b
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.

 


Sejarah Berdirinya

Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.

 

Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.

 

Lokasi dan Posisi Strategis

Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.

 

Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.

 

Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.

 

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.

 

Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.

 

Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.

 

Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.

 

Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.

 

Ikon Kebanggaan Kota Santri

Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.

 

Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.

 


Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.

Rabu, 02 September 2026

Mimin

Tentang Alun-Alun Jombang

 

Bagi masyarakat Kabupaten Jombang, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka di tengah kota. Tempat ini juga menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi saksi perjalanan pemerintahan, sekaligus berfungsi sebagai ruang publik yang terus dimanfaatkan warga hingga hari ini. Artikel berikut mengulas asal-usul, perjalanan revitalisasi, serta peran Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kota Santri.

 

Asal-Usul dan Makna Alun-Alun

Kata "alun-alun" berasal dari bahasa Jawa "aloen-aloen", yang merujuk pada lapangan luas berumput yang dikelilingi jalan dan digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Konsep ini lazim ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, biasanya terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kediaman penguasa daerah.

 

Alun-Alun Jombang sendiri diyakini telah ada sejak masa kerajaan, jauh sebelum masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ketika hendak menghadap bupati atau raja, sekaligus lokasi latihan bagi prajurit kerajaan. Fungsi tersebut menempatkan alun-alun sebagai ruang yang erat kaitannya dengan pusat kekuasaan, sebagaimana pola yang juga terlihat pada alun-alun di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Malang.

 

Dalam catatan sejarah lokal, kawasan ini turut menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada periode revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949. Bersama sejumlah bangunan bersejarah lain di Jombang, alun-alun disebut sebagai salah satu titik penting yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan rakyat Jombang melawan penjajah.

 

Lokasi Strategis di Jantung Kota

Secara administratif, Alun-Alun Jombang berada di kawasan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, tepatnya di sekitar Jalan Diponegoro. Posisinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Baitul Mukminin, Pendopo Kabupaten, serta sejumlah kantor pemerintahan menjadikan kawasan ini sebagai pusat orientasi kota. Letak yang berada di jantung Jombang membuat alun-alun mudah diakses oleh warga dari berbagai penjuru, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang publik utama di kabupaten ini.

 

Perjalanan Revitalisasi

Sebelum mengalami pembenahan besar, kondisi Alun-Alun Jombang sempat dipandang kurang layak untuk menjadi wajah kota. Rencana penataan ulang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2020, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

 

Barulah pada tahun 2021, proyek revitalisasi resmi dijalankan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Jombang. Pekerjaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor pemenang tender, dengan penandatanganan kontrak dilakukan pada akhir Agustus 2021. Peletakan batu pertama turut menandai dimulainya proses pembangunan yang digagas dengan konsep ramah anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan Jombang sebagai kota yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan religi yang melekat pada alun-alun.

 

Proses pembangunan tersebut rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Jombang pada awal tahun 2022, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Sejak saat itu, Alun-Alun Jombang tampil dengan wajah baru: lebih tertata, dilengkapi ruang terbuka hijau, serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern.

 

Salah satu pertimbangan menarik dalam desain baru ini adalah orientasi kegiatan upacara. Mengingat posisi alun-alun yang berdampingan dengan masjid, arah pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar pemimpin upacara menghadap ke utara, sementara peserta menghadap ke selatan, sehingga kegiatan tidak membelakangi bangunan masjid.

 

Fasilitas dan Fungsi Sosial

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Jombang berkembang menjadi ruang multifungsi. Area barat alun-alun dipersiapkan sebagai jalur pedestrian lebar yang dilengkapi payung hidrolis, sehingga dapat menampung jamaah saat pelaksanaan salat berjamaah pada hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, tersedia pula area bermain anak atau playground yang menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga yang berkunjung.

 

Fungsi alun-alun kini jauh lebih beragam dibandingkan masa sebelumnya. Kawasan ini rutin digunakan untuk kegiatan olahraga, bersepeda, hingga sekadar bersantai bersama keluarga pada sore maupun malam hari. Di sisi lain, alun-alun juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara besar pemerintah daerah, seperti perayaan hari jadi kabupaten maupun festival tahunan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.

 

Keberadaan pedagang kaki lima di sekitar kawasan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah menata ulang zona berjualan dan menyediakan sentra kuliner khusus di luar area alun-alun, sehingga suasana di sekitar lapangan tetap tertib dan nyaman dikunjungi.

