b
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

KABUPATEN JOMBANG – Perjalanan pemerintahan Kabupaten Jombang tidak dapat dipisahkan dari peran para kepala daerah yang telah memimpin dari masa ke masa. Setiap bupati memiliki kontribusi, tanggung jawab, serta tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pemerintahan pada zamannya.

Seiring perkembangan daerah, kepemimpinan di Kabupaten Jombang turut mengalami berbagai perubahan. Mulai dari periode pemerintahan pada masa awal hingga penyelenggaraan pemerintahan daerah di era modern, pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Jombang.

Catatan sejarah kepemimpinan tersebut juga menunjukkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh masing-masing pemimpin menjadi bagian dari proses pembangunan Jombang, baik dalam bidang pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial kemasyarakatan, maupun pelestarian budaya daerah.


Daftar Bupati Jombang dari Masa ke Masa

Berikut daftar kepala daerah yang tercatat pernah memimpin Kabupaten Jombang berdasarkan periode pemerintahannya:

No Bupati / Penjabat Bupati Wakil Bupati Periode Jabatan
1 R. AA Soero Adiningrat - 1910–1930
2 R. AA Setjo Adiningrat - 1930–1946
3 R. Boediman Rahardjo - 1946–1949
4 R. Moestadjab Soemo W. - 1949–1950
5 R. Istidjab Tjokro K. - 1950–1956
6 M. Soebjakto - 1956–1958
7 R. Hasan Wirjokoesoemo - 1962–1966
8 Ismail - 1966–1973
9 R. Soedirman - 1973–1978
10 A. Hudan Dardiri - 1978–1983
11 Noeroel Koesmen - 1983–1988
12 Tarmin Harjadi - 1988–1993
13 Soewoto Adi Wibowo - 1993–1998
14 Drs. Affandi, M.Si. Drs. H. Suyanto 1998–2003
15 Drs. H. Suyanto Drs. H. Ali Fikri 2003–2008
16 Drs. H. Suyanto Widjono Soeparno, M.Si. 2008–2013
17 Drs. Ec. Nyono Suharli Wihandoko Hj. Mundjidah Wahab 2013–2018
18 Hj. Mundjidah Wahab Sumrambah 2018–2023
19 Sugiat, S.Sos., M.Psi.T. - 2023–2024
20 Dr. Drs. Teguh Narutomo, M.M., CRGP, CGCAE, CFrA - 2024-2024
21 Warsubi, S.H., M.S. M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. 2025–sekarang

Perjalanan Kepemimpinan Kabupaten Jombang

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kabupaten Jombang telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Pergantian kepala daerah dari satu periode ke periode berikutnya merupakan bagian dari dinamika pemerintahan daerah yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pada setiap masa pemerintahan, kepala daerah menghadapi karakteristik persoalan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta arah kebijakan pemerintahan pada masing-masing periode.

Memasuki era pemerintahan daerah yang lebih modern, peran bupati dan wakil bupati semakin berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan daerah, penguatan perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan yang efektif dan akuntabel.


Kepemimpinan Jombang Saat Ini

Pada periode pemerintahan tahun 2025, Kabupaten Jombang dipimpin oleh Warsubi, S.H., M.S. sebagai Bupati Jombang bersama M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd. sebagai Wakil Bupati Jombang. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang.


Catatan mengenai para kepala daerah dari masa ke masa tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pemerintahan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan Kabupaten Jombang. Setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi tersendiri dalam membentuk perjalanan daerah hingga mencapai kondisi pemerintahan dan pembangunan seperti saat ini.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jombang, Daftar Nama Bupati dan Wakil Bupati.

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Rabu, 19 Maret 2025

Mimin

Misteri Situs Pertirtaan Sumberbeji Jejak Peradaban Kuno

Sebuah studi menarik mengungkap keberadaan Situs Pertirtaan Kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Situs ini diduga tertimbun akibat bencana besar di masa lalu, kemungkinan akibat letusan dahsyat Gunung Kelud yang membawa material pasir dan kerikil melalui aliran Sungai Konto.

