b
Tampilkan postingan dengan label Jombang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jombang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S. M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

19 Desa di Kecamatan Mojowarno Jombang: Profil Lengkap dan Potensinya

Kecamatan Mojowarno merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kecamatan Mojoagung di sebelah utara, Kecamatan Ngoro dan Bareng di sebelah selatan, Kecamatan Wonosalam dan Bareng di sebelah timur, serta Kecamatan Diwek dan Jogoroto di sebelah barat. Dengan luas wilayah sekitar 61,92 km², Kecamatan Mojowarno terbagi habis menjadi 72 dusun, 123 Rukun Warga (RW), dan 487 Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di seluruh desa.


Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah administratif Kecamatan Mojowarno, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang turut mendukung pembangunan daerah secara menyeluruh.

Daftar 19 Desa di Kecamatan Mojowarno

Kecamatan Mojowarno terdiri atas 19 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Catakgayam
  2. Gedangan
  3. Gondek
  4. Grobogan
  5. Japanan
  6. Karanglo
  7. Kedungpari
  8. Latsari
  9. Menganto
  10. Mojoduwur
  11. Mojojejer
  12. Mojowangi
  13. Mojowarno
  14. Penggaron
  15. Rejoslamet
  16. Selorejo
  17. Sidokerto
  18. Sukomulyo
  19. Wringinpitu

Setiap desa tersebut memiliki pemerintahan desa yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Mojowarno terletak pada koordinat 07°24'01" - 07°45'01" Lintang Selatan dan 112°24'01" - 112°45'01" Bujur Timur. Posisi wilayahnya berada di kawasan yang diapit oleh beberapa kecamatan besar di Kabupaten Jombang, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penghubung antarwilayah di kawasan selatan dan timur kabupaten.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Sebagian besar desa di Kecamatan Mojowarno mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Program dana desa di wilayah ini turut dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur perdesaan guna mendukung produktivitas dan kesejahteraan petani.

Sektor Kerajinan dan Industri Rumah Tangga

Selain pertanian, sejumlah desa di Kecamatan Mojowarno juga dikenal memiliki usaha kerajinan dan industri rumah tangga, seperti pembuatan genteng dan mebel, yang menjadi salah satu penopang perekonomian warga setempat.


Budaya dan Kearifan Lokal

Kecamatan Mojowarno memiliki nilai sejarah dan budaya yang khas, salah satunya keberadaan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang menjadi salah satu gereja tertua di Jawa Timur. Setiap tahunnya, masyarakat setempat juga menggelar tradisi Unduh-Unduh sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, yang menjadi salah satu daya tarik budaya di wilayah ini.

Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Mojowarno dengan 19 desanya terus menunjukkan perkembangan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kerajinan, hingga pelestarian budaya dan tradisi lokal. Keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Mojowarno diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Selasa, 22 April 2025

Mimin

Nama-nama Kecamatan di Kabupaten Jombang

peta jombang

Kabupaten Jombang, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, adalah destinasi yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan sejarah yang mendalam. Dalam lingkup kabupaten ini, terdapat 21 kecamatan yang masing-masing memiliki pesona uniknya sendiri. terdiri dari :

  1. Kecamatan Jombang
  2. Kecamatan Diwek
  3. Kecamatan Gudo
  4. Kecamatan Ngoro
  5. Kecamatan Bareng 
  6. Keamatan Wonosalam
  7. Kecamatan Mojowarno 
  8. Kecamatan Jogoroto
  9. Kecamatan Bandarkedungmulyo
  10. Kecamatan Perak
  11. Kecamatan Megaluh
  12. Kecamatan Tembelang
  13. Kecamatan Peterongan
  14. Kecamatan Mojoagung
  15. Kecamatan Sumobito
  16. Kecamatan Kesamben
  17. Kecamatan Ploso
  18. Kecamatan Kabuh
  19. Kecamatan Plandaan
  20. Kecamatan Kudu
  21. Kecamatan Ngusikan

Diatas adalah nama-nama kecamatan yang tersebar di Kabupaten Jombang, semoga postingan ini bermanfaat.

Senin, 18 September 2023

Mimin

Sejarah Jombang: Makna Sejarah dalam Nama dan Kehidupan Berdampingan"

Nama suatu daerah sering kali memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan budayanya. Begitu pula dengan Jombang, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang menggambarkan lebih dari sekadar nama. Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, nama "Jombang" mengandung makna yang mendalam.

Dalam bahasa Jawa, kata "ijo" artinya hijau, sementara "abang" berarti merah. Kedua warna ini dihubungkan dengan dua golongan masyarakat Jombang yang mendiami daerah ini sejak zaman dahulu. Santri, yang mewakili kelompok yang menjalankan agama Islam sesuai dengan syariat, diasosiasikan dengan warna hijau. Di sisi lain, golongan non-santri atau abangan, yang masih memegang erat adat istiadat tradisional dan kepercayaan pada mahluk halus dan kekuatan gaib, diasosiasikan dengan warna merah. Kehidupan berdampingan kedua golongan ini menciptakan kerukunan dan saling penghargaan, yang kemudian mengilhami nama daerah ini menjadi "Jombang."

