b

Senin, 28 September 2026

Mimin

Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung

Di tengah julukan Jombang sebagai "Kota Santri", ternyata kabupaten ini juga menyimpan kekayaan wisata religi lintas agama, salah satunya Klenteng Boo Hway Bio di Kecamatan Mojoagung. Bagi umat Tri Dharma  gabungan penganut Buddha, Konghucu (Kong Hu Cu), dan Tao  klenteng ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan juga tempat yang diyakini keramat dan mampu mendatangkan berkah bagi siapa saja yangtekun bersembahyang di dalamnya.


Lokasi dan Ciri Khas Bangunan

Klenteng Boo Hway Bio berlokasi di kawasan utara Alun-Alun Mojoagung, tepat di belakang area pasar tradisional Mojoagung yang kini telah beralih fungsi menjadi alun-alun kota kecamatan. Secara administratif, klenteng ini berada di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Meski ukurannya tergolong tidak terlalu besar dibanding klenteng-klenteng lain di Jawa Timur, Boo Hway Bio memiliki daya tarik tersendiri. Bangunannya menghadap ke selatan, tepat mengarah ke Alun-Alun Mojoagung dan berdekatan dengan sebuah persimpangan jalan atau pertigaan.

Sejarah Berdirinya Klenteng

Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul dan waktu berdirinya Klenteng Boo Hway Bio, mengingat bangunan ini telah mengalami banyak perubahan bentuk dari masa ke masa.

Salah satu versi yang paling banyak dipegang oleh pengurus klenteng menyebutkan bahwa Boo Hway Bio berdiri sejak tahun 1928, bertepatan dengan tanggal 6 Lak Gwee atau 6 Juni menurut penanggalan Imlek. Menurut cerita yang berkembang di kalangan pengurus, awalnya klenteng ini merupakan tempat berkumpulnya warga Tionghoa perantauan yang belum memiliki tempat tinggal tetap di Mojoagung. Kisahnya, seseorang dari daratan Tiongkok membawa sebuah patung dewa menggunakan kapal laut. Setelah tiba dengan selamat, patung tersebut disembahyangi oleh umat Tionghoa setempat sebagai ungkapan syukur, karena diyakini sebagai dewa pelindung. Dari rasa syukur itulah warga kemudian bergotong royong mendirikan Klenteng Boo Hway Bio.

Di sisi lain, sumber dari organisasi vihara mencatat bahwa klenteng ini sebenarnya sudah dirintis sejak sekitar tahun 1900-an, dengan bangunan awal yang masih terbuat dari bambu. Bangunan sederhana ini bertahan hingga tahun 1940, sebelum akhirnya diganti dengan struktur semi permanen di bawah kepengurusan Oei Yan Tjong. Pembangunan altar sembahyang secara permanen baru direalisasikan pada 1975 atas prakarsa Siem Kam Lim, dan disusul dengan perluasan area klenteng pada 1981 atas inisiatif Tjoa Giok Ping.

Ada pula catatan sejarah lokal yang menyebutkan bahwa struktur bangunan klenteng yang ada sekarang sejatinya berawal dari fungsi berbeda, yakni sebagai rumah abu tempat penyemayaman abu para leluhur Tionghoa di Mojoagung, sebelum akhirnya dialihfungsikan sepenuhnya menjadi rumah ibadah sejak tahun 1965. Karena klenteng dipercaya membawa aura positif sementara jenazah membawa aura negatif, tempat persemayaman jenazah kemudian dipindahkan ke lokasi lain di Mojoagung. Meski begitu, abu leluhur tetap dipertahankan di bagian paling tengah klenteng sebagai penghormatan terhadap sejarah, diapit oleh patung-patung dewa di sisi kanan dan kirinya.

Perbedaan versi tahun berdiri ini wajar terjadi mengingat bangunan Boo Hway Bio memang telah beberapa kali dipugar dan diperluas — mulai dari bangunan bambu sederhana, bangunan utama di bagian depan pada era 1940-an, penambahan bangunan tengah dan bangunan bertingkat di bagian belakang pada era 1980-an, hingga renovasi besar pada tahun 2000-an yang membuat klenteng ini tampil lebih luas dan megah seperti sekarang.

Dewa Pelindung yang Disembah

Klenteng Boo Hway Bio menjadikan Sang Dewa Penolong sebagai sesembahan utama, yang dalam beberapa catatan disebut dengan nama Kongco Siam Siem Kong atau San Ci Kung. Dewa ini dipercaya dibawa langsung oleh para perantau Tionghoa dari Tiongkok ke Mojoagung, dan diyakini mampu menolong siapa saja yang tengah tertimpa persoalan hidup dan memanjatkan doa di klenteng ini.

Keyakinan inilah yang membuat Klenteng Boo Hway Bio dikenal luas di kalangan umat Tri Dharma sebagai tempat keramat. Tak hanya umat dari Mojoagung, banyak pula peziarah yang datang dari Mojokerto, Surabaya, dan berbagai wilayah lain di Jombang untuk bersembahyang di sini.

Filosofi Lokasi di Persimpangan Jalan

Salah satu keunikan Klenteng Boo Hway Bio adalah posisinya yang berada tepat di dekat pertigaan atau persimpangan jalan, menghadap ke arah alun-alun. Dalam kepercayaan sebagian pendiri dan sesepuh klenteng, lokasi persimpangan atau yang lazim disebut "jalan tusuk sate" dipandang strategis secara spiritual. Para leluhur meyakini bahwa membangun rumah ibadah di titik semacam ini dapat menetralkan pengaruh buruk yang berpusat di persimpangan jalan, sekaligus melancarkan pengamalan ajaran yang dianut oleh umat Tao, Konghucu, dan Buddha yang beribadah di dalamnya.

Peran Sosial di Tengah Masyarakat Mojoagung

Selain fungsi ibadah, Klenteng Boo Hway Bio juga aktif menjalankan peran sosial bagi masyarakat sekitar, tanpa memandang latar belakang agama. Setiap menjelang perayaan Imlek, pengurus dan umat rutin menggelar kerja bakti membersihkan area klenteng dan mencuci patung-patung dewa sebagai bagian dari tradisi penyambutan tahun baru.

Klenteng ini juga rutin menggelar ritual Ulambana, yaitu upacara penghormatan kepada arwah leluhur yang dilaksanakan pada bulan tujuh penanggalan Imlek oleh umat Buddha Mahayana. Dalam momentum ini, Klenteng Boo Hway Bio turut membagikan beras secara gratis kepada warga sekitar yang kurang mampu, sebagai wujud kepedulian sosial sekaligus mempererat toleransi antarwarga di Kecamatan Mojoagung.

Kegiatan sosial lain yang tercatat berlangsung di klenteng ini di antaranya program vaksinasi bagi warga sekitar pada masa pandemi, serta pembagian paket sembako yang turut dipantau langsung oleh jajaran Kecamatan Mojoagung sebagai bentuk sinergi antara pengurus klenteng dan pemerintah setempat.

Bagian dari Kekayaan Wisata Religi Jombang

Klenteng Boo Hway Bio merupakan satu dari tiga klenteng yang ada di Kabupaten Jombang, melengkapi keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo — yang konon telah berdiri sejak tahun 1700-an — serta Klenteng Hok Liong Kiong. Ketiganya menjadi bukti bahwa selain dikenal sebagai kota santri dengan wisata religi Islam seperti Makam Gus Dur dan Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari, Jombang juga memiliki keberagaman tempat ibadah lintas agama, termasuk gereja-gereja tua peninggalan zaman kolonial di Mojowarno dan Bongsorejo.

Keberadaan komunitas Tionghoa yang membangun klenteng-klenteng ini juga sejalan dengan catatan sejarah panjang Kabupaten Jombang, di mana etnis Tionghoa telah berkembang di wilayah ini sejak masa kolonial Hindia Belanda.

Bagi wisatawan yang tertarik menjelajahi wisata religi Jombang secara lebih luas, Pemerintah Kabupaten Jombang bahkan telah meluncurkan program Interkoneksi Wisata Religi Edukatif yang bertujuan menghubungkan nilai sejarah, budaya, dan keagamaan di berbagai titik penting Kabupaten Jombang, sehingga wisatawan lebih mudah mengakses informasi seputar tokoh, tempat bersejarah, hingga rumah ibadah lintas agama di daerah ini.

Untuk melengkapi penjelajahan wisata religi lintas agama, perjalanan bisa dilanjutkan ke [Klenteng Gudo], klenteng tertua di Jombang yang menyimpan sejarah lebih panjang, [Klenteng Hok Liong Kiong] di pusat Kota Jombang, atau mengunjungi Ringin Contong, ikon Kota Jombang yang menjadi titik nol filosofis kabupaten ini.

