b
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Mimin

Mengenal Ngusikan: Kecamatan Termuda di Jombang

Kecamatan Ngusikan merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang berada di ujung timur laut kabupaten. Kecamatan ini tercatat sebagai kecamatan termuda sekaligus dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Jombang, hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2000. Secara geografis, Kecamatan Ngusikan terletak di sebelah utara Sungai Brantas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sisi timur serta Kabupaten Lamongan di sisi utara.


Wilayah bagian selatan Ngusikan berupa dataran rendah dengan lahan pertanian sawah, sedangkan bagian utaranya merupakan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari ujung timur Pegunungan Kendeng, dengan sebagian lahan dikelola Perhutani untuk hutan jati. Sebagai salah satu desa di Jombang yang tergabung dalam wilayah Kecamatan Ngusikan, setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang menopang pembangunan daerah, mulai dari sektor pertanian hingga wisata religi bersejarah.


Daftar Desa di Kecamatan Ngusikan

Kecamatan Ngusikan terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  • Asemgede
  • Cupak
  • Keboan
  • Kedungbogo
  • Ketapangkuning
  • Kromong
  • Manunggal
  • Mojodanu
  • Ngampel
  • Ngusikan
  • Sumbernongko

Pusat pemerintahan Kecamatan Ngusikan berada di Desa Ngusikan, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat terpusat di Pasar Keboan, Desa Keboan, yang dilalui jalur jalan Ploso–Mojokerto. Adapun Desa Asemgede dan Desa Cupak yang terletak di kawasan Pegunungan Kendeng tercatat sebagai dua desa dengan jumlah penduduk paling sedikit di seluruh Kabupaten Jombang.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Ngusikan terletak pada koordinat 7°22'15" – 7°28'49" Lintang Selatan dan 112°16'21" – 112°21'56" Bujur Timur. Posisi wilayahnya yang berada di kawasan utara Sungai Brantas menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kecamatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Jombang dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Lamongan dan Mojokerto.


Potensi Wisata di Kecamatan Ngusikan

Wisata Religi Gunung Pucangan

Salah satu destinasi paling dikenal di Kecamatan Ngusikan adalah Situs Gunung Pucangan yang berada di Desa Cupak. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi pertapaan sekaligus tempat peristirahatan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memilih menjadi petapa dan menolak tahta Kerajaan Kediri. Di kawasan perbukitan ini terdapat belasan makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan Gunung Pucangan sebagai tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang tertarik pada sejarah dan legenda lokal.

Jejak Prasasti Pucangan

Selain wisata religi, kawasan Gunung Pucangan juga memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan Prasasti Pucangan, prasasti peninggalan Raja Airlangga yang mencatat penetapan kawasan Pucangan sebagai tempat pertapaan suci. Meskipun naskah asli prasasti tersebut kini berada di luar negeri, jejak sejarahnya tetap melekat kuat pada situs yang berlokasi di Desa Cupak ini, menjadikan Ngusikan sebagai salah satu kawasan penting dalam penelusuran sejarah masa Kerajaan Kahuripan di wilayah utara Jombang.

Wisata Alam dan Budaya Desa

Selain situs bersejarah, beberapa desa di Ngusikan juga mulai mengembangkan potensi wisata alam perbukitan serta melestarikan tradisi budaya lokal, seperti tradisi sedekah bumi yang secara rutin digelar warga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Ngusikan

Untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Ngusikan memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama berupa Puskesmas Keboan yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Keboan. Puskesmas ini melayani berbagai kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, di antaranya:

  • Pelayanan pengobatan umum dan gawat darurat
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan
  • Pemantauan dan pengobatan pasien TB serta kusta
  • Pelayanan laboratorium sederhana
  • Penerbitan surat keterangan kesehatan, rujukan, serta layanan administrasi BPJS Kesehatan


Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam sistem BPJS Kesehatan, Puskesmas Keboan menjadi rujukan utama masyarakat sekitar sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut apabila diperlukan penanganan medis lebih lanjut.


