b

Minggu, 04 Mei 2025

Mimin

Gombloh

Tokoh Jombang - Gombloh, yang bernama asli Slamet Sudjarwanto, lahir di Jombang pada 14 Juli 1948. Ia dikenal bertubuh kurus, perokok berat, dan memiliki suara khas yang disebut Emha Ainun Nadjib bisa melengking seperti Robert Plant atau qari Abdul Bashit. Meski diminta ayahnya kuliah arsitektur di ITS Surabaya, Gombloh justru memilih jalan musik dan dikenal sebagai musisi jalanan yang legendaris.

tokoh jombang

Ia sangat dekat dengan masyarakat kecil, hidup sederhana, dan menolak kemewahan meski berada di puncak karier. Lagu-lagunya seperti "Kebyar-Kebyar" dan "Lestari Alamku" menggambarkan nasionalisme dan cinta lingkungan yang kuat. Gombloh wafat pada 9 Januari 1988, namun warisannya tetap hidup.

Musisi jalanan Surabaya bahkan menobatkan Gombloh sebagai pahlawan musisi jalanan, dalam acara nyekar di makamnya di Tembok, Surabaya, pada 2005. Ia juga mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia pada 2003 karena kontribusinya yang besar terhadap musik Indonesia.

Meskipun besar di Surabaya, Gombloh tetap diakui sebagai putra asli Jombang, seniman yang tulus, murah hati, dan penuh idealisme. Ia adalah simbol bahwa musik bisa lahir dari jalanan, dan dari rakyat, untuk rakyat. ini adalah salah satu Lirik lagu ciptaannya :

Kebyar-kebyar


        Indonesia, merah darahku, putih tulangku

Bersatu dalam semangatmu!

Indonesia debar jantungku getar nadiku Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Indonesia, nada laguku, simponi berteduh

Selaras dengan simfonimu

Kebyar-kebyar pelangi jingga...

Biarpun bumi bergoncang kau tetap Indonesiaku,

Andai matahari terbit dari barat,

Kaupun Indonesiaku.

Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan Aku darimu)

Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas

Malang-malang tuntas denganmu…

Selasa, 22 April 2025

Mimin

Nama-nama Kecamatan di Kabupaten Jombang

peta jombang

Kabupaten Jombang, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, adalah destinasi yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan sejarah yang mendalam. Dalam lingkup kabupaten ini, terdapat 21 kecamatan yang masing-masing memiliki pesona uniknya sendiri. terdiri dari :

  1. Kecamatan Jombang
  2. Kecamatan Diwek
  3. Kecamatan Gudo
  4. Kecamatan Ngoro
  5. Kecamatan Bareng 
  6. Keamatan Wonosalam
  7. Kecamatan Mojowarno 
  8. Kecamatan Jogoroto
  9. Kecamatan Bandarkedungmulyo
  10. Kecamatan Perak
  11. Kecamatan Megaluh
  12. Kecamatan Tembelang
  13. Kecamatan Peterongan
  14. Kecamatan Mojoagung
  15. Kecamatan Sumobito
  16. Kecamatan Kesamben
  17. Kecamatan Ploso
  18. Kecamatan Kabuh
  19. Kecamatan Plandaan
  20. Kecamatan Kudu
  21. Kecamatan Ngusikan

Diatas adalah nama-nama kecamatan yang tersebar di Kabupaten Jombang, semoga postingan ini bermanfaat.

Senin, 21 April 2025

Mimin

Profil Umum Desa Kudubanjar Kecamatan Kudu

Desa Kudubanjar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul. Dari keempat dusun tersebut, Dusun Kudu menjadi pusat pemerintahan dan merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak. Desa ini memiliki luas sekitar 2,53 km², terdiri dari 10 RW dan 26 RT.

Wilayah Kudubanjar berada di dataran rendah yang sedikit mengarah ke perbukitan di bagian utara. Iklimnya tropis, dengan suhu rata-rata mencapai 35°C. Seperti wilayah Indonesia lainnya, desa ini mengalami dua musim, yaitu kemarau dan penghujan. Namun, karena pengaruh pemanasan global, pola musim telah berubah, sehingga musim tidak lagi berlangsung secara tetap seperti dahulu. Meskipun begitu, kondisi tanah di desa ini tergolong subur berkat aliran Sungai Brantas dan material vulkanik dari letusan Gunung Kelud. Hal ini menjadikan Kudubanjar cocok untuk pertanian—dengan tanaman utama seperti tebu, padi, dan jagung—serta peternakan yang didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Asal-usul nama Kudubanjar memiliki kisah yang menarik dan erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Dahulu, ketika Kerajaan Majapahit terancam oleh serangan dari Raden Patah, Rakai Banjar—seorang panglima kerajaan—diperintahkan untuk menghadang pasukan Demak. Ia mendirikan pesanggrahan di sebuah hutan yang dipenuhi pohon mengkudu di utara Sungai Brantas. Namun, pasukan Raden Patah melewati jalur barat menuju Kerajaan Kediri dan kemudian menuju Majapahit, hingga terjadilah perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Majapahit akhirnya jatuh, dan Rakai Banjar yang tak berani kembali memilih menetap dan bertapa di tempat itu. Ia kemudian dikenal sebagai “Eyang Djenggot.” Dari situlah nama Kudubanjar berasal: “Kudu” dari pohon mengkudu, dan “Banjar” dari nama Rakai Banjar.