Sabtu, 26 September 2026

Mimin

Legenda Kebokicak, Cerita Rakyat Jombang

Bagi masyarakat Jombang, nama Kebokicak bukanlah hal asing. Ini adalah salah satu cerita rakyat yang hidup dari mulut ke mulut, diwariskan lewat ingatan orang-orang tua kepada generasi berikutnya. Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan naskah kuno tertulis yang bisa dijadikan rujukan resmi atas kisah ini. Semua yang kita kenal sekarang berasal dari tuturan lisan, sehingga sulit dipastikan mana versi yang paling asli.

Karena statusnya yang berada di antara dongeng dan sejarah, cerita Kebokicak sebaiknya dilihat bukan sebagai fakta mutlak, melainkan sebagai warisan budaya lisan yang berfungsi menjelaskan asal-usul suatu tempat sekaligus menjadi hiburan turun-temurun.


Upaya Mendokumentasikan Cerita yang Nyaris Hilang

Pada tahun 2007, sekelompok mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang melakukan riset lapangan dengan mendatangi berbagai narasumber di pelosok Jombang. Hasil penelusuran mereka kemudian dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).

Buku itu memuat 13 versi cerita yang berbeda-beda, masing-masing dituturkan oleh tokoh masyarakat, seniman ketoprak, dalang, hingga sesepuh desa dari berbagai kecamatan di Jombang mulai dari Tembelang, Peterongan, Kesamben, Bandar Kedung Mulyo, Gudo, Ngoro, hingga Jombang kota. Setiap narasumber mempunyai versi ceritanya sendiri, dengan tokoh, alur, dan detail yang kadang mirip, kadang jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada satu versi pun yang bisa diklaim sebagai versi "resmi" atau paling benar.

Penelitian akademis lain, seperti skripsi Puspita Indriani dari Unesa (2003), membagi cerita Kebokicak menjadi dua kelompok besar: versi abangan yang berlatar murni kerajaan Majapahit pada masa Raja Brawijaya V, dan versi santri yang tetap memakai latar waktu sama namun memasukkan unsur pesantren di kawasan yang kini dikenal sebagai Tebuireng.

Silsilah dalam Versi Santri

Salah satu versi santri yang cukup detail datang dari penuturan Kiai Hafidz asal Dapur Kejambon. Menurut kisah ini, ada tokoh bernama Ki Nur Khotib yang menikahi Wandan Manguri, putri dari Demang Kebokicak. Wandan Manguri sendiri disebut sebagai cucu Brawijaya V dari jalur Wandan Kuning, salah satu istri sang raja.

Dikisahkan, Wandan Kuning memiliki dua anak yaitu Raden Bondan Kejawan (Lembu Peteng) dan Wandan Wangi. Wandan Wangi kemudian diasuh oleh Mbah Pranggan di Karang Kejambon dan setelah dewasa dinikahkan dengan Kebokicak  menjadikan Kebokicak sebagai menantu Brawijaya V secara tidak langsung.

Silsilah ini berlanjut panjang melalui garis keturunan Ki Nur Khotib, yang kemudian melahirkan beberapa tokoh agama di kawasan Pasuruan dan Jombang, hingga akhirnya sampai pada Kiai Farhan, yang disebut sebagai kakek dari Kiai Hafidz sendiri.

Kebokicak di Panggung Ludruk

Selain dituturkan sebagai legenda lisan, kisah Kebokicak juga pernah diangkat ke panggung kesenian ludruk pada era 1970-an, salah satunya oleh seniman ludruk asal Jombang bernama Ngaidi Wibowo. Ia menuliskan naskah lakon ini menjadi 31 adegan berbahasa Jawa khas Jombangan, sebuah hal yang cukup langka mengingat banyak seniman ludruk saat itu tidak terbiasa menulis naskah secara formal.

Menariknya, ada kepercayaan di kalangan pemain ludruk bahwa pementasan lakon Kebokicak harus disertai sesajen tertentu. Jika syarat itu diabaikan, konon pertunjukan bisa kacau  bahkan ada cerita tentang pemain atau penonton yang kerasukan saat lakon ini dipentaskan tanpa ritual yang semestinya.

Secara umum, inti cerita dalam versi ludruk ini menceritakan konflik antara Kebokicak dan Surontanu yang memperebutkan seekor banteng sakti bernama Banteng Tracak Kencana  hewan yang konon bisa berbicara dan dirasuki dua sosok siluman. Perebutan itu berawal dari wabah penyakit yang melanda sebuah padepokan, di mana satu-satunya solusi menurut wangsit yang diterima gurunya adalah mengorbankan hewan berbulu putih sebagai tumbal.

Jejak Pengejaran yang Menjadi Nama Kampung

Bagian paling terkenal dari legenda ini adalah kisah pengejaran panjang Kebokicak terhadap Surontanu yang melarikan diri sambil membawa Banteng Tracak Kencana. Menariknya, hampir setiap lokasi yang dilalui dalam pengejaran itu dipercaya menjadi cikal bakal nama-nama desa yang masih ada hingga sekarang di wilayah Jombang. Berikut beberapa di antaranya, disarikan secara singkat:

- Parimono - konon berasal dari kejadian padi (pari) yang rusak diterjang saat pengejaran berlangsung.
- Mojosongo - tempat pertarungan yang menewaskan sembilan prajurit pengawal Kebokicak di sekitar pepohonan maja.
- Jombang - dipercaya berasal dari cahaya hijau dan merah yang muncul saat pertarungan sengit di sebuah kolam.
- Ringincontong - dinamai dari pohon beringin raksasa tempat Kebokicak mengerahkan kesaktiannya melawan Surontanu.
- Sumber Nangka, Bantengan, Tebu Ireng, Balung Biru - masing-masing memiliki cerita asal-usul yang berkaitan dengan persembunyian atau pertarungan dalam perjalanan pengejaran itu.
- Randuwatang- konon berasal dari kejadian warga yang menggoyangkan jasad kedua tokoh dengan ranting pohon randu untuk memastikan mereka benar-benar telah tewas.

Masih banyak nama desa lain yang disebut lahir dari kisah pengejaran ini, masing-masing dengan cerita kecil yang berbeda tergantung siapa yang menuturkannya.

Beragam Versi, Beragam Tafsir

Menariknya, tidak semua versi cerita ini sejalan satu sama lain. Ada versi yang menyebut Kebokicak berasal dari Tulungagung dan dikutuk ibunya menjadi berkepala kerbau karena membangkang. Ada pula versi lain yang mengaitkan asal mula kutukan itu dengan kemarahan seorang selir kerajaan yang menyaksikan dua pemuda berlatih silat secara kasar hingga disamakan dengan kelakuan kerbau.

Beberapa versi bahkan terkesan tidak sinkron secara sejarah — misalnya ada yang menempatkan tokoh Surontanu hidup pada masa penjajahan Belanda, padahal latar besar cerita ini semestinya berada di era Majapahit. Perbedaan semacam ini menunjukkan bagaimana cerita rakyat memang bisa berubah dan berkembang mengikuti siapa yang menceritakannya, kapan, dan dalam konteks apa.

Menyikapi Legenda sebagai Warisan Budaya

Melihat banyaknya versi dan perbedaan detail dalam kisah Kebokicak, ada baiknya cerita ini didekati sebagai kekayaan tradisi lisan, bukan sebagai catatan sejarah yang baku. Ketertarikan sebagian orang untuk mengaitkannya secara langsung dengan asal-usul nama Jombang memang menarik, tapi tetap memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam dan berbasis bukti, bukan semata bersandar pada legenda turun-temurun.

Terlepas dari itu, keberadaan cerita Kebokicak dengan segala variasinya tetap menjadi bukti betapa kayanya tradisi bertutur masyarakat Jombang, sekaligus pengingat pentingnya upaya pendokumentasian budaya lisan sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.

Jumat, 18 September 2026

Mimin

Cerita Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang

Halo dulur Jombang!. Tahukah kamu di ujung utara-timur wilayah Kabupaten Jombang, berbatasan langsung dengan aliran deras Sungai Brantas dan kaki Pegunungan Kendeng, terhampar sebuah desa yang menyimpan legenda panjang sejak era keruntuhan Majapahit. Desa Kudubanjar, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kudu, bukan sekadar wilayah agraris biasa. Nama desa ini menyimpan kisah pelarian seorang pasukan kerajaan, sementara jejak fisiknya masih bisa disaksikan hingga hari ini melalui sejumlah petilasan yang tetap dijaga warga setempat.

Pendopo Desa Kudubanjar

source image : https://kudubanjar-kudu.jombangkab.go.id/ 


Legenda di Balik Sebuah Nama

Konon, nama Kudubanjar lahir dari peristiwa besar yang mengguncang tanah Jawa pada penghujung era Majapahit. Ketika Kerajaan Demak Bintoro di bawah Raden Patah mulai menggerakkan pasukan untuk menyerang pusat Kerajaan Majapahit, seorang panglima bernama Rakai Banjar diperintahkan menghadang laju pasukan lawan. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke arah utara, menyeberangi Sungai Brantas, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan tanaman mengkudu. Di titik itulah Rakai Banjar mendirikan pesanggrahan, sembari menduga rute tersebut akan dilalui pasukan Demak.