Sektor Perekonomian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Ngusikan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Di wilayah dataran rendah, warga umumnya menanam padi, sedangkan di kawasan perbukitan utara seperti Desa Asemgede dan Desa Cupak, masyarakat banyak membudidayakan jagung, gadung, dan porang sebagai komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Ngusikan dengan 11 desanya menyimpan kekayaan sejarah, potensi wisata religi, serta fasilitas layanan dasar yang terus dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Ngusikan diharapkan dapat terus bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Mimin

Desa di Kecamatan Kudu Jombang: Profil, Potensi, dan Wisata Sekitarnya

Kecamatan Kudu merupakan salah satu wilayah administratif di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak di bagian utara-timur wilayah kabupaten. Secara geografis, Kecamatan Kudu diapit oleh Sungai Brantas di sisi selatan dan ujung timur Pegunungan Kendeng di sisi utara, sehingga sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 44 meter di atas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang berupa kawasan pegunungan, yaitu di Desa Katemas, Desa Kepuhrejo, dan sebagian Desa Made.

Dengan luas wilayah sekitar 27,54 km², Kecamatan Kudu tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan wilayah terkecil di Kabupaten Jombang. Meski demikian, keberadaan setiap desa di Jombang yang berada dalam naungan Kecamatan Kudu tetap memberikan kontribusi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata sejarah.


Daftar 11 Desa di Kecamatan Kudu

Kecamatan Kudu terdiri atas 11 desa yang tersebar di wilayah administratifnya. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Bakalanrayung
  2. Bendungan
  3. Katemas
  4. Kepuhrejo
  5. Kudubanjar
  6. Made
  7. Menturus
  8. Randuwatang
  9. Sidokaton
  10. Sumberteguh
  11. Tapen

Pusat pemerintahan Kecamatan Kudu berada di Desa Randuwatang, sedangkan pusat kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di Pasar Tapen yang berlokasi di Desa Tapen. Setiap desa memiliki pemerintahan yang menjalankan fungsi pelayanan publik, administrasi kependudukan, serta program pembangunan sesuai kebutuhan warganya.


Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan Kudu berbatasan langsung dengan Kecamatan Ngusikan di sebelah utara dan timur, Kecamatan Kesamben di sebelah selatan, serta Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh di sebelah barat. Posisi wilayah ini juga strategis karena berada di jalur penghubung antara Kecamatan Ploso dan Kabupaten Mojokerto, menjadikannya salah satu titik lintas penting di kawasan utara Jombang.

Potensi dan Perkembangan Wilayah

Sektor Pertanian

Berkat aliran Sungai Brantas yang mendukung sistem irigasi, sebagian besar wilayah Kecamatan Kudu dimanfaatkan sebagai lahan sawah yang subur untuk tanaman padi dan palawija. Sektor pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat di hampir seluruh desa, didukung oleh keberadaan Bendung Karet Menturus di Desa Menturus, salah satu bendungan berteknologi karet berisi udara pertama di Indonesia yang berperan penting dalam pengaturan air irigasi.


Sektor Wisata dan Sejarah

Kecamatan Kudu juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bernilai sejarah, di antaranya Sendang Made, sebuah mata air di lereng Gunung Pucangan yang menurut cerita masyarakat setempat pernah menjadi tempat pelarian Raja Airlangga. Selain itu, terdapat pula Gua Made serta Prasasti Gurit di Dusun Sumber Gurit yang menjadi bukti sejarah kekuasaan Airlangga di wilayah ini pada masa lampau.


Produk Unggulan Lokal

Di Desa Made, masyarakat setempat melestarikan produk olahan khas berupa keripik gadung, camilan tradisional berbahan dasar umbi gadung yang terus dijaga keberlangsungannya melalui dukungan pemerintah desa sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif masyarakat.


Wisata di Sekitar Kudu

Selain menyimpan destinasi andalannya sendiri, Kecamatan Kudu juga dikelilingi oleh beberapa objek wisata menarik di kecamatan tetangga yang dapat menjadi tujuan wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan utara Jombang.