Hingga kini, peninggalan sejarah Rakai Banjar masih bisa ditemukan di desa ini. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, tempat pemujaan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Meski dahulu dikenal angker, kini sumur tersebut telah dirawat dan dipagari dengan baik. Selain itu, ada Tugu Nasional, tugu ikonik yang menyerupai lipstik merah. Konon, tugu ini merupakan penanda kuburan massal korban kekejaman PKI, menjadikannya penuh dengan nilai sejarah dan cerita kelam masa lalu. Di sisi lain, ada pula kentongan kuno, alat komunikasi tradisional dari kayu yang hingga kini masih terjaga keasliannya.

Desa Kudubanjar tak hanya menyimpan potensi alam yang subur, tetapi juga kaya akan sejarah dan budaya yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Hingga kini, masyarakatnya tetap menjaga warisan tersebut sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan desa mereka.

Rabu, 19 Maret 2025

Mimin

Misteri Situs Pertirtaan Sumberbeji Jejak Peradaban Kuno

Sebuah studi menarik mengungkap keberadaan Situs Pertirtaan Kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Situs ini diduga tertimbun akibat bencana besar di masa lalu, kemungkinan akibat letusan dahsyat Gunung Kelud yang membawa material pasir dan kerikil melalui aliran Sungai Konto.

Menurut Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jatim), tanah di Situs Pertirtaan Sumberbeji memiliki kemiripan dengan Situs Sugihwaras yang diduga sebagai Kedaton. Penelitian lebih lanjut membandingkan Situs Sumberbeji dengan Situs Tondowongso di Kediri, yang menunjukkan bahwa bencana yang menyebabkan situs ini tertimbun terjadi sekitar tahun 1300, sebelum masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Diperkirakan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji dibangun pada masa Kerajaan Kadiri hingga Majapahit dan telah mengalami beberapa kali pemulihan. Selama ekskavasi tahap 1 hingga 3, ditemukan berbagai artefak berharga, seperti Jaladwara (saluran air kuno), keramik, serta fragmen uang gepeng China yang berasal dari Dinasti Song pada abad ke-11 hingga abad ke-14.

Menariknya, dalam naskah Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, tidak ada catatan tentang Hayam Wuruk mengunjungi Sumberbeji. Sebaliknya, naskah tersebut menyebutkan Surowono sebagai tempat yang dikunjungi oleh raja. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji kemungkinan besar sudah tertimbun pada saat itu.

Berdasarkan penelitian sejarah, wilayah Jombang dulunya adalah bagian dari Panjalu. Situs ini mungkin telah dibangun pada masa pemerintahan Airlangga dan diperbarui pada masa Panjalu hingga era Tribuana Tunggadewi dari Majapahit. Namun, sejauh ini tidak ditemukan bukti konkret yang menunjukkan keterlibatan Hayam Wuruk dalam sejarah situs ini.

Salah satu daya tarik utama Situs Pertirtaan Sumberbeji adalah bangunan batur yang diduga memiliki menara simbol Gunung Meru yang dikelilingi air. Selain itu, situs ini juga menampilkan relief Garuda yang berkaitan dengan kisah pencarian air suci atau Amerta dalam konsep samudramantana. Temuan ini semakin memperkaya wawasan tentang sejarah dan budaya kuno Jombang, sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai jejak peradaban yang tersembunyi di balik tanahnya.

Mimin

Prasasti Tengaran: Jejak Sejarah dari Era Mataram Kuno

Peterongan - Prasasti Tengaran, yang juga dikenal sebagai Prasasti Geweg, merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih berdiri di tempat aslinya (insitu). Secara administratif, prasasti ini berada di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Jombang. Saat ini, wilayah sekitar prasasti merupakan area persawahan yang masih alami, menambah nuansa historis bagi situs ini.

Rute Menuju Prasasti Tengaran

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Prasasti Tengaran, berikut rute yang bisa diikuti:

  • Mulai dari Jombang
  • Melalui Jl. Gus Dur
  • Lanjut ke Jl. Soekarno Hatta
  • Belok ke arah Terminal Jombang
  • Dari perempatan terminal, lurus ke utara hingga mentok lalu belok kiri
  • Sampai di pertigaan, belok kanan dan ikuti jalan hingga tiba di Desa Tengaran

Prasasti Tengaran terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 124 cm dan lebar 78 cm. Tulisan pada prasasti ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam bahasa Jawa Kuno. Pada sisi A terdapat 7 baris tulisan, sedangkan sisi B memiliki 16 baris tulisan.