Perkiraannya meleset. Pasukan Raden Patah justru mengambil jalur barat menuju Kerajaan Kediri sebelum berbelok ke timur menyerbu Majapahit dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, hingga akhirnya meruntuhkan kejayaan Majapahit. Menyadari kerajaannya telah tumbang, Rakai Banjar memilih tidak kembali. Ia bersama pasukannya menetap di kawasan hutan mengkudu tersebut, menjalani hidup sebagai pertapa dengan gelar Eyang Djenggot.

Sepeninggal Eyang Djenggot, tempat pertapaan itu diberi nama sesuai dua unsur yang melekat padanya: "Kudu", diambil dari hutan mengkudu tempat ia bersembunyi, dan "Banjar", dari nama belakang sang panglima. Perpaduan dua kata itulah yang hingga kini dikenal sebagai Kudubanjar. Sementara itu, tercatat pula bahwa kepala desa pertama yang memimpin wilayah ini bernama Mertoprawiro, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama desa.


Jejak Petilasan yang Masih Terjaga

Kisah masa lampau itu bukan sekadar cerita turun-temurun tanpa bukti. Hingga sekarang, warga Kudubanjar masih menjaga sejumlah petilasan yang dipercaya berkaitan langsung dengan riwayat Rakai Banjar. Salah satunya adalah Sumur Bumbung, sebuah lokasi yang dahulu dikenal angker karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti beringin. Kini kawasan tersebut telah ditata lebih rapi, meski sebagian warga yang masih memegang kepercayaan lama tetap menjadikannya tempat ritual tolak bala.

Foto Kentongan Perkiraan tahun 2015
source image : https://nilaenggal01.blogspot.com

 

Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa kentongan tua yang usianya ditaksir puluhan tahun. Terbuat dari kayu pilihan yang tahan lapuk, kentongan ini dahulu menjadi alat komunikasi utama warga desa, digunakan untuk menandai berbagai peristiwa penting mulai dari ajakan berkumpul hingga tanda bahaya seperti pencurian atau kebakaran.

 

Monumen Sejarah yang Menyimpan Dua Kisah

 

Tugu Nasional : juga dipakai nama Jalan.
nama lain : Tugu rudal, Tugu bibir (lipstik)

Di persimpangan jalan desa, berdiri sebuah monumen yang oleh warga sekitar kerap disebut Tugu Nasional, namun lebih populer dikenal luas sebagai Tugu Peluru Kudubanjar. Bangunan yang menjulang sekitar tujuh meter ini dibangun sekitar tahun 1951 dan dikenang sebagai penanda perjuangan rakyat bersama Tentara Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung antara 1947 hingga 1949. Pertempuran sengit yang terjadi di wilayah utara Sungai Brantas tersebut hidup secara turun-temurun dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, sebagaimana pernah disampaikan langsung oleh kepala desa setempat kepada media. Bangunan bekas kantor onderdistrik pada masa itu bahkan kini beralih fungsi menjadi Kantor Kecamatan Kudu.

Menariknya, di kalangan warga turut beredar versi cerita lain mengenai asal-usul tugu tersebut, yang mengaitkannya dengan penanda pemakaman massal pada peristiwa kelam pergolakan politik nasional era 1960-an. Kedua versi cerita ini sama-sama hidup dalam ingatan masyarakat, mencerminkan bagaimana satu monumen bisa menyimpan lapisan sejarah yang berbeda tergantung dari sudut mana ia dikisahkan.

Wilayah Subur di Antara Dua Kecamatan

Secara geografis, Kudubanjar berbatasan dengan Desa Sumbernongko di utara, sejumlah desa di Kecamatan Ngusikan seperti Mernung, Simowau, Kemuning, dan Ketapang Kuning di sisi timur, Desa Menturus di selatan, serta Desa Sumberteguh di sisi barat. Dengan luas wilayah sekitar 2,53 kilometer persegi, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Kudu, Ketapang Lor, Banjarejo, dan Ketapang Kidul, yang tersebar dalam sepuluh Rukun Warga dan dua puluh enam Rukun Tetangga. Dusun Kudu tercatat sebagai wilayah dengan penduduk dan luas terbesar, sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Kesuburan tanah di kawasan ini tidak lepas dari pengaruh aliran Sungai Brantas yang membawa material vulkanik dari letusan Gunung Kelud di masa lampau. Kombinasi tersebut menjadikan lahan pertanian di Kudubanjar cocok untuk budi daya tebu, padi, dan jagung, sementara sektor peternakan warga didominasi oleh sapi, kambing, dan ayam.

Denyut Perekonomian dan Tradisi Sedekah Bumi

Sebagai desa agraris, roda perekonomian Kudubanjar banyak digerakkan oleh sektor pertanian dan usaha mikro warga. Pemerintah desa setempat diketahui aktif memanfaatkan momentum tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar masyarakat Jawa, sebagai ajang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di lingkungan desa. Melalui perhelatan tahunan tersebut, produk-produk UMKM lokal mendapat ruang promosi sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi warga yang turut merayakan tradisi.

Tantangan Infrastruktur yang Terus Diupayakan

Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, Kudubanjar juga menghadapi sejumlah tantangan infrastruktur, terutama terkait akses jembatan penghubung. Jembatan di Dusun Banjarejo, yang menjadi jalur utama warga menuju Desa Sumbernongko dan Sumberteguh di Kecamatan Ngusikan, sempat putus total sejak akhir 2019 akibat derasnya arus sungai dan penumpukan enceng gondok. Warga sempat berswadaya membangun jembatan darurat sepanjang dua puluh tujuh meter yang hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, demi menjaga akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan tetap berjalan.

Persoalan ini menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati Jombang bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan tersebut pada akhir 2025, disusul kunjungan Bupati Jombang menjelang pergantian tahun untuk memastikan rencana pembangunan jembatan permanen segera terealisasi, setelah sebelumnya proses lelang proyek sempat mengalami kegagalan berulang kali. Selain isu jembatan, desa ini juga tercatat pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Marmoyo yang turut melanda sejumlah desa tetangga di Kecamatan Kudu, mendorong penanganan cepat dari perangkat kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Menjaga Warisan di Tengah Perkembangan Zaman

Perjalanan panjang Desa Kudubanjar, dari legenda pelarian seorang panglima Majapahit hingga tantangan pembangunan infrastruktur modern, menggambarkan bagaimana sebuah desa kecil mampu menyimpan lapisan sejarah yang kaya sekaligus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Petilasan yang masih berdiri, cerita yang terus dituturkan dari generasi ke generasi, serta upaya pembangunan yang terus berjalan, menjadikan Kudubanjar sebagai potret kecil dari perjalanan panjang tanah Jombang secara keseluruhan.


Referensi: Portal Jombang Kecamatan Kudu (kudu.jombangkab.go.id), Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Sudutkota.id, Wikipedia Bahasa Indonesia, dan Jombang Banget/Jawa Pos.

Selasa, 08 September 2026

Mimin

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Di jantung Kabupaten Jombang, berdiri sebuah bangunan ibadah yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Masjid Agung Baitul Mukminin yang berada disebelah barat Alun-alun Jombang , demikian namanya, telah lama menjadi kebanggaan warga Jombang sekaligus penanda identitas keislaman yang kuat di wilayah ini.

 


Sejarah Berdirinya

Keberadaan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki keterkaitan erat dengan tonggak sejarah pemerintahan Kabupaten Jombang. Bangunan ibadah ini berdiri hampir bersamaan dengan momentum ketika Jombang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto dan berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 1910. Selain berkaitan dengan sejarah kelembagaan pemerintahan, pendirian masjid ini juga disebut memiliki hubungan dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang serta Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, yang menggambarkan bagaimana beberapa bangunan penting di Jombang tumbuh dalam satu rangkaian masa yang sama.

 

Seiring berjalannya waktu, wajah masjid ini terus mengalami penyesuaian. Bangunan yang semula memiliki ruang utama berbentuk persegi dengan ukuran relatif sempit, namun dilengkapi serambi yang luas, kini tampil dengan proporsi yang berbeda. Perubahan besar terjadi pada dekade 2010-an, ditandai dengan peletakan tiang pertama pembangunan pada Februari 2010 yang digagas langsung oleh pemerintah daerah setempat. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid secara signifikan, dengan ruang utama yang dibuat lebih luas dan berbentuk persegi, sementara bagian serambi justru dipersempit dibandingkan desain sebelumnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga disebut memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar kelahiran Jombang. Fakta ini semakin memperkuat kedudukan Masjid Agung Baitul Mukminin sebagai bagian dari mata rantai sejarah keislaman di tanah air.