Sendang Made

Berlokasi di Desa Made, Sendang Made menjadi ikon wisata budaya dan sejarah andalan Kecamatan Kudu. Kolam alami berukuran sekitar 8 x 11 meter ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga beserta prajuritnya, dan airnya tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Suasana di sekitar sendang masih asri, dinaungi pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, sehingga cocok dijadikan tempat bersantai bersama keluarga.
baca : Sendang Made Wisata Sejarah Peninggalan Raja Airlangga


Embung

Terletak di Desa Kepuhrejo, Embung Kedu merupakan objek wisata air yang relatif baru dikembangkan di Kecamatan Kudu. Keberadaannya melengkapi pemetaan potensi wisata desa yang terus digencarkan oleh pemerintah kecamatan bersama dinas terkait.


Gua Made 

Masih berada dalam kawasan Desa Made, kompleks wisata ini menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Airlangga sekaligus menjadi bagian dari rangkaian wisata religi dan budaya di lereng Gunung Pucangan.

baca : Misteri Topeng perunggu di Goa Made


Prasasti Sumbergurit 

Di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, tersimpan salah satu peninggalan bersejarah penting dari masa Kerajaan Kahuripan, yaitu Prasasti Gurit yang juga dikenal dengan nama Prasasti Munggut. Prasasti berbentuk segi lima berbahan batu andesit ini memuat pahatan aksara kuno, meski sebagian tulisannya kini sudah sulit terbaca akibat termakan usia. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda J.L.A. Brandes yang melaporkan keberadaannya sejak tahun 1887, prasasti ini diketahui dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 955 Saka sebagai penetapan status perdikan atau pembebasan pajak bagi wilayah Munggut, kawasan yang kini termasuk dalam Kecamatan Ngusikan. Letaknya yang berada di tengah permukiman warga membuat situs ini tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang, bahkan hingga kini masih kerap didatangi masyarakat, baik untuk mempelajari sejarah maupun untuk berdoa dan menyampaikan hajat tertentu. Keberadaan Prasasti Sumbergurit menjadi bukti nyata bahwa wilayah utara Sungai Brantas di Jombang, termasuk Kudu, pernah menjadi bagian penting dari jejak kekuasaan Airlangga sebelum ia membangun kembali Kerajaan Kahuripan.

baca : Prasasti Sumbergurit Peninggalan Raja Airlangga

Dengan kombinasi wisata sejarah, alam, dan budaya yang saling berdekatan, kawasan Kudu dan sekitarnya berpotensi dikembangkan sebagai satu jalur wisata terpadu di wilayah utara Kabupaten Jombang, termasuk rencana pengembangan jalur gowes (bersepeda) menuju Sendang Made yang tengah digagas oleh pemerintah kecamatan.


Sebagai bagian dari Kabupaten Jombang, Kecamatan Kudu dengan 11 desanya menyimpan potensi yang khas, mulai dari pertanian yang ditopang irigasi Sungai Brantas, warisan sejarah peninggalan masa Kerajaan Airlangga, hingga produk olahan lokal yang terus dilestarikan. Ditambah dengan deretan wisata di kecamatan sekitarnya, kawasan ini menjadi salah satu potensi unggulan pariwisata di utara Jombang. Keberadaan setiap desa di Jombang yang tergabung dalam Kecamatan Kudu diharapkan dapat terus berkembang dan bersinergi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Sabtu, 11 November 2023

Mimin

Mengenal Kecamatan Kabuh Jombang

Peta Kecamatan Kabuh

Kabuh, sebuah kecamatan yang menarik di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Berlokasi di utara Kabupaten Jombang, Kabuh berbagi perbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Kecamatan ini memiliki identitas unik sebagai daerah kelahiran para pendekar selain itu Kecamatan ini terdapat lokasi Radar AURI. (baca : Kesenian Sandur Manduro di Kabupaten Jombang: Warisan Budaya Tak Benda Indonesia)

Radar Auri Kabuh

Batas wilayah Kabuh bersebelahan dengan beberapa kecamatan tetangga, termasuk Ngimbang di sebelah utara, Kudu di sebelah timur, Ploso di sebelah selatan, dan Plandaan di sebelah barat. Pertanian dan perkebunan mendominasi kehidupan sehari-hari di Kabuh. Sebagian besar penduduk adalah petani yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada musim hujan untuk bercocok tanam, terutama padi. Namun, tanaman lain seperti tembakau dan polowijo juga tumbuh subur. Pohon jati juga mendominasi perkebunan, memberikan nilai ekonomi yang signifikan bagi wilayah ini.