Menurut Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jatim), tanah di Situs Pertirtaan Sumberbeji memiliki kemiripan dengan Situs Sugihwaras yang diduga sebagai Kedaton. Penelitian lebih lanjut membandingkan Situs Sumberbeji dengan Situs Tondowongso di Kediri, yang menunjukkan bahwa bencana yang menyebabkan situs ini tertimbun terjadi sekitar tahun 1300, sebelum masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Diperkirakan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji dibangun pada masa Kerajaan Kadiri hingga Majapahit dan telah mengalami beberapa kali pemulihan. Selama ekskavasi tahap 1 hingga 3, ditemukan berbagai artefak berharga, seperti Jaladwara (saluran air kuno), keramik, serta fragmen uang gepeng China yang berasal dari Dinasti Song pada abad ke-11 hingga abad ke-14.

Menariknya, dalam naskah Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, tidak ada catatan tentang Hayam Wuruk mengunjungi Sumberbeji. Sebaliknya, naskah tersebut menyebutkan Surowono sebagai tempat yang dikunjungi oleh raja. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Situs Pertirtaan Sumberbeji kemungkinan besar sudah tertimbun pada saat itu.

Berdasarkan penelitian sejarah, wilayah Jombang dulunya adalah bagian dari Panjalu. Situs ini mungkin telah dibangun pada masa pemerintahan Airlangga dan diperbarui pada masa Panjalu hingga era Tribuana Tunggadewi dari Majapahit. Namun, sejauh ini tidak ditemukan bukti konkret yang menunjukkan keterlibatan Hayam Wuruk dalam sejarah situs ini.

Salah satu daya tarik utama Situs Pertirtaan Sumberbeji adalah bangunan batur yang diduga memiliki menara simbol Gunung Meru yang dikelilingi air. Selain itu, situs ini juga menampilkan relief Garuda yang berkaitan dengan kisah pencarian air suci atau Amerta dalam konsep samudramantana. Temuan ini semakin memperkaya wawasan tentang sejarah dan budaya kuno Jombang, sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai jejak peradaban yang tersembunyi di balik tanahnya.

Mimin

Prasasti Tengaran: Jejak Sejarah dari Era Mataram Kuno

Peterongan - Prasasti Tengaran, yang juga dikenal sebagai Prasasti Geweg, merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih berdiri di tempat aslinya (insitu). Secara administratif, prasasti ini berada di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Jombang. Saat ini, wilayah sekitar prasasti merupakan area persawahan yang masih alami, menambah nuansa historis bagi situs ini.

Rute Menuju Prasasti Tengaran

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Prasasti Tengaran, berikut rute yang bisa diikuti:

  • Mulai dari Jombang
  • Melalui Jl. Gus Dur
  • Lanjut ke Jl. Soekarno Hatta
  • Belok ke arah Terminal Jombang
  • Dari perempatan terminal, lurus ke utara hingga mentok lalu belok kiri
  • Sampai di pertigaan, belok kanan dan ikuti jalan hingga tiba di Desa Tengaran

Prasasti Tengaran terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 124 cm dan lebar 78 cm. Tulisan pada prasasti ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam bahasa Jawa Kuno. Pada sisi A terdapat 7 baris tulisan, sedangkan sisi B memiliki 16 baris tulisan.

Prasasti ini disebut juga Prasasti Geweg karena mencatat penetapan Desa Geweg sebagai sima, yaitu desa perdikan yang dibebaskan dari pajak. Desa Geweg sendiri adalah sebuah desa kuno yang kini masuk dalam wilayah Desa Tengaran.

Penetapan sima tersebut dilakukan pada tanggal 6 Paropeteng bulan Srawana tahun 857 Saka, yang bertepatan dengan 14 Agustus 935 Masehi. Keputusan ini dibuat oleh Mahamantri Pu Sindok San Sri Sanotunggadewa bersama Rakyan Sri Parameswari Sri Wardhani Kbi Umisori. Pu Sindok dikenal sebagai raja Medang dari periode Mataram Kuno di Jawa Timur, sedangkan Kbi diduga merupakan permaisurinya.