 

Lokasi dan Posisi Strategis

Masjid Agung Baitul Mukminin berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 28, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Letaknya berada persis di kawasan alun-alun kota, tepatnya di sisi barat, berseberangan langsung dengan Pendopo dan Kantor Bupati Jombang yang berada di sisi timur alun-alun. Sementara itu, di sisi selatan kawasan yang sama, berdiri Stasiun Kereta Api Jombang.

 

Susunan tata letak semacam ini bukan tanpa alasan. Pola penempatan masjid, pendopo, dan alun-alun dalam satu kawasan mencerminkan konsep tata kota tradisional yang lazim ditemukan di berbagai kabupaten di Jawa, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan sengaja diposisikan berdekatan sebagai simbol keterpaduan antara kekuasaan duniawi dan nilai spiritual.

 

Posisinya yang berseberangan dengan stasiun turut memberikan nilai tambah tersendiri. Kedekatan ini menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan yang mudah dijangkau, baik oleh musafir yang baru tiba maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dari Jombang. Tidak sedikit pula peziarah dari luar daerah yang singgah di masjid ini, mengingat Jombang juga dikenal sebagai kota tujuan wisata religi, khususnya bagi mereka yang berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kawasan Tebuireng.

 

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Islam

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Baitul Mukminin terletak pada gaya arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Jawa dengan nuansa keislaman ala Timur Tengah. Perpaduan ini terlihat jelas melalui elemen bangunan seperti struktur joglo, aneka ukiran khas, hingga ornamen bermotif batik Jawa yang menghiasi berbagai sudut masjid.

 

Kini, bangunan masjid terdiri atas dua lantai dengan tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan desain awalnya. Kombinasi arsitektur tersebut bukan sekadar unsur estetika, melainkan juga cerminan kearifan lokal yang berusaha menghadirkan keagungan nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan akar budaya setempat. Pendekatan semacam ini menjadikan Masjid Agung Baitul Mukminin memiliki karakter visual yang khas, berbeda dari masjid-masjid agung di daerah lain yang umumnya lebih dominan mengusung gaya Timur Tengah tanpa sentuhan lokal.

 

Pusat Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Sebagai masjid agung kabupaten, Baitul Mukminin memegang peran sentral dalam berbagai kegiatan keagamaan skala besar. Pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha setiap tahun rutin dipusatkan di kawasan ini, dihadiri oleh Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, hingga ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jombang. Tidak jarang, rombongan pejabat daerah memilih berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju masjid sebagai bagian dari tradisi menyambut hari raya.

 

Selain perayaan hari besar, masjid ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian umum dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam kalender Islam, seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya melibatkan penceramah dari kalangan ulama ternama, baik dari Jombang maupun daerah lain, serta diikuti oleh masyarakat lintas kalangan.

 

Pengelolaan masjid berada di bawah kepengurusan takmir yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan diperbarui secara berkala setiap beberapa tahun. Struktur kepengurusan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kemakmuran dan kemasyarakatan, pendidikan, manajemen dan usaha, hingga pemeliharaan bangunan. Pembagian tugas semacam ini memastikan berbagai aspek pengelolaan masjid, baik dari sisi ibadah maupun pemeliharaan fisik, dapat berjalan secara terorganisasi.

 

Ikon Kebanggaan Kota Santri

Bagi masyarakat Jombang, Masjid Agung Baitul Mukminin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga representasi identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Santri. Julukan tersebut tidak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pesantren besar, sekaligus tanah kelahiran tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.

 

Keberadaan masjid yang megah dan strategis ini turut memperkuat citra tersebut, sekaligus menjadi ruang pemersatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan. Dengan sejarah yang berakar sejak awal abad ke-20 dan terus mengalami pembaruan hingga saat ini, Masjid Agung Baitul Mukminin diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Islam yang relevan bagi generasi Jombang masa kini maupun mendatang.

 


Referensi: Pemerintah Kabupaten Jombang (jombangkab.go.id), Radar Jombang, KabarJombang.com, Portal Jombang, dan ERAKINI.ID.

Mimin

Mengenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nama Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953 ini merupakan figur unik yang sulit dimasukkan ke dalam satu wadah profesi tertentu. Publik mengenalnya dalam beragam identitas: budayawan, penyair, sastrawan, humoris, hingga kiai tanpa sorban. Bagi KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Cak Nun adalah sosok "nurani bangsa" yang jiwanya terbebas dari sekat-sekat institusi maupun formalitas gelar.

Kritik Kritis dan Keberpihakan pada Rakyat Kecil

Cak Nun dikenal lewat pandangan-pandangannya yang tajam dan tak jarang menghentak publik. Ia tidak ragu melontarkan kritik sosial kepada siapa saja demi meluruskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Mulai dari keprihatinannya terhadap fenomena eksploitasi anak dalam ajang bakat, hingga kritik terhadap pola pengasuhan modern yang mengabaikan peran alami seorang ibu.
 
Meski memiliki daya analisis yang sangat tajam hingga dikagumi para akademisi dan profesor, Cak Nun tetap memilih berada di akar rumput. Rumah dan ruang diskusinya selalu terbuka bagi siapa saja:

  • Pengamen jalanan, tukang becak, hingga masyarakat miskin kota.

  • Masalah warga dari persoalan keluarga, konflik hukum, penggusuran tanah, hingga sekadar mencari ketenangan jiwa.

Dalam merespons berbagai krisis hidup rakyat kecil, ia kerap menyampaikan pesan penyejuk dengan bahasa yang sederhana namun menghujat kesombongan logis: “Gak usah mikir sing macem-macem, sing penting bojo waras, sampeyan budal turu weteng wareg, besok tangi kerja maneh.”

Perjalanan Hidup dan Melampaui Sekat Formalitas

Cak Nun merupakan putra keempat dari 15 bersaudara pasangan MA Latifin dan istrinya. Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang dan Yogyakarta. Ia sempat mengecap kehidupan pesantren di Pondok Modern Gontor Ponorogo sebelum akhirnya dikeluarkan akibat memimpin aksi protes siswa. Setelah menamatkan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, ia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) meski hanya bertahan setengah semester.

Pilihan keluar dari pendidikan formal justru dipandang oleh budayawan Ashadi Siregar sebagai berkah. Cak Nun mengalami proses pembebasan diri dari belenggu institusi. Ia tidak memilih aman di dalam "tempurung" sekularisme akademis maupun dogma sempit, melainkan bertransformasi menjadi institusi nilai independen yang bergerak atas dasar otentisitas karya dan ketulusan nurani.

Langkah Kesenian dan Rekam Karya

Perjalanan estetik Cak Nun ditempa saat menggelandang di kawasan Malioboro, Yogyakarta (1970–1975), berguru langsung pada sufi eksentrik Umbu Landu Paranggi. Dari sanalah karier literasi dan teaternya merekah:

  • Karier Media & Teater: Mengawali kiprah sebagai pengasuh ruang sastra dan redaktur harian Masa Kini, kemudian mendirikan Teater Dinasti bersama rekan-rekannya di Bugisan, Yogyakarta.

  • Karya Naskah Drama: Menghasilkan lakon-lakon monumental bernuansa kritik sosial dan politik, seperti Geger Wong Ngoyak Macan (1989), Patung Kekasih (1989), Lautan Jilbab (1990), Santri-santri Khidhir (1990), dan Perahu Retak (1992).

  • Kumpulan Puisi & Esai: Melahirkan puluhan antologi puisi legendaris seperti 99 Untuk Tuhanku (1983), Suluk Pesisir (1989), dan Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Di samping itu, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku esai populer, di antaranya Slilit Sang Kiai (1991), Markesot Bertutur (1993), dan 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998).

Prinsip Pelayanan dan Pandangan Pluralisme

Sejak akhir 1990-an hingga kini, Cak Nun berkeliling ke berbagai pelosok nusantara bersama grup musik etno-kontemporer Kiai Kanjeng. Bersama Komunitas Masyarakat Padangmbulan, ia secara rutin menggelar ruang dialog publik outdoor yang menyedot ribuan jamaah dari pelbagai latar belakang.

Bagi Cak Nun, aktivitas manggung dan berdialog di lapangan-lapangan terbuka bukanlah panggung pencarian popularitas atau arena dakwah verbal belaka, melainkan sebuah bentuk pelayanan kultural.

Konsep KunciPemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Makna DakwahDakwah sejati bukan sekadar kata-kata di atas mimbar, melainkan wujud nyata dari perilaku dan kebaikan hidup sehari-hari.
Bentuk PelayananMenjadikan seni dan dialog sebagai media ibadah horizontal (hablum minannas) untuk menumbuhkan potensi rakyat.
PluralismeIndonesia pada dasarnya sudah plural sejak zaman Majapahit. Keberagaman adalah karakter alami bangsa yang tidak perlu dipertentangkan.
Melalui keindahan aransemen gamelan Kiai Kanjeng dan kedalaman wawasannya, Cak Nun terus menjadi jembatan dialog lintas iman dan golongan—sebuah bukti nyata keberadaan sosok manusia merdeka yang mengabdikan seluruh karya hidupnya untuk rakyat dan Kemanusiaan.