  1. Banjardowo
  2. Genenganjasem
  3. Kabuh
  4. Karangpakis
  5. Kauman
  6. Kedungjati
  7. Manduro
  8. Mangunan
  9. Marmoyo
  10. Munungkerep
  11. Pengampon
  12. Sukodadi
  13. Sumberaji
  14. Sumbergondang
  15. Sumberingin
  16. Tanjungwadung

Wisata yang ada di Kecamatan Kabuh :

Sendang Tlimo

Wisata air alami ini mengalir dari hutan jati Sari Tengah, membuktikan kesucian lingkungannya dengan hamparan pepohonan yang hijau dan alami. Dengan begitu banyak aktivitas menarik yang ditawarkan, waktu akan terasa singkat saat berkunjung ke sini. Pastikan Anda mengabadikan momen tak terlupakan dengan mengambil foto di lokasi-lokasi indah yang tersedia. Keberadaan Sendang Tlimo juga merupakan bukti bahwa Jombang adalah destinasi wisata yang memiliki potensi besar, tempat di mana Anda dapat beristirahat sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Makam dan Masjid Mbah Buyut Sona

Mbah Buyut Sona, yang dikenal sebagai bendaharawan para wali, meniti perjalanan spiritualnya pada masa kerajaan Majapahit," ungkap Suyono, yang juga berperan sebagai juri penting dalam pengawasan makam ini. Keberadaan makam dan masjid ini membanggakan, terletak di atas puncak bukit dengan ketinggian mencapai sekitar 50 meter. Untuk mencapai tempat suci ini, perjalanan melibatkan pendakian melalui 52 anak tangga yang menimbulkan kesan seperti mengunjungi makam Sunan Giri di Gresik.

Wisata Religi Makam Mbah Sanusi 

Wisata Religi Makam Mbah Sanusi di Dusun Sekaru, Desa Kauman, menjadi tempat yang khusyuk untuk berziarah. Makam ulama ini, yang diyakini sebagai pengawal Pangeran Diponegoro, dikelola secara profesional oleh Pesantren Majma'al Bahrain Shidiqiyah dan menawarkan suasana asri yang damai. Lokasinya dapat diakses melalui jalan alternatif dari Mojokerto ke arah utara, melalui perempatan Panemon (Desa Bakalanrayung), dan dengan bantuan petunjuk dari warga setempat jika Anda merasa kebingungan.

Itulah sobat 16 nama-nama desa dan Wisata yang ada dikecamatan kabuh yang dapat kami rangkum mungkin kedepannya akan kami update, semoga artikel yang berjudul Mengenal Kecamatan Kabuh Jombang bermanfaat bagi anda

Selasa, 17 Oktober 2023

Mimin

Nama Desa di Kecamatan Ngusikan dan Tempat Wisata

Setelah sebelumnya website Alun-Alun Jombang menerbitkan artikel Situs Yoni Gambar Mojowarno pada kesempatan ini kami share Nama Desa di Kecamatan Ngusikan hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu pada tahun 2001, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian utara Kabupaten Jombang, wilayah ini juga berbagi perbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Mojokerto. Keunikan Kecamatan Ngusikan menjadi lebih menarik ketika kita menjelajahi desa-desa yang membentuk komunitas yang beragam di sini.

