b
Tampilkan postingan dengan label Ngusikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngusikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Selasa, 17 Oktober 2023

Mimin

Nama Desa di Kecamatan Ngusikan dan Tempat Wisata

Setelah sebelumnya website Alun-Alun Jombang menerbitkan artikel Situs Yoni Gambar Mojowarno pada kesempatan ini kami share Nama Desa di Kecamatan Ngusikan hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu pada tahun 2001, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian utara Kabupaten Jombang, wilayah ini juga berbagi perbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Mojokerto. Keunikan Kecamatan Ngusikan menjadi lebih menarik ketika kita menjelajahi desa-desa yang membentuk komunitas yang beragam di sini.

  1. Asemgede
  2. Cupak
  3. Keboan
  4. Kedungbogo
  5. Ketapangkuning:.
  6. Kromong
  7. Manunggal
  8. Mojodanu
  9. Ngampel
  10. Ngusikan
  11. Sumbernongko

Wisata Kecamatan Ngusikan :

  1. Gunung Pucangan, Desa Cupak Kecamatan Ngusikan  
  2. Wisata Edukasi "Wedang" Ngusikan Jombang 
Oleh-oleh khas : Kue Banjar Sumbernongko

Di Dusun Cangak, Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, sebuah tradisi lebaran yang manis terus hidup. Kue banjar, makanan khas lebaran dan hari besar Islam, diproduksi dengan penuh dedikasi oleh Jemari Fefi dan timnya.

Kue banjar, dengan bentuk yang mengingatkan pada tasbih atau bahkan garis sawah petani ketika menanam padi, merupakan warisan bersejarah. Proses pembuatannya dilakukan secara manual, dengan telapak tangan, menjadikan kue banjar ini istimewa.

Rasa manis dan gurihnya membuat kue ini sangat dicari, terutama menjelang lebaran. Pesanan melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa, dan Fefi bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut. Selama Ramadan, ia bahkan menggunakan 2 kuintal tepung untuk memproduksi kue banjar.

Harga kue banjar selalu mengikuti harga bahan baku, seperti telur. Ini berarti harga bisa berfluktuasi tergantung pada pasar. Meskipun tanpa promosi besar-besaran, kue banjar ini dikenal baik secara lokal maupun di luar Jombang. Dengan bantuan promosi dari mulut ke mulut dan penjualan online, kue banjar Fefi telah menemukan penggemar dari Kalimantan, Yogyakarta, hingga Bandung.

Kue banjar Sumbernongko bukan hanya makanan manis, tetapi juga potongan sejarah yang terus hidup, dan tradisi yang terus diteruskan melalui tiap gigitan.

Kecamatan Ngusikan adalah tempat yang menggabungkan berbagai elemen yang menjadikannya unik. Setiap desa di sini memiliki karakter dan daya tariknya sendiri, dan menjelajahinya adalah perjalanan yang tak ternilai harganya. Semoga artikel ini membantu Anda mengeksplorasi keindahan dan keunikan desa-desa di Kecamatan Ngusikan. (sumber : https://radarjombang.jawapos.com/)

Senin, 16 Oktober 2023

Mimin

Wedang, Wisata Edukasi Ngusikan Jombang

Jombang, terdapat sebuah destinasi wisata edukasi yang mengundang para pengunjung lokal dan wisatawan untuk datang ke tempat ini, dikenal dengan sebutan "Wedang," terletak di Dusun Tanjung, Desa Ngusikan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, dan telah menjadi daya tarik liburan.

Tempat wisata edukasi ini memiliki kisah awal yang menarik. Awalnya, Wedang hanyalah empat kolam ikan yang dibangun pada tahun 2002. Namun, dengan tekad dan semangat perjuangan, pemiliknya, Miftakhul Rahman, mengubahnya menjadi 20 kolam dan mengembangkan wisata ini. Tidak terlepas dari tantangan pandemi Covid-19, Wedang tetap bertahan dan berkembang sejak tahun 2020.

Mifta menjelaskan bahwa sejak awal pembukaan, jumlah pengunjung terus meningkat. Terutama pada hari libur, pengunjung bisa mencapai lebih dari 500 orang, sementara pada hari biasa, berkisar antara 50 hingga 100 orang. Untuk promosi, Wedang mengandalkan media sosial dan juga rekomendasi dari mulut ke mulut pengunjung yang puas dengan pengalaman mereka.

wedang ngusikan

Wisata ini menarik pengunjung dari Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Surabaya. Wedang juga menyediakan beragam spot foto yang memungkinkan pengunjung untuk berfoto sepuasnya.

Salah satu pengunjung asal Mojokerto, Ida (41), sangat mengapresiasi keindahan Wedang. Ia merasa nyaman di sini, karena suasana desa yang masih terasa kental dan asri. Selain kolam ikan, anak-anak bisa bersenang-senang di kolam renang, dan tersedia juga restoran yang menyajikan hidangan lezat.

Pengunjung lain, Ita Dian Dwi Prastiwi (28), menekankan betapa luasnya area Wedang dan kenyamanan tempat makan di sana. Ia sering membawa anak-anaknya ke sini, terutama karena anak-anak menyukai berenang.