Jejak Sejarah yang Perlu Dijaga

Sebagai bagian dari warisan sejarah, Prasasti Tengaran memiliki nilai penting dalam memahami perjalanan panjang peradaban Nusantara. Keberadaannya menjadi saksi bisu kebijakan pemerintahan di era Mataram Kuno dan menunjukkan bagaimana sistem administrasi serta pengelolaan desa pada masa itu.

Melestarikan dan menjaga prasasti ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat sekitar dan generasi penerus. Dengan demikian, Prasasti Tengaran dapat terus menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Mimin

Prasasti Grogol / Prasasti Kusambyan

Kudu Jombang - Prasasti Grogol secara administratif terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lokasinya berada di dalam kawasan hutan, sehingga akses menuju situs ini cukup menantang. Jalur yang tersedia hanya berupa jalan setapak, yang membuat perjalanan ke prasasti ini memerlukan usaha lebih. Karena letaknya yang tersembunyi, pengunjung disarankan untuk meminta panduan kepada juru pelihara Prasasti Sumber Gurit, yang juga berada di desa yang sama. Jarak antara Prasasti Grogol dan Prasasti Sumber Gurit hanya sekitar satu kilometer, sehingga keduanya dapat dikunjungi dalam satu perjalanan.

Kondisi Prasasti Grogol saat ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bagian atasnya telah terpecah menjadi sembilan bagian, sehingga bentuk aslinya sulit untuk dikenali secara utuh. Berdasarkan perkiraan para ahli, jika prasasti ini masih dalam kondisi sempurna, bentuknya menyerupai sebuah balok dengan puncak yang meruncing. Bagian dasarnya berbentuk lapik padmasana, yang merupakan ciri khas struktur prasasti pada zaman tersebut. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno, yang mencerminkan budaya dan sistem penulisan pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Prasasti ini diresmikan pada tahun 1037 Masehi, saat Kerajaan Kahuripan berada dalam masa kejayaannya.

Selain dikenal dengan nama Prasasti Grogol, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Kusambyan. Hal ini disebabkan oleh isi prasasti yang berkaitan dengan wilayah kuno bernama Kusambyan atau yang disebut dalam teks sebagai "karaman i Kusambyan." Dalam prasasti ini disebutkan bahwa wilayah Kusambyan dijadikan sebagai sima sawah oleh Sri Maharaja, sebuah bentuk anugerah atau status khusus yang diberikan kepada daerah tertentu. Status sima sawah ini biasanya diberikan kepada wilayah yang memiliki peran penting, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun keagamaan.

Salah satu aspek menarik dari isi prasasti ini adalah penyebutan nama tokoh Rahyan Iwak. Nama tokoh ini muncul berkali-kali pada bagian depan prasasti, yang menunjukkan bahwa Rahyan Iwak adalah sosok yang sangat berpengaruh di Kusambyan pada masa itu. Tokoh ini kemungkinan besar memiliki kedudukan penting, baik sebagai pemimpin lokal maupun sebagai figur yang dihormati dalam lingkup kerajaan. Keberadaan nama Rahyan Iwak juga memiliki keterkaitan dengan Prasasti Tuhanharu, yang dikeluarkan oleh Raja Jayanegara dari Kerajaan Majapahit sekitar 200 tahun setelah masa pemerintahan Airlangga. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh Rahyan Iwak bertahan lama, bahkan hingga era Majapahit.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah yang berharga, Prasasti Grogol memiliki nilai penting dalam memahami perkembangan politik dan sosial pada masa Kerajaan Kahuripan. Prasasti ini menjadi bukti tertulis mengenai kebijakan pemerintahan pada zaman Airlangga, khususnya terkait dengan pengelolaan wilayah dan status sima sawah. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut terhadap prasasti ini sangat diperlukan agar informasi sejarah yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat dipahami oleh generasi mendatang.