Sabtu, 05 September 2026

Mimin

Unik! Gunungan Tahu di Jombang Ini Dibentuk Jadi Ikon Masjid Agung hingga Ringin Contong

Siang itu, Jumat (4/9/2026), Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, tak seperti biasanya. Jalanan yang biasa lengang oleh aktivitas warga mendadak dipadati lautan manusia. Semuanya menatap ke satu arah: iring-iringan mobil pawai yang membawa gunungan tahu setinggi orang dewasa, berjalan pelan menyusuri jalan desa layaknya prosesi kemenangan panen.

Inilah Grebeg Tahu, tradisi tahunan yang digelar bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sekaligus Hari Ulang Tahun ke-62 Jam'iyah Mahabbaturrosul (JMR). Dua momentum yang melebur jadi satu perayaan besar, membuat suasana Sumbermulyo siang itu terasa berlipat semarak.

Tak kurang dari 14 mobil pawai ambil bagian, masing-masing membawa gunungan tahu dengan bentuk yang tak sekadar tumpukan biasa. Ada yang disusun menyerupai Ringin Contong, ikon legendaris pusat Kota Jombang. Ada pula yang dibentuk menjadi replika Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten seolah desa kecil ini ingin menghadirkan wajah Jombang dalam wujud tahu putih yang legit.

Begitu barisan pawai tiba di titik acara, suasana berubah riuh. Warga yang sejak awal menunggu tak sabar langsung menyerbu gunungan, berebut tahu yang sudah menjadi berkah sekaligus simbol kebersamaan. Tak ada yang canggung untuk saling dorong demi mendapatkan bagian  bagi mereka, ini bukan sekadar makanan, melainkan doa dan harapan yang dibawa pulang.

Di balik kemeriahan itu, ada cerita panjang tentang denyut ekonomi warga. Sumbermulyo dikenal sebagai salah satu sentra pengusaha tahu di Jogoroto, tempat aroma kedelai rebus dan asap perapian sudah menjadi bagian dari keseharian penduduk turun-temurun. Grebeg Tahu, dengan segala hingar-bingarnya, sejatinya adalah panggung untuk memperkenalkan hasil jerih payah para perajin itu kepada dunia yang lebih luas.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Jam'iyah Mahabbaturrosul Gus Aunur Rokhim, Sekretaris Daerah Agus Purnomo, S.H., M.Si., beserta jajaran Asisten, Staf Ahli, dan Kepala OPD terkait, Camat dan Forkopimcam Jogoroto, serta jajaran Pemerintah Desa dan BPD setempat  menandakan bahwa tradisi rakyat ini turut mendapat perhatian dari berbagai lapisan.

Yang menarik, geliat UMKM tahu di Sumbermulyo kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada cara-cara konvensional. Di tengah derasnya arus media sosial, para pelaku usaha didorong untuk merangkul dunia digital sebagai kanal promosi, tanpa mengorbankan mutu produk yang selama ini menjadi identitas mereka. Sebab viral tanpa kualitas, kata banyak pihak, hanya akan jadi euforia sesaat.

Ketika sore mulai turun dan gunungan tahu telah ludes dibawa pulang warga, Grebeg Tahu 2026 menyisakan lebih dari sekadar keramaian. Ia menjadi pengingat bahwa dari sepetak desa bernama Sumbermulyo, sebuah tradisi sederhana mampu merajut rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan ekonomi yang lebih besar  satu potong tahu demi satu potong tahu.

Kamis, 03 September 2026

Mimin

Mengenal Kesenian Jaran Dor Khas Jombang

Jaran Dor merupakan seni pertunjukan Kuda Lumping khas Jombang yang mengakar sejak era kolonial Belanda. Pertunjukan ini pertama kali dipelopori oleh kelompok kesenian asal Desa Kemambang, Kecamatan Diwek, pada tahun 1925 dengan kekuatan 14 personil. Identitas paling menonjol dari kesenian ini terletak pada instrumen perkusi utamanya, yaitu jidor. Dentuman mantap dari jidor yang berbunyi "dor" menjadi alasan kuat di balik penamaan seni rupa pertunjukan ini.

Secara tradisional, irama Jaran Dor bertumpu pada gabungan instrumen sederhana tanpa lantunan lagu formal. Perangkat pengiring aslinya terdiri dari jidor, kendang, dan sepasang kimplung (tiga tabung perkusi beda ukuran; tabung besar dinamai thong, sedangkan yang kecil dinamai ketipung). Seiring pergeseran zaman, perangkat musiknya kian berkembang dengan penambahan instrumen gamelan seperti gong peking, saron, ketuk, dan kenong, hingga adopsi alat musik modern seperti keyboard, drum, dan simbal untuk mengakomodasi lagu-lagu dangdut serta campursari.
 

Alur pementasan Jaran Dor disajikan secara berurutan lewat lima babak tarian. Pertunjukan dibuka dengan Tari Bapangan atau Tari Pentulan yang membawakan karakter bermasker dengan hidung besar, mata bulat, serta aksesoris kumis dan alis dari bulu ekor sapi. Setelah itu dilanjutkan dengan Tari Jaranan khas Jombang yang karakter geraknya cenderung bebas, intuitif, dan sarat pengaruh ilmu pencak silat karena sebagian besar penarinya berlatar belakang pendekar. Babak berikutnya diselingi dengan Tari Topeng atau Tari Humor sebagai penyegar, kemudian Tari Jepaplok yang menampilkan figur kepala naga kayu berengsel dengan ritme bunyi "plok-plok", lalu ditutup secara meriah oleh Tari Bantengan.

Karakter visual dan busana penari Jaran Dor juga memiliki keunikan tersendiri dibanding jaranan daerah lain seperti Semboyo. Ekor kuda lumping pada Jaran Dor berbentuk melengkung dan penarinya tampil tanpa gongseng atau kerincingan kaki. Busana klasiknya memadukan kaos garis horizontal warna merah-putih atau merah-hitam, luaran lengan panjang hitam, celana pendek bergaris merah, kopiah, dan sarung yang diikatkan di pinggang. Penarinya juga kerap membawa panthek, yaitu sebilah potongan bambu sepanjang satu meter, atau pecut cambuk.

Puncak estetika dan kekhusyukan pertunjukan Jaran Dor bermuara pada peran Tukang Gambuh atau pawang. Sebelum pementasan dimulai, pawang yang memiliki keahlian bela diri dan telah menjalani ritual tirakat akan membakar kemenyan di perapen untuk memohon keselamatan serta mengundang roh pelindung. Pawang bertugas mendampingi penari dan memegang kendali penuh atas keselamatan penari maupun penonton, terutama saat penari memasuki fase kesurupan atau ndadi.

Dalam kondisi ndadi, penari akan bergerak menuruti perintah pawang dan menyantap sajian khas seperti dedak, bunga, rumput, atau pisang. Aksi ekstrem seperti mengunyah pecahan kaca beling biasanya hanya disajikan apabila terdapat permintaan khusus dari penanggap acara. Keberhasilan prosesi mistis ini sangat bergantung pada kelengkapan sesaji yang disiapkan, mulai dari tikar pandan baru, sisir, kipas, beras kuning, pisang setangkep, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, hingga bumbu-bumbu dapur.

Rabu, 02 September 2026

Mimin

Tentang Alun-Alun Jombang

 

Bagi masyarakat Kabupaten Jombang, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka di tengah kota. Tempat ini juga menyimpan jejak sejarah panjang, menjadi saksi perjalanan pemerintahan, sekaligus berfungsi sebagai ruang publik yang terus dimanfaatkan warga hingga hari ini. Artikel berikut mengulas asal-usul, perjalanan revitalisasi, serta peran Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kota Santri.

 

Asal-Usul dan Makna Alun-Alun

Kata "alun-alun" berasal dari bahasa Jawa "aloen-aloen", yang merujuk pada lapangan luas berumput yang dikelilingi jalan dan digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Konsep ini lazim ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, biasanya terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kediaman penguasa daerah.

 

Alun-Alun Jombang sendiri diyakini telah ada sejak masa kerajaan, jauh sebelum masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ketika hendak menghadap bupati atau raja, sekaligus lokasi latihan bagi prajurit kerajaan. Fungsi tersebut menempatkan alun-alun sebagai ruang yang erat kaitannya dengan pusat kekuasaan, sebagaimana pola yang juga terlihat pada alun-alun di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Malang.