Di tengah pandemi Covid-19, kekhawatiran tetap ada, seperti yang dirasakan oleh Dian. Namun, dengan mematuhi protokol kesehatan, ia dan keluarganya tetap bisa menikmati liburan tanpa khawatir.

Hanya saja, perlu perhatian lebih dari pemerintah setempat dalam perbaikan jalan menuju tempat wisata ini. Dengan upaya bersama, Wedang bisa terus menjadi destinasi wisata yang menginspirasi dan mendidik, sambil menjaga pesona desa yang kental dan udara yang segar.

sumber : https://kabarjombang.com/wisata/kolam-ikan-di-ngusikan-jombang-disulap-jadi-wisata-edukasi/

Senin, 02 Oktober 2023

Mimin

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang

Misteri Gunung Pucangan Ngusikan Jombang: Sejarah dan Kepercayaan Mistis yang Menyelimuti

Gunung Pucangan, terletak di desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, ternyata memiliki cerita mistis dan sejarah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak. Salah satu misteri yang mencolok adalah keberadaan 2 makam di antara 13 makam, yang diyakini sebagai makam orang-orang sakti, yakni Eyang Sakti dan Dewi Kili Suci.


 Purwanto, juru kunci makam ini, menjelaskan bahwa Dewi Kilisuci adalah putri dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri. Kisahnya bermula ketika Dewi Kilisuci memutuskan untuk meninggalkan kerajaan karena menolak menjadi Ratu Kediri, sesuai dengan keinginan sang Raja. Dewi Kilisuci memutuskan untuk melakukan perjalanan pengasingan dan akhirnya bertemu dengan pembabat alas atau sesepuh Gunung Pucangan. Dia dan dayang-dayangnya kemudian tinggal di padepokan tersebut hingga akhir hayat.

Dewi Kilisuci menolak menjadi Ratu Kediri karena memiliki prinsip yang kuat, yaitu bahwa dia akan menerima takhtanya hanya jika rakyatnya sudah sejahtera. Menurutnya, rakyat harus kenyang terlebih dahulu sebelum dia mau menjadi pemimpin.

Selain itu, Purwanto juga memberikan klarifikasi mengenai cerita yang sudah beredar luas tentang "Maling Celuring." Menurutnya, sebenarnya "Maling Celuring" adalah sebutan untuk "Eyang Sakti." Eyang Sakti adalah seorang tokoh sakti yang dikenal karena keramahan dan kebaikannya, bukan seorang pencuri. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa julukan ini tidak mencerminkan karakter sesungguhnya dari tokoh tersebut.

Kirap Pusaka dan Kirap Budaya Desa Cupak Ngusikan

Desa Cupak Ngusikan, sebuah permata tersembunyi di pedalaman Indonesia, adalah rumah bagi beragam warisan budaya dan pusaka yang kaya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dua aspek yang sangat penting dalam budaya desa ini, yaitu Kirap Pusaka dan Kirap Budaya.

image : fb ahmad mambo

Kirap Pusaka: Mempertahankan Warisan Leluhur

Kirap Pusaka adalah praktik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Cupak Ngusikan. Ini adalah cara tradisional dalam menjaga dan merawat pusaka, termasuk alat musik tradisional, senjata, pakaian adat, dan barang-barang bersejarah lainnya. Kirap Pusaka menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, memungkinkan masyarakat desa untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka.

Kirap Budaya: Menjaga Tradisi dan Kearifan Lokal

image : fb ahmad mambo

Selain Kirap Pusaka, Desa Cupak Ngusikan juga menghargai praktik Kirap Budaya, yang merupakan upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal. Ini mencakup berbagai aspek budaya seperti upacara adat, tarian tradisional, bahasa daerah, dan cara hidup tradisional.

Kirap Budaya juga mencakup menjaga bahasa daerah. Bahasa adalah salah satu pilar budaya yang paling penting, dan di Desa Cupak Ngusikan, penduduk setempat berusaha keras untuk memastikan bahwa bahasa daerah mereka terus digunakan dan diajarkan kepada generasi berikutnya. Ini membantu menjaga hubungan yang erat antara generasi yang lebih tua dan generasi muda, serta memperkuat identitas budaya desa.

 

Desa Cupak Ngusikan adalah contoh yang menginspirasi tentang bagaimana Kirap Pusaka dan Kirap Budaya dapat membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kaya. Dengan usaha bersama masyarakat lokal, tradisi dan kearifan lokal terus hidup dan berkembang, memberikan inspirasi bagi generasi yang akan datang untuk menjaga dan menghormati warisan budaya mereka sendiri.

Budaya Desa Cupak Ngusikan adalah contoh nyata bagaimana kita semua dapat belajar dari masa lalu sambil menciptakan masa depan yang lebih cerah. Selamat untuk Desa Cupak Ngusikan atas komitmen mereka dalam menjaga pusaka dan budaya mereka. Semoga contoh ini menginspirasi komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.