  1. Asemgede
  2. Cupak
  3. Keboan
  4. Kedungbogo
  5. Ketapangkuning:.
  6. Kromong
  7. Manunggal
  8. Mojodanu
  9. Ngampel
  10. Ngusikan
  11. Sumbernongko

Wisata Kecamatan Ngusikan :

  1. Gunung Pucangan, Desa Cupak Kecamatan Ngusikan  
  2. Wisata Edukasi "Wedang" Ngusikan Jombang 
Oleh-oleh khas : Kue Banjar Sumbernongko

Di Dusun Cangak, Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, sebuah tradisi lebaran yang manis terus hidup. Kue banjar, makanan khas lebaran dan hari besar Islam, diproduksi dengan penuh dedikasi oleh Jemari Fefi dan timnya.

Kue banjar, dengan bentuk yang mengingatkan pada tasbih atau bahkan garis sawah petani ketika menanam padi, merupakan warisan bersejarah. Proses pembuatannya dilakukan secara manual, dengan telapak tangan, menjadikan kue banjar ini istimewa.

Rasa manis dan gurihnya membuat kue ini sangat dicari, terutama menjelang lebaran. Pesanan melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa, dan Fefi bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut. Selama Ramadan, ia bahkan menggunakan 2 kuintal tepung untuk memproduksi kue banjar.

Harga kue banjar selalu mengikuti harga bahan baku, seperti telur. Ini berarti harga bisa berfluktuasi tergantung pada pasar. Meskipun tanpa promosi besar-besaran, kue banjar ini dikenal baik secara lokal maupun di luar Jombang. Dengan bantuan promosi dari mulut ke mulut dan penjualan online, kue banjar Fefi telah menemukan penggemar dari Kalimantan, Yogyakarta, hingga Bandung.

Kue banjar Sumbernongko bukan hanya makanan manis, tetapi juga potongan sejarah yang terus hidup, dan tradisi yang terus diteruskan melalui tiap gigitan.

Kecamatan Ngusikan adalah tempat yang menggabungkan berbagai elemen yang menjadikannya unik. Setiap desa di sini memiliki karakter dan daya tariknya sendiri, dan menjelajahinya adalah perjalanan yang tak ternilai harganya. Semoga artikel ini membantu Anda mengeksplorasi keindahan dan keunikan desa-desa di Kecamatan Ngusikan. (sumber : https://radarjombang.jawapos.com/)

Senin, 16 Oktober 2023

Mimin

Wedang, Wisata Edukasi Ngusikan Jombang

Jombang, terdapat sebuah destinasi wisata edukasi yang mengundang para pengunjung lokal dan wisatawan untuk datang ke tempat ini, dikenal dengan sebutan "Wedang," terletak di Dusun Tanjung, Desa Ngusikan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, dan telah menjadi daya tarik liburan.

Tempat wisata edukasi ini memiliki kisah awal yang menarik. Awalnya, Wedang hanyalah empat kolam ikan yang dibangun pada tahun 2002. Namun, dengan tekad dan semangat perjuangan, pemiliknya, Miftakhul Rahman, mengubahnya menjadi 20 kolam dan mengembangkan wisata ini. Tidak terlepas dari tantangan pandemi Covid-19, Wedang tetap bertahan dan berkembang sejak tahun 2020.

Mifta menjelaskan bahwa sejak awal pembukaan, jumlah pengunjung terus meningkat. Terutama pada hari libur, pengunjung bisa mencapai lebih dari 500 orang, sementara pada hari biasa, berkisar antara 50 hingga 100 orang. Untuk promosi, Wedang mengandalkan media sosial dan juga rekomendasi dari mulut ke mulut pengunjung yang puas dengan pengalaman mereka.

wedang ngusikan

Wisata ini menarik pengunjung dari Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Surabaya. Wedang juga menyediakan beragam spot foto yang memungkinkan pengunjung untuk berfoto sepuasnya.

Salah satu pengunjung asal Mojokerto, Ida (41), sangat mengapresiasi keindahan Wedang. Ia merasa nyaman di sini, karena suasana desa yang masih terasa kental dan asri. Selain kolam ikan, anak-anak bisa bersenang-senang di kolam renang, dan tersedia juga restoran yang menyajikan hidangan lezat.

Pengunjung lain, Ita Dian Dwi Prastiwi (28), menekankan betapa luasnya area Wedang dan kenyamanan tempat makan di sana. Ia sering membawa anak-anaknya ke sini, terutama karena anak-anak menyukai berenang.