 

Dalam catatan sejarah lokal, kawasan ini turut menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada periode revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949. Bersama sejumlah bangunan bersejarah lain di Jombang, alun-alun disebut sebagai salah satu titik penting yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan rakyat Jombang melawan penjajah.

 

Lokasi Strategis di Jantung Kota

Secara administratif, Alun-Alun Jombang berada di kawasan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, tepatnya di sekitar Jalan Diponegoro. Posisinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Baitul Mukminin, Pendopo Kabupaten, serta sejumlah kantor pemerintahan menjadikan kawasan ini sebagai pusat orientasi kota. Letak yang berada di jantung Jombang membuat alun-alun mudah diakses oleh warga dari berbagai penjuru, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang publik utama di kabupaten ini.

 

Perjalanan Revitalisasi

Sebelum mengalami pembenahan besar, kondisi Alun-Alun Jombang sempat dipandang kurang layak untuk menjadi wajah kota. Rencana penataan ulang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2020, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

 

Barulah pada tahun 2021, proyek revitalisasi resmi dijalankan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Jombang. Pekerjaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor pemenang tender, dengan penandatanganan kontrak dilakukan pada akhir Agustus 2021. Peletakan batu pertama turut menandai dimulainya proses pembangunan yang digagas dengan konsep ramah anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjadikan Jombang sebagai kota yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan religi yang melekat pada alun-alun.

 

Proses pembangunan tersebut rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Jombang pada awal tahun 2022, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Sejak saat itu, Alun-Alun Jombang tampil dengan wajah baru: lebih tertata, dilengkapi ruang terbuka hijau, serta berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern.

 

Salah satu pertimbangan menarik dalam desain baru ini adalah orientasi kegiatan upacara. Mengingat posisi alun-alun yang berdampingan dengan masjid, arah pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar pemimpin upacara menghadap ke utara, sementara peserta menghadap ke selatan, sehingga kegiatan tidak membelakangi bangunan masjid.

 

Fasilitas dan Fungsi Sosial

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Jombang berkembang menjadi ruang multifungsi. Area barat alun-alun dipersiapkan sebagai jalur pedestrian lebar yang dilengkapi payung hidrolis, sehingga dapat menampung jamaah saat pelaksanaan salat berjamaah pada hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, tersedia pula area bermain anak atau playground yang menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga yang berkunjung.

 

Fungsi alun-alun kini jauh lebih beragam dibandingkan masa sebelumnya. Kawasan ini rutin digunakan untuk kegiatan olahraga, bersepeda, hingga sekadar bersantai bersama keluarga pada sore maupun malam hari. Di sisi lain, alun-alun juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara besar pemerintah daerah, seperti perayaan hari jadi kabupaten maupun festival tahunan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.

 

Keberadaan pedagang kaki lima di sekitar kawasan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah menata ulang zona berjualan dan menyediakan sentra kuliner khusus di luar area alun-alun, sehingga suasana di sekitar lapangan tetap tertib dan nyaman dikunjungi.

 

Alun-Alun sebagai Identitas Kota

Lebih dari sekadar taman kota, Alun-Alun Jombang mengemban nilai historis yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Kawasan ini dianggap penting untuk dilestarikan, bukan hanya karena fungsinya sebagai ruang terbuka, tetapi juga karena nilai budaya yang terus dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan adat dan sosial.

 

Pemeliharaan fasilitas di kawasan ini pun menjadi perhatian rutin pemerintah daerah, mulai dari perbaikan penerangan hingga pengelolaan ruang terbuka hijau, guna memastikan alun-alun tetap nyaman digunakan sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari.

 

Penutup

Perjalanan Alun-Alun Jombang, dari lapangan sederhana peninggalan masa kerajaan hingga menjadi ruang publik modern yang multifungsi, mencerminkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat terus relevan mengikuti perkembangan zaman. Bagi warga Jombang, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga simbol kebersamaan dan kebanggaan atas identitas kota yang dikenal sebagai Kota Santri.

Mimin

Ringin Contong: Saksi Bisu Lahirnya Jombang

 

Bundaran Ringin Contong: Ikon Jombang yang Menyimpan Cerita Satu Abad Lebih

Kalau Anda pernah melintas di pusat Kota Jombang, hampir mustahil melewatkan satu titik yang selalu jadi patokan arah warga setempat: Bundaran Ringin Contong. Menara air tua bergaya kolonial yang menjulang di tengah bundaran ini sudah jadi pemandangan akrab selama puluhan tahun. Tapi di balik sosoknya yang megah, ada rangkaian kisah sejarah yang sayangnya belum banyak diketahui orang  termasuk soal dari mana sebenarnya nama "Ringin Contong" itu berasal.

Ternyata, Namanya Bukan dari Menara Air

Banyak orang mengira nama Ringin Contong lahir dari bentuk menara air yang berdiri di sana. Wajar saja, bentuknya memang mengerucut ke atas seperti corong. Tapi anggapan ini sebenarnya kurang tepat.

Kalau ditelusuri lebih dalam, nama itu justru berasal dari dua kosakata Jawa yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan bangunan Belanda tersebut. "Ringin" merujuk pada pohon beringin, sementara "contong" adalah istilah lokal untuk wadah pembungkus makanan yang berbentuk kerucut  semacam bungkus nasi yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional Jawa. Jadi, jauh sebelum menara air itu berdiri, nama kawasan ini sudah lebih dulu terbentuk dari unsur pohon beringin, bukan dari arsitektur Belanda yang datang belakangan.

Pohon Beringin sebagai Penanda Lahirnya Pemerintahan Jombang

Lalu, dari mana asal pohon beringin yang dimaksud? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Jombang sebagai daerah otonom.

Pada 21 Oktober 1910, Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, menanam sebatang pohon beringin di lokasi yang kini menjadi bundaran tersebut. Penanaman ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebagai simbol resmi berdirinya pemerintahan Kabupaten Jombang setelah wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto pada masa kolonial. Dengan kata lain, pohon beringin itu berfungsi seperti "prasasti hidup" yang menandai babak baru sejarah administratif Jombang.


Watertoren: Ketika Belanda Membawa Modernisasi ke Jombang

Kisah kawasan ini kemudian berlanjut hampir dua dekade kemudian, tepatnya saat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah menara air atau watertoren persis di lokasi yang sama dengan pohon beringin bersejarah tadi.

Berdasarkan catatan yang tercantum dalam surat kabar lawas De Indische Courant, proyek pembangunan menara air ini dimulai pada 24 Agustus 1928 di bawah tanggung jawab Burgelijke Openbare Werken (BOW), atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda kala itu. Rancangan bangunannya digarap oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf, dan proses konstruksinya memakan waktu kurang lebih setahun penuh.

Begitu rampung pada 1929, menara ini langsung difungsikan sebagai tandon penampung air yang bersumber dari mata air besar di kawasan Ngampungan, Bareng. Dari sanalah air kemudian dialirkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di pusat Kota Jombang  sebuah lompatan besar dalam hal infrastruktur air bersih pada masanya.

Ketika Sejarah dan Modernitas Berdiri Berdampingan

Yang membuat Bundaran Ringin Contong istimewa bukan cuma karena usianya yang sudah lebih dari satu abad, melainkan karena di tempat ini dua era bertemu dalam satu titik yang sama. Pohon beringin melambangkan akar sejarah lokal dan kelahiran pemerintahan Jombang, sementara menara air peninggalan Belanda menjadi bukti bagaimana modernisasi mulai menyentuh kota ini di awal abad ke-20.

Kombinasi keduanya menjadikan bundaran ini lebih dari sekadar persimpangan jalan biasa. Bagi warga Jombang, tempat ini adalah penanda identitas kota. Bagi pengunjung dari luar daerah, terutama yang tertarik pada jejak arsitektur kolonial dan cerita rakyat, kawasan ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain: perpaduan cerita rakyat Jawa dan peninggalan teknologi kolonial dalam satu lanskap yang sama.

Penutup

Bundaran Ringin Contong bukan sekadar hiasan kota atau titik transit kendaraan yang sering dilewati tanpa disadari maknanya. Di balik menara airnya yang kokoh dan bayang-bayang pohon beringin yang rindang, tersimpan jejak panjang sejarah administratif sekaligus jejak modernisasi kolonial yang membentuk wajah Jombang hari ini. Bagi siapa pun yang tertarik menyusuri sejarah kota-kota kecil di Jawa Timur, singgah sejenak di bundaran ini rasanya layak masuk daftar kunjungan wajib.

