebut telah dirawat dan dipagari dengan baik. Selain itu, ada Tugu Nasional, tugu ikonik yang menyerupai lipstik merah. Konon, tugu ini merupakan penanda kuburan massal korban kekejaman PKI, menjadikannya penuh dengan nilai sejarah dan cerita kelam masa lalu. Di sisi lain, ada pula kentongan kuno, alat komunikasi tradisional dari kayu yang hingga kini masih terjaga keasliannya.

Desa Kudubanjar tak hanya menyimpan potensi alam yang subur, tetapi juga kaya akan sejarah dan budaya yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Hingga kini, masyarakatnya tetap menjaga warisan tersebut sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan desa mereka.

Rabu, 19 Maret 2025

Mimin

Misteri Situs Pertirtaan Sumberbeji Jejak Peradaban Kuno

Sebuah studi menarik mengungkap keberadaan Situs Pertirtaan Kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Situs ini diduga tertimbun akibat bencana besar di masa lalu, kemungkinan akibat letusan dahsyat Gunung Kelud yang membawa material pasir dan kerikil melalui aliran Sungai Konto.

Menurut Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jatim), tanah di Situs Pertirtaan Sumberbeji memiliki kemiripan dengan Situs Sugihwaras yang diduga sebagai Kedaton. Penelitian lebih lanjut membandingkan Situs Sumberbeji dengan Situs Tondowongso di Kediri, yang menunjukkan bahwa bencana yang menyebabkan situs ini tertimbun terjadi sekitar tahun 1300, sebelum masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Diperkirakan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji dibangun pada masa Kerajaan Kadiri hingga Majapahit dan telah mengalami beberapa kali pemulihan. Selama ekskavasi tahap 1 hingga 3, ditemukan berbagai artefak berharga, seperti Jaladwara (saluran air kuno), keramik, serta fragmen uang gepeng China yang berasal dari Dinasti Song pada abad ke-11 hingga abad ke-14.

Menariknya, dalam naskah Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, tidak ada catatan tentang Hayam Wuruk mengunjungi Sumberbeji. Sebaliknya, naskah tersebut menyebutkan Surowono sebagai tempat yang dikunjungi oleh raja. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji kemungkinan besar sudah tertimbun pada saat itu.

Berdasarkan penelitian sejarah, wilayah Jombang dulunya adalah bagian dari Panjalu. Situs ini mungkin telah dibangun pada masa pemerintahan Airlangga dan diperbarui pada masa Panjalu hingga era Tribuana Tunggadewi dari Majapahit. Namun, sejauh ini tidak ditemukan bukti konkret yang menunjukkan keterlibatan Hayam Wuruk dalam sejarah situs ini.

Salah satu daya tarik utama Situs Pertirtaan Sumberbeji adalah bangunan batur yang diduga memiliki menara simbol Gunung Meru yang dikelilingi air. Selain itu, situs ini juga menampilkan relief Garuda yang berkaitan dengan kisah pencarian air suci atau Amerta dalam konsep samudramantana. Temuan ini semakin memperkaya wawasan tentang sejarah dan budaya kuno Jombang, sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai jejak peradaban yang tersembunyi di balik tanahnya.