 

Alun-Alun sebagai Identitas Kota

Lebih dari sekadar taman kota, Alun-Alun Jombang mengemban nilai historis yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Kawasan ini dianggap penting untuk dilestarikan, bukan hanya karena fungsinya sebagai ruang terbuka, tetapi juga karena nilai budaya yang terus dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan adat dan sosial.

 

Pemeliharaan fasilitas di kawasan ini pun menjadi perhatian rutin pemerintah daerah, mulai dari perbaikan penerangan hingga pengelolaan ruang terbuka hijau, guna memastikan alun-alun tetap nyaman digunakan sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari.

 

Penutup

Perjalanan Alun-Alun Jombang, dari lapangan sederhana peninggalan masa kerajaan hingga menjadi ruang publik modern yang multifungsi, mencerminkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman. Bagi warga Jombang, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga simbol kebersamaan dan kebanggaan atas identitas kota yang dikenal sebagai Kota Santri.

Mimin

Ringin Contong: Saksi Bisu Lahirnya Jombang

 

Bundaran Ringin Contong: Ikon Jombang yang Menyimpan Cerita Satu Abad Lebih

Kalau Anda pernah melintas di pusat Kota Jombang, hampir mustahil melewatkan satu titik yang selalu jadi patokan arah warga setempat: Bundaran Ringin Contong. Menara air tua bergaya kolonial yang menjulang di tengah bundaran ini sudah jadi pemandangan akrab selama puluhan tahun. Tapi di balik sosoknya yang megah, ada rangkaian kisah sejarah yang sayangnya belum banyak diketahui orang  termasuk soal dari mana sebenarnya nama "Ringin Contong" itu berasal.

Ternyata, Namanya Bukan dari Menara Air

Banyak orang mengira nama Ringin Contong lahir dari bentuk menara air yang berdiri di sana. Wajar saja, bentuknya memang mengerucut ke atas seperti corong. Tapi anggapan ini sebenarnya kurang tepat.

Kalau ditelusuri lebih dalam, nama itu justru berasal dari dua kosakata Jawa yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan bangunan Belanda tersebut. "Ringin" merujuk pada pohon beringin, sementara "contong" adalah istilah lokal untuk wadah pembungkus makanan yang berbentuk kerucut  semacam bungkus nasi yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional Jawa. Jadi, jauh sebelum menara air itu berdiri, nama kawasan ini sudah lebih dulu terbentuk dari unsur pohon beringin, bukan dari arsitektur Belanda yang datang belakangan.

Pohon Beringin sebagai Penanda Lahirnya Pemerintahan Jombang

Lalu, dari mana asal pohon beringin yang dimaksud? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Jombang sebagai daerah otonom.

Pada 21 Oktober 1910, Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, menanam sebatang pohon beringin di lokasi yang kini menjadi bundaran tersebut. Penanaman ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebagai simbol resmi berdirinya pemerintahan Kabupaten Jombang setelah wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto pada masa kolonial. Dengan kata lain, pohon beringin itu berfungsi seperti "prasasti hidup" yang menandai babak baru sejarah administratif Jombang.


Watertoren: Ketika Belanda Membawa Modernisasi ke Jombang

Kisah kawasan ini kemudian berlanjut hampir dua dekade kemudian, tepatnya saat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah menara air atau watertoren persis di lokasi yang sama dengan pohon beringin bersejarah tadi.

Berdasarkan catatan yang tercantum dalam surat kabar lawas De Indische Courant, proyek pembangunan menara air ini dimulai pada 24 Agustus 1928 di bawah tanggung jawab Burgelijke Openbare Werken (BOW), atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda kala itu. Rancangan bangunannya digarap oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf, dan proses konstruksinya memakan waktu kurang lebih setahun penuh.

Begitu rampung pada 1929, menara ini langsung difungsikan sebagai tandon penampung air yang bersumber dari mata air besar di kawasan Ngampungan, Bareng. Dari sanalah air kemudian dialirkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di pusat Kota Jombang  sebuah lompatan besar dalam hal infrastruktur air bersih pada masanya.

Ketika Sejarah dan Modernitas Berdiri Berdampingan

Yang membuat Bundaran Ringin Contong istimewa bukan cuma karena usianya yang sudah lebih dari satu abad, melainkan karena di tempat ini dua era bertemu dalam satu titik yang sama. Pohon beringin melambangkan akar sejarah lokal dan kelahiran pemerintahan Jombang, sementara menara air peninggalan Belanda menjadi bukti bagaimana modernisasi mulai menyentuh kota ini di awal abad ke-20.