Senin, 31 Agustus 2026

Mimin

Situs Umpak Grobogan Jombang: Jejak Kuno yang Tersembunyi

Di jantung Dusun Sukorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah peninggalan kuno yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Situs Umpak Grobogan, secara administratif, mungkin sulit ditemukan tanpa panduan yang tepat. Sayangnya, tidak ada petunjuk arah yang jelas menuju situs ini, sehingga eksplorasi menuju tempat ini bisa menjadi sedikit petualangan tersendiri. Untuk membantu Anda menemukan jalan, berikut rute menuju Situs Grobogan:

 

Mulailah dari Jombang dan arahkan langkah ke Mojoagung. Setelah mencapai Pertigaan Terminal Mojoagung, belok ke kanan (menuju selatan). Lanjutkan perjalanan selama sekitar 3.5 kilometer hingga Anda mencapai sebuah perempatan. Dari sini, belok kiri hingga Anda tiba di pelataran masjid di sisi kiri jalan desa.

 

Situs Grobogan memiliki sejarah yang menarik. Ini terdiri dari delapan umpak batu, yang terbagi menjadi tujuh yang berkelompok, dan satu lagi yang terpisah. Umpak-umpak ini, meskipun mungkin tidak begitu mencolok, memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pondasi tiang penyangga sebuah bangunan. Bentuk umpaknya sendiri menarik, dengan segi delapan di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Selain itu, pada umpak tersebut terdapat pahatan sederhana yang menambah daya tariknya.

 

Di bagian atas umpak, Anda akan menemukan lubang berbentuk persegi yang dulunya digunakan untuk menancapkan tiang bangunan. Kemungkinan besar, Situs Grobogan ini adalah situs yang dulunya adalah pendopo. Bagian tiang dan atap bangunan mungkin telah lenyap, mungkin karena terbuat dari bahan yang mudah lapuk. Meskipun misteri dan keindahan sejarah yang terkandung di Situs Grobogan ini mungkin tersembunyi, mereka menunggu untuk diungkapkan dan dihargai oleh mereka yang mencari jejak kuno di Jombang.

Mimin

Menelusuri Jejak Sejarah Kabupaten Jombang

Foto Lawas Pendopo Lawas Kabupaten Jombang, Perkiraan Tahun 1930

Selayang Pandang Geografis

Kabupaten Jombang berada di jantung Provinsi Jawa Timur, membentang seluas lebih dari 1.159 kilometer persegi. Berdasarkan data  dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang pada tahun 2025, wilayah ini dihuni sekitar 1.373.790 jiwa penduduk. Pusat kotanya berdiri di ketinggian 44 meter dari permukaan laut, sekitar 79 kilometer atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat dari Surabaya, ibu kota provinsi.

Letaknya boleh dibilang cukup strategis. Jombang berada tepat di titik pertemuan beberapa jalur transportasi utama Pulau Jawa: lintasan selatan yang menghubungkan Surabaya, Madiun, hingga Yogyakarta, juga jalur menuju Tulungagung dan jalur yang mengarah ke Malang serta Tuban. Posisi persimpangan inilah yang sejak lama menjadikan Jombang sebagai wilayah lalu lintas orang, barang, maupun gagasan.

Julukan Kota Santri

Tak berlebihan bila Jombang disebut "Kota Santri". Di kabupaten ini bertebaran pondok pesantren, dan sebagian di antaranya sudah dikenal luas seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Ada semacam anggapan turun-temurun di kalangan masyarakat pesantren bahwa hampir setiap pendiri pondok di tanah Jawa pernah singgah menimba ilmu di Jombang lebih dulu  semacam pengakuan tak tertulis atas peran daerah ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara.

Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir sejumlah tokoh besar bangsa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang kelak menjadi Presiden RI keempat, dua pahlawan nasional yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib. Nama-nama ini menjadi bukti bagaimana tradisi keilmuan Jombang ikut membentuk wajah intelektual dan keagamaan Indonesia modern.

Asal-usul Nama dan Makna Lambang Daerah

Ada cerita rakyat yang menjelaskan asal kata "Jombang". Konon nama ini merupakan gabungan dua kata bahasa Jawa, "ijo" dan "abang". Ijo melambangkan kalangan santri yang religius, sedangkan abang mewakili kelompok abangan yang lebih condong pada nilai kejawen dan nasionalisme. Menariknya, dua kelompok dengan latar berbeda ini justru hidup rukun berdampingan sebuah harmoni yang kemudian diabadikan dalam warna dasar lambang daerah.

Lambang Kabupaten Jombang sendiri berbentuk perisai yang sarat simbol. Di dalamnya termuat gambar padi dan kapas sebagai lambang kemakmuran, gapura serta benteng peninggalan Majapahit, bangunan Balai Agung yang menggambarkan sifat pemimpin yang mengayomi rakyat, menara berhiaskan bintang bersudut lima sebagai simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, tangga beton lima tingkat yang merepresentasikan Pancasila dan UUD 1945, gambar gunung, serta dua aliran sungai yang menggambarkan kesuburan tanah Jombang yakni Sungai Brantas dan Sungai Konto.

Setiap warna pada lambang pun punya makna tersendiri: hijau melambangkan kesuburan dan ketenangan, merah tua menggambarkan keberanian dan sikap kritis, biru cerah mewakili optimisme rakyat, cokelat menunjukkan keaslian tanah, kuning melambangkan kejayaan, dan putih menjadi simbol kesucian.
 

Dari Zaman Purba hingga Kerajaan Kuno

Jejak kehidupan manusia di kawasan Jombang ternyata sudah sangat tua. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam.

Catatan sejarah tertulis mulai muncul pada abad ke-10. Prasasti Turyyan yang bertarikh tahun 929 Masehi mengisahkan bagaimana Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, memindahkan pusat pemerintahannya ke Tamwlang  yang diperkirakan kini berada di wilayah Kecamatan Tembelang. Delapan tahun kemudian, berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang, Raja Dharmawangsa Teguh kembali memindahkan ibu kota ke Watugaluh, yang diyakini adalah Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek sekarang.

Sejarah kemudian mencatat tragedi tahun 1006 Masehi, ketika pasukan sekutu Sriwijaya dari Kerajaan Wora-wari menyerbu dan meluluhlantakkan ibu kota Kerajaan Medang, sekaligus menewaskan Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu yang masih belia, berhasil lolos dari kepungan musuh. Jejak pelariannya konon masih bisa ditelusuri di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tiga belas tahun berselang, Airlangga bangkit dan mendirikan kerajaan baru yang wilayah kekuasaannya membentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 Masehi, Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi dua: Kadiri di sisi barat dengan ibu kota Daha, dan Janggala di sisi timur yang tetap berpusat di Kahuripan. Melihat peta kekuasaan pada masa itu, cukup masuk akal bila Jombang sudah menjadi wilayah lintasan yang ramai dilalui.

Ringin contong : foto tahun 2017
sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ringin_Contong,_Jombang,_2017-09-19.jpg

Era Kejayaan Majapahit dan Masuknya Islam

Antara tahun 1293 hingga 1500 Masehi, panggung sejarah Nusantara didominasi oleh Majapahit, kerajaan Hindu besar yang pengaruhnya meluas hingga ke Semenanjung Malaya. Pada masa inilah wilayah yang kini menjadi Jombang berfungsi sebagai gerbang masuk Majapahit  gapura barat berada di Desa Tunggorono, sementara gapura selatan terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Warisan nama-nama Majapahit itu masih bisa dijumpai hingga kini lewat sejumlah nama desa dan kecamatan berawalan "Mojo", seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, hingga Mojotengah. Salah satu peninggalan fisik paling berharga dari era ini adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Seiring meredupnya kekuasaan Majapahit akibat perang saudara berkepanjangan, Islam mulai menyebar dari pesisir utara Jawa Timur dan perlahan diterima masyarakat berkat pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya setempat. Jombang pun kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Mataram Islam, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali VOC pada akhir abad ke-17 dan berlanjut menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Keberagaman Jombang tidak berhenti pada dua kelompok besar itu saja. Etnis Tionghoa dan Arab pun turut mewarnai wajah daerah ini sejak lama, salah satunya ditandai dengan keberadaan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon telah berdiri sejak tahun 1700 dan masih aktif digunakan hingga sekarang.

Masa Kolonial dan Berkembangnya Pluralisme

Tahun 1811 menjadi penanda penting ketika Kabupaten Mojokerto didirikan, dengan Jombang saat itu berstatus sebagai salah satu wilayah keresidenan di dalamnya. Bahkan situs bersejarah Trowulan, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, sempat masuk ke dalam wilayah administratif Jombang.

Sekitar tahun 1900, misionaris asal Belanda dan Eropa gencar menyebarkan agama Kristen di Jawa Timur. Mojowarno tercatat sebagai basis jemaat Kristen terbesar di wilayah Keresidenan Surabaya kala itu, dengan jumlah pengikut mencapai ribuan jiwa - jauh melampaui wilayah Kediri, Madiun, maupun Pasuruan. Fakta ini menjadi cerminan betapa masyarakat Jombang sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.