Prasasti ini disebut juga Prasasti Geweg karena mencatat penetapan Desa Geweg sebagai sima, yaitu desa perdikan yang dibebaskan dari pajak. Desa Geweg sendiri adalah sebuah desa kuno yang kini masuk dalam wilayah Desa Tengaran.

Penetapan sima tersebut dilakukan pada tanggal 6 Paropeteng bulan Srawana tahun 857 Saka, yang bertepatan dengan 14 Agustus 935 Masehi. Keputusan ini dibuat oleh Mahamantri Pu Sindok San Sri Sanotunggadewa bersama Rakyan Sri Parameswari Sri Wardhani Kbi Umisori. Pu Sindok dikenal sebagai raja Medang dari periode Mataram Kuno di Jawa Timur, sedangkan Kbi diduga merupakan permaisurinya.

Jejak Sejarah yang Perlu Dijaga

Sebagai bagian dari warisan sejarah, Prasasti Tengaran memiliki nilai penting dalam memahami perjalanan panjang peradaban Nusantara. Keberadaannya menjadi saksi bisu kebijakan pemerintahan di era Mataram Kuno dan menunjukkan bagaimana sistem administrasi serta pengelolaan desa pada masa itu.

Melestarikan dan menjaga prasasti ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat sekitar dan generasi penerus. Dengan demikian, Prasasti Tengaran dapat terus menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Mimin

Prasasti Grogol / Prasasti Kusambyan

Kudu Jombang - Prasasti Grogol secara administratif terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lokasinya berada di dalam kawasan hutan, sehingga akses menuju situs ini cukup menantang. Jalur yang tersedia hanya berupa jalan setapak, yang membuat perjalanan ke prasasti ini memerlukan usaha lebih. Karena letaknya yang tersembunyi, pengunjung disarankan untuk meminta panduan kepada juru pelihara Prasasti Sumber Gurit, yang juga berada di desa yang sama. Jarak antara Prasasti Grogol dan Prasasti Sumber Gurit hanya sekitar satu kilometer, sehingga keduanya dapat dikunjungi dalam satu perjalanan.

Kondisi Prasasti Grogol saat ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bagian atasnya telah terpecah menjadi sembilan bagian, sehingga bentuk aslinya sulit untuk dikenali secara utuh. Berdasarkan perkiraan para ahli, jika prasasti ini masih dalam kondisi sempurna, bentuknya menyerupai sebuah balok dengan puncak yang meruncing. Bagian dasarnya berbentuk lapik padmasana, yang merupakan ciri khas struktur prasasti pada zaman tersebut. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno, yang mencerminkan budaya dan sistem penulisan pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Prasasti ini diresmikan pada tahun 1037 Masehi, saat Kerajaan Kahuripan berada dalam masa kejayaannya.

Selain dikenal dengan nama Prasasti Grogol, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Kusambyan. Hal ini disebabkan oleh isi prasasti yang berkaitan dengan wilayah kuno bernama Kusambyan atau yang disebut dalam teks sebagai "karaman i Kusambyan." Dalam prasasti ini disebutkan bahwa wilayah Kusambyan dijadikan sebagai sima sawah oleh Sri Maharaja, sebuah bentuk anugerah atau status khusus yang diberikan kepada daerah tertentu. Status sima sawah ini biasanya diberikan kepada wilayah yang memiliki peran penting, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun keagamaan.

Salah satu aspek menarik dari isi prasasti ini adalah penyebutan nama tokoh Rahyan Iwak. Nama tokoh ini muncul berkali-kali pada bagian depan prasasti, yang menunjukkan bahwa Rahyan Iwak adalah sosok yang sangat berpengaruh di Kusambyan pada masa itu. Tokoh ini kemungkinan besar memiliki kedudukan penting, baik sebagai pemimpin lokal maupun sebagai figur yang dihormati dalam lingkup kerajaan. Keberadaan nama Rahyan Iwak juga memiliki keterkaitan dengan Prasasti Tuhanharu, yang dikeluarkan oleh Raja Jayanegara dari Kerajaan Majapahit sekitar 200 tahun setelah masa pemerintahan Airlangga. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh Rahyan Iwak bertahan lama, bahkan hingga era Majapahit.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah yang berharga, Prasasti Grogol memiliki nilai penting dalam memahami perkembangan politik dan sosial pada masa Kerajaan Kahuripan. Prasasti ini menjadi bukti tertulis mengenai kebijakan pemerintahan pada zaman Airlangga, khususnya terkait dengan pengelolaan wilayah dan status sima sawah. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut terhadap prasasti ini sangat diperlukan agar informasi sejarah yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat dipahami oleh generasi mendatang.