Kombinasi keduanya menjadikan bundaran ini lebih dari sekadar persimpangan jalan biasa. Bagi warga Jombang, tempat ini adalah penanda identitas kota. Bagi pengunjung dari luar daerah, terutama yang tertarik pada jejak arsitektur kolonial dan cerita rakyat, kawasan ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: perpaduan cerita rakyat Jawa dan peninggalan teknologi kolonial dalam satu lanskap yang sama.

Penutup

Bundaran Ringin Contong bukan sekadar hiasan kota atau titik transit kendaraan yang sering dilewati tanpa disadari maknanya. Di balik menara airnya yang kokoh dan bayang-bayang pohon beringin yang rindang, tersimpan jejak panjang sejarah administratif sekaligus jejak modernisasi kolonial yang membentuk wajah Jombang hari ini. Bagi siapa pun yang tertarik menyusuri sejarah kota-kota kecil di Jawa Timur, singgah sejenak di bundaran ini rasanya layak masuk daftar kunjungan wajib.

Senin, 31 Agustus 2026

Mimin

Situs Umpak Grobogan Jombang: Jejak Kuno yang Tersembunyi

Di jantung Dusun Sukorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah peninggalan kuno yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Situs Umpak Grobogan, secara administratif, mungkin sulit ditemukan tanpa panduan yang tepat. Sayangnya, tidak ada petunjuk arah yang jelas menuju situs ini, sehingga eksplorasi menuju tempat ini bisa menjadi sedikit petualangan tersendiri. Untuk membantu Anda menemukan jalan, berikut rute menuju Situs Grobogan:

 

Mulailah dari Jombang dan arahkan langkah ke Mojoagung. Setelah mencapai Pertigaan Terminal Mojoagung, belok ke kanan (menuju selatan). Lanjutkan perjalanan selama sekitar 3.5 kilometer hingga Anda mencapai sebuah perempatan. Dari sini, belok kiri hingga Anda tiba di pelataran masjid di sisi kiri jalan desa.

 

Situs Grobogan memiliki sejarah yang menarik. Ini terdiri dari delapan umpak batu, yang terbagi menjadi tujuh yang berkelompok, dan satu lagi yang terpisah. Umpak-umpak ini, meskipun mungkin tidak begitu mencolok, memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pondasi tiang penyangga sebuah bangunan. Bentuk umpaknya sendiri menarik, dengan segi delapan di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Selain itu, pada umpak tersebut terdapat pahatan sederhana yang menambah daya tariknya.

 

Di bagian atas umpak, Anda akan menemukan lubang berbentuk persegi yang dulunya digunakan untuk menancapkan tiang bangunan. Kemungkinan besar, Situs Grobogan ini adalah situs yang dulunya adalah pendopo. Bagian tiang dan atap bangunan mungkin telah lenyap, mungkin karena terbuat dari bahan yang mudah lapuk. Meskipun misteri dan keindahan sejarah yang terkandung di Situs Grobogan ini mungkin tersembunyi, mereka menunggu untuk diungkapkan dan dihargai oleh mereka yang mencari jejak kuno di Jombang.

Mimin

Menelusuri Jejak Sejarah Kabupaten Jombang

Foto Lawas Pendopo Lawas Kabupaten Jombang, Perkiraan Tahun 1930

Selayang Pandang Geografis

Kabupaten Jombang berada di jantung Provinsi Jawa Timur, membentang seluas lebih dari 1.159 kilometer persegi. Berdasarkan data  dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang pada tahun 2025, wilayah ini dihuni sekitar 1.373.790 jiwa penduduk. Pusat kotanya berdiri di ketinggian 44 meter dari permukaan laut, sekitar 79 kilometer atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat dari Surabaya, ibu kota provinsi.

Letaknya boleh dibilang cukup strategis. Jombang berada tepat di titik pertemuan beberapa jalur transportasi utama Pulau Jawa: lintasan selatan yang menghubungkan Surabaya, Madiun, hingga Yogyakarta, juga jalur menuju Tulungagung dan jalur yang mengarah ke Malang serta Tuban. Posisi persimpangan inilah yang sejak lama menjadikan Jombang sebagai wilayah lalu lintas orang, barang, maupun gagasan.

Julukan Kota Santri

Tak berlebihan bila Jombang disebut "Kota Santri". Di kabupaten ini bertebaran pondok pesantren, dan sebagian di antaranya sudah dikenal luas seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Ada semacam anggapan turun-temurun di kalangan masyarakat pesantren bahwa hampir setiap pendiri pondok di tanah Jawa pernah singgah menimba ilmu di Jombang lebih dulu  semacam pengakuan tak tertulis atas peran daerah ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara.

Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir sejumlah tokoh besar bangsa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang kelak menjadi Presiden RI keempat, dua pahlawan nasional yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib. Nama-nama ini menjadi bukti bagaimana tradisi keilmuan Jombang ikut membentuk wajah intelektual dan keagamaan Indonesia modern.

Asal-usul Nama dan Makna Lambang Daerah

Ada cerita rakyat yang menjelaskan asal kata "Jombang". Konon nama ini merupakan gabungan dua kata bahasa Jawa, "ijo" dan "abang". Ijo melambangkan kalangan santri yang religius, sedangkan abang mewakili kelompok abangan yang lebih condong pada nilai kejawen dan nasionalisme. Menariknya, dua kelompok dengan latar berbeda ini justru hidup rukun berdampingan sebuah harmoni yang kemudian diabadikan dalam warna dasar lambang daerah.

Lambang Kabupaten Jombang sendiri berbentuk perisai yang sarat simbol. Di dalamnya termuat gambar padi dan kapas sebagai lambang kemakmuran, gapura serta benteng peninggalan Majapahit, bangunan Balai Agung yang menggambarkan sifat pemimpin yang mengayomi rakyat, menara berhiaskan bintang bersudut lima sebagai simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, tangga beton lima tingkat yang merepresentasikan Pancasila dan UUD 1945, gambar gunung, serta dua aliran sungai yang menggambarkan kesuburan tanah Jombang yakni Sungai Brantas dan Sungai Konto.

Setiap warna pada lambang pun punya makna tersendiri: hijau melambangkan kesuburan dan ketenangan, merah tua menggambarkan keberanian dan sikap kritis, biru cerah mewakili optimisme rakyat, cokelat menunjukkan keaslian tanah, kuning melambangkan kejayaan, dan putih menjadi simbol kesucian.
 

Dari Zaman Purba hingga Kerajaan Kuno

Jejak kehidupan manusia di kawasan Jombang ternyata sudah sangat tua. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam.

Catatan sejarah tertulis mulai muncul pada abad ke-10. Prasasti Turyyan yang bertarikh tahun 929 Masehi mengisahkan bagaimana Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, memindahkan pusat pemerintahannya ke Tamwlang  yang diperkirakan kini berada di wilayah Kecamatan Tembelang. Delapan tahun kemudian, berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang, Raja Dharmawangsa Teguh kembali memindahkan ibu kota ke Watugaluh, yang diyakini adalah Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek sekarang.

Sejarah kemudian mencatat tragedi tahun 1006 Masehi, ketika pasukan sekutu Sriwijaya dari Kerajaan Wora-wari menyerbu dan meluluhlantakkan ibu kota Kerajaan Medang, sekaligus menewaskan Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu yang masih belia, berhasil lolos dari kepungan musuh. Jejak pelariannya konon masih bisa ditelusuri di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tiga belas tahun berselang, Airlangga bangkit dan mendirikan kerajaan baru yang wilayah kekuasaannya membentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 Masehi, Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi dua: Kadiri di sisi barat dengan ibu kota Daha, dan Janggala di sisi timur yang tetap berpusat di Kahuripan. Melihat peta kekuasaan pada masa itu, cukup masuk akal bila Jombang sudah menjadi wilayah lintasan yang ramai dilalui.

Ringin contong : foto tahun 2017
sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ringin_Contong,_Jombang,_2017-09-19.jpg

Era Kejayaan Majapahit dan Masuknya Islam

Antara tahun 1293 hingga 1500 Masehi, panggung sejarah Nusantara didominasi oleh Majapahit, kerajaan Hindu besar yang pengaruhnya meluas hingga ke Semenanjung Malaya. Pada masa inilah wilayah yang kini menjadi Jombang berfungsi sebagai gerbang masuk Majapahit  gapura barat berada di Desa Tunggorono, sementara gapura selatan terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Warisan nama-nama Majapahit itu masih bisa dijumpai hingga kini lewat sejumlah nama desa dan kecamatan berawalan "Mojo", seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, hingga Mojotengah. Salah satu peninggalan fisik paling berharga dari era ini adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Seiring meredupnya kekuasaan Majapahit akibat perang saudara berkepanjangan, Islam mulai menyebar dari pesisir utara Jawa Timur dan perlahan diterima masyarakat berkat pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya setempat. Jombang pun kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Mataram Islam, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali VOC pada akhir abad ke-17 dan berlanjut menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Keberagaman Jombang tidak berhenti pada dua kelompok besar itu saja. Etnis Tionghoa dan Arab pun turut mewarnai wajah daerah ini sejak lama, salah satunya ditandai dengan keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon telah berdiri sejak tahun 1700 dan masih aktif digunakan hingga sekarang.