Peran Jombang dalam sejarah pergerakan nasional juga tak bisa dipandang sebelah mata. KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh Masyumi, dan KH Wahid Hasyim, anggota termuda BPUPKI yang kelak menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, sama-sama lahir dari tanah ini. Status Jombang sebagai kabupaten resmi di Jawa Timur akhirnya dikukuhkan lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950.

Jejak Alfred Russel Wallace di Jombang

Salah satu babak menarik dalam sejarah Jombang datang dari kunjungan seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace, tokoh yang dikenal luas lewat teori evolusinya dan konsep Garis Wallace. Dalam ekspedisinya menjelajahi kekayaan hayati Nusantara pada tahun 1861, Wallace sempat singgah dan bermalam di wilayah Jombang, tepatnya di kawasan Wonosalam.

Dalam catatan perjalanannya yang kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago salah satu karya literatur ilmiah paling berpengaruh abad ke-19  Wallace mengeja nama tempat itu sebagai "Wonosalem" dan menyebutnya berada di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang dimaksud kemungkinan besar terletak di kaki Gunung Anjasmoro, sebuah gunung yang pada masa itu boleh jadi belum memiliki nama tersendiri atau masih dianggap satu gugusan dengan Arjuna.

Dalam perjalanannya menuju Wonosalam, Wallace melewati hutan yang ia gambarkan sangat memesona, sekaligus singgah di Candi Arimbi yang berlokasi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Menurutnya, candi tersebut tampak seperti makam seorang raja dugaan yang tak sepenuhnya meleset, sebab menurut sejumlah versi cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan Tribhuwanatunggadewi.

Selama berada di Wonosalam, Wallace tercatat mengumpulkan berbagai spesimen unggas liar, termasuk burung merak, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi setempat. Menariknya, kopi masih menjadi salah satu komoditas andalan petani Wonosalam hingga hari ini, berdampingan dengan cengkih, kakao, dan durian lokal jenis bido.

Perkebunan kopi di kawasan itu diduga mulai dikembangkan sejak masa tanam paksa di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada pertengahan abad ke-19. Sekitar empat dekade setelah kunjungan Wallace, memasuki awal 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda kembali menata perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro melalui sistem sewa lahan, mulai dari Dusun Segunung hingga merambah ke Dusun Sumberjahe dan Sumberarum. Pabrik pengolahan kopi yang dibangun di Segunung sejak awal 1920-an bahkan bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya dibongkar oleh pemilik lahan pada awal tahun 2000-an.

Sisa-sisa masa kolonial di sekitar Mojowarno pun masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari rumah-rumah tua, gereja bersejarah, hingga bekas Pabrik Gula Tjoekir yang berdiri di sisi barat kawasan tersebut.

Pesona Wisata dan Penetapan Status Kabupaten

Selain kaya akan cerita sejarah, Jombang juga menyimpan banyak destinasi wisata alam yang tak kalah menarik, di antaranya Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, hingga Air Terjun Tretes.

Secara administratif, Jombang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 20 Maret 1881 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Namun, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif pada tahun 1920, yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang tercatat sebagai Bupati Jombang pertama. Kepemimpinan daerah ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga periode 2025-sekarang di bawah kepemimpinan Bupati Warsubi, S.H., M.S.I dengan Wakil Bupati M. Salmanudin, S.Ag., M.Pd (Gus Salman)..

Kamis, 27 Agustus 2026

Mimin

Profil Desa Bakalanrayung: Potensi, Sejarah, dan Dinamika Sosial di Utara Brantas

Secara geografis, Desa Bakalanrayung membentang seluas 252,63 hektar di kawasan utara Sungai Brantas. Berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, wilayah berdataran rendah ini tercatat sebagai desa terbesar kedua di kecamatan tersebut, baik dari segi bentang alam maupun jumlah populasi. Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan, mayoritas warga setempat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan maupun buruh tani.

Batas Wilayah Administratif
  • Utara: Desa Kepuhrejo
  • Selatan: Desa Tapen
  • Barat: Desa Sidokaton
  • Timur: Desa Randuwatang dan Desa Sumberteguh
 

Berawal dari sebuah pemukiman dusun berskala kecil, Bakalanrayung bertransformasi secara bertahap hingga kini menaungi 6 wilayah kedusunan:
  1. Dusun Bakalan
  2. Dusun Bebekan
  3. Dusun Maderejo
  4. Dusun Panemon
  5. Dusun Roworayung
  6. Dusun Roworejo
Naskah tutur lokal mencatat Mbah Bau Niti yang bertempat tinggal di Dusun Bakalan sebagai salah satu tokoh peletak dasar kepemimpinan desa. Estafet kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut ke era H. Munawar hingga jajaran kepala desa (lurah) di periode-periode berikutnya.

Meskipun bertumpu pada budaya agraris yang kuat, Desa Bakalanrayung menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan lapangan kerja non-pertanian. Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah desa memprioritaskan perluasan kesempatan kerja melalui pemberdayaan usaha mikro/kecil serta penyaluran akses modal usaha.

Masyarakat Bakalanrayung yang mayoritas beragama Islam tetap memelihara nilai-nilai tradisi dan adat lokal secara harmonis. Di tengah perjuangan mengentaskan angka kemiskinan, solidaritas warga terwujud nyata lewat keaktifan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan:
  • Pengembangan Pemuda & Perempuan: Karang Taruna, IPNU-IPPNU, dan PKK.
  • Kesehatan & Keagamaan: Posyandu, serta majelis taklim (Jamiyah Yasin dan Tahlil).
Wadah-wadah kelembagaan ini menjadi sarana krusial untuk menjaga kerukunan sosial sekaligus memacu keterlibatan aktif warga dalam pengawalan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Mimin

Markeso, Maestro Ludruk Garingan dari Jombang

Tokoh Jombang - Hidup Markeso adalah cerminan dari perjuangan tanpa henti yang ia tempuh seorang diri. Pria yang memiliki nama asli Nachrowi berdasarkan identitas resminya ini lahir di Jombang pada 30 Juni 1933. Seperti halnya takdir beberapa figur besar asal Jombang, sosoknya justru lebih dielu-elukan di luar kampung halamannya. Di Surabaya, nama Markeso begitu menggema hingga ditahbiskan sebagai ikon kesenian kota pelabuhan tersebut.

 


Keunikan Nachrowi terletak pada konsistensinya menjelajahi seni ludruk garingan (sekarang : Stand Up Comedy). Di bawah terik matahari Surabaya, ia berjalan menyusuri sudut-sudut kampung tanpa iringan gamelan atau instrumen musik konvensional. Seluruh harmoni pengiring keluar dari kemampuannya mengolah vokal mulut secara mandiri. Hebatnya, ia sanggup menyedot perhatian publik dan tampil solo selama tiga jam penuh.

 

Daya tarik utama pertunjukan Markeso ada pada keluwesannya berinteraksi. Penonton kerap melontarkan celetukan spontan untuk mengganggunya, namun alih-alih gusar, ia justru mengolah celotehan itu menjadi bahan kidungan yang makin segar. Drs. Eko Edy Susantro, MM, Pimpinan Ludruk Karya Budaya, menilai keahlian merespons audiens secara organik inilah yang membuat kelas Markeso sulit ditandingi oleh seniman lain.

 

Gaya busananya pun eksentrik sering kali mengenakan kopiah miring atau topi tinggi bergaya Turki. Benda apa pun yang dikenakan atau dilihatnya bisa seketika menjelma menjadi materi humor. Kendati namanya melambung tinggi di panggung hiburan Surabaya, ia menolak terbawa ambisi materi. Markeso memilih mengukur diri dan melakoni gaya hidup yang sangat bersahaja.

 

Di masa-masa emas kehidupannya, ia sebenarnya memiliki akses luas untuk mengisi acara instansi pemerintah maupun perayaan korporasi swasta. Namun, ia enggan meninggalkan akar rumput. Markeso tetap memilih mengamen dari pintu ke pintu demi menghibur rakyat kecil yang menjadi tempatnya bertumbuh.

 

Di balik pilihan menjadi seniman garingan, tersimpan sebuah garis sikap. Pilihan untuk tidak pernah bergabung dengan grup ludruk mana pun lahir dari rasa kecewanya terhadap perlakuan tidak adil pada dunia seni tradisional, khususnya kebijakan penarikan pajak pertunjukan. Bagi Markeso, sangat ironis ketika kesenian rakyat bawah yang dilakoni oleh seniman miskin justru dibebani pajak, alih-alih diberi insentif pendukung. Bukannya menggelar aksi protes berapi-api di jalanan, Markeso memilih jalur perlawanan yang anggun: mengasingkan diri dari sistem dan terus bernyanyi sendiri.

 

Langkah kaki Markeso yang biasa dikerumuni anak-anak kampung Surabaya kini tinggal kenangan. Sang maestro ludruk garingan tutup usia pada 1 Mei 1996 dan diperistirahatkan di tanah kelahirannya, Tunggorono, Jombang.