Pemahaman ini juga dapat dirunut ke dalam pemikiran antropolog terkenal Clifford Geertz, yang membagi masyarakat Jawa menjadi tiga golongan berdasarkan perbedaan pandangan hidup. Santri mewakili kelompok yang mempraktikkan Islam secara ketat sesuai dengan syariat. Sementara itu, abangan tetap memegang teguh tradisi adat dan kepercayaan pada hal-hal gaib. Meskipun perbedaan ini ada, mereka hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain, menciptakan keragaman budaya yang khas dalam daerah yang dikenal sebagai Jombang.

Riwayat tertua yang merujuk pada Jombang sebagai nama wilayah di Jawa Timur dapat ditelusuri hingga masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1811. Saat itu, Jombang telah menjadi bagian dari afdeeling (Asisten Karesidenan) Mojokerto, yang berada di bawah Karesidenan Surabaya. Namun, baru pada tanggal 20 Maret 1881, Jombang resmi ditetapkan sebagai Asisten Karesidenan dengan ibu kota di Jombang, yang meliputi distrik Mojoagung, Mojoroto, dan Mojodadi.

Selain cerita dan makna nama yang kaya, Jombang juga memiliki warisan arkeologis yang berharga. Tinggalan sejarah dari periode Airlangga dan pasca Airlangga tersebar di seluruh Jombang, memberikan pandangan yang berharga tentang masa lalu dan perkembangan kawasan ini.

Jadi, di balik nama yang sederhana, Jombang mengandung makna sejarah yang mendalam dan cerita tentang harmoni antara beragam pandangan hidup dalam masyarakatnya. Kabupaten ini adalah bukti nyata bagaimana budaya, sejarah, dan kehidupan bermasyarakat dapat menggabungkan perbedaan untuk menciptakan identitas yang unik dan berharga.


Mimin

Arti Lambang Daerah Kabupaten Jombang

 

arti logo jombang

Lambang daerah Kabupaten Jombang merupakan sebuah simbol yang mencerminkan identitas dan makna khusus dari kabupaten tersebut. Secara umum, lambang daerah Kabupaten Jombang  memiliki elemen-elemen yang mencerminkan sejarah, budaya, dan nilai-nilai penting dari wilayah tersebut.
Lambang Kabupaten Jombang dengan sumger website Pemkab Jombang www.jombangkab.go.id mempunyai arti sebagai berikut :

Bentuk :

Berbentuk perisai, didalamnya berisi gambar : padi dan kapas, gerbang Mojopahit dan benteng, Balai Agung (Pendopo Kabupaten Jombang), menara dan bintang sudut lima diatasnya berdiri pada beton lima tingkat, gunung, dua sungai satu panjang satu pendek.

Arti Gambar :

Perisai

Mengandung arti alat untuk melindungi diri dari bahaya.
Padi dan Kapas berarti kemakmuran, sebagai harapan masyarakat jombang, khususnya bangsa Indonesia umumnya.

Gerbang Mojopahit

berarti jaman dahulunya Jombang wilayah kerajaan Mojopahit wewengkon krajan sebelah barat.

Benteng

berarti jaman dulunya Jombang merupakan benteng Mojopahit sebelah barat, hal ini menyebabkan masyarakat bermental kuat, dinamis dan kritis.

Balai Agung

berarti para pejabat daerah dalam membimbing masyarakat bersifat mengayomi seperti tugas balai yang tetap berdiri tegak dan kukuh, guna memelihara persatuan/kesatuan rakyat di dalam daerahnya.

Tangga Beton Lima Tingkat

berarti terus tetap berpegang teguh pada landasan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, demi persatuan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia. Warna Putih berarti dalam menjalankan tugas tetap berpegang pada kesucian, sepi ing pamrih rame ing gawe.

Bintang Sudut Lima dan Menara

berarti Ketuhanan Yang Maha Esa. Jombang terkenal di segala penjuru tanah air sebagai tempat yang banyak Pondok Pesantren. Pondok-pondok tersebut adalah Tebuireng, Rejoso, Denanyar, Tambak Beras dan sebagainya.

Gunung

berarti Jombang selain terdiri dari daerah rendah, sebagian terdiri dari tanah pegunungan. Warna Hijau berarti banyak membawa kemakmuran.

Dua sungai

berarti Kesuburan Jombang dialiri oleh 2 (dua) sungai yaitu Sungai Brantas dan Sungai Konto yang banyak membawa kemakmuran bagi daerah Jombang.

Warna :

Hijau dan Merah tua
Warna dari perisai berarti perpaduan 2 warna Jo dan Bang (Ijo dan Abang) sama dengan Jombang.

Hijau

Kesuburan, ketenangan, kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Merah

Keberanian, dinamis dan kritis. Biru Langit Cerah, juga berarti kecerahan wajah rakyat yang optimis.

Coklat

Warna Tanah Asli, segala sesuatu menampakkan keasliannya.

Kuning

Warna keagungan dan kejayaan.

Putih

Kesucian.

Dalam kesimpulan, logo daerah memiliki makna dan pentingnya masing-masing dalam konteks wilayahnya. Dengan menggabungkan elemen-elemen yang mencerminkan sejarah, budaya, dan karakteristik unik, logo daerah mampu memperkuat identitas, mempromosikan pertumbuhan ekonomi, dan merayakan keberagaman budaya. Dalam era globalisasi ini, logo daerah menjadi semakin penting sebagai cara untuk membedakan dan merayakan keunikan dari masing-masing wilayah.