Masa Kolonial dan Berkembangnya Pluralisme

Tahun 1811 menjadi penanda penting ketika Kabupaten Mojokerto didirikan, dengan Jombang saat itu berstatus sebagai salah satu wilayah keresidenan di dalamnya. Bahkan situs bersejarah Trowulan, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, sempat masuk ke dalam wilayah administratif Jombang.

Sekitar tahun 1900, misionaris asal Belanda dan Eropa gencar menyebarkan agama Kristen di Jawa Timur. Mojowarno tercatat sebagai basis jemaat Kristen terbesar di wilayah Keresidenan Surabaya kala itu, dengan jumlah pengikut mencapai ribuan jiwa - jauh melampaui wilayah Kediri, Madiun, maupun Pasuruan. Fakta ini menjadi cerminan betapa masyarakat Jombang sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.

Peran Jombang dalam sejarah pergerakan nasional juga tak bisa dipandang sebelah mata. KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh Masyumi, dan KH Wahid Hasyim, anggota termuda BPUPKI yang kelak menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, sama-sama lahir dari tanah ini. Status Jombang sebagai kabupaten resmi di Jawa Timur akhirnya dikukuhkan lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950.

Jejak Alfred Russel Wallace di Jombang

Salah satu babak menarik dalam sejarah Jombang datang dari kunjungan seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace, tokoh yang dikenal luas lewat teori evolusinya dan konsep Garis Wallace. Dalam ekspedisinya menjelajahi kekayaan hayati Nusantara pada tahun 1861, Wallace sempat singgah dan bermalam di wilayah Jombang, tepatnya di kawasan Wonosalam.

Dalam catatan perjalanannya yang kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago salah satu karya literatur ilmiah paling berpengaruh abad ke-19  Wallace mengeja nama tempat itu sebagai "Wonosalem" dan menyebutnya berada di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang dimaksud kemungkinan besar terletak di kaki Gunung Anjasmoro, sebuah gunung yang pada masa itu boleh jadi belum memiliki nama tersendiri atau masih dianggap satu gugusan dengan Arjuna.

Dalam perjalanannya menuju Wonosalam, Wallace melewati hutan yang ia gambarkan sangat memesona, sekaligus singgah di Candi Arimbi yang berlokasi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Menurutnya, candi tersebut tampak seperti makam seorang raja dugaan yang tak sepenuhnya meleset, sebab menurut sejumlah versi cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan Tribhuwanatunggadewi.

Selama berada di Wonosalam, Wallace tercatat mengumpulkan berbagai spesimen unggas liar, termasuk burung merak, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi setempat. Menariknya, kopi masih menjadi salah satu komoditas andalan petani Wonosalam hingga hari ini, berdampingan dengan cengkih, kakao, dan durian lokal jenis bido.

Perkebunan kopi di kawasan itu diduga mulai dikembangkan sejak masa tanam paksa di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada pertengahan abad ke-19. Sekitar empat dekade setelah kunjungan Wallace, memasuki awal 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda kembali menata perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro melalui sistem sewa lahan, mulai dari Dusun Segunung hingga merambah ke Dusun Sumberjahe dan Sumberarum. Pabrik pengolahan kopi yang dibangun di Segunung sejak awal 1920-an bahkan bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya dibongkar oleh pemilik lahan pada awal tahun 2000-an.

Sisa-sisa masa kolonial di sekitar Mojowarno pun masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari rumah-rumah tua, gereja bersejarah, hingga bekas Pabrik Gula Tjoekir yang berdiri di sisi barat kawasan tersebut.

Pesona Wisata dan Penetapan Status Kabupaten

Selain kaya akan cerita sejarah, Jombang juga menyimpan banyak destinasi wisata alam yang tak kalah menarik, di antaranya Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, hingga Air Terjun Tretes.

Secara administratif, Jombang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 20 Maret 1881 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Namun, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif pada tahun 1920, yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang tercatat sebagai Bupati Jombang pertama. Kepemimpinan daerah ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga periode 2025-sekarang di bawah kepemimpinan Bupati Warsubi, S.H., M.S.I dengan Wakil Bupati M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd (Gus Salman)..

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S.I M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.