Di tengah pandemi Covid-19, kekhawatiran tetap ada, seperti yang dirasakan oleh Dian. Namun, dengan mematuhi protokol kesehatan, ia dan keluarganya tetap bisa menikmati liburan tanpa khawatir.

Hanya saja, perlu perhatian lebih dari pemerintah setempat dalam perbaikan jalan menuju tempat wisata ini. Dengan upaya bersama, Wedang bisa terus menjadi destinasi wisata yang menginspirasi dan mendidik, sambil menjaga pesona desa yang kental dan udara yang segar.

sumber : https://kabarjombang.com/wisata/kolam-ikan-di-ngusikan-jombang-disulap-jadi-wisata-edukasi/

Kamis, 12 Oktober 2023

Mimin

Wana Wisata Sumberboto Mojowarno

Tempat wisata alam Sumberboto berada di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang. Terletak di bagian timur Kabupaten Jombang, daerah ini memiliki wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, seperti sumber air dan bumi perkemahan yang luas. 

Terdapat kolam renang dengan mata air asli pegunungan yang dapat digunakan selain wisata alam yang dapat dinikmati keindahannya. Di kawasan wisata Sumberboto ini Anda tidak hanya akan menemukan pemandangan alam dan kolam renang; ada juga Monumen Sumberboto, yang menunjukkan sejarah perjuangan pasukan Wanara untuk kemerdekaan Indonesia.

Wisata Sumberboto terkenal dengan keindahan alam dan sumber mata airnya. Itu juga memiliki area perkemahan yang luas dan ramai dikunjungi pelajar. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan fasilitas seperti toilet dan musolah.

Sejarah Perjuangan Pasukan Wanara

Tempat wisata yang indah di Jombang, Sumberboto, memiliki sejarah yang kaya dan menarik. Tempat ini dulunya adalah tempat penyimpanan persenjataan pasukan Wanara, lasykar perjuangan yang didirikan oleh para pegawai kehutanan. Berbagai macam senjata, termasuk peluru, granat, bom, dan lainnya, disimpan di Sumberboto untuk digunakan dalam perang melawan penjajah Belanda.

Pasukan Wanara membuka bom peninggalan Jepang setiap hari untuk mengolahnya menjadi peluru dan granat. Namun, pada tanggal 12 April 1948, lima anggota pasukan Wanara tewas dalam ledakan bom seberat 500 kg yang dibuka. Monumen Sumberboto kemudian dibangun di sana. Dua patung prajurit berdiri di sana sebagai penghormatan kepada mereka.

Sumberboto telah berkembang menjadi tempat wisata populer. Wana wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani, yang telah membangun berbagai fasilitas, seperti kolam renang, wisma, pendapa, perkemahan, tempat rekreasi keluarga, dan warung-warung yang indah. Ini sekarang menjadi tempat rekreasi populer bagi penduduk Jombang dan daerah sekitarnya, terutama selama akhir pekan.

Sumberboto memiliki pemandangan alam yang indah, yang merupakan salah satu daya tarik utamanya. Hutan yang rindang dan asri telah menjadi ciri khas tempat ini, memberikan suasana sejuk dan menenangkan bagi mereka yang berkunjung.

Air dari tiga sumber di dekat pemandian: Sumbergondang, Sumberboto, dan Sumberkembang. Air dari Sumberboto dialirkan ke Sumbergondang, lalu dialirkan ke MCK. Air dari Sumberkembang digunakan untuk mengisi kolam renang.

Sumberboto memiliki banyak fasilitas, seperti bumi perkemahan, area outbond, area parkir, toilet, mushola, shelter, pintu gerbang, papan interpretasi, loket, aula, pos penjagaan, kolam renang, wisma, playground, papan penunjuk arah, listrik, dan warung makan.

Tempat perkemahan Sumberboto terdiri dari sembilan blok yang dapat menampung antara lima belas dan dua puluh tenda pramuka. Peserta kemah biasanya siswa SLTP dan SLTA di kota-